
Remang malam dengan warna terang di ufuk langit menandakan malam baru saja tiba. Alfa mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sendirian di tengah jalanan yang sepi. Hanya sesekali ada kendaraan roda empat maupun roda dua yang melintas berlawanan. Akan menjadi perjalanan yang panjang malam ini. Sebenarnya ia bisa saja menginap satu malam lagi di hotel terdekat bersama teman-teman fotografernya, tetapi, ia tak tega jika harus berlama-lama meninggalkan Tiara seorang diri. Percuma saja ia mengistirahatkan tubuhnya di tempat ini. Namun, pikirannya tak bisa memberi jeda sama sekali untuk tak memikirkan Tiara.
Akhirnya dengan lelah yang telah penuh mengisi dirinya, Alfa nekat untuk pulang dengan akan menempuh jarak delapan puluh kilometer malam ini.
Tunggu aku pulang sayang.
Dengan semangat, Alfa terus tersenyum seolah Tiara membalas senyumannya di depan mata. Dalam alunan musik ringan yang menggema dalam ruang kemudinya sebagai teman sepi, Alfa mengetukkan jari jemarinya dalam nada konstan menikmati musik yang ia putar. Namun, meski tengah berkonsentrasi dalam mengendara dan mendengarkan musik, telinganya tetap saja dapat mendengar suara dari arah luar mobilnya.
Alfa terkejut dengan suara keanehan dari arah belakang. Lelaki itu memajukan tubuh ke samping untuk mematikan player yang terpasang di dashboard mobilnya. Telinganya menangkap suara gemuruh yang lama-kelamaan terdengar semakin mendekatinya dari arah belakang. Sontak Alfa melihat melalui kaca tengah dan betapa kagetnya ia tatkala ada kendaraan besar yang melaju dengan kecepatan tinggi seolah mengejarnya. Ia lebih terkejut lagi saat memandang ke depan dan ada mobil yang melaju berlawanan sedang mengarahkan pula sorot lampu ke arahnya hingga dengan tergesa ia membanting kemudi ke samping kanan.
Suara dentuman itu terdengar nyaring. Tabrakan tiga kendaraan tersebut tak terhindarkan. Truk besar itu berhasil merangsek bagian belakang sebelah kanan. Remuk. Tepat di bagian belakang Alfa duduk. Sementara bagian depan mobil Alfa ringsek karena menabrak pohon besar ketika Ia membanting kemudi tadi secara paksa. Mobil sedan yang berlawanan arah dengan mobil Alfa sempat menyerempet bagian kiri mobilnya dan naas terguling hingga beberapa meter ke arah kiri jalan.
Hening. Alfa sempat tersadar selama beberapa menit hingga akhirnya telinganya berdenging dan kesadarannya tersambut oleh gelap. Dering ponsel yang meraung-raung pun sudah tak bisa terjawab. Sampai beberapa menit kemudian, nama Davian yang tertera di layar ponsel telah melakukan panggilan sebanyak sepuluh kali.
Suara benturan keras itu terdengar hingga beberapa kilometer ke segala arah. Menyisakan keheningan mencekam yang menyeramkan. Pemandangan tiga buah kendaraan yang saling tabrak-menabrak dengan bentuk akhir yang sungguh mengerikan dengan para penumpang yang tak diketahui bagaimana nasibnya.
Beberapa kendaraan yang berlalu lalang pun berhenti serampangan di tepi jalan melihat keadaan. Ada pula orang-orang yang bergegas pergi memanggil pertolongan dan ada pula yang mendekat dan berusaha melihat para korban. Kerumunan itu semakin lama semakin ramai, meskipun tak ada lampu penerangan, hanya sorot lampu kendaraan lain yang sedang melintas saja yang memperlihatkan situasi yang tengah terjadi di tempat itu.
Beberapa menit berlalu, sampai pada akhirnya suara mobil ambulans yang meraung-raung dengan nyala lampu terang benderang datang bersamaan dengan beberapa mobil polisi yang tiba di lokasi dengan kecepatan penuh. Mereka bergerak lincah dan dengan segera memasang garis polisi di dua tempat terpisah. Para petugas medis pun segera bergerak untuk mengeluarkan para korban dari kendaraan mereka yang telah rusak. Dengan susah payah, Alfa pun turut dibawa menggunakan tandu untuk kemudian di bawa ke mobil ambulans dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
******
Tiara mengerjapkan matanya perlahan lalu tersenyum. Alfa tengah duduk di tepi ranjanganya dengan sebelah tangannya yang tengah membelai kepalanya dengan mesra. Betapa lega perasaannya setelah ia berusaha memendam dalam-dalam rasa rindunya selama dua hari ini. Wanita itu kemudian duduk di depan suaminya lantas menghambur begitu saja ke pelukan Alfa. Memeluknya erat.
“Kau sehat? Kenapa tubuhmu dingin sekali?” Tiara masih mendusel manja ke dada suaminya sebelum akhirnya Alfa meremas pundak istrinya dan melepaskan pelukannya sehingga menghasilkan jarak yang cukup dekat. Lelaki itu memandangnya dengan sendu. Mata kemerahan dengan bola mata cokelat yang menghias di sana nampak redup dan bersiap untuk meluncurkan air mata.
Tiara tak tahan untuk tak menangkup kedua pipi suaminya. “Mengapa kau bersedih?” Tiara memasang senyum penuh cinta sembari mengusap pipi Alfa dengan gerakan jari perlahan.
“Aku rindu Tiara.” Satu tetes air mata meluncur dari mata kirinya. “Aku sangat merindukanmu.” Mata kanannya pun akhirnya menjatuhkan air mata.
Wanita itu spontan mencium bibir suaminya. Menempel di sana, lalu menyesapnya kemudian dan melepaskan perlahan. Diusapnya air mata yang lolos dari dua mata indah Alfa.
Tiara terbatuk-batuk seperti tersedak dan ia memegangi dadanya kuat untuk segera meraba ke atas meja. Mencoba menemukan di mana air putih yang seingatnya ia taruh tepat di pojok meja nakas.
Peluh-peluh kecil muncul di sekitar pelipis dan ia memejamkan mata sejenak. Mengatur detak jantungnya yang mendadak bergemuruh kencang.
Beberapa menit yang berat. Setelah jantungnya terpompa dengan teratur, perlahan ia membuka matanya. Amat pelan hingga ia menyadari satu hal. Ia telah bemimpi. Alfa tak ada di depannya.
Raut mukanya berkerut dan ruang hatinya mendadak kosong. Ah, mengapa ia bisa-bisanya melihat Alfa dengan jelas. Mata sendu itu. Mengapa nampak lekat dalam pikirannya? Bagaimana cara Alfa memandangnya, sungguh terlihat nyata. Tiara terduduk di atas kasur lalu meraih ponselnya.
Pukul setengah satu dini hari. Tak ada pesan dan panggilan masuk.
Alfa belum juga tiba di rumah?
Ah, semoga saja ia menyempatkan diri tidur sejenak di rest area mengingat perjalanan yang ia tempuh malam ini sangatlah panjang. Tiara sempat mengisi segala kekosongan di hatinya dengan segala kemungkinan baik, sebelum perasaan tak nyaman menghinggapinya kembali.
******
Davian menggerutu kesal karena sampai panggilan ke sepuluh kali Alfa tak juga mengangkat panggilannya. Ingin rasanya ia memukul kepala sahabatnya itu jika mereka telah bertemu nanti karena berhasil membuatnya jengkel setengah mati. Tunggu. Sahabat? Masihkah pantas Davian disebut sebagai sahabat setelah usaha diam-diamnya untuk merebut istrinya dari belakang?
Lelaki itu mengacak rambut frustrasi. Apa ini? Apa ia sedang menyesal? Apa sudut hatinya yang terdalam sedang melakukan protes dan menyadari bahwa ini adalah sebuah kesalahan? Davian melihat pantulan dirinya melalui kaca jendela yang tertutup di depannya.
Dirinya tengah berada di rumah pameran Alfa sekarang. Dan ia sendiri yang memaksakan dirinya berada di sini.
“Bagaimana?” Leon yang tengah duduk di seberang kursi menatap dengan alis berkerut melihat Davian yang tampak kesal.
Davian menatap sejenak ke arah Leon. “Sebentar.” Davian membuka layar ponselnya kembali dan mencoba menghubungi Nelly. Ya. Wanita itu masih berada di kota yang sama dengan Alfa sekarang.
Ditempelkannya ponsel ke telinga. Nihil. Berkali-kali Davian melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada nomor Alfa tadi namun hasilnya sama. Nihil.
Oh, apa yang mereka lakukan? Bayangan-bayangan akan Alfa yang terjatuh dalam pelukan Nelly secara paksa sempat terlintas dalam otaknya. Tidak mungkin. Tidak mungkin Nelly melakukan hal-hal gila di luar rencana bukan? Tidak mungkin Nelly akan membuat Alfa berada dalam ketidaksadaran kemudian melakukan penjebakan?
Ah, sungguh baru kali ini ia merasa putus asa atas rasa khawatirnya terhadap Alfa.
Nelly gila!
Umpatnya berulang-ulang dalam hati. Ditengoknya rumah minimalis yang berada tepat di seberang jalan. Semua lampu telah padam. Kemungkinan besar Tiara sudah terlelap saat ini. Memikirkannya membuatnya semakin bertambah putus asa.
“Mungkin Alfa tengah beristirahat sebentar? Tak mungkin bukan ia memaksa dirinya terus berkendara karena perjalanan yang ia tempuh sangat jauh.” Leon berkata dengan nada bertanya yang terlihat amat ragu-ragu dalam pengucapannya. Davian memandangnya sekilas. Ada sedikit rasa lega yang sempat menyentuh hatinya tatkala mendengar pernyataan Leon.
Dengan embusan napas kasar, Davian akhirnya melempar ponselnya ke atas meja dan membanting dirinya untuk duduk di sebelah laki-laki muda yang menemaninya dari pagi hingga malam menjelang ini.
“Ya, semoga saja begitu.” Davian berucap dengan nada serak yang berat, lalu menyandarkan punggung dan kepalanya ke kursi sofa yang tengah didudukinya dan memejamkan mata.
“Kau akan menginap di sini lagi?” Leon menatap dengan cemas melihat Davian yang terlihat benar-benar putus asa.
“Ya. Aku akan di sini saja sampai bisa memastikan Alfa kembali.” Laki-laki itu berucap dengan kedua mata masih terpejam. “Pulanglah.” Matanya menyipit melirik Leon yang tengah ragu-ragu di sana. Laki-laki muda itu menganggukkan kepala tipis.
“Baiklah. Aku akan pulang. Hubungi nomorku jika kau perlu sesuatu.” Leon akhirnya berdiri dengan malas dan hendak berjalan menuju pintu keluar.
Suara dering ponsel Davian di atas meja mengagetkan keduanya. Leon menghentikan langkah.
Davian melebarkan mata melihat siapa yang memanggil nomornya. Ah, benar sajalah. Sahabatnya itu memang senang sekali mengerjainya. Digesernya tombol hijau itu dan dengan riang ia segera menyapa.
“Kau-"
“Iya, benar.” Ekspresi Davian berubah pucat mendengar suara yang mengajaknya berbicara di seberang telepon. Kedua alisnya berkerut. Sesekali ia nampak mengalihkan pandangannya ke arah Leon.
Pembicaraan terhenti. Davian dengan lunglai melepas ponselnya dari telinga.