The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode-23 Pertengkaran



Alfa memutuskan untuk tetap terduduk di tepian ranjang istrinya setelah akhirnya dengan putus asa ia tak bisa membujuk Tiara untuk terlebih dahulu mengisi perutnya. Rasa tak nyaman yang masih menghinggapinya setelah beberapa waktu lalu terkena suntikan obat bius, membuatnya tak ingin melakukan apa-apa saat ini, selain menunggu reaksi itu hilang dan Alfa menemani di sampingnya.


Lelaki itu hanya terdiam sambil terus menerus meremas dan mengusap lembut punggung tangan Tiara dengan ibu jarinya, sementara tatapannya nanar, menerawang, beradu pelik dengan pikirannya sendiri. Tanpa terasa, sentuhan lembut itu mampu membuat Tiara merasakan lagi rasa kantuk, sehingga perlahan-lahan, wanita itu mulai memejamkan matanya lagi. Melepaskan segala kesusahannya ke dalam lautan lelap yang menenggelamkannya dalam-dalam.


Alfa menghembuskan napas panjang dan menengok sebentar ke arah Tiara. Kedua alisnya terangkat dan senyum tipis menghiasi bibirnya menatap Tiara yang kembali terpejam dengan damai dan tubuhnya yang bergerak dalam irama napas yang teratur. Dibelainya rambut cokelat itu dalam beberapa usapan.


Ini belum apa-apa. Ia tahu Tiara harus menanggung beban lebih berat darinya. Alfa terus menerus menguatkan Tiara atas segala sesuatunya, sementara tanpa terasa, dirinya sendiri semakin layu dihempas rasa bersalah dan sakit yang semakin membelit.


Tiara wanita yang kuat, ia paham sekali hal itu. Tapi entah bagaimana mulanya, Ia merasa Tiara menjadi begitu lemah dan kehilangan harapan. Alfa tahu ini adalah penantian yang panjang, penantian yang tak dapat ia pastikan kapan muara waktu tersebut akan menghadang.


Ia tak boleh kalah sebelum memulai. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum menarik tangan Tiara untuk kembali bangkit dari persoalan yang membelenggu mereka berdua. Ini bukanlah persoalan besar, meskipun berhasil membuat hatinya berantakan. Namun, mau tak mau, ia harus menapaki kembali hidupnya dengan jiwa yang lebih kuat.


Lelaki itu bergerak perlahan menuruni ranjang tempat Tiara tertidur. Memutuskan untuk membeli makanan agar ketika istrinya terbangun, ia tak perlu lagi meninggalkannya. Tiara masih harus berada dalam pengawasan dokter selama 4 jam ke depan sebelum kembali pulang, dan ia selalu menolak menerima makanan dari catering rumah sakit karena menganggap dirinya tidak sedang sakit sehingga bisa memakan makanan biasa.


Alfa berjalan menuju pintu keluar, menatap kembali ke arah Tiara yang tengah terlelap seolah memastikan perempuan itu aman di sana lalu membuka pintu dan melangkah keluar dengan pintu yang kembali menutup rapat.


******


Satu tas besar berisi makanan sehat yang Alfa beli tadi ia tenteng begitu saja dengan tangan kanannya. Tangan kiri ia masukkan ke dalam saku celana sementara kakinya melangkah ringan melewati ruang-ruang yang tampak sepi di sekitar koridor. Siluet seorang wanita yang nampak setelah ia melewati jalan berbelok membuat pikirannya dengan cepat mengubah sikap. Wanita yang sedang berjalan jauh di depannya itu membuat kecepatan langkah Alfa menjadi di atas rata-rata. Setengah berlari. Semoga Tiara belum terbangun dari tidurnya dan ia harus secepat mungkin tiba di sana sebelum Mamanya lebih dahulu sampai dan membuat adegan traumatis bagi Tiara itu terulang kembali.


“Mama!” Panggilnya setengah berteriak lalu buru-buru mendekat.


Helmia menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan dan menatap tanpa jeda, anak laki-lakinya yang tengah berlari cepat menghampiri.


“Sendiri?” Alfa mengangkat kedua alis.


“Ya.” Helmia menggumam santai.


“Tiara mungkin masih tertidur. Aku akan melihatnya. Tunggulah di sini sebentar.” Alfa menjangkau kembali ruang perawatan Tiara yang hanya tinggal enam langkah dari tempat Helmia berdiri.


Alfa memejamkan matanya sejenak dan menarik napas dalam. Lega karena Tiara masih terlelap. Masih ada waktu baginya untuk berbicara sebentar dengan Mamanya.


Perlahan lelaki itu meletakkan tas kertas ke atas meja dan dengan berjingkat ia segera kembali meninggalkan ruangan.


Dilihatnya Helmia telah terduduk di bangku tunggu tak jauh dari ruangan Tiara. Alfa kemudian membanting tubuhnya dan duduk di samping Mamanya.


“Apa yang terjadi dengan Tiara? Jeni mengabariku, tetapi dia sedang tidak berada di sini, jadi ia tak tahu keadaannya.” Helmia menatap lurus ke depan kemudian menoleh, mendapati Alfa yang setengah menunduk memandang ke arah lantai.


Alfa menghembuskan napas panjang lalu bersedekap dan menerawang. “Dia keguguran dan harus melakukan kuret.”


“Apa? Lagi?” Helmia mengerutkan kening. Terkejut dengan berita singkat yang disampaikan oleh Alfa.


“Dia tak tahu bahwa dirinya telah hamil. Tiara terjatuh dan mengalami pendarahan.”


“Oh.” Wanita itu menyenderkan badan dengan sikap jengah.


Alfa menoleh dan menatap tajam dengan alis berkerut. “Apa Mama datang hanya untuk mengetahui Tiara ada apa? Tak bertanya bagaimana keadaannya?” Alfa menceletuk dengan santainya. Namun, dibalas dengan kata-kata bak peluru yang langsung menusuk mati tepat ke jantungnya.


Helmia mendecik, “Kau pikir kenapa Mama perlu tahu? Mama ingin kamu menikah dengan Nelly saja. Sebelum semuanya terlalu terlambat dan membuatmu menyesal.”


Nyala api mulai terlihat dalam kilatan mata Alfa. Gerahamnya mengetat dengan ekspresi keras. Lelaki itu lalu membalas dengan ucapannya yang tak kalah sinis lalu bertepuk tangan meledek. “Bagus.”


Alfa menegakkan punggungnya, lalu menoleh ke sekitar, memastikan tak ada orang lain yang mendengar perdebatan sengit antara ia dan Mamanya meskipun mereka berbicara dengan nada rendah.


“Mama tentu seharusnya lebih tahu. Mana nasihat yang baik dan tidak baik.” Alfa menekankan intonasi suara pada kalimat terakhirnya.


“Oh. Sudah merasa hebat kau sekarang? Kau menikah dan menginginkan keturunan. Untuk apa kau mempertahankan wanita lemah seperti dia? Apa baiknya untukmu? Tak kusangka, perilakunya sama persis seperti ayahnya yang hanya seorang koruptor. Kau tahu koruptor? Suka mengambil keuntungan orang lain demi kebahagiaannya sendiri. Seharusnya dia berkata padamu sejak sebelum dia kau nikahi. Baru sadar bahwa kau sedang terjebak sekarang? Kau pikir siapa yang akan menolongmu?” Helmia memberondonginya dengan sederet kata-kata mencemooh yang meluap-luap dari dasar hatinya.


Paham. Alfa mulai paham sekarang. Mengapa Mamanya setengah hati pada Tiara. Ternyata kekhawatirannya benar. Nelly sungguh datang ke rumahnya menemui Mamanya dan meminta perlindungan sebagai sekutu. Menyerangnya tepat di saat ia sedang terjatuh.


Alfa masih bersikap santai dengan tangan bersedekap. Seolah perkataan Mamanya tadi hanyalah angin lalu dan tak berarti apapun untuknya. Ia sudah terlalu terbiasa mendengar kata-kata umpatan seperti itu.


“Sudah?” Alfa mengajukan pertanyaan dengan santai. “Apa Mama sudah selesai?”


Helmia menggebrakkan kedua tangannya dengan suara keras karena tas yang ia bawa turut terbanting di sana.


“Kau .…” Wanita itu menggeram. Kemarahannya sudah membara hingga puncaknya. “Jangan harap Mama mau bertemu dengan Tiara lagi. Jangan harap!” Helmia bangkit dengan kasar dari duduknya lalu melangkah pergi dengan suara derapan kerasnya yang terdengar semakin lirih ketika menjauh.


******


Alfa memejamkan mata untuk menenangkan diri sejenak. Dadanya bergemuruh oleh aneka emosi yang bercampur jadi satu. Sungguh ini menjadi sangat rumit. Kepalanya terasa berdenyut semakin kencang. Ia menunduk dan meremas kepalanya dengan kepalan tangan yang mengeras.


Ia harus kuat. Tiara adalah prioritasnya saat ini. Dengan wajah memerah dan masih tertunduk, ia tarik paksa dirinya untuk segera berdiri dan menghampiri kembali Tiara di ruang perawatannya.


Alfa menegang ketika membuka pintu dan mendapati Tiara telah terbangun dan langsung memandang ke arahnya. Dengan spontan, ia memasang wajah manisnya dengan tersenyum simpul tanpa memperhatikan bahwa penampilannya sangatlah tidak baik dengan rambut berantakan.


Tiara melebarkan mata begitu Alfa semakin mendekat. “Kau kenapa?”


“Hm?” Alfa menoleh ke arah wanita itu sekilas ketika langkahnya tiba di meja nakas dan hendak menyusun makanan untuk disuapkannya kepada Tiara.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?”


Pertanyaan itu tak jua mampu mengalihkan perhatian Tiara atas dirinya. Apa yang salah dengan dirinya? Apa ia nampak aneh sehingga Tiara tiada habisnya menatapnya dengan tatapan aneh seperti itu? Oh, bodohnya. Mengapa ia tak lebih dulu pergi dan membasuh mukanya agar nampak segar? Alfa merutuk dalam hati.


“Alfa, kau kenapa?” Ucapan Tiara berubah cemas.


Ah, sungguh perempuan itu merepotkan sekali jika sedang penasaran. “Aku? Ah, aku lapar sekali Tiara. Aku ingin sekali makan.” Alfa mengusap-usap perutnya dengan meringis membuat Tiara menggembungkan mulutnya lalu menghembuskannya dengan desahan kecewa mendengar jawaban Alfa atas kecemasannya tadi.


“Makan ya?” Ucap Alfa sambil menyodorkan sendok ke arah mulut istrinya.


Tiara lalu berusaha untuk duduk tegak dan menengadahkan tangan kanan ke hadapan Alfa. Lelaki itu mengangkat alis tak mengerti.


Wanita itu lalu mengambil sendok yang telah terisi makanan dari tangan Alfa, lalu menyodorkan sendok yang kini sudah berada di tangannya ke mulut Alfa. “Kau lapar bukan? Kau lebih lapar dari pada aku. Makanlah.” Tiara tersenyum dalam balutan wajah pucatnya.


Alfa terlihat menimbang-nimbang sejenak, lalu membuka mulutnya dan melahap dengan penuh nikmat makanan yang disuapkan oleh istrinya. Ia bahkan merebut sendok yang masih ada di tangan Tiara lalu menyuapkan lagi satu sendok penuh makanan hingga kini mulutnya penuh dengan kunyahan.


Hatinya memanas dan sungguh jika Tiara menatap lurus ke arah matanya saat ini, ada genangan yang siap meluap jika saja ia tak bersegera mengalihkan fokusnya ke makanan yang terkunyah di mulutnya.


Oh, Alfa kebingungan lagi untuk kesekian kali. Siapa yang tengah dirawat dan sakit sebenarnya di sini?