The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 27 - Kepedihan



Tiara masih termangu di meja makan dengan secangkir teh panas yang kini hampir tandas. Ia hanya mengisi perutnya dengan tiga sendok suap nasi yang berhasil ditelannya dengan susah payah. Entah mengapa ia merasa seperti bocah yang sedang merajuk karena apa yang ia inginkan tidak menjadi kenyataan. Ia merasa kesal. Sedang tidak ingin menerima kejutan yang nyeleneh dari suaminya itu nanti sepulang dari luar kota. Entah apa yang sedang Alfa rencanakan dan apa yang terjadi hingga sampai dengan pagi ini lelaki itu belum kembali, padahal, jika sesuai dengan kabar terakhir yang Alfa berikan, suaminya itu akan tiba sebelum pukul 12 malam. Namun, sampai dengan saat ini, ponselnya masih bersih dari notifikasi apapun.


Ini yang Ia bilang rindu? Ah ya, benar. Rindunya mungkin saja sudah terkikis habis di tengah jalan pada perjalanan pulang. Alfa benar-benar sedang mengujinya sekarang.


Lebih baik, ia menyibukkan dirinya dengan aktivitas yang bisa membuatnya lupa pada rasa rindunya itu. Dengan satu tarikan napas panjang dan embusan kasar, Tiara bangkit dari duduknya, menyiapkan player pada ponselnya dan menyelipkan headset di telinga sembari melangkah menuju gudang peralatan kebersihan di area belakang rumah. Ia harus sibuk sekarang juga. Suara musik itu ia atur hingga ke level ia tak dapat mendengar apapun di luar suara headset-nya. Penuh dengan alunan musik yang dapat membuatnya terbang ke zona lain sementara waktu.


Ruangan kecil di belakang rumah itu berisikan berbagai peralatan yang biasa ia gunakan untuk membersihkan area rumah. Termasuk peralatan mengecat, kayu penyangga tempat kanvas, peralatan melukis, dan masih banyak lagi barang-brang yang ia susun rapi di almari penyimpan. Dari sekian banyak peralatan yang ada, mata dan kepala Tiara bergerak ke sana kemari mencari gembor air. Setelah berhasil menemukan, dengan ceria ia mengambil alat tersebut dan kembali keluar mengunci ruangan.


Diisinya gembor dengan air hingga penuh dan dengan telaten ia siramkan pada tanaman-tanaman dalam pot serta tanaman rambat yang tumbuh di sekitar rumahnya. Ia melakukannya berulang-ulang hingga seluruh tanaman itu nampak bahagia mendapat siraman sejuk dari pemiliknya. Hidung Tiara menghirup dalam-dalam. Mencium bau segar dari air yang menggenang di atas tanah. Matanya pun termanjakan oleh aneka warna hijau dan warna warni bebungaan yang mendadak segar kembali setelah ia siram dengan air yang cukup.


Terlalu senang dengan aktivitas berkebunnya, Tiara sampai-sampai tidak menyadari ada seseorang yang tengah memanggilnya berkali-berkali dari luar gerbang rumahnya. Headset yang masih menempel di telinga benar-benar sukses membuat ia larut dengan alunan musik dan aktivitas menyiram tanamannya yang ceria.


Tiara terkejut dan membalikkan badan tiba-tiba ketika seseorang menepuk-nepuk pundaknya. Alisnya terangkat melihat siapa yang datang.


“Widya?” Wanita itu menyapa dengan penuh keterkejutan dan dengan segera melepas headset di telinga. Apa gerangan yang membuat wanita itu datang kemari? Ya. Widya adalah perawat yang telah bekerja selama bertahun-tahun menemani Berta di rumahnya. Firasat buruk langsung menyelinap begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dalam pikirannya ketika berhadapan dengan perempuan itu.


“Kau terlihat bahagia sekali dengan aktivitasmu.” Widya tersenyum ramah.


“Ah. Ya. Aku hanya sedang mengisi waktu luangku. Mari masuklah.” Tiara berjalan menuju arah rumah sebelum tiba-tiba Widya menyambar tangannya.


“Tiara.” Perempuan setengah baya itu tertegun atas panggilannya sendiri seolah tak bersiap diri untuk mengatakan apa yang akan diutarakannya. Wajah Tiara mendadak kaku. Hatinya seperti diremas. Sudah bersiap akan kabar tak mengenakkan yang akan terucap dari Widya. Ada apa dengan Berta? Mamanya itu tak memberi kabar barang satu kata dua kata melalui sambungan telepon maupun pesan singkat.


“Aku tak lama. Aku hanya … ingin memberitahumu bahwa sekarang Berta berada di rumah sakit," ucapnya lugas dengan sedikit terbata.


Tiara terperangah. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara.


“Berta terjatuh pingsan dan tentu dia tak bisa mengabarimu. Untuk itu aku datang ke sini.” Wajah Widya berubah dengan senyum ironis.


“Ya ... ya Widya aku ikut denganmu sekarang.”


******


Davian memandang gerbang depan rumah Tiara dengan wajah berkerut. Pintu yang terbiasa terbuka setengah itu sekarang terkunci dengan rapat. Begitu juga dengan pintu depan dan jendela-jendela rumah yang tertutup rapat seolah tak ada seorang pun di dalam rumah.


Lelaki itu menghela napas panjang dan segera membuka layar ponselnya. Tetapi, kekesalannya bertambah berlipat-lipat ketika ia ternyata tak menyimpan nomor Tiara.


Davian segera berpikir keras untuk menemukan satu saja orang yang bisa ia andalkan untuk segera bisa menghubungi wanita itu.


Sambil melihat-lihat daftar kontak yang ada di ponselnya, ia berdiri bersandar pada gerbang rumah dengan satu kaki terlipat ke belakang. Tubuhnya menegang. Chika. Ya. Gadis itu. Staf produksi di perusahaan Tiara yang ia suap agar mau menyadap Tiara waktu itu. Ia pasti masih menyimpan nomor atasannya itu walaupun Tiara sudah tak bekerja lagi. Begitu pikirnya. Senyum getir nampak di wajahnya. Namun tak urung ia tekan tombol hijau untuk memanggil. Didengarnya bunyi dering begitu lama yang membuat emosinya mulai naik dan kesabarannya terkikis. Tak ada jawaban. Ditekannya tombol hijau itu hingga tiga kali.


"Halo." Suara gadis itu nampak rendah di seberang sana. Davian memejamkan mata untuk menetralkan emosinya lalu mengembuskan napas panjang.


"Chika. Aku Davian." Lelaki itu berkata perlahan. Reaksi dari nomor tujuannya itu ternyata tak sesuai dengan ekspektasinya.


"Oh. Kau. Masih belum puas kau hancurkan Tiara. Sekarang apa lagi?" Nada ketus terdengar keras, membuat Davian membelalakkan mata dan mengerjap perlahan lalu mencakar rambutnya kasar.


"Hei. Tak ada urusan itu denganmu. Aku membutuhkan nomor Tiara sekarang. Ada keadaan darurat yang harus kusampaiakan." Davian mencoba untuk tenang dan berkompromi dengan gadis yang dahulu sangat mudah untuk ia perdaya itu.


"Aku harus percaya itu? Pengkhianat tetaplah pengkhianat." Nada mencemooh kental terdengar.


"Baik. Terserah apa katamu. Berikan nomor Tiara padaku. Aku sangat membutuhkannya." Davian berkata memelas.


Terdengar suara decakan. "Tak akan." Gadis itu pun langsung menutup pembicaraan meninggalkan Davian yang telah penuh dengan emosi.


"Shit!" Lelaki itu mengumpat-umpat bekali-kali dan menendang apapun yang bisa dijangkau dengan kakinya, hingga nampak seperti orang yang benar-benar putus asa.


Rasa bersalah itu kembali menyergap hatinya. Berada di tengah ketidakberdayaan Alfa yang kini sedang mengalami koma dan Tiara yang tak bisa ia jangkau membuat pikirannya kacau. Hati kecilnya tersentuh. Kemana jiwa pengkhianat itu melayang? Ia merasa seperti menjadi perempuan yang penuh akan perasaan.


Bukankah ini waktu yang tepat untuknya bisa mendapatkan Tiara? Tetapi mengapa ia tak bisa melakukan itu sekarang?


Davian terduduk meringkuk dengan kepala tertunduk dalam. Masih bersandarkan pintu gerbang yang tertutup itu. Hatinya menangis. Mengapa ia bisa berubah secepat ini?


"Davian." Suara sapaan lembut yang masuk ke dalam gendang telinganya itu membuat Davian meremang. Dadanya berdesir. Secepat kilat ia mengangkat kepala.


Wanita berambut cokelat dengan rambutnya yang tegerai dan bergerak-gerak terkena angin itu bagai malaikat penyelamat untuknya. Lelaki itu sontak berdiri. Wanita di depannya itu menatapnya dengan sedikit tersenyum. Gaun selutut berwarna hijau botol itu sungguh membuatnya nampak seperti dewi kahyangan yang dahulu selalu ada dalam gambaran benaknya ketika membaca cerita fiksi yang ia baca.


"Tiara." Davian masihlah takjub tak percaya.


"Aku hendak mengambil ponselku. Tertinggal di rumah." Tiara berkata dengan senyum geli yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri. Merasa ceroboh karena meninggalkan barang sepenting itu ketika pergi.


Davian terpaku. "Kau ... hendak kemana?"


Ia tak henti-hentinya mengamati pergerakan wanita itu yang akan melewati dirinya dan membungkuk untuk membuka gerbang.


Tiara menatap Davian lalu menegakkan punggungnya. "Mamaku di rumah sakit. Aku-"


"What??! "


Perkataan Tiara terputus dan ia sangatlah terkejut mendengar pekikan Davian yang terdengar seperti tengah membentaknya.


Davian tak mempercayai ini. Bagaimana bisa Tiara berada di situasi sulit seperti ini? Apa yang harus ia lakukan? Davian benar-benar merasa terjebak di keadaan genting yang sebenarnya bisa saja ia melenggang pergi tak peduli. Namun, keadaan terus memaksanya untuk terus ikut terlibat.


"Kau ... kau harus ikut denganku sekarang." Tanpa pikir panjang, Davian menggenggam pergelangan Tiara dan menyeretnya ke arah mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


Wanita itu menyentak tangannya kuat hingga terlepas dan Davian kembali membalikkan badan.


"Hei. Kau ini kenapa?" Tiara berkata sinis sambil mengurut pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena diseret paksa oleh Davian.


Mulut lelaki itu bergetar. "Alfa."


Kedua mata Tiara melebar demi baru mendengar satu kata saja yang keluar dari bibir lelaki itu. Sungguh suaminya benar-benar memiliki sihir, sehingga mendengar namanya saja, Tiara bisa terpaku seperti terhipnotis. Pandangannya berubah melunak ketika matanya bertemu dengan mata Davian.


"Alfa mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang dari luar kota. Ia sudah mendapatkan penanganan terbaik di masa kritisnya di rumah sakit setempat, dan sekarang ... ia sudah berada di Flamboyan."


Tiara mengepalkan tangannya di depan dada. Mencoba menggenggam jantungnya yang seakan telah jatuh dan pecah. Menyisakan pilu yang melelehkan pertahanannya hingga air matanya memuncak. Lelaki di depannya itu nampak kabur tertutup buliran air yang memenuhi kelopak mata dalam pandangannya. Kedua kakinya seolah kehilangan energi sebagai penumpu untuk berdiri. Tiara memundurkan langkahnya ke belakang.


"Tiara ...."