The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 86 - Menjemput Waktu



Malam semakin larut, tetapi kedua mata Tiara justru semakin melebar. Belum ada tanda-tanda suaminya itu akan pulang, padahal waktu hampir menginjak pukul sepuluh malam. Hujan lebat dan bunyi petir yang memekakkan telinga itu membuat jantungnya semakin berdebaran. Wanita itu menautkan kedua alis dan hatinya semakin gamang. Teringat pada peristiwa beberapa tahun silam ketika pada malam yang mencekam seperti ini, ia menunggui Alfa pulang dan ternyata suaminya itu mengalami kecelakaan.


Tiara menggelangkan kepala perlahan, menampik perasaan buruk yang mencabik-cabik sudut kecil di hatinya yang seolah memintanya untuk terus memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Namun, bagaimana dengan ponsel yang tidak aktif dan tak ada kabar sejak kepergiannya itu? Wanita itu kembali resah, seolah keadaan memang benarlah mengabarkan bahwa suaminya itu sedang tidak baik. Ia scroll layar ponsel dan semakin berkerutlah mimik mukanya. Tidak ada satu nama pun yang bisa ia hubungi untuk mengetahui kabar Alfa.


Perempuan itu akhirnya berdiri dari kursi dan menjangkahkan kaki perlahan menyeberangi ruangan, membuka pintu kamar dan hendak menuju dapur untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang mulai mengering.


Alangkah terkejutnya ia mendapati Alfa tengah akan melakukan hal yang sama. Lelaki itu berada di depan pintu dan sama kaget dengan dirinya.


“Alfa,” lirihnya. Cahaya kilat dan suara guntur yang bergemuruh di langit membuat siluet wajah lelaki itu nampak jelas. Tiara mengelus pipi suaminya perlahan. Memastikan bahwa sekarang ini ia sedang tidak bermimpi ataupun berhalusinasi. Lelaki itu menggenggam jemari istrinya.


“Iya. Ini aku,” ujarnya dengan menyunggingkan senyum masam. “Kenapa kau belum tidur?” Tanyanya.


Tiara menghamburkan diri begitu saja ke dada Alfa. Menumpahkan segala bentuk kecemasan yang masa ini beralih menjadi suka cita tiada banding begitu mengetahui dengan nyata, kehadiran suaminya yang begitu ditunggu-tunggu itu. Lelaki itu balas memeluk istrinya dengan rapat. Merasakan jua kesejukan yang hendak dijemputnya sedari tadi karena lekas ingin segera bertemu dengan perempuan itu.


“Aku khawatir sekali. Kau sengaja tak memberiku kabar? Ingin aku cemas seperti ini? Aku hampir putus asa-“ Tiara melonggarkan pelukannya dan mulai mengomel, akan tetapi, lelaki itu lekas menutup bibir Tiara dengan bibirnya. Mengecup penuh cinta dengan memejamkan mata.


Alfa bersyukur bahwa perawatan singkatnya di rumah sakit sejak pagi itu cukup membantu memulihkan staminanya. Ia bersikeras kepada Alex dan Brian agar tak memberitahu tentang keadaannya yang kini tengah dalam pengawasan dokter itu kepada Tiara. Seharusnya, saat ini, ia masihlah harus terbaring dengan selang infus yang menancap di lengannya. Namun, bukan Alfa namanya jika ia menurut begitu saja. Lelaki itu terus memaksa untuk mendapatkan perawatan jalan. Akhirnya malam itu, Alfa harus menerima paksaan juga dari Brian untuk mengantarnya pulang dan mendapat ultimatum keras dari Alex. “Kami menolak kedatanganmu di lokasi foto! Beristirahatlah di rumah,” ucap laki-laki berambut jabrik itu sebelum melepas kepulangan Alfa dari rumah sakit.


Tiara meronta dan sedikit memukul dengan keras dada suaminya ketika lama kelamaan Alfa menciuminya dengan penuh hasrat. Lelaki itu membuka mata dan barulah tersadar dari angan-angannya yang seakan membuatnya lupa bahwa saat ini mereka tengah berciuman dalam posisi berdiri di depan pintu kamar. Mata keduanya saling bertatap.


“Maaf telah membuatmu cemas.” Alfa menangkup kedua pipi Tiara. Perempuan itu mengalihkan pandang dengan sikap kesal dan mengembuskan napas kasar. Lelaki itu lalu membungkukkan tubuh, mengecup perut istrinya dan mengelusnya sejenak.


“Sudah, yang penting kau baik-baik saja,” ujarnya masih dengan bersungut-sungut dan tak mengacuhkan suaminya yang terus memandanginya dengan rasa bersalah.


“Kau hendak ke mana?” Bertanyalah Alfa tatkala Tiara berjalan menjauhi kamar.


“Mengambil minum. Aku haus,” jawabnya singkat. Lelaki itu menggapai jemari istrinya dan menuntun wanita itu menuruni tangga.


“Kau semakin cantik jika memberengut seperti itu,” godanya. Tiara mencubit hidung lelaki itu dengan gemas dan wajah tersipu malu. Bisa-bisanya ia sedang kesal dan digoda seperti itu. Mana bisa ia marah.


******


Para pelayan yang sedang sibuk membawa masuk barang-barang itu seketika membuat Tiara ternganga. Helmia berdiri di sampingnya turut memperhatikan barang apa saja yang sudah dibawa masuk dan diletakkan di mana. Mertuanya itu baru sempat berkunjung sepuluh hari kemudian. Membawa dua mobil yang penuh mengangkut barang yang dibelinya untuk Tiara.


“Ma … mama tidak salah?” tanya Tiara masih dengan ekspresinya yang menunjukkan ketidakpercayaan. “Kenapa banyak sekali?” tanyanya lagi.


“Terima kasih banyak.” Tiara menyandarkan kepala pada pundak Helmia dan memeluknya dari samping. Helmia hanya menanggapi dengan anggukan serta menepuk-nepuk lengan menantunya.


Alfa tersenyum dari kejauhan menatap keakraban mama dan istrinya. Lelaki itu lalu berjalan memasuki rumah begitu barang yang diusung oleh para pelayannya telah selesai.


“Terima kasih. Aku dan Tiara senang menerimanya.”


Lagi-lagi Helmia hanya mengulas senyum dan menganggukkan kepala. “Di ruang mana kalian akan menempatkan kamar bayi?” Tanya Helmia kemudian.


Alfa dan Tiara saling memandang. “Tiara memutuskan untuk meletakkan boks bayi di dalam kamar kami terlebih dahulu. Begitu juga dengan pakaian-pakaiannya. Aku sudah membeli satu lemari khusus untuk meletakkan perlengkapan dan baju bayi.”


“Oh, begitu? Boleh mama melihat?”


“Tentu saja.”


Ketiganya berjalan beriringan menaiki tangga menuju kamar yang kini tengah ramai dengan begitu banyak barang.


“Kau duduklah di sini saja Tiara, aku dan mama akan menata semuanya.” Alfa menuntun istrinya dan mendudukkannya di tepi ranjang. Tak membiarkannya sedikit saja untuk membantu. Wanita itu hanya sesekali menyentuhkan tangan pada boks-boks besar berisi pakaian-pakaian lucu nan mungil dengan aneka gambar warna-warni yang menghias di keseluruhan kainnya.


Alfa dan Helmia dengan cekatan segera memilah barang-barang mana yang bisa langsung ditata dan mana yang harus dicuci terlebih dahulu. Lelaki itu terkadang bertanya dengan ekspresi aneh ketika mengangkat tinggi-tinggi sebuah barang yang tak diketahui namanya dan membuat Helmia tertawa.


Ketiganya cukup lama menghabiskan waktu di dalam ruangan itu hingga tertata seluruhnya. Alfa berkacak pinggang dan tersenyum puas, melihat ruangan yang dulu tampak lengang dengan hiasan-hiasan khas ruangan minimalis, kini menjadi ramai oleh pernak-pernik bayi dan segala rupa mainannya.


Tiara menyapukan pandang ke setiap inci dari ruangan itu. Hatinya berdesir oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Jantungnya terpompa cepat melihat keadaan yang begitu mendukungnya untuk tak henti-hentinya berharap-harap cemas, menanti dentang waktu kelahiran putranya yang membuatnya tak sabar.


“Bagaimana?” Lelaki itu menghempaskan tubuh di samping Tiara. Turut meneliti seisi ruangan.


Tiara mengangguk puas. Perempuan itu lalu berjalan mendekati tempat tidur bayi yang terletak tak jauh dari ranjang tempat tidurnya. Menengoknya sekilas. Mengelus permukaan tempat tidur itu dengan perasaan berdebar-debar. Sesekali ia mengusap perutnya yang terus menerus berkontraksi.


“Sayang … darah ….” Alfa berjingkat mendekati istrinya. Helmia yang masih berdiri di depan lemari itu pun menoleh cepat. Tiara yang mulai merasai ada sedikit rasa kencang berbaur rasa sakit di perut bagian bawahnya itu memegangi perutnya, memejamkan mata begitu terasa ada darah yang mengalir deras di kakinya.


“Ayo, kita ke rumah sakit sekarang.” Alfa dengan cepat meraup istrinya itu dalam gendongan disusul Helmia yang juga berjalan cepat di belakang. Dengan tergopoh-gopoh lelaki itu membawa Tiara ke dalam mobil dan secepat kilat melajukan mobilnya meninggalkan vila.