
Tiara berdiri dari kursi yang didudukinya, menatap lelakinya dengan tatapan menggoda namun dengan ekspresi wajah yang dingin, mendekati Alfa yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Tiara mendekatkan wajahnya, menghembuskan napas panasnya di sana, memandang bibir Alfa yang menggoda, sebelum akhirnya, sebelah tangannya mencubit dengan keras pipi Alfa hingga lelaki itu terlonjak kaget dan berteriak karena sebelah pipinya terasa ngilu.
“Ahhh…” Alfa tak bisa menahan lagi untuk tak berteriak. Tiara melebarkan senyumnya demi telah puas melihat Alfa memegangi pipinya.
“Hukuman untukmu! Apalah kau, telah mempermalukanku di depan teman-teman lelakimu itu.” Berkata dengan keangkuhan yang dibuat-buat dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Alfa terkekeh. “Tapi, ini masih kurang.” Berkata dengan santainya, menatap istrinya dengan kedua alis yang naik turun menggoda.
“Apa katamu?” Tiara memiringkan kepala.
“Aku masih belum puas jika belum dicubit di tempat yang lain.” Alfa melipat bibir menahan tawa, menunggu reaksi istrinya yang sebentar lagi akan menampilkan wajah semerah tomat.
“Astagaaa… kau..” Memukul lengan Alfa dengan ekspresi kesal namun menunduk malu. Alfa tergelak.
“Kau masih saja malu-malu Tiara dan aku sangat suka melihatmu seperti itu.” Mengusap secara perlahan dan intens pipi istrinya yang masih memerah.
Tiara tersenyum malu lalu duduk di tepi ranjang menghadap Alfa. Ekspresinya berubah menjadi masam. “Bagaimana maksudnya Nelly mengalami kecelakaan yang sama denganmu? Apa dia yang menabrakmu? Apa kau tahu?” Tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang semakin menuntut, akhirnya wanita itu mempertanyakan kembali apa yang telah disampaikan oleh Brian.
“Aku tak tahu.” Alfa mengangkat bahu. “Kalaupun iya, aku benar-benar tak menyangka, jika Nelly akan berubah menjadi wanita rubah dengan sifat psikopat.” Menatap Tiara dengan sendu. “Aku hanya takut jika dia mengarahmu dan hendak melukaimu. Ah, ini sungguh menjijikkan bagiku. Kau tahu?” Lelaki itu mengusap mukanya dengan kasar, merasa jengah.
Tiara pun tak habis pikir. Nelly menabrakkan mobilnya sendiri ke arah Alfa dengan ia sendiri sebagai pelaku? Apa ia ingin bunuh diri? Sepertinya begitu besar rasa amarah dan emosionalnya Nelly ini dengan Alfa. Sayangnya Tiara tak tahu seperti apa hubungan keduanya ini di masa lampau, sehingga ia tak mengerti sebab musabab hubungan mereka menjadi semakin rumit ini.
Hal yang pasti Tiara tahu adalah Helmia berniat mendekatkan kembali mereka berdua, karena kecewa atas dirinya yang tak bisa mengandung dengan benar. Oh, sungguh ironis sekali hidupnya ini.
“Apa yang kau pikirkan? Aku tentu tak akan membiarkanmu berada dalam posisi sulit.” Alfa menggenggamkan tangannya pada punggung tangan Tiara ketika melihat wanita itu tenggelam dalam angan-angannya.
“Tapi, tapi aku harus bagaimana?” Tiara bingung sendiri dengan pilihan kata yang tepat untuk merepresentasikan keresahannya tentang kata-kata Helmia waktu itu.
Alfa mengusap rambut istrinya sejenak, mengerti dengan apa yang sedang berkecamuk dalam kepala kecilnya. “Tak ada hak bagi siapapun selain aku untuk memutuskan apakah aku akan meninggalkanmu atau tidak. Tidak siapapun, termasuk Mamaku. Dia hanya sedang berkubang pada keburukan nasib yang ia ciptakan sendiri. Biarlah. Tak usah kau pikirkan. Kau hanya perlu memegang kata-kataku. Kau istriku. Aku yang berhak atasmu apapun yang terjadi.” Alfa berkata tegas dengan penuh kelembutan membuat Tiara berkaca-kaca dan langsung menghambur ke pelukan suaminya.
“Aku mencintaimu Tiara….”
******
Helmia mendesah. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Matanya menerawang jauh ke arah jendela di mana di depannya ada pasien cantik yang tengah menyuapkan sendiri makanan ke dalam mulutnya.
“Ma…” Gadis itu memandang dengan lesu, setelah meletakkan makanannya kembali ke atas meja.
“Kau masih memanggilku Mama? Kau tahu? Kau hampir mencelakakan putraku satu-satunya.” Wajahnya berkerut. Make up yang menempel sempurna di wajahnya ternyata tak mampu menutupi gurat-gurat wajahnya ketika marah. “Kau bersembunyi dariku? Apa yang kau mau?”
“Ma… Aku-“
“Jangan panggil aku Mama. Aku bukan Mamamu lagi sekarang.”
“Aku putus asa. Aku harus berusaha sendiri atas rencana ini bukan? Sementara kau, apa yang kau lakukan untuk membujuk Alfa? Sikapnya sangat dingin padaku. Dia bahkan seolah tak mau mengenalku lagi. Menutup semua aksesku untuk bisa dekat lagi dengannya. Aku merasa pupus bahkan sebelum aku berusaha. Gerak-geriknya yang seperti itu sudah membuatku putus asa.” Gadis itu berkata dengan serak parau, tubuhnya lesu tanpa pertahanan, memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
Betapa malang nasibnya, hati dan tubuh sama-sama terlukanya, tanpa ada seorang saja yang berbelas kasih mau memeluk dan memberinya kehangatan cinta.
Helmia menoleh cepat. “Maka kau harus berpikir dua kali ketika akan bertindak. Aku bisa saja marah padamu dengan membuka setitik saja jalan terang kepada media untuk mendapatkan informasi tentang dirimu. Kau sangat dungu. Aku tak menyangka aku telah mempercayaimu.” Berkata dengan geram yang tertahan.
Nelly mulai terisak. Gadis itu menjawabnya dengan suara tangis. “Kalau kau datang kemari hanya untuk mengata-ngataiku, lebih baik pergilah. Aku tak butuh penilaianmu. Semua orang sudah mengatakan hal yang sama denganmu. Aku tahu. Aku tahu aku bodoh.” Memejamkan matanya erat, berusaha menghela air matanya agar tak keluar lagi semakin banyak.
“Aku kecewa padamu Nelly. Aku sudah terang-terangan mengancam Tiara agar mau meninggalkan Alfa. Akupun sudah memaksa Alfa agar mau tak mau menikahimu. Tapi, tindakanmu ini. Menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan hidupmu sendiri. Jangan salahkan aku jikalau Alfa bukan menambah rasa simpati kepadamu, tapi semakin waspada kepadamu.”
“Terserah kepadamu. Berbahagialah karena mungkin ini pertemuan terakhir kita. Karena mungkin setelah ini aku mati.” Nelly mengubah posisi duduknya. Bantal yang semula digunakannya untuk bersandar, kini diletakkannya di atas ranjang sehingga Nelly sekarang telah berbaring kembali. Memejamkan mata dan memalingkan wajah.
Helmia terhenyak. Ia terbata-bata dan pikiran bawah sadarnya langsung menuju pada kemungkinan, Nelly telah putus asa dan akan membunuh dirinya sendiri? Oh, sungguhlah gadis ini, mengapa begitu merepotkan. Tak disangkanya mengapa Nelly sekarang begitu lembek. Ia menyesal. Seharusnya ia tak semudah itu mempercayai Nelly. Dan lagi, ia sepertinya terlalu buta untuk langsung meyakini perpisahan antara Alfa dan gadis ini adalah karena Alfa yang dengan kejam memutuskan hubungan sepihak dengannya.
Mungkin nanti ia harus menanyakan ini pada anaknya, apa yang sebenarnya terjadi.
“Nelly…” Helmia bangkit dari duduknya.
“Pergilah.” Gadis itu mengisyaratkan pengusiran dengan melambaikan tangan lalu berbaring miring memunggunginya.
******
“Segar bukan?” Tiara berkata dari belakang Alfa yang sedang duduk di kursi roda. Memandangi aneka bunga-bunga yang terkembang dengan rumput-rumput hijau sebagai alasnya. Ada air mancur mini sebagai pelengkap di tengah-tengah taman, membuat suasana semakin asri.
Alfa menoleh ke arah Tiara di mana wanita itu sedang tersenyum memandang ke sekeliling. “Kau pun pasti suka. Kebun dan taman-taman seperti ini adalah rumahmu.” Lelaki itu turut membayangkan rumahnya yang kini telah penuh dengan aneka tanaman hias yang memenuhi sekeliling rumah. Tiara merawatnya dengan telaten. Bunga-bunganya pun bermekaran dengan aneka warna yang mencolok. Di dalam ruangan, Tiara juga memasang dekorasi serupa. Ah, sudah seperti tidur di dalam kebun. Pikir Alfa yang membuatnya sedikit tertawa.
“Bagaimana kakimu? Apakah masih terasa ngilu?” Tiara berjongkok di depan kakinya.
“Sedikit. Mungkin aku perlu beberapa waktu untuk melatihnya berjalan kembali.”
“Dokter berkata, kau harus melakukan fisioterapi agar lukamu cepat pulih.” Tiara menyipitkan mata. Cahaya matahari pagi yang bersinar tepat di belakang kepala Alfa itu membuat matanya sedikit perih.
“Ya. Aku akan lakukan apapun.” Alfa mengangguk tipis.
“Mari kuantar lagi untuk berkeliling sambil berteduh.” Tiara kembali berdiri dan mendorong kursi roda itu berjalan maju.
Tiara benar-benar merawat suaminya itu seorang diri. Helmia tak menampakkan dirinya lagi setelah dua hari sejak mereka bertemu pada awal Alfa berada di rumah sakit ini. Tiara lebih siap kali ini. Ia akan bertahan seperti apapun keadaannya. Ia akan berusaha dengan berbagai macam cara agar kesehatannya pun semakin membaik agar ia bisa memenuhi keinginan mertuanya itu untuk bisa hamil kembali. Bukan untuk Helmia saja, tetapi untuk mereka berdua pula.
Memiliki seorang anak dari seseorang yang dicintai sepertinya memang membahagiakan. Tanpa sadar, Tiara mengusap perutnya sendiri dengan tersenyum...