
“Alisa, bawa aku pergi,” perintah Tiara pada wanita itu yang langsung dengan sigap mendorong kursi rodanya berjalan maju. Ia ingin pulang. Alfa yang berjalan mendekat ke arahnya itu ia abaikan. Wanita itu tak mau menunjukkan ketidaksukaannya atas situasi ini kepada suaminya. Sesuai dengan janjinya sebelumnya pada Alfa bahwa ia telah menyetujui untuk menjalankan misi ini, maka, apapun yang terjadi, Tiara akan berusaha untuk menerima.
Perempuan itu tahu Berta dan pamannya datang ke tempat itu. Namun, mereka lebih nampak seperti sedang menghadiri pertemuan kolega ketimbang berakrab-akrab layaknya keluarga. Dan dirinya saat ini … sedang tidak dibutuhkan oleh siapa-siapa. Mereka semua hadir dalam rangka urusan bisnis masing-masing dan tentu saja, sesuai dengan perencanaan awal, mereka akan membuat mama mertuanya itu menang kali ini.
“Tiara ….” Suara sapaan asing itu mengerem laju roda pada kursi Tiara. Wanita itu mengalihkan pandangan menuju sumber suara, mencari tahu siapa pemilik suara yang tak dikenalnya itu. Ketika laki-laki itu berjalan mendekat, Tiara mengerutkan kening, mengingat-ingat siapa pria yang sedang mendatanginya. Tidak asing dalam ingatannya, tetapi, meski telah membuka berlembar-lembar memori dalam otaknya, wanita itu kesulitan untuk menyimpulkan.
“Dony. Kau lupa?” ucapnya dengan senyum ramah, menjawab tanya Tiara dalam ekspresinya. Teman Alfa dalam Blueict Company. Ah, wanita itu teringat kembali pertemuan dengan lelaki itu, hampir setahun lalu ketika mereka bertemu di rumah sakit ketika suaminya tengah mendapat perawatan pascakecelakaan.
Tiara tersenyum, lalu berucap. “Oh. Ya. Maaf aku memiliki kelemahan dalam mengingat-ingat,” ujarnya penuh sesal karena tak bisa mengenali dengan cepat lelaki itu.
Alfa yang hendak mendekat ke arah Tiara itu terhalang kembali oleh datangnya para awak media yang dengan riuh mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya. Memaksa lelaki itu untuk berhenti melangkah. Seakan-akan, hari itu semesta benar-benar membentangkan dukungannya pada mereka yang memang sedang beradu dalam drama. Lelaki itu mendesah, menyadari jika memang ia diharuskan untuk menjaga jarak dengan istrinya untuk sementara waktu ini. Dengan tenang, lelaki itu menghela para wartawan untuk memasuki ruang khusus yang telah disiapkannya untuk berbincang santai.
Dony dan Tiara yang sejenak memperhatikan aktivitas Alfa beserta para wartawan yang berkerumun itu kembali berkutat pada percakapan mereka.
“Kau hendak ke mana?” Dony bertanya dengan pandangan menyelidik. Alfa sudah menceritakan semuanya perihal persoalan yang tengah mendera dua keluarganya itu. Dan saat ini, ia harus memainkan perannya untuk menemani Tiara ketika Alfa sibuk dengan aktivitasnya. Ya. Tiara tahu, hampir-hampir suaminya itu tak memiliki teman perempuan, sehingga ia memilih Dony untuk menemaninya kali ini. Hanya saja, Alfa tak berkata kepadanya sebelumnya bahwa Dony lah yang ditunjuk untuk membantu melancarkan rencananya itu. Sehingga, wanita itu harus malu ketika hampir-hampir tak bisa menebak nama dari lelaki itu.
“Aku? Aku ... mungkin akan pulang saja karena acara pembukaan ini sudah selesai,” jawabnya dengan senyum terpaksa.
Lelaki itu mengangguk tipis. “Kuantar ya?” Dony melihat ke arah Alisa yang sepertinya tidak nyaman dengan kehadiran dirinya, lalu beralih untuk menatap Tiara kembali. “Alfa memintaku untuk memastikan kau baik-baik saja. Jadi, jangan menolakku,” bujuknya.
Tiara menengadah. Menganggukkan kepala kepada Alisa sehingga dengan senyum kelegaan, Alisa pun turut membalas tatapan Dony dengan senyuman, menyetujui perkataan lelaki itu.
Helmia melirik dengan wajah sinis, percakapan yang tak bisa ia curi dengar antara Tiara dan lelaki itu yang tampak akrab. Ia tak menduga, istri Alfa itu akan dengan mudahnya menjerat lelaki lain setelah ia sudah di ambang batas kehancuran hubungannya dengan anak lelakinya. Baguslah. Ia tak peduli seperti apa masa depan perempuan itu karena ia sudah memiliki Karina di depan matanya. Yang pasti, ia sedang berbahagia sekarang karena sepertinya apa yang tengah direncanakannya kali ini akan berjalan sesuai rencana.
Dengan berdampingan, Dony mengantar Tiara yang duduk di kursi roda itu berjalan hingga tiba di teras rumah. Memastikan tak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.
******
“Apakah ada sesuatu hal yang menjadi inspirasi utama Anda dalam melukis?” Tanya salah satu wartawan perempuan yang dengan sigap mengacungkan alat perekam suara digital ke dekat mulut Alfa.
“Istri saya. Dia adalah seseorang yang sangat istimewa dan memberi saya begitu banyak arti dan inspirasi. Banyak sekali peristiwa dan kenangan-kenangan indah yang kami lewati bersama, sehingga ide saya untuk melukis tak pernah habis,” jawabnya dengan senyum hangat. Para wartawan itu saling bertengok dan melihat-lihat ke arah luar dinding kaca. Saling berbisik dengan aneka ekspresi yang berbeda.
“Istri saya sedang dalam masa pemulihan karena satu hari lalu tengah menjalani penanganan medis untuk kesehatannya. Saya sengaja tak mengajaknya kemari karena saya khawatir keramaian seperti ini akan membuatnya tak nyaman.” Alfa menjawab sambil sesekali meletakkan tangannya di atas meja.
Memanglah Tiara adalah putri tunggal dari perusahaan industri dan perdagangan Tiara Fashion yang merupakan perusahaan besar yang bergerak di bidang desain pakaian dan produsen baju-baju tingkat menengah ke atas yang sangat mashur di kalangan pecinta fashion, tetapi ternyata, belum semua orang mengenal dengan baik wanita itu karena selain tertutup, Tiara juga jarang sekali menampakkan dirinya di sosial media. Apalagi di hari pernikahannya dengan Alfa, pihak keluarga benar-benar menutup akses para media, sehingga wajarlah, bila saat ini, ketika Tiara datang ke tempat itu, banyak orang yang tidak mengenalinya.
“Wah, Anda begitu menyayangi istri Anda ya,” puji wartawan itu dengan tersenyum. “Tema pembukaan pameran kali ini adalah tentang Wanita dan Cinta. Apa maksud dari tema tersebut dan mengapa Anda mengambil tema tersebut sebagai pembukaan acara ini?”
Kilatan lampu kamera memendar di mana-mana, seiring percakapan mereka yang terus berjalan dan Alfa yang memperlihatkan keramahannya dalam menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari wartawan.
Berita mengenai pembukaan galeri pelukis dan fotografer muda itu perlahan memenuhi berita lokal hingga mencuat menjadi berita hangat di berbagai daerah yang muncul di banyak saluran televisi dan berita daring, membuat para pecinta seni lukis dan fotografi bergantian datang ke galeri itu untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.
“Wanita tak bisa dipisahkan dengan cinta karena lewat dirinya permulaan cinta itu tumbuh. Dari rahim seorang wanitalah awal cinta itu ada, membuat siapa saja mulai jatuh hati pada seorang manusia yang bahkan belum bisa terlihat wujudnya secara nyata dengan kedua mata. Cinta seorang wanita tak akan pernah habis bahkan akan terus bertambah pada bayi yang dilahirkannya hingga anak-anak mereka bertumbuh besar,” Alfa menarik bibirnya hingga memperlihatkan wajahnya yang memesona dalam lengkung senyuman manisnya. “Ada banyak cara wanita dalam memperlihatkan rasa cintanya, meski terkadang bisa diterima atau tidak oleh yang dicinta, tetapi yang pasti, karena mereka pulalah seorang laki-laki bisa tampak kuat. Karena mereka memiliki satu bentuk cinta dari wanitanya,” paparnya yang membuat para wartawan bertepuk tangan bersama-sama. Para awak media itu bahkan sengaja meletakkan alat rekam dalam tangannya untuk sekedar menepukkan kedua tangan mereka memberi pujian.
“Saya mengambil tema tersebut karena saya ingin memberi penghargaan kepada wanita yang saya cintai. Sebagai ucapan terima kasih karena telah memberi saya begitu banyak cinta,” ucapnya lagi.
“Ada beberapa macam lukisan yang bisa kalian lihat di sepanjang ruang galeri. Mari akan saya tunjukkan, agar bisa kita lihat bersama-sama.” Lelaki itu berdiri dari duduknya dan mempersilakan para wartawan untuk mengikuti ke mana langkahnya.
Dimulai dari lukisan pertamanya setelah menikah, sketsa wajah Tiara yang terlihat anggun dengan gaun hijaunya. Alfa tersenyum bangga dan memimpin jalan untuk memperlihatkan serta menjelaskan berbagai lukisan serta fotografinya yang terpampang di seluruh dinding ruang itu. Para pencari berita itupun tak segan-segan mengambil gambar Alfa yang tengah berbicara sembari terus berjalan memutari lorong-lorong dan ruang. Mereka bahkan sesekali meminta berswafoto bersama suami Tiara itu yang nampak terus tersenyum, berupaya untuk terus terlihat tegar di balik hatinya yang resah tak tentu.
“Gheo.” Karina memanggil dari arah belakang lelaki itu yang baru saja berjalan hendak kembali ke ruang markasnya di lantai dua, setelah beberapa menit tadi meladeni para awak media yang mewawancarainya.
Lelaki itu memiringkan badan dan bertanya dengan isyarat kedua alis tebalnya yang terangkat. Dada Alfa menghela napas lega, karena para wartawan tadi tak sempat menanyakan perihal pribadinya terlalu jauh dan tak sempat melihat kedekatan mereka berdua saat ini. Meskipun, ia tahu, Karina pun tidak akan berbuat macam-macam melebihi batas, karena wanita itu sendiri yang meminta semua drama ini dan telah berjanji untuk tidak merunyamkan rencana mereka dengan tindakan gegabah.
“Terima kasih. Aku sangat menghargai bantuanmu kali ini.” Alfa menganggukkan kepala tipis.
“Ya. Aku juga harus berterima kasih padamu karena telah mau membantu rencanaku. Selamat ya, karya-karyamu sangat indah.” Karina menyapukan pandang ke segala arah. “Aku bahkan menyukai semua lukisanmu yang bertema wanita itu,” pujinya. “Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali lagi untuk memutuskan lukisan mana yang akan kubeli,” ucapnya dengan tawa kecil yang lolos dari bibir merahnya.
Lelaki itu mengangkat sebelah alis lalu menipiskan bibir dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya, ia berlalu pergi melanjutkan langkah, menyisakan Karina yang mengembuskan napas panjang dan tanpa berpikir lagi, turut meninggalkan ruang galeri itu dan berjalan menuju mobilnya, melesat cepat di tengah-tengah pengunjung yang masih ramai datang dan pergi.