
Helmia menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidurnya yang luas itu. Satu tangan memegang pelipisnya, berusaha untuk meredakan rasa pening yang berdenyut tak berkesudahan, mengikabnya dengan beribu hantaman rasa sakit yang masih diimbuhi dengan hatinya yang merasa tak nyaman. Pas sekali untuk malam yang larut ini dengan keadaan demikian untuk tertidur pulas. Namun, Helmia tak bisa melakukannya. Kedua bola matanya meminta untuk segera terkatup, tetapi, segala gundah yang masih bersarang dalam angan-angannya itu menjadi magnet untuk kelopak matanya agar tetap terbuka.
Helmia sudah tidak lagi mengkonsumsi kafein. Meski begitu, entah mengapa ia bisa tahan untuk terjaga pada malam-malam panjangnya. Tubuhnya yang mudah terserang sakit kepala itu membuatnya menghindari sejauh mungkin minuman pahit yang dahulu menjadi temannya hampir 18 tahun.
Dalam keadaan seperti ini, ingin rasanya wanita itu meneguk sedikit saja aroma wangi kopi yang menjadi candu baginya itu. Sejenak pandangannya terarah ke depan, di mana Yunus masih sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Tak sedikit saja ada waktu bagi laki-laki itu untuk mengalihkan pandangan. Terus dan terus saja ia benamkan hampir setiap waktu malamnya untuk bekerja keras menyelesaikan urusan ini dan itu. Helmia tampak melipat bibirnya. Oh, sudah berapa lama ia tak memperhatikan dengan benar suaminya itu yang kini pun telah menua dengan kulit keriput dan rambut yang mulai ditumbuhi oleh warna putih. Fisik laki-laki itu secara nyata memang telah berubah. Namun, tidak dengan staminanya yang masih sama seperti ketika ia masih muda. Yunus yang selalu disiplin dan taat waktu itu seperti tak ada lelahnya bekerja.
Perlahan Helmia mendudukkan tubuhnya di tepi matras dan menjulurkan kakinya ke lantai. Ia harus menenangkan diri. Kejadian tidak menyenangkan tadi di awal malam ketika ia bersua dengan Gani dan Fera benar-benar tak bisa membuatnya tenang dan terus saja memikirkan Alfa. Ditengoknya jam dinding yang berdenting cukup keras dalam kesunyian yang melingkupi dirinya dan suaminya itu. Pukul 10.20 malam.
Yunus yang melihat Helmia telah berdiri dari sekilas pandangnya itu kemudian menatap sepenuhnya dan bertanya, "Hendak ke mana?"
Wanita itu menatap suaminya sejenak. "Aku harus melakukan sesuatu agar pikiran menjengkelkan tentang anakmu itu segera sirna dan aku segera bisa tidur," jawabnya dengan pandangan mencela. "Jangan lupa bahwa aku akan segera menjalankan rencanaku. Kau juga harus bersiap," pungkasnya dengan berteka-teki, kemudian berjalan ke arah pintu kamar dan menutupnya kembali.
Yunus mendesah. Layar laptop ia tutup seketika dan tampaklah dalam matanya kalender meja yang penuh dengan coretan tinta merah dan hitam tak beraturan yang tiba-tiba saja menjadi pusat perhatiannya.
Esok adalah akhir pekan? Cepat sekali waktu berganti hingga tanpa terasa ia sudah bertemu kembali dengan penghujung hari. Diurutnya perlahan pangkal hidungnya dengan sebelah tangan. Merasai otaknya yang telah penuh dengan berbagai beban pikiran.
Diembuskannya napas panjang untuk memberi sedikit jeda pada tubuhnya yang telah bekerja keras itu. Mengingat Helmia tadi yang mengatakan tentang Alfa, ingatan Yunus pun bertolak ke belakang, mengingat kapan terakhir kali ia berjumpa dengan anak itu. Memorynya bergulir dengan cepat, mundur ke beberapa waktu lalu yang terekam dalam otaknya. Namun, decakan kembali lolos dari wajah tua itu ketika pada ujungnya ia tak bisa lagi mengingat waktu.
Kesibukannya telah membuatnya hampir gila karena terus saja tenggelam dalam pekerjaannya yang tak pernah usai. Ia bagai robot yang terus saja disetir untuk melakukan kegiatan bisnis dan mengesampingkan urusan pribadinya yang diam-diam terbengkelai.
Yunus menatap kalender itu dengan pandangan elang. Ia akan menepati janjinya pada dirinya sendiri kali ini di beberapa hari lalu. Mungkin esok adalah waktu yang tepat. Sudah sekian lama ia tak bersua dengan anak semata wayangnya itu.
Ya. Besok ia akan mengunjungi Alfa di sela-sela waktu senggangnya.
******
Helmia mendudukkan dirinya di atas clearie bar stool yang terletak di depan meja bar kecil di area kitchen set ruang dapur di rumahnya. Di hadapannya tersaji secangkir kopi pahit yang masih mengepulkan asap panas dari atas warna hitamnya. Dengan terpaksa, akhirnya ia mengulang kembali saat-saat mudanya di mana ia berdua dengan cangkir porselen berisi minuman berkafein itu. Pikirannya sungguh berat dan dadanya penuh padat oleh beraneka rasa tak nyaman, dan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan hanyalah duduk diam sembari menikmati sesapan-sesapan panas dari rasa pahit yang amat kental terasa di tenggorokannya itu, mengabaikan segala efek samping yang akan dirasakannya nanti. Yang pasti, setelah membuang penat yang bergelayut manja dalam otaknya itu, ia bisa segera tertidur dengan nyaman.
Helmia melirik ponsel yang ada di samping lengannya. Dengan gerakan lambat, ia tarik ponsel itu hingga sekarang telah ia genggam. Wanita itu pun membuka layarnya dan mencari-cari nama yang sedari tadi telah ada dalam benaknya. Ditekannya tombol hijau sebagai peminta panggilan, lalu dilekatkan ponsel itu di telinga kirinya sembari menunggu jawaban. Wanita itu sempat terlonjak kaget ketika tanpa ia kira, orang yang dihubunginya itu langsung mengangkat panggilan pada dering pertama di malam yang sudah selarut ini.
"Bibi? Bibi belum tidur? Ada apa?" Berondongnya dengan kalimat tanya di awal bicara. Namun, nada suaranya lebih mengarah kepada kekhawatiran.
"Belum Karina. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di jam selarut ini dengan langsung menjawab teleponku?" Tanyanya dengan kening berkerut.
Helmia menggumam mendengar ucapan wanita muda di seberang teleponnya itu. "Aku mengganggu?" Sesalnya. Merasa bersalah karena mungkin saja telah menghubungi di waktu yang tidak tepat.
"Tentu saja tidak. Aku senang Bibi menghubungiku. Aku jadi merasa tidak sendiri malam ini," ujarnya dengan menyunggingkan senyum yang hanya bisa terlihat oleh dirinya sendiri yang sekarang tengah duduk di depan meja toalet.
Helmia pun demikian. Ia merasa sedikit lega dengan senyum miring yang nampak di wajahnya. "Kau sudah mempertimbangkan dengan matang bukan saranku beberapa waktu lalu?" Tanyanya dengan langsung fokus pada inti pembicaraan yang sudah tersusun rapi dalam otaknya.
Karina mengangkat alis demi mendengar Helmia yang langsung menodongnya dengan pertanyaan menyebalkan itu. Sejujurnya ia teramat senang. Mendapat tawaran luar biasa dari nyonya besar seperti Helmia untuk menikah dengan putranya yang semata wayang. Namun, meski hidupnya telah diambil kewarasannya atas sakit hati yang pernah dirasakannya dulu, bukan berarti hal itu membuatnya menjadi gila dan tak tahu malu dengan seenaknya merebut suami orang.
Alfa telah beristri dan Helmia sudah memiliki menantu sekarang. Apakah Helmia sedang pura-pura lupa, terlepas dari segala persoalan pelik yang sedang melanda hubungan rumah tangga anaknya itu?
Dengan pelan, Karina menjawab ragu. "Aku bahagia sekali Bibi, seandainya saja aku bisa memiliki seseorang yang bisa kujadikan sandaran untuk saling berbagi hati. Tapi-"
"Aku sudah tak bisa menunggu lagi," potongnya cepat. "Persoalan ini tidak sesederhana yang kau kira Karina," ketusnya.
"Bibi-"
"Tidakkah kau tahu hanya Alfa yang bersikap naif dengan segala kebodohannya untuk menolak menjadi penerus pucuk pimpinan perusahaan keluarga? Aku tidak bisa ... Aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Kau harus membantuku Karina! Mana tanda terima kasihmu sebagai seseorang yang telah kubantu untuk meniti karir hingga sejauh ini? Mana?!" Teriaknya yang membuat Karina terperanjat. Sentakan itu berhasil menyuntikkan dilema luar biasa dalam hatinya.
Haruskah ia membalas budi dengan cara seperti ini? Menjadi wanita rubah yang mendadak datang sebagai antagonis bagi hidup Tiara dan Alfa yang sama sekali tak bersinggungan dengannya?
Karina tahu, Helmia sesungguhnya adalah wanita yang baik. Buktinya, ia mau mau saja dengan tangan terbuka membantunya untuk menaikkan popularitas karir dengan kekuasaan yang dimilikinya, padahal Helmia tahu bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, hanya gadis berbakat pas-pasan yang bermodal ketekunan. Namun, sudah menjadi watak perempuan tua itu untuk bersikap tebang pilih sesuka hati hingga ujungnya, Karina harus terjebak dalam drama utang budi yang sangat tidak mengenakkan ini.
Karina tak habis berpikir. Bagaimana hubungan antara Helmia dan Berta yang menjadi kolega dalam dunia bisnis properti modelling yang kini menjadi besan itu?
Dilihatnya layar ponsel miliknya. Sambungan telepon masih terhubung hingga menunjuk ke angka 15 menit 34 detik. Baru saja Karina hendak berucap, Helmia telah terlebih dahulu memutus percakapan, membuat kata-kata Karina tertelan kembali ke dalam dadanya yang beregup kencang. Menyumpalnya dengan sesak yang semakin bertambah.
Karina melempar ponselnya dengan kasar ke atas meja. Ekspresinya yang lelah itu kini berubah menjadi mimik wajah keras memerah penuh amarah.
Haruskah ia membalas budi dengan cara keji seperti ini?