
Begitu sampai di garasi rumah, Tiara langsung membuka pintu mobilnya dan dengan terhuyung, ia mendekat ke arah tembok lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Alfa yang mengetahui bahwa istrinya telah terburu-buru turun dengan penuh kepayahan itu pun segera menyusul dengan membanting pintu di belakangnya. Tiara tampak pucat dan memegangi perutnya dengan ekspresi kesakitan.
“Tiara? Kau … sakit? Apa yang kau rasakan?” Alfa dengan paniknya mendekat lalu menyibakkan anak rambut yang tergerai di dahi istrinya, keringat dingin muncul di sana dengan dahinya yang berkerut dan kedua matanya terpejam.
“Aku mungkin mabuk kendaraan. Perutku mual sekali,” ujarnya dengan berkali-kali membasahi bibir dan melipat bibirnya.
Sebelah alis Alfa terangkat mendengar perkataan Tiara yang membuatnya makin bertanya-tanya.
Mual? Mabuk kendaraan? Yang benar saja ….
“Kau kuat berjalan? Atau mau kugendong?” Alfa bertanya dengan hati-hati melihat Tiara yang masih belum bergerak dari tempatnya. Bingung karena sepertinya istrinya itu masihlah dengan rasa tidak nyamannya dengan tanpa memberi tahu apapun yang ia inginkan.
Mendadak wanita itu membungkukkan badan dan berusaha untuk memuntahkan apa saja yang terasa mengganjal di perutnya, namun tak ada barang satu tetes pun yang keluar dari mulutnya yang membuat ia semakin tersiksa dengan rasa mualnya. Alfa pun sontak memijat tengkuk Tiara dengan lembut, membantunya agar segera menuntaskan hasratnya untuk muntah.
Dengan tubuh bergetar Tiara akhirnya menegakkan badan dan memegang erat tangan suaminya dengan matanya yang menyipit seolah berusaha menetralkan pandangannya yang mulai kabur. “Aku … lemas sekali … bisakah … kau membawaku ke dalam?” ucapnya terbata diiringi tubuhnya yang lunglai dan matanya yang benar-benar telah kehilangan kemampuannya untuk melihat.
Alfa merangkul sejenak tubuh istrinya yang terhempas ke arahnya, memeluknya dengan penuh kasih sebelum ia mengangkat Tiara dalam gendongan tangannya, membawanya ke dalam kamar dan langsung menidurkannya di ranjang. Wanita itu sempat akan membuka matanya sejenak sebelum benar-benar terpejam dalam lelap. Alfa segera menyelimuti tubuh Tiara dengan bed cover yang teronggok di sisi ranjang, berharap ketebalannya mampu menularkan rasa hangat pada tubuh istrinya yang terasa dingin itu. Dikecupnya kening Tiara dengan senyum getirnya, kaget bukan main mendapati satu hari ini istrinya menunjukkan tingkah yang tak biasa.
Setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu kamar keemasan yang ada di meja nakas, Alfa berlalu pergi dari kamar itu dan berjalan menuju dapur. Ia masih terus berpikir tentang apa penyebab Tiara menjadi sedemikian mual. Apakah menu makanan yang mereka santap ketika makan malam tadi memiliki efek buruk untuk Tiara? Tetapi, lelaki itu yakin bahwa Tiara sedang tidak keracunan makanan, nyatanya, dirinya sendiri baik-baik saja, padahal mereka memesan menu yang sama. Segala kemungkinan itu ia munculkan dalam kepalanya sebelum ia benar-benar mengambil keputusan bahwa istrinya itu mungkin saja telah hamil.
Disesapnya teh manis hangat yang baru saja diseduhnya itu dengan penuh kenikmatan. Tiara biasanya akan menyeduh teh pula setelah pulang dari bepergian seperti dirinya saat ini.
Kedua mata cokelat laki-laki itu tiba-tiba saja menatap dengan tajam begitu mendapat ingatan tentang teh. Alfa langsung terngiang begitu saja dengan lemon tea yang dibuat istrinya tadi pagi. Tubuhnya menegang sejenak sebelum mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja makan tempatnya menikmati teh saat ini.
Tanpa ragu lagi, lelaki itu memencet tombol pemanggil setelah menemukan nama yang ditujunya. Setelah menunggu sekian detik, akhirnya suara jernih perempuan paruh baya itu didengarnya dengan menyapanya terlebih dahulu.
“Alfa? Ada masalah apa?” Tanyanya dengan nada sedikit cemas begitu menerima panggilan dari Alfa di malam yang selarut ini.
“Tiara mengalami perubahan pada selera makannya secara mendadak sejak tadi pagi dan baru saja ia mengalami mual setelah pulang dari bepergian,” jelasnya. “Apakah itu bisa menjadi tanda bahwa istriku telah hamil?” tanyanya dengan lugas.
“Oh, bisa saja itu terjadi. Kau bisa melakukan pengecekan mandiri menggunakan test pack. Kau tahu bukan? Atau kau bisa mendatangi klinik esok hari, tetapi, maaf Alfa, aku tidak sedang berada di sana karena ada kepentingan yang harus kuselesaikan di luar kota,” jawabnya.
“Ya. Baiklah. Tidak masalah. Ini sudah cukup membantuku,” ucap Alfa dengan desahan napas lega yang terdengar lembut di telinga Jeni.
“Apakah Tiara baik-baik saja sekarang? Bagaimana keadaannya?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Ia sudah tidur saat ini. Tadi ia sempat terlihat pucat dan tubuhnya lemas,” Alfa mengembuskan napas panjang.
“Oh. Iya? Jangan lupa besok pagi kau beri dia vitamin yang kuberikan ketika terakhir kali kita melakukan sesi konsultasi. Jangan beri Tiara makanan yang berlemak karena itu akan menambah rasa mualnya,” jelasnya. “Itu bisa membantu sampai kita bisa bertemu lagi lusa setelah aku pulang,” ujarnya.
“Ya. Baiklah. Terima kasih banyak Dokter.” Alfa mengakhiri pembicaraan. Terdengar gumaman kecil di seberang sana sebelum laki-laki itu menutup telepon.
Alfa menengok ke arah kamarnya sebentar di mana istrinya telah tertidur di sana. Ada rasa mengharu biru dalam dadanya yang mendadak muncul ketika sekelebat bayangan kecil yang masih berupa titik putih dalam perut Tiara ketika USG beberapa bulan lalu datang kembali sebagai memory di otaknya.
******
Esok hari ketika matahari baru saja menunjukkan keramahannya pada penduduk bumi yang mendapat jatah waktu paginya, Alfa terbangun terlebih dahulu dengan rasa puas yang amat terasa karena telah tertidur dengan nyenyak. Keadaan Tiara yang sempat membuatnya khawatir, tetapi jawaban dari dokter Jeni yang begitu memuaskannya itu mampu menjadi pengantar tidur yang bisa menghantarkannya ke dalam lelap yang luar biasa menenangkan.
Lelaki itu kemudian memiringkan tubuhnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Tiara masih tertidur lelap di sampingnya. Wanita itu biasanya akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyapa tanaman-tanaman kesayangannya dan menyiraminya dengan ceria. Membiarkan hawa dingin pagi menyentuh kulitnya yang halus itu hingga cahaya mentari datang menjelang.
Pagi ini, istrinya itu masih nampak terlelap dengan tenangnya, tubuhnya yang tertidur miring menghadap padanya itu memperlihatkan wajahnya yang polos tanpa ekspresi apapun. Tanpa sadar, Alfa tersenyum sendiri melihat pemandangan paginya yang terasa menyenangkan itu. Sepertinya, baru kali ini ia memperhatikan dengan saksama wajah istrinya ketika tengah tertidur. Cantik.
Perasaannya penuh oleh rasa bahagia yang meluap, mengetahui bahwa Tiara mungkin saja telah kembali hamil. Ada suara peringatan yang menggema dari dalam diri lelaki itu bahwa ia harus lebih berhati-hati dan menjaga makhluk indah nan sempurna di matanya itu dengan lebih baik. Alfa menyentuhkan jemarinya pada anak-anak rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya lalu menyibakkannya. Perlahan, lelaki itu mendekatkan wajahnya dan mencium dengan lembut kening serta pipi istrinya. Mencurahkan segenap rasa sayang dan cinta kasihnya yang tiada terkira.
Beberapa detik setelahnya, perempuan itu mulai mengerjapkan mata, seolah sentuhan ringan suaminya itu telah menggugah alam bawah sadarnya hingga ke permukaan. Hal pertama yang langsung dilihatnya adalah Alfa yang tersenyum kepadanya, membuat ia pun balas tersenyum dengan mata yang masih terasa berat untuk terbuka. Hampir tiap pagi pada hari-hari sebelumnya, Tiara yang selalu bangun terlebih dahulu itu selalu meluangkan waktu sejenak untuk sekedar memandang wajah suaminya yang tengah terlelap lalu mencium pipi Alfa dengan tanpa membangunkannya.
Saat ini, Alfa melakukan hal yang sama dengannya, seolah, mereka adalah satu jiwa dengan dua bentuk tubuh yang berbeda.
Sekarang dengan ia terbangun dan Alfa yang terlebih dahulu menyambutnya, membuat senyum hangat yang terulas dari bibir lelaki itu mengalir hingga ke dalam kehangatan sudut hatinya. Ia bahagia, menerima segala perlakuan penuh kasih dari lelaki itu dan ia pun terharu karena merasa dicintai dengan begitu kuat.
“Selamat siang Sayang,” Alfa menyentuhkan kembali jemarinya untuk mengusap rambut istrinya yang tergerai itu.
Tiara melebarkan mata. Polat manik matanya langsung mengarah ke jendela kaca yang ada di kamarnya, mencari jawaban ‘selamat siang’ yang diucapkan Alfa. Warna hari yang cerah dengan cahaya matahari yang terang benderang, yang mengintip dari serat kain gorden itu cukup untuk membuatnya mengerti bahwa pagi hari telah mulai naik hingga tingkat cahayanya yang sudah semakin terang.
Wanita itu tersenyum dan merasa geli karena ucapan sambutan untuknya itu lebih terasa seperti ejekan ketimbang ucapan penuh cinta yang biasanya terucap dari lelaki itu ketika mereka baru saja bertemu ketika pagi.
“Selamat pagi menjelang siang suamiku,” ucapnya sembari mengubah posisi tidurnya hingga ia terlihat lebih segar dengan satu tangan yang terlipat di bawah bantal. “Kau pun bangun sama siangnya denganku, mengapa mengucapkan ucapan selamat pagimu seperti itu?” kesalnya.
Alfa terkekeh. “Karena kau terbiasa bangun pagi. Jarang sekali aku melihatmu terbangun hingga waktu ini, apa kau kelelahan? Bagaimana perutmu? Apakah kau masih mual?” berondongnya dengan ekspresi wajah sedikit menunjukkan keresahan.
Tiara mengalihkan pandangannya sejenak, menerawang, seolah mengingat-ingat kembali apa yang terjadi hingga Alfa bertanya demikian. Lalu, sambil memegangi perutnya, wanita itu justru berkata dengan tanpa memperhatikan lagi kecemasan yang nampak dari wajah suaminya. “Aku lapar,” ujarnya yang membuat lelaki itu mengangkat alis.
Seperti baru saja tersadar dari tidur, Tiara tiba-tiba mengernyitkan dahi dan bertanya, “Alfa, apa kau baru saja mengganti parfummu?” Lagi-lagi lelaki itu hanya menunjukkan mimik wajah penuh tanyanya.
“Parfum? Tentu saja tidak. Ada apa?” Tanyanya dengan ekspresi bingung.
“Mengapa terasa tak enak sekali di hidungku?” Tiara mendudukkan tubuhnya seolah menjauh diikuti Alfa yang juga duduk di atas ranjang, mengerutkan kening karen dibuat penasaran dengan pertanyaan istrinya yang tak ia paham maksudnya.
“Sebaiknya kau segera mengganti bajumu itu. Ya?” Mintanya lalu tanpa berkata lagi, Tiara bangkit dari ranjangnya dan segera berjalan menuju kamar mandi, menyisakan Alfa yang masih kebingungan dengan sikap Tiara yang seakan sama sekali tak dikenalnya itu.
Dengan lugunya, Alfa pun segera membaui tubuhnya sendiri karena ingin segera menemukan aroma parfum seperti apa yang sebenarnya telah tercium oleh hidung Tiara itu. Namun, ia tak menemukan apapun. Lelaki itu justru tersenyum karena baru menyadari bahwa dengan adanya perubahan drastis pada selera makan dan semakin sensitifnya Tiara terhadap bau-bauan, semakin menguatkan dugaannya bahwa kehamilan istrinya itu memang benar adanya ….
Ah, sungguh inilah yang ia nanti-nantikan.