
“Diena meminta kau menjadi fotografer dalam pemotretan kali ini.” Karina menatap lurus ke depan. Memandangi kendaraan yang tampak hilir mudik dari lantai dua ruang studio Blueict Company. Alfa yang tengah sibuk melakukan editing video itu mematungkan tubuhnya sejenak. Melihat ke arah wanita yang mengajaknya bicara, tetapi tak mengacuhkannya itu. Brian yang juga tengah berada di depan laptopnya itu pun turut menatap perempuan berbaju pastel itu dengan sebelah alis terangkat, sebelum kemudian pandangannya tertuju ke arah Alfa yang sedikit menjauh dari laptopnya dan menyedekapkan kedua tangan di depan dada.
“Kapan bisa kulakukan? Aku mungkin harus menyelesaikan pekerjaan ini hingga siang nanti,” ujarnya.
“Tunggu ... tunggu. Sejak kapan kalian menjadi akur seperti ini?” Brian menyentuhkan tangan pada pucuk dagunya yang berjenggot tipis itu dengan ekspresi berpikir yang tak dibuat-buat. Lelaki itu paham betul akan perseteruan keduanya yang tak kunjung usai sejak awal Karina memulai karir. Sungguh Alfa adalah lelaki perfectionist yang tak mengenal toleransi. Lelaki itu menolak mentah-mentah kontrak kerja sama antara dirinya dengan wanita itu setelah Karina dengan terang-terangan berusaha menyuapnya untuk sebuah ajang fotografi profesional. Alfa semakin tidak memiliki respect terhadap Karina yang ia ketahui telah bekerja sama dengan mamanya hingga melejitkan namanya sampai saat ini.
“Sejak dia menjadi dewasa.” Alfa berkata dengan ekspresi santai yang membuat Karina membalikkan badan dan memberengut ke arah lelaki tampan yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu.
Karina mendecak dan mengabaikan perkataan Alfa yang tuntas menyindirnya. “Setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu,” ucapnya. “Aku akan menunggu di cafetaria tedekat sembari melakukan wawancaraku di sana. Kabari aku jika kau hendak berangkat. Kupastikan kau tak mengingkari perkataanmu kali ini dan kita berangkat bersama-sama ke tempat Diena,” pungkasnya lalu berlalu dari tempatnya. Meninggalkan ruang studio itu dan melesat pergi. Sudah paham benar ia akan karakter Alfa yang suka seenaknya sendiri dalam mengambil keputusan. Dan kali ini, ia tak mau rugi besar karena sudah menolak banyak tawaran demi melakukan fashion photography di tempat itu.
“Oke,” jawab Alfa singkat. “Kau. Jangan lupa segera selesaikan pekerjaanmu dan ikut aku juga ke studio Diena,” perintahnya kepada Brian yang masih terpaku pada kepergian Karina hingga ujung mata.
“Ada apa dengan kalian berdua? Kau … kau tidak sedang berselingkuh bukan?” Brian tak menjawab ucapan rekannya itu, malah memperlihatkan wajah penuh tanya dengan tubuhnya yang menghadap sepenuhnya ke meja Alfa.
Alfa menolehkan kepala dan menghujani rekannya itu dengan tatapan elangnya. “It’s just about business. Kau tahu sendiri aku tipe pria setia bukan?”
“Lalu, kenapa kalian berdua mendadak menjadi dekat? Ah, kau serakah sekali,” celanya sembari meluruskan posisi duduk dan menyandarkan tubuh dan kepala pada kursi. “Kau selalu tak lepas dari wanita-wanita cantik yang dengan sukarela akan mendekat kepadamu. Sedangkan aku? Aku bahkan selalu berbaik hati pada wanita tanpa pandang bulu. Namun, tak ada satu saja dari mereka yang berniat untuk dekat denganku,” keluhnya.
Alfa terbahak. “Itu karena kau men-setting dirimu terlalu murah,” hinanya. Brian seketika menolehkan kepala dan mendelik. “Wanita lebih suka dengan pria yang bisa menjaga kesan, sedangkan kau?” Alfa mengangkat dagunya penuh kesombongan. “Kau bahkan tak punya tipe wanita yang kau pilih dan mengumbar auramu itu ke mana-mana,” kelakarnya yang membuat Brian melempari kertas ke lengan sahabatnya itu.
“Sialan kau!” Brian mendengkus kesal lalu kembali menyibukkan diri dengan laptopnya. Alfa pun demikian. Ia terkekeh melihat mimik muka dongkol lelaki blasteran itu lalu memfokuskan pikirannya ke layar komputernya lagi. Keduanya kembali larut dalam aktivitas masing-masing sampai beberapa lama.
Brian jahanam. Tidak mengertikah ia bahwa Alfa sedang berusaha melenakan otaknya dari memikirkan Tiara? Susah payah ia membunuh waktu agar hubungan jarak jauhnya dengan istri tercintanya itu bisa segera selesai, tetapi dengan tanpa dosa, lelaki itu malah mencurigainya tengah selingkuh? Astaga. Sampai kapanpun tak akan ada term berselingkuh dalam vokabuler lelaki itu.
Alfa tak henti-hentinya mengumpat dalam hati sepanjang ia bekerja. Jemarinya sudah terasa gatal untuk ingin segera menyentuh lagi ponselnya dan menghubungi Tiara. Mendengar suara manis dan wajah cantik perempuan itu yang selalu bisa menenteramkan gulananya.
******
Brian, Alfa dan Karina masuk bersamaan ke dalam gedung studio desain milik Diena, perancang busana mashur yang sudah banyak dipinang hasil rancangannya oleh banyak kalangan, mulai dari kelas menengah ke atas. Karina akan menjadi model promosi desain terbaru wanita itu dengan membayar mahal Alfa sebagai model pasangan dan fotografernya.
Brian dan Alfa mempersiapkan set dan segala macam perlengkapan untuk tema foto pernikahan kali ini. Dengan sukarela, Alfa akan menjadi model pria yang mengenakan tuksedo sebagai pasangan Karina, tentu saja dengan tanpa berdekatan dan bersentuhan seperti keinginan laki-laki itu dan menggabungkan foto keduanya hanya dalam editing gambar. Brian hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah aneh Alfa yang tak biasa itu. Lelaki itu hanya bisa mendecak kesal karena suami Tiara itu hanya menggurauinya ketika ditanya. Entah mengapa seakan-akan Brian mencium bau-bau sesuatu yang tak biasa yang ingin ditampakkan oleh Alfa. Apakah itu? Oh, Brian ingin berusaha membuang rasa penasarannya saja. Ketika lelaki itu tengah bergumul ria dengan segala kecamuk pikirannya, mendadak, ia dibuat terpaku oleh kedatangan Karina. Wanita bertubuh tinggi semampai itu mengenakan gaun abu-abu sebatas dada dengan ekor gaun memanjang. Rambut hitam ber-highlight cokelat muda itu dikepang longgar dengan lilitan bebungaan dan daun-daun sintetis yang tertata dengan cantiknya. Sungguh memesona. Alfa yang mengetahui Karina telah selesai melakukan penataan itu lantas bersiap di belakang lensa kamera. Memerintah dengan gaya khasnya agar wanita model itu berubah pose sesuai instruksinya. Brian turut membantu Karina dalam menyesuaikan gaunnya agar tertata pas di kamera.
Setelah selesai, Alfa melihat-lihat kembali hasil jepretannya sejenak, lalu menyerahkan kamera itu pada Brian. Dengan luwesnya, Alfa yang telah berganti kostum dengan setelah jas abu tua itu bergaya bak model profesional ketika menata tubuhnya dengan pose-pose ala pria peraga busana.
Tanpa ternyana, aktivitas ketiganya terekam jelas oleh Julius yang mengikuti semua kegiatan mereka. Dengan keahliannya berkamuflase yang datang sebagai pembeli baju dan dengan gesit bersembunyi di antara almari dan pakaian-pakaian yang tertata rapi di sana, diam-diam Julius mengabadikan sesi foto itu ke dalam kameranya dengan ekspresi jijik. Dirinya tak menyangka, ternyata, Alfa tak ada beda dengan lelaki munafik yang hanya mengagumi wanita sebatas tubuhnya saja. Oh, sungguh ini pastilah berita menggembirakan untuk Helmia. Namun, benar-benar memuakkan untuknya. Tak pernah terlintas sedikit saja dalam pikirannya untuk akan bertemu dengan hari ini di mana ia mendapati Alfa tengah dengan gembiranya melakukan sesi foto prewedding.
Apakah Alfa akan menikah?
Setelah membeli satu set kebaya yang diinginkannya, Julius pun keluar dari dalam studio desain Diena tersebut dan kembali memasuki mobilnya. Melempar dengan kasar paper bag berisi kebaya ke kursi penumpang, lalu mengambil ponsel dari dalam saku jasnya dan mengetuk nama Helmia.
“Ya. Ada apa?” suara wanita itu terdengar serak. Agaknya, pekerjaannya yang menyita waktu tu benar-benar berefek buruk pada kesehatannya. Tubuhnya mulai lemah dan daya tahan tubuhnya terganggu. Beberapa hari terakhir, wanita itu bahkan mendapatkan perawatan jalan dan mengkonsumsi berbagai jenis vitamin untuk menunjang tubuhnya agar tetap fit.
“Saya seharian ini mengikuti kegiatan Gheo Alfa dan saya membawa kabar baik untuk Anda,” ucapnya.
“Kuharap itu bukan tentang sesuatu yang tak masuk akal lagi Julius. Aku akan memecatmu kalau kau berani lagi memberitahuku tentang berita nonsense,” desisnya.
Julius mengembuskan napas panjang dan memejamkan mata. “Kali ini saya tidak sedang berbasa-basi apalagi mencandai Anda. Akan saya kirim bukti dari awal hingga akhir yang sekiranya akan membantu Anda untuk percaya,” gerundelnya lalu memasang earing bluetooth dan mengoperasikan layarnya. Bersiap untuk mengirim file gambar dan video yang sempat ia simpan beberapa menit lalu sebelum ia keluar dari gedung milik desainer tersebut.
“Cepat katakan!” Helmia menipiskan bibir, kesabarannya semakin menipis jika menyangkut persoalan ini.
“Alfa ditemani satu temannya dan Karina masuk ke dalam studio milik Diena. Mereka melakukan prewedding photograph,” jelasnya sembari mengetukkan tombol kirim pada beberapa foto dan video yang hendak ditunjukkannya pada sang tuan.
Helmia mengerutkan kening ketika menerima beberapa berkas berbentuk JPG dan MPG tersebut. Dengan dada naik turun menahan segala gejolak emosi, akhirnya dibukanya satu persatu foto itu perlahan-lahan. Dan, betapa terkejutnya ia tatkala suasana di dalam ruang studio yang diambil oleh anak buahnya itu secara sembunyi-sembunyi, berhasil menunjukkan secara jelas aktivitas Alfa dan Karina yang tengah melakukan sesi pemotretan.
Wanita itu memijat keningnya. Merasakan hantaman aneh yang mendobrak jiwanya.
“Nyonya? Anda masih di sana?” panggil lelaki itu. Julius mengerutkan kening begitu tak ada tanggapan sama sekali dari tuannya setelah beberapa lama. Angka penghitung waktu panggilan telepon masih terus berjalan dan lama-lama rasa khawatir mulai hinggap dalam dada. “Nyonya-“ ucapnya hendak bertanya kembali, tetapi, suara dehaman dari ujung telepon itu memutus niatnya.
“Bagaimana dengan Tiara? Apa ada kabar terbaru?” tanyanya dengan napas terengah-engah.
“Belum Nyonya. Mungkin setelah ini saya akan mencoba untuk datang-“
“Tidak usah. Nanti aku sendiri saja yang akan mencari tahu. Kau, cukup sampai di sini,” putusnya.
“Apakah saya perlu menemani ke mana Anda pergi?” tawarnya.
Wanita itu mengembuskan napas kasar. “Ya. Besok pagi antar aku ke kediaman Alfa,” pungkasnya lalu menutup panggilan begitu saja. Helmia menyandarkan kepala ke puncak kursi tempatnya terduduk. Jantungnya berdebar cepat tak terkendali. Ada sesuatu yang salah kali ini. Dan ia harus cepat mencari tahu sebelum segala kesimpangsiuran ini semakin membuatnya tersiksa.
******
Terima kasih kepada pembaca yang telah menyumbangkan kebaikan like, comment, love, rate, vote poin, dan koin sehingga Author bisa terus bersemangat untuk melanjutkan novel sampai ke tahap ini 😍😍😍😍
Thank you semuanya... 💐💐💐
Aku cinta kalian 😘😘😘😘