
Cuaca mendung dan gerimis-gerimis kecil menjadi pengantar kepergian Alfa pagi ini. Ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan ke luar daerah hingga dua hari ke depan. Berat. Alfa sungguh berat harus meninggalkan Tiara seorang diri di rumah. Entah sejak kapan dirinya menjadi laki-laki melankolis seperti anak muda yang tak mau pulang ke rumah setelah berbahagia melepas rindu bersama kekasihnya.
“Tiara.” Suara panggilan dari depan rumah mengejutkannya. Tiara meremang dan menegakkan kepala, meyakinkan apa yang baru saja dirasakannya. Menebak siapa yang memanggil dari arah belakangnya. Tidak mungkin Alfa. Tidak mungkin laki-laki itu bertingkah kekanak-kanakan dengan kembali pulang dan mengabaikan pekerjaan hanya karena kekhawatiran tentang dirinya. Tiara yang baru empat langkah memasuki teras, kemudian berhenti. Dengan perlahan, ia membalikkan badan.
“Davian," lirih wanita itu mengiringi kedua matanya yang langsung bersua dengan mata biru safir di sana.
“Hai.” Lelaki itu melambaikan tangan.
Tiara tersenyum tipis. Ah ya, ia lupa membahas tentang Davian ini kepada Alfa. Lelaki itu tentu saja datang kemari untuk menggantikan tugasnya mempersiapkan pameran di rumah seberang. Kemungkinan sudah sejak tadi malam Davian berada di rumah pameran itu mengingat Alfa yang berada di sana beberapa jam sebelum keberangkatannya.
“Boleh aku masuk?” Davian menampilkan seringaiannya begitu Tiara terpaku menatapnya yang masih berada jauh di bawah teras dengan gerimis yang mulai membasahi kepala dan baju.
“Oh. Iya, tentu saja. Masuklah.” Tiara tersentak dari lamunan panjangnya, tergugu dan masih terdiam di tempat.
Davian mengangguk dan mulai melangkahkan kaki menginjak anak-anak tangga hingga sampai sejangkauan saja dengan Tiara.
Sungguh jika bunga-bunga yang mulai muncul di hati Davian ini benar-benar nampak, maka teras rumah ini akan berserak karenanya. Sudah lama ia tak bersua dengan wanita ini. Wajahnya yang tanpa polesan make up dan tubuhnya yang semakin kurus membuat Davian tersenyum masam. Ia senang karena Tiara sudah tidak secanggung ketika bertemu dengannya di hari-hari lalu. Namun, di hatinya juga terselip rasa sedih dan ingin merengkuh wanita itu dalam pelukan seandainya bisa. Tiara nampak tak sehat setelah beberapa waktu lalu mengalami kegugurannya yang kedua kali.
“Duduklah. Aku akan mengambilkanmu minuman.” Davian mengangguk lalu duduk di salah satu kursi ruangan yang terletak dekat dengan pintu.
Davian menyapukan pandang ke sekeliling ruang. Dekorasi rumah ini tak jauh berbeda dengan rumah di seberang jalan yang digunakan oleh Alfa untuk merumahkan karya-karyanya. Minimalis dengan aneka bebungaan dan daun-daun sintetis yang menjalar hingga atapnya. Tak lupa lukisan serta foto-foto yang diambil oleh Alfa dengan berbagai ukuran terpampang di sana.
Membuat rumah ini terasa seperti coffe shop minimalis seperti yang sering dikunjunginya. Sepertinya, Tiara memang sengaja memilih dekorasi demikian sesuai dengan keinginannya.
Tak beberapa lama, wanita itu membawa satu nampan berisikan dua cangkir minuman.
“Cuaca sedang hujan, kupikir kopi adalah yang kau mau.” Tiara meletakkan dua minuman itu ke atas meja, lalu duduk di seberang lelaki itu.
“Terima kasih.” Davian mengambil cangkir itu lalu menyesapnya sedikit, menatap ke arah Tiara dan menaruhnya kembali. “Pas. Seperti yang biasa kuminum.” Lelaki itu tersenyum.
“Oh ya? Alfa terbiasa minum kopi dengan takaran seperti itu. Aku pikir mungkin saja kau sesama lelaki memiliki selera yang sama.”
Davian melipat bibir dan tersenyum kembali. “Ya. Tentu saja.” Berdehem. “Kau berani tinggal sendiri seperti ini saat Alfa tak ada?”
Tiara mendesah dan melipat tangan. “Hm ... Aku terbiasa sendiri. Jadi, seperti ini tak masalah.” Tiara mengambil ponsel dalam saku bajunya kemudian mulai mengetikkan pesan. Malas dengan pertanyaan Davian yang mulai mengarah ke hal-hal pribadi.
Sebentar Davian. Tiara sedang memperjuangkan nasibnya yang kini telah terjajah oleh Alfa karena diangkat menjadi asisten oleh suaminya itu. Davian terdiam kemudian melihat ekspresi Tiara yang berubah-ubah seolah berbicara langsung dengan lawan bicaranya ketika berkomunikasi melalui teks dengan ponsel selama beberapa waktu. Terakhir, Tiara mengarahkan tatapan tajamnya ke kedua mata Davian yang kini juga tengah menatapnya.
Sungguh teman yang baik, loyal, dan aneh. Begitu Tiara menilai Davian setelah mendapat pesan beruntun dari Alfa mengenai keterpaksaannya menerima Davian karena lelaki itu sendiri yang merudapaksa hatinya untuk harus menerima dirinya.
“Bagaimana pekerjaanmu di Blueict?” Tiara spontan menanyakan hal itu setelah meletakkan ponselnya di atas meja. Tidak mau berdebat kembali dengan suaminya karena harus susah payah mengetikkan pesan, agar pembicaraannya tak bisa dicuri dengar oleh Davian kembali. “Apa kau tak merasa terganggu harus membantu Alfa di sini?”
Davian memajukan tubuhnya. Oh. Tiara tengah membahas dirinya. Ternyata kehadirannya cukup menyita perhatian Tiara. “Tak ada masalah apapun untukku. Aku hanya sahabat yang cukup mengerti saat Alfa merasa membutuhkan bantuan.” Davian tersenyum miring.
Suara guntur yang menggelegar diikuti kilatan cahaya dari langit dan guyuran hujan deras cukup membuat keduanya sontak menutup telinga. Tiara dan Davian saling pandang. Mengerti jika mereka akan menghabiskan waktu lebih lama berdua di sini karena Davian terjebak hujan.
Davian tersenyum bahagia dalam hati. Merasakan setumpuk keberuntungan sedang menghambur ke arahnya. Sementara Tiara menatap cemas ke arah luar pintu kaca rumahnya. Ia tidak mungkin tidak berbaik hati dengan menyuruh Davian pulang dalam kondisi hujan lebat seperti itu.
******
Alfa tiba di tempat parkir dengan banyak sekali pohon pinus menaungi sekitarnya. Bukan. Bukan di pegunungan. Lelaki itu sedang berada satu kilometer dari bibir pantai. Alfa melepas kacamata hitamnya begitu keluar dari mobil kesayangannya. Ada sesal yang sempat menyeruak mengingat ia pergi ke tempat seindah ini tanpa mengajak Tiara ikut serta. Tapi ia tak mungkin juga membiarkan istrinya itu meringkuk sendirian di tepi pantai sementara ada banyak hal yang harus menyita waktunya untuk melakukan pekerjaan di sana.
Ia berjalan ke salah satu patahan pohon besar dan mendudukkan tubuhnya di sana, mengambil ponsel hendak menghubungi rekan-rekannya.
“Alfa .…” Suara itu. Ombak menyaru-nyaru menjadi instrumen dominan di sana. Meski begitu, ia bisa menangkap dengan jelas siapa pemilik suara yang menyebut namanya itu.
Alfa menoleh ke belakang dengan keterkejutan yang nyata. Wanita itu. Sedang apa ia di sini?
“Kau ....” Alfa mengangkat sebelah alis dengan wajah berkerut. Memperlihatkan kebencian tak berkesudahan yang masih nampak jelas.
“Iya. Aku selesai melakukan pemotretan di sebuah taman bunga dekat dengan lokasi ini. Dan tentu saja, akan menyesal jika tak menyempatkan waktu untuk mampir ke tempat yang indah ini.” Nelly menyunggingkan senyum manisnya dan menjelaskan panjang lebar tanpa ditanya.
Berbohong. Rencana Nelly berjalan mulus kali ini. Davian ternyata mampu diandalkan. Lelaki itu bersama Tiara, dan dirinya bersama Alfa. Hanya membutuhkan pengulangan saja agar mereka bisa kembali akrab. Ia merasa menang karena mendapat dukungan penuh dari Helmia.
Nelly merapikan sendiri rambut panjangnya yang berkali-kali menyambar mukanya karena tertiup angin. Sungguh, walaupun Alfa bersikap dingin, paling tidak ia bisa menghirup udara pantai yang sama dengannya. Seperti mengulangi lagi kisah-kisah asmaranya dulu yang pernah terjalin dengan lelaki itu. Meski apa yang ia inginkan sekarang, barulah sebuah harapan.
"Kau sendiri? Dimana rekan-rekanmu?" Nelly berkata dengan riang.
Alfa mengedikkan kepala ke arah samping Nelly sekilas dan tetap memfokuskan pandangannya ke ponsel yang ia pegang.
Nelly menoleh ke belakang dan mendapati rekan-rekan fotografer Alfa tengah berdiri berkerumun menatap ke arah mereka berdua, seolah mengatakan, sedang apa kalian? Alfa ayo bergegas.
Seperti mendapat perintah tanpa kata, wanita itu dengan canggung akhirnya membalikkan badannya kembali menghadap Alfa.
"Oh, kau sudah ditunggu. Aku pergi."
Alfa lah yang terlebih dahulu beranjak dari tempat itu bahkan sebelum Nelly sempat melangkah. Nelly terpaku menyaksikan lelaki pujaan hatinya itu hanya mengangguk singkat atas kata-kata pamitannya. Hatinya tergores. Matanya terpejam merasakan sayatan-sayatan yang mulai ngilu di dalam dadanya. Ia masih terdiam hingga Alfa berjalan melewatinya hingga jauh ke belakang.
Dengan langkah frustrasi, ia melangkahkan kakinya secara kasar lurus ke depan. Entah ke mana.
******
"Halo, Gheo Alfa." Seorang perempuan cantik yang telah mengenakan kostum prewedding mengulurkan tangan setelah Alfa berjalan dari arah Nelly.
Alfa tersenyum dan menjabat tangan singkat perempuan di depannya.
"Terima kasih. Senang bisa difoto olehmu." Calon pengantin itu mengangguk sopan.
Sekali lagi Alfa tersenyum dan melebarkan sebelah tangan memberi jalan. "Mari kuantar."
Keduanya berjalan menuju tengah pantai di mana rekan-rekannya beserta calon mempelai laki-laki telah tiba terlebih dahulu.
Udara pagi menjelang siang masih segar. Cuaca yang mendukung ditambah sejuknya angin yang kaya akan oksigen berhembus memberikan sensasi tenang yang menggembirakan.
Kedua pasangan itu tampak bahagia. Alfa dibantu oleh teman-temannya mengambil berbagai foto dengan pose yang membuat hampir kesemua pakaian mereka basah tersapu air laut. Tawa dan teriakan keceriaan yang menyatu dengan suara ombak yang bergemuruh, tak membuat antusiasme mereka surut. Dan, Alfa masih harus berada di tempat ini hingga malam menjelang karena harus mengambil sesi foto dengan background senja.
Alfa berjanji dalam hati untuk sesekali mengajak Tiara berlibur ke pantai dalam sela waktu senggangnya.
Ah, Tiara, lelaki itu sudah benar-benar rindu sekarang.