The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 46 - Tempat Terbaik



Alfa duduk dengan elegan di kursi ruang makannya dengan ada begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja. Ia menunggu dengan sabar Tiara yang masih berada di dalam kamar sambil menikmati americano yang telah ia sesap setengahnya pada cangkir porselen mililknya. Seperti nasehat dokter Jeni tadi malam, lelaki itu memerintahkan Alisa untuk menyiapkan menu sarapan sehat dengan tanpa menyentuhkan minyak pada makanannya. Tak lupa, ia juga telah menyiapkan vitamin yang harus dikonsumsi oleh istrinya.


“Tuan, apakah Nona sedang sakit? Mengapa tidak saya bawakan saja makanannya ke dalam kamar?” tanyanya dengan ekspresi berkerut dengan penuh rasa penasaran yang meliputi dirinya begitu ia mendapat perintah untuk menghidangkan sarapan yang berbeda dari biasanya.


“Tidak perlu. Tiara tidak sakit,” ujarnya dengan tanpa sadar melihat ke arah pintu kamar, menjawab dengan keraguan karena istrinya itu tak kunjung keluar dari dalam kamar. “Aku akan menengoknya ke dalam kamar,” imbuhnya dengan diliputi rasa penuh ingin tahu, karena telah hampir tiga puluh menit menunggu, tetapi, Tiara tak kunjung memperlihatkan kedatangannya.


Tiara duduk di tepian ranjang. Mengerjapkan mata, menatap sekali lagi benda kecil yang ada di dalam genggaman tangannya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa matanya sedang tidak salah melihat. Tangan kanannya menempel erat pada mulutnya yang ternganga, sementara tangan kirinya memegang erat pula benda kecil itu dengan gemetar. Debaran jantungnya mulai tak terkendali. Rasa gugup mulai menebarkan rasa panas pada kepalanya hingga membuat napasnya pun menghangat dan ujung jari jemarinya menjadi sedingin es.


Alfa melihat pemandangan di depannya dengan heran. Tiara telah berkata bahwa ia akan segera pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan dengannya. Namun, ia malahan masih duduk dengan santainya di tepi ranjang dan mematung tanpa ada kegiatan apapun, membuat lelaki itu mau tak mau mendekat ke arah wanita itu dan mencari tahu, apa yang sebenarnya telah mengalihkan perhatian perempuannya itu hingga ia lupa bahwa Alfa telah dengan sabar menunggunya begitu lama untuk makan bersama dengannya.


“Apa yang kau-“ Mata Alfa mendadak tertuju pada benda kecil yang sedang Tiara genggam di tangannya itu. Lelaki itu tertegun sejenak hingga lupa untuk berkat-kata. Tiara yang mendengar suaminya telah berada di dekatnya itu mendongakkan kepala. Menatap lelakinya dengan melipat bibir sampai Alfa duduk di sampingnya. Mata cokelat muda Alfa tak lepas barang satu detik saja dari hal yang juga membuat Tiara ternganga itu.


Tiara memajukan tangan kirinya hingga Alfa bisa melihat dengan jelas, dua garis merah pekat yang ukurannya sangat kecil itu. Jantung Alfa memompa dengan cepat, menerima informasi tersurat dari alat tes kehamilan yang ditunjukkan istrinya. Lelaki itu lalu menatap ke arah istrinya. Memandang secara keseluruhan wajah Tiara yang juga dipenuhi keterkejutan. Pada titik di mana keduanya telah saling paham tentang maksud komunikasi tanpa lisan yang sempat mengudara itu, mereka berdua pun berpelukan dengan gerakan cepat dan erat, menyambut kabar gembira itu dengan penuh haru.


“Aku … aku hamil.” Tiara mengembuskan napas panjang setelah berhasil mengucapkan kalimat pendek yang terasa begitu ringan. Namun berhasil membuat dadanya kembang kempis sehingga sulit untuk terlontar. Lelaki itu tak menjawab, tetapi, mengetatkan pelukannya ketika istrinya itu mengucapkan kalimat yang juga tengah ia ucapkan berulang-ulang dalam hatinya.


Tiara hamil … istriku hamil …


Alfa sampai meringkukkan pundaknya demi merengkuhkan tubuhnya pada perempuan itu, seakan menyampaikan pesan bahwa ia begitu menyayangi dan mencintai dengan segenap raganya atas Tiara yang memberinya kejutan yang baru saja mereka terima.


Sekian detik berlalu berubah menjadi menit-menit penuh rasa bahagia. Tak terasa, hingga waktu terus berjalan, Alfa masih memeluk dengan tanpa mengubah sedikit saja posisinya. Tiara yang semula terpejam itu, kemudian membuka kelopak matanya perlahan, merasakan deru napas suaminya yang terasa begitu lekat menempel pada tubuhnya. Wanita itu pun mengelus punggung Alfa perlahan, tetapi setelah sekian lama, lelaki itu tak jua melepaskan rengkuhannya membuat Tiara akhirnya bersuara kembali.


“Alfa ….,” panggilnya lirih.


Suara tarikan napas berat dengan irama serak dari hidung lelaki itu membuat Tiara melebarkan mata.


Alfa menangis?


Dengan paksa, perempuan itu menarik diri dari pelukan suaminya, tetapi, kekuatannya tak sebanding dengan lelaki itu yang ternyata berkali-kali lebih kuat darinya. Alfa menariknya kembali, memeluknya dengan rengkuhan hangat yang terasa semakin panas di tubuh Tiara. Perempuan itu pun mengembuskan napas panjangnya. Ia tahu, suaminya merasa sangat bahagia hingga mungkin saja ia hendak mengeluarkan air mata.


Tiara pun menerawangkan pandangannya dan turut merasakan hal luar biasa melegakan yang sedang dialaminya. Ia tengah mengandung buah cintanya dengan Alfa. Lelaki itu mungkin saja tengah meresapi segala hal yang berkecamuk dalam angan-angannya, bahwa kehamilannya ini adalah kejutan yang berkali-kali lipat membuatnya begitu bahagia hingga tak mampu lagi mengungkapkannya dengan ucapan dan hanya seperti ini saja. Memeluknya dengan erat sebagai tanda bahwa ia sangat membutuhkan Tiara saat ini sebagai tempat yang bisa ia salurkan untuk mencurahkan rasa senangnya.


Perlahan, Alfa mengendurkan pelukannya. Ditatapnya Tiara dengan perlahan mulai dari bibir hingga berakhir di matanya seolah merasa malu untuk langsung beradu tatap. Raut wajah memerah dengan genangan air mata yang tertahan dalam kelopak mata lelaki itu akhirnya berhasil ditunjukkannya kepada istrinya.


Senyum manis lolos dari bibir Alfa. Ia mengusap kepala wanitanya dengan belaian penuh kasih. “Terima kasih Tiara. Aku berjanji akan menjagamu sebaik mungkin dengan segenap tenaga, raga, dan jiwaku,” ucapnya dengan serak. “Tak akan aku biarkan sedikit saja ketidaknyamanan menghampirimu atau aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri,” sambungnya.


Tiara mengusap dada bidang lelaki itu dengan sentuhan penuh cinta dengan kedua tangannya. “Aku pun akan menjaga diriku tetap baik dan merawatnya dengan segenap cinta yang kupunya.” Tiara menyentuh perutnya perlahan seakan sedang berbicara pula dengan calon makhluk kecil yang sekarang sedang bertumbuh dalam rahimnya. “Kau akan segera memberi tahu Mama?” tanya Tiara tiba-tiba yang membuat ekspresi wajah Alfa berubah menjadi kaku.


Lelaki itu menatap kedua bola mata istrinya yang masih saja nampak polos di sana kemudian dengan tegas menjawab, “Tentu saja tidak,” ketusnya mengalihkan pandangan sejenak. “Untuk apa? Aku tidak sedang ingin mencari muka di depan mama karena kehamilanmu. Aku menikahimu karena mencintaimu dan kau hamil pun karena aku memang menginginkan keturunan darimu. Aku menginginkan kehadirannya karena aku sangat mencintainya sebagai penerus kehidupanku, bukan sebagai alat yang bisa kugunakan untuk kepentingan pribadiku apalagi atas nama barang mati seperti tahta dan kekuasaan,” urainya dengan penuh penekanan pada setiap katanya namun dengan intonasi suara yang rendah.


Tiara terkesiap mendengar kata-kata penuh arti dari suaminya itu. Ia menatap bola mata Alfa bergantian, menyerap makna dari untaian ucapannya yang terdengar sangat menyentuh hatinya.


Wanita itu akhirnya menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan Alfa yang memang benar adanya.


******


Yunus berjalan tegak dengan sebelah tangannya yang terpaut dengan lengan Helmia yang menggandengnya. Keduanya tampak sangat berkelas dengan setelah jas dan gaun malam dengan warna senada yang membungkus tubuh mereka. Di sinilah Yunus dan Helmia saat ini, berada di antara orang-orang yang berseliweran pula dengan kostum-kostum yang hampir sama. Jamuan makan malam para petinggi perusahaan.


Beberapa orang yang mengenal pun saling bertegur sapa dengan senyum elegan dan gerak tubuh penuh penghormatan.


Yunus yang mengenali suara yang memanggilnya pun segera menolehkan kepala, mencari sumber suara. Setelah akhirnya beradu pandang dengan wajah yang tersenyum ke arahnya, barulah lelaki itu balas tersenyum dan melangkahkan kaki untuk mendekat, menganggukkan kepala dan duduk pada kursi berlapiskan kain putih dengan pita emas yang nampak mewah itu berdampingan dengan Helmia.


“Bagaimana kabarmu?” Sapa Gani sembari meneruskan menyantap hidangan yang tersedia di depannya.


“Baik. Seperti yang bisa kau lihat.” Yunus duduk dengan menautkan kedua tangannya pada atas meja.


Seorang pelayan yang membawa nampan berisi gelas-gelas kecil shot glass dan minuman berwarna-warni dengan aneka rasa itu datang mendekat dan meletakkan beberapa minuman ke hadapan Helmia dan Yunus disusul dengan menu-menu pembuka yang dibawakan oleh pelayan-pelayan yang mengekor di belakangnya.


“Bagaimana kabar Alfa? Sudah lama sekali aku tak melihatnya bersamamu dalam acara jamuan akhir-akhir ini. Apakah ia sedang sibuk?” Fera istri Gani bertanya dengan raut wajah senyum penuh ingin tahunya, menatap Yunus dan Helmia bergantian.


Helmia tampak membeku dengan wajah kaku mendapati pertanyaan tak terduga itu.


“Ah. Ya. Aku bertemu dengan Alfa beberapa bulan lalu. Ia tak sengaja bertemu denganku untuk bekerja sama sebagai sponsor dalam pembukaan gallerynya,” ucap Gani dengan santainya tanpa memperhatikan perubahan mimik wajah lawan bicaranya, lalu berbicara kembali. “Kapan sebenarnya ia akan membuka acara pameran itu? Sampai saat ini aku belum mendapat kabar?” Lelaki itu berkata setelah meminum sedikit air berwarna merah pekat yang terasa getir itu.


Yunus dan Helmia tampak saling bersitatap sejenak. Segala ekspresi elegan dengan penuh keanggunan yang mereka tunjukkan sedari masuk ke ruangan itu seolah menguap seketika. Merasakan pukulan telak dalam hatinya ketika kedua orang di depannya ini bertanya perihal anaknya dan tak ada satu kata pun yang terlintas dalam angan-angan mereka untuk diucapkan sebagai jawaban.


“Iya. Alfa … mungkin … akan menundanya hingga waktu yang belum bisa ditentukan karena … masih ada hal yang harus ia selesaikan,” jawab Helmia terbata dengan penuh keraguan.


“Oh. Apakah itu berkaitan dengan menantumu? Kulihat Alfa begitu posesif akan istrinya ya sehingga ia jarang sekali bisa berkumpul dengan kita seperti ini.” Fera kembali mengucapkan kalimat yang amat panas terdengar di telinga Helmia.


Helmia sungguh malu jika harus berterus terang tentang kerenggangan hubungan mereka berdua dengan anaknya tersebut. Ia merasa marah saat ini. Kecewa pada Alfa yang benar-benar berputar haluan dengan ayahnya dan tak mau tahu tentang apapun yang menjadi urusan Yunus atas perusahaannya. Wanita itu tak tahu lagi harus bagaimana selain berharap semoga Karina adalah wanita tepat yang ia dekatkan dengan Alfa, agar segalanya bisa berjalan sesuai pola yang semestinya. Putra satu-satunya itu haruslah menjadi pucuk pimpinan perusahaan yang selanjutnya agar keberlangsungan dan kejayaan perusahaannya bisa berlanjut gemilang dan bisa dianakturunkan di kemudian hari. Dan hal itu bisa tercapai hanya jika Alfa mau menikah dan hidup berdampingan dengan wanita yang sesuai dengan karakter keluarga.


“Ya. Begitulah. Bagaimana dengan Patricia?” Helmia berusaha mengalihkan pembicaraan agar kedua orang dihadapannya ini tak semakin jauh mengorek informasi tentang kehidupan putra mereka.


“Patricia sedang menikmati waktu kehamilannya yang kedua dengan berlibur di Eropa. Ia ingin menantikan waktu kelahiran putra keduanya di sana,” jawab Fera dengan wajah sumringah, membayangkan bagaimana bahagia dirinya ketika nanti cucu kedua yang tengah ia dan suaminya nantikan itu terlahir ke dunia.


Gani dan Yunus hanya menyimak pembicaraan dua wanita yang sedang berbincang itu sambil terus menyantap hidangan yang tersedia di sana. Yunus sesekali menatap istrinya dengan alis berkerut. Ada keresahan dan rasa jengah yang berkali-kali wanita itu tampakkan. Apalagi tanpa terasa tema pembicaraan ini adalah masalah keluarga di mana Alfa adalah satu-satunya putra mahkota dari banyak putra pemilik perusahaan yang sama sekali tak memperlihatkan ketertarikannya pada dunia bisnis.


Helmia benar-benar muak dengan arah pembicaraan yang terasa amat memojokkannya tersebut. Berkali-kali ia menelan ludahnya dengan kasar, lalu diteguknya minuman dingin dari shot glass yang memperlihatkan warna kuning itu.


“Aku harus pulang terlebih dahulu Fera. Maafkan aku. Aku tak bisa berlama-lama di sini menemani kalian berdua,” ucap Helmia dengan langsung berdiri dari duduknya. Yunus yang sudah mengerti akan maksud istrinya tersebut mengikuti dengan cepat istrinya yang hampir beranjak tersebut.


“Berkunjunglah lain waktu ke perusahaanku Gani. Pintuku terbuka kapan saja untukmu.” Yunus menyapa untuk terakhir kali sebelum ia menganggukkan kepala dan tersenyum.


Fera tersenyum simpul dan melambaikan tangan sejenak sebelum berkata, “Baiklah, selamat bersenang-senang. Sampai jumpa lagi,” ujarnya.


Helmia melangkah dengan cepat menuju lift dengan tanpa memperhatikan lagi Yunus yang juga tengah terburu-buru untuk mensejajari langkahnya. Ada rasa sesak yang ingin segera wanita itu tumpahkan. Dan ini selalu terjadi berulang-ulang tiap kali ia menemani Yunus untuk memenuhi undangan jamuan makan malam.


Begitu pintu lift terbuka, Helmia dan Yunus segera masuk bersama-sama. Wanita itu membanting tubunya ke dinding lift dan terisak-isak di sana. Yunus yang melihat istrinya itu menangis segera merangkul dan memeluk erat dengan mata terpejam.


“Tidakkah kau merasakan keresahanku?” ujar Helmia dengan penuh luka dalam nada suaranya.


Laki-laki itu mengembuskan napas panjangnya. “Ya. Aku paham dan aku sangat mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam angan-anganmu,” jawabnya.


Yunus memejamkan matanya sekali lagi. Meresapi setiap bagian dalam hidupnya yang sedang terjadi saat ini. Ia tahu harus bagaimana. Dengan segera ia akan membuktikan bahwa ia adalah suami dan ayah yang baik untuk istri dan anaknya. Menjadi sebaik-baik tempat untuk mencurahkan segala gundah gulana yang sedang menimpa dua orang tercintanya yang sedang berbeda pendapat itu.


Dan satu-satunya cara adalah … ia harus bersikap bijaksana.