
Yunus mengemudikan mobilnya seorang diri. Ia sengaja meluangkan waktu akhir pekan yang biasa ia gunakan untuk bertemu klien di luar kota, dengan mengosongkan waktu dan akan ia pergunakan untuk beranjangsana ke rumah Alfa. Beberapa tas buah tangan telah ia siapkan di jok penumpang, berisi aneka buah-buahan dan menu makan eksklusif yang telah ia pesan sebelumnya dari resto langganan, tak lupa ia membawa kamera keluaran terbaru perusahaannya yang akan ia serahkan kepada Alfa untuk diuji coba.
Sesungguhnya ia merasa bersalah karena tak pernah ada waktu untuk sekedar berbincang santai dengan anak dan menantunya. Tidak akan mungkin dengan keadaan saat ini Alfa akan mengajak Tiara untuk sekedar datang berkunjung ke rumahnya, mengingat perlakuan tidak menyenangkan Helmia yang menunjukkan ketidaksukaan secara terbuka. Apalagi istrinya itu telah merencanakan untuk memisahkan kedua anak itu yang tentu saja akan membuat kehadiran menantu satu-satunya itu tidak akan tersambut baik.
Lelaki itu mengembuskan napas panjang. Beberapa meter lagi ia akan sampai di rumah anak laki-lakinya itu yang belum pernah sama sekali ia kunjungi setelah sekian lama Alfa menikah. Yunus tersenyum getir mengingat bagaimana buruk perangai dirinya sebagai orang tua dan mertua itu yang sama sekali tak pernah memperhatikan dengan baik bagaimana keadaan mereka. Mengesampingkan segala urusan pribadi dan terus bergelut dengan pekerjaan.
Gerbang hitam yang mulai nampak di sebelah kanan itu membuat Yunus memperlambat laju kendaraannya. Setelah menekan tanda sein kanan dan perlahan membelokkan kendaraan hingga tepat di depan gerbang, sejenak lelaki itu melihat pintu utama rumah yang terbuka dengan jendela-jendelanya yang turut menyibakkan tirainya yang menari-nari karena semilir angin panas yang berembus siang itu. Hatinya diliputi rasa lega sebab telah datang di waktu yang pas karena anaknya itu tengah berada di rumah.
Alfa yang tengah sibuk mengutak-atik gambar yang ada di layar laptop yang sedang menyala di depannya itu menolehkan kepala begitu mendengar suara klakson yang terdengar dari arah gerbang depan.
Alisa yang sedang berada di dapur pun menghentikan aktivitasnya sejenak agar bisa memastikan dengan benar suara klakson yang sempat dua kali didengarnya. Setelahnya, ia segera berjalan cepat ke arah depan, mendahului Alfa yang hendak memanggil dan memerintahya untuk mengetahui apa dan siapa yang ada di depan rumahnya.
Wanita itu keluar dari pintu depan dan melihat seorang laki-laki tua tengah berdiri di depan mobilnya, menanti siapa saja yang akan membukakan gerbang. Dengan segera, ia melangkah mendekat dan langsung mendapat senyuman hangat dari tamu tak dikenalnya itu.
“Alfa … ada?” Sapanya.
“Ada Pak. Silakan masuk,” jawabnya kemudian berjalan ke arah kunci gerbang, membuka pengait besinya dan membentangkan pintunya lebar-lebar.
Sembari menunggu tamunya itu memasukkan mobilnya ke halaman depan, Alisa masuk kembali ke dalam rumah untuk memberi tahu bahwa ada tamu yang datang. Belum sempat berucap, Alfa terlebih dahulu bertanya pada asisten rumah tangganya itu.
“Siapa? Kau tahu?” Alfa bertanya dengan kedua alis terangkat.
“Saya belum pernah bertemu dengannya sebelumnya Pak,” jawabnya cepat.
“Ada perlu apa?” Lelaki itu menghentikan semua aktivitasnya di meja kerja dan menutup layar laptop seolah telah bersiap untuk menyambut tamu yang bertandang ke rumahnya itu.
Alisa tampak berpikir sejenak. “Ingin bertemu dengan Anda, saya lupa menanyakan ada keperluan apa,” jawabnya dengan ragu.
Alfa menganggukkan kepala lalu berdiri dari tempatnya. “Di mana Tiara?” tanyanya setelah Alisa berjalan dua langkah dari tempatnya bertemu dengan Alfa tadi.
“Ada di belakang, sedang membaca buku di teras,” jawabnya lagi.
“Baiklah. Buatkan minuman untuk tamu seperti biasa,” perintahnya. “Sudah waktunya makan siang. Jangan lupa beri tahu Tiara untuk segera makan,” imbuhnya.
“Baik Pak,” ucapnya seraya pergi menuju dapur untuk segera melaksanakan sederet tugas yang telah menunggunya untuk segera diselesaikan.
Alfa berjalan dengan santainya menuju pintu ruang tamu. Tak ada perasaan penuh tanya dalam dirinya, karena biasanya, tamu-tamu yang datang ke tempat tinggalnya itu adalah para klien maupun rekan kerjanya yang hendak menyelesaikan pekerjaan bersama. Namun, begitu lelaki itu tiba di belakang pintu dan hendak mengucapkan sapaan seperti biasa, kedua matanya terlebih dahulu membelalak dibarengi dengan desir jantungnya yang terpompa cepat. Mulutnya terkatup rapat memenjara kata-katanya hingga berhenti di tenggorokan dan tak bisa terlisankan begitu melihat dan langsung mengetahui dengan pasti siapa sosok yang datang. Laki-laki dengan setelah pakaian kasual serta rambut tertata rapi dengan kedua tangan penuh oleh paper bag itu berdiri membelakangi pintu, seakan tengah menikmati pemandangan warna-warni tanaman dengan bunga-bunganya yang mekar mendominasi halaman rumah.
Segera, setelah Yunus mendengar ada suara langkah di belakangnya, lelaki itu membalikkan badan dan matanya langsung bersitatap dengan bola mata cokelat muda yang sama persis dengannya itu. Keheningan sempat tercipta beberapa saat ketika mereka saling menelaah pikiran dan hati masing-masing begitu akhirnya mereka bertemu kembali.
******
Alfa menelan ludah, melihat dengan jelas sosok papanya yang kini berada beberapa jangkauan di depannya. Lelaki itu mendeham demi memecah suasana canggung yang menguar dari pertemuan tak disangka itu.
“Papa ….,” ucap Alfa dengan masih diliputi ketidakpercayaan. Angin apa yang membawa papanya yang super sibuk itu hingga ia mau dengan santainya bertamu di rumahnya? Apakah ia rela meninggalkan pekerjaan dan menyempatkan waktu untuknya?
Ah, jika Yunus berniat memberinya kejutan, maka ia benar-benar telah berhasil memberikan kejutan itu utuh tanpa cela, hingga Alfa sungguh dibuat kaget atas kedatangannya yang tiba-tiba tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
“Sepertinya Papa benar-benar memberi kejutan untukmu ya?” ujarnya dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya. Berkata dengan tepat, menjawab telak ekspresi anaknya yang tengah terkesiap itu.
Alfa pun balas tersenyum, lalu, seolah baru tersadar dari lamunannya yang begitu lama, lelaki itu akhirnya melemaskan tubuhnya dengan menurunkan pundaknya yang tegang.
“Aku tak menyangka Papa akan datang. Masuklah,” ajak Alfa kemudian berjalan terlebih dahulu menuju ruang di mana terdapat sofa berbentuk letter L memenuhi separuh ruangan dengan meja kaca berwarna hitam yang luas terhampar di depannya.
“Di mana Tiara?” Yunus menghentikan langkah di depan meja dan meletakkan paper bag yang dibawanya.
“Ada di teras belakang,” jawab Alfa dengan tetap berdiri di tempatnya, seolah membiarkan Alisa yang berdiri tak jauh dari mereka, mengantar papanya itu menuju istrinya yang tengah asyik memanjakan mata dengan buku bacaan dan hendak memberinya kejutan pula.
Alfa memandang punggung papanya yang tengah berjalan itu dengan penuh haru. Ada bahagia yang mendadak memenuhi dadanya dan ia tak tahu harus berbuat apa untuk mengekspresikan segala yang dirasa. Ia sungguh tak mengira jika Yunus mau berkunjung ke rumahnya. Tak sempat terpikir dalam angan-angannya bahwa papanya itu masih memiliki kepedulian kepada dirinya dan istrinya.
Entah sudah berapa lama Tiara mengaramkan dirinya pada buku bacaan yang sedari tadi menyita perhatiannya itu. Wanita itu benar-benar memperhatikan kehamilannya saat ini, meskipun ia dan Alfa belum sempat memeriksakan dengan benar kondisinya kepada dokter Jeni. Buku tentang kehamilan yang dibelinya beberapa waktu lalu itu cukuplah sebagai nasehat sementara dan penambah pengetahuannya tentang bagaimana seharusnya menjaga kesehatan dengan baik mulai dari usia kehamilan termuda, seperti dirinya saat ini.
Suara derap langkah yang mendekat ke arahnya itu membuat Tiara menutup bukunya. Mengingat kembali pesan yang dikatakan kepadanya bahwa ia harus segera mengisi perutnya dengan makan siang. Alfa pastilah datang untuk segera menyeretnya ke ruang makan, karena ia telah larut dalam aktivitas membacanya hingga melupakan, sudah berapa menit yang ia habiskan untuk mengulur waktu dengan terus membaca itu.
Tiara berdiri hendak bergerak cepat sebelum ia mendapat peringatan. Namun, Tiara memekik terkejut ketika mendapati bahwa suara langkah yang mendekatinya itu bukanlah Alfa. Matanya melebar seketika dan mulutnya ternganga. Yunus telah menampilkan senyumnya di sana begitu ia melihat Tiara yang tengah berdiri dan bertemu tatap dengannya, tetapi, Tiara tak membalas senyumnya itu dan malahan memperlihatkan keterkejutan yang sama dengan Alfa atas kedatangan orang yang tak pernah terlintas dalam angannya itu akan datang ke rumahnya.
Papa mertuanya datang? Apakah Helmia juga turut berkunjung?
“Papa ….” Tiara akhirnya bisa mengontrol dirinya untuk kembali ke alam sadar dari lamunannya dan dengan segera menyapa papanya.
“Bagaimana kabarmu Tiara? Semoga kau selalu sehat,” ucapnya dengan ekspresi wajah teduh menghangatkan.
“Baik Pa. Aku baik-baik saja dan … sehat,” jawabnya dengan tegas namun masih diselingi dengan kalimatnya yang terbata. Berusaha mengusir segala firasat buruk yang datang menyergap begitu saja.
Rasa nyeri mulai memelintir sudut hatinya ketika ia dengan nyata telah berhadapan dengan papa mertuanya itu. Segala resah perlahan menyelubung. Mendadak ia teringat lagi akan percakapan singkatnya dengan Helmia yang begitu menyakiti hatinya, pembicaraan yang terasa hanya sekejap dan terjadi sekian menit yang akan ia rasakan pedihnya dan terus menyiksa hingga nanti bertahun lamanya.
Alfa yang datang mendekat dan melihat wajah Tiara yang pucat itu langsung menghampiri dan merangkulnya. Wanita itu tersentak, lalu dengan tergugu, mengalihkan pandangan dan menyelipkan sendiri rambutnya yang tergerai ke belakang telinga, mengusir kegugupan yang semakin lama semakin tak terkendali menguasai dirinya.
Apa yang akan terjadi? Apa lagi kejutan untuk Tiara kali ini?
"Mari kita masuk," ajak Alfa masih sambil merangkulkan tangan pada pundak istrinya, mengurai suasana kaku yang mengikat dua orang yang baru saja bertemu itu.
Yunus tersenyum dan mengangguk, lalu membiarkan dua sejoli itu terlebih dahulu memasuki rumah, memimpin langkahnya menuju ruangan besar dengan dekorasi warna yellow green yang tampak sangat segar dan mendamaikan mata, yang sering Alfa sebut sebagai ruang keluarga.