
"Aku mau makan dulu.” Tiara memegang pergelangan tangan Alfa yang sudah bangkit dari duduknya. Lelaki itu melebarkan kedua mata tak percaya ketika saat ini, mereka sudah tinggal menancapkan gas untuk berangkat memeriksakan kehamilannya pada Dokter Jeni, tetapi wanita itu malah merengek untuk kembali makan. Padahal, satu jam yang lalu, istrinya itu baru saja menghabiskan makan siangnya dengan lahap.
Lelaki itu tersenyum kemudian mengusap pucuk kepala istrinya dengan gemas hingga sedikit berantakan. Alfa akhirnya berjongkok dengan menumpukan satu kakinya di depan wanita itu lalu mengusap dengan lembut perut Tiara yang kian hari kian terlihat berisi. “Makanlah sesukamu sayang, sebentar lagi kita akan bertemu.” Tiara turut memandangi perutnya seolah sedang menatap langsung anak mereka, seperti Alfa yang sedang memandangi pula perutnya dengan perasaan penuh takjub dan bahagia. “Jadi, kau mau makan apa? Hm?” Perlahan lelaki itu menatap mata Tiara dengan mimik wajah penuh tanya.
“Aku mau es krim rasa mangga,” ujar wanita itu lalu melipat bibirnya dan menampakkan ekspresi memohon dengan mata berbinar-binar.
Cuaca cerah dengan matahari yang bersinar terang tanpa membentangkan awannya di atas sana, membuat udara terasa begitu lembap dan panas. Hari memang baru menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi, kehamilan membuatnya merasakan panas berlebih pada tubuhnya sehingga Tiara benar-benar ingin sesuatu yang dingin dan menyegarkan tenggorokannya untuk sedikit mengusir kegerahan di tubuhnya.
“Mudah. Ayo kita beli sembari berangkat menuju tempat Dokter Jeni.” Alfa mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Tiara dengan genggaman erat tangannya, berjalan beriringan menuju garasi rumah. Alisa telah bersedia di tempatnya membuka pintu gerbang untuk mempersilakan mobil copper metallic itu keluar. Wanita itu mengangguk berbarengan dengan klakson mobil yang berbunyi. Mobil sport itu pun melesat dengan cepat di tengah jalanan yang cukup ramai siang itu.
Lima belas menit bermain dengan pedal gas dan rem, mobil Alfa membelok ke salah satu gerai snow ice yang berada pada sisi jalan arteri di kota itu, lelaki itu lalu memarkirkan mobilnya pada area parkir yang cukup lengang di sana.
"Mengapa kita kemari?" Tiara memegang lengan kiri suaminya yang telah mematikan mesin mobil dan hendak membuka pintu.
"Membeli es krim. Bukankah kau sendiri yang menginginkannya?" Alfa mengurungkan niatnya yang telah memegang handle pintu lalu menghadapkan tubuh pada istrinya.
"Tetapi ... tetapi aku mau cone ice cream dan memakannya di mobil saja. Udara di luar terlalu panas," ucapnya.
Lelaki itu tampak menimbang-nimbang dalam pikirannya. "Harus yang seperti itu? Tidak bisa ditawar? Bukankah rasanya sama saja?" Alfa mengangkat sebelah alis dan menyedekapkan kedua tangannya.
"Iya, tetapi, akan berbeda rasanya ketika memakan dengan mangkuk dan cone. Dan aku lebih suka yang creamy bukan snow ice," paparnya dengan senyum puas tanpa rasa bersalah yang membuat Alfa melebarkan matanya sekali lagi.
Lelaki itu dengan ragu menghidupkan kembali mesin mobilnya sambil berpikir keras, di mana ia bisa menemukan keinginan Tiara itu. Dengan menghela napas panjang dan tetap berusaha untuk tersenyum, Alfa lalu memutar kembali mobilnya, berbaur dengan ramainya lalu lintas dan turut masuk ke dalam deretan kendaraan yang berlalu lalang.
“Baik. Apa yang tidak akan ayah lakukan untukmu sayang?” Alfa sejenak melepaskan tangan kirinya dari kemudi dan mengelus perut Tiara. Menyunggingkan senyum tampannya yang memesona lalu kembali berkonsentrasi ke arah depan, fokus pada aktivitasnya berkendara. Ia bahagia, tak ada yang bisa menandingi rasa senangnya kali ini selain melihat Tiara yang begitu manja dan selalu merengek kepadanya ketika menginginkan sesuatu. Sungguh sebuah kelangkaan yang tak bisa ia temukan pada diri istrinya itu di hari-hari biasa. Alfa tertantang dengan segala hal baru yang terkadang tumbuh tanpa ia duga pada hari-harinya akhir-akhir ini, bangga, serta terharu bisa menemani wanita itu di keadaan susah senangnya dalam menghadapi kehamilannya itu. Terlebih lelaki itu senang bisa menjadi lelaki siaga untuk wanitanya.
“Maaf … aku … merepotkanmu di sela-sela kesibukan aktivitasmu.” Tiara berucap dengan wajah penuh sesalnya. “Bagaimana jika kita nanti saja membeli es krimnya dan terlebih dahulu pergi ke tempat Dokter Jeni?” tawarnya yang terdengar seperti gelitikan di hati Alfa. Laki-laki itu baru saja merasai bahagia karena telah tercetus dalam kepalanya, di mana ia akan menemukan mango cone ice cream itu, tetapi buyar begitu saja dengan istrinya yang berkata demikian.
“Tunggulah di sini. Aku akan membeli sebentar.” Alfa melepas sabuk pengaman, mencondongkan tubuhnya mendekat ke tubuh wanita itu dan mencium pelipisnya. Tiara hanya mengangguk dengan senyum cantiknya, memperhatikan lelakinya yang berjalan menjauh dari mobil, berjalan cepat menuju lift dan menghilang di balik pintu kacanya.
******
“Enak?” Alfa memusatkan perhatian penuh kepada Tiara yang tengah dengan nikmatnya mencecap es krim berwarna oranye itu. Lelaki itu menyandarkan kepala pada jok tempatnya duduk. Masih dengan napasnya yang terengah-engah karena harus berjalan cepat sambil terus mengumpat dalam hati, semoga saja gerai mini cone ice cream yang tengah ditujunya itu masih berada di tempatnya, seperti yang ia lihat terakhir kali.
“Em … tentu saja. Entah kenapa setiap aku memakan sesuatu yang kuinginkan, rasanya bisa selezat ini, padahal, makanan-makanan itu hanya makanan biasa saja,” ucap Tiara tanpa mengalihkan perhatian dari es krim di tangannya.
Alfa menolehkan kepala hendak menanggapi perkataan istrinya itu, tetapi, malahan kedua matanya langsung tertuju pada bibir Tiara yang lembap dan basah karena tersentuh oleh rendahnya suhu makanan yang tengah dilahapnya itu. Refleks lelaki itu memiringkan tubuh dan sedikit mencondongkannya lebih dekat ke arah istrinya.
Merasa diperhatikan, Tiara pun turut menoleh dan mendapati Alfa sudah semakin dekat dengannya. “Kau mau?” tawarnya dengan kedua alis terangkat ketika suaminya itu justru memandangnya dengan tajam. Tatapan itu … mengapa Alfa menatapnya seperti itu? Wanita itu menjadi salah tingkah sendiri dan mengelap dengan lengan kirinya, apakah ada sisa makanan yang tanpa terasa ada di luar mulutnya dengan rona merah yang mulai muncul di tulang pipinya
“Aku mau … dari mulutmu …,” ujar Alfa semakin mendekatkan tubuhnya dan menggapai tengkuk wanita itu, mendorongnya dengan gerakan sensual hingga terjadilah pertautan nikmat kedua bibir mereka. Tak menunggu lagi, lelaki itu memuaskan diri melahap habis bibir Tiara yang terasa semakin manis di mulutnya, menjulurkan lidahnya dan merasai sepenuhnya kenikmatan yang semakin membakar gairahnya itu. Mengabaikan keberadaan mereka saat ini yang tengah berada di parkiran Rumah Sakit Bersalin, tempat Dokter Jeni berada.
Ketika rasa nyeri mulai menjalar pada pusat gairahnya dan menyadari keberadaan mereka yang tengah berada di area Rumah Sakit itu, Alfa dengan berat melepaskan bibirnya dari kenyamanan gejolak hasratnya yang tengah menggebu. Menatap perempuannya yang juga tengah memandangnya dengan gerakan dada yang naik turun merasai gairah yang sama. Lelaki itu mengusap bibir istrinya perlahan dan tersenyum lalu membenarkan posisi duduknya demi sekali lagi menyadarkan pikirannya yang telah tertutup kabut.
Tiara pun mendeham untuk mengusir segala keinginan tubuhnya saat ini yang tanpa terasa telah hanyut dalam gelora kenikmatan yang Alfa berikan dan dengan tanpa malunya telah mengabaikan es krim di tangannya yang kini mulai meleleh.
Alfa menyeringai. “Kenapa? Baru menyadari jika bibirku lebih nikmat dari es krim itu? Hm?” godanya dengan sebelah alis terangkat.
“Ti … tidak, hanya rasanya telah berubah jika telah mencair,” ujarnya, berusaha berkata dengan lancar, sambil membungkus sisa es krim itu ke dalam plastik dan membuangnya melalui jendela mobil ke dalam tong sampah yang kebetulan berada tak jauh dari samping kiri mobil. Wanita itu kemudian mengelap tangannya dengan tisu yang tersedia di dashboard.
Lelaki itu turun terlebih dahulu sambil lalu menunggu istrinya membereskan sisa kekacauan dan merapikan pakaian yang sedikit kusut akibat ciuman panas singkat mereka, lalu membuka pintu samping di mana Tiara telah bersiap untuk turun.
“Ayo,” ajak Alfa sambil mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut antusias oleh istrinya. Lelaki itu kemudian merangkul dengan erat pinggang Tiara dan berjalan dengan bangganya, memamerkan kemesraan mereka pada siapa saja yang tengah berada dalam lobi rumah sakit itu.