
Tiara tengah berkemas, memasukkan pakaian dan barang-barang yang sempat ia bawa ke rumah sakit. Hari ini adalah hari terakhir Alfa berada dalam perawatan dan pengawasan langsung oleh dokter. Luka-luka ringan yang menyayat kulitnya telah mengering, hanya goresan berat saja di beberapa bagian tubuh yang masih memerlukan bebat perban. Namun, keadaan tulang keringnya yang retak dan masih dalam masa penyembuhan membuat Alfa harus menjalani beberapa langkah terapi, dan itu akan dilakukannya mulai minggu depan.
“Sayang.” Alfa memanggil Tiara, masih dengan matanya yang tetap memerhatikan layar laptop.
“Hmm.” Tiara pun menjawab hanya dengan gumaman sembari terus melanjutkan aktivitasnya mengepak barang.
“Kemari.” Lelaki itu masih melihat-lihat tampilan layar yang hendak ia tunjukkan kepada Tiara untuk berbagai pertimbangan. Alfa melirik istrinya sejenak ketika tak jua ada jawaban. Alisnya terangkat sebelah ketika Tiara tengah asik melipat pakaiannya tanpa memperhatikan panggilan darinya. Ah, jika saja kakinya dalam keadaan sehat, pasti ia sudah melangkah mendekat dan memeluk Tiara dari belakang.
“Tiara. Kemari.” Alfa menatap penuh ke arahnya. Wanita itu menoleh sebentar lalu tersenyum dan kembali sibuk dengan aktivitasnya.
“Iya. Tunggulah sebentar. Aku hampir selesai.” Ucapnya ketika lipatan baju terakhirnya masuk ke dalam koper besar. Ia lalu menangkupkan resleting pada bagian penutup koper lalu mendorongnya hingga berada pada ujung ruang.
“Ada apa?” Tiara langsung menengok ke arah layar di mana Alfa tengah melihat ke sana. Matanya turut memindai gambar-gambar yang tertampil dengan warna-warna yang mencolok itu.
“Hasil karya Leon. Menurutmu, aku harus memilih yang mana? Aku sesuaikan saja dengan keinginanmu.” Ujarnya sambil mengelus pucuk dagunya dengan jari-jemari.
“Oh, ini untuk apa?” Tiara menatap Alfa dengan penuh tanya.
“Banner opening pameranku. Bagus bukan? Aku bingung harus memilih. Aku meminta pendapatmu.”
Tiara mendesah. “Haruskah ini dilaksanakan segera walau kondisimu tengah seperti ini? Apa tak bisa ditunda? Bagaimana jika kita selesaikan terlebih dahulu pengobatanmu, baru kita berbicara masalah ini lagi. Setuju?” Menatap Alfa yang tak berkedip menatapnya. Oh, apakah ia salah berbicara? Mengapa suaminya itu menatapnya dengan tatapan galak?
Dengan salah tingkah, Tiara akhirnya menunduk. “Aku ingin kau pulih terlebih dulu. Kau tentu tak ingin mengambil resiko memaksakan diri untuk melakukan sesi foto di atas kursi roda bukan? Istirahatlah. Aku ingin kau benar-benar rileks ketika kau mengambil waktu istirahatmu ini.”
Alfa tertegun. Kata-kata Tiara menyiratkan makna ganda untuknya. Dirinya memang sangat sibuk akhir-akhir ini dan Tiara tak pernah berkeberatan. Apakah istrinya itu tengah memikirkan dirinya atau dirinya sendiri?
Alfa jadi merasa bersalah karena telah begitu larut dalam aktivitasnya dan mengabaikan Tiara yang selalu ia biarkan seorang diri di dalam rumah. Sementara hari ini, ketika ia bisa bersama istrinya, ia dalam keadaan sakit dan Tiara harus merawat dan meluangkan waktunya. Oh, ia sungguh berjanji untuk akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Tiara. Setelah ia sembuh nanti.
Alfa berdehem. “Ya. Mungkin aku harus memikirkannya nanti.” Menutup laptop dan meletakkannya di atas meja. “Maaf, aku masih saja menyibukkan diri dengan pekerjaan.” Tersenyum masam.
“Untuk kebaikanmu sendiri.” Tiara menggenggam tangan Alfa dan tersenyum. “Karena aku peduli padamu.” Menepuk-nepuk punggung tangan suaminya.
Alfa mengusap pelan pundak istrinya. “Aku mau. Aku mau dirimu sekarang juga.” Alfa mengatakannya sambil meremas pelan pundak istrinya yang lama-lama merembet perlahan menuju tengkuknya. Secepat kilat, Alfa sudah memajukan kepala dan mendorong kepala istrinya sehingga keduanya bertemu dalam jarak yang pas. Mempertemukan dua bibir dalam gerakan yang mesra. Penuh kecupan manja dan dalam pagutan yang semakin lama menumbuhkan gairah.
Tak disangka, Davian telah sedikit membuka pintu, melongokkan kepala ketika kedua pasang kekasih itu tengah berpagutan mesra di sana. Bunyi handle pintu yang terdengar ringan itu mungkin saja tak terdengar, sehingga Davian merasa canggung sendiri ketika harus menutup pintu dan menimbulkan suara yang lebih keras. Lelaki itu terpaku selama beberapa detik. Menghela napas panjangnya, menyaksikan adegan romantis yang terpampang nyata di depan matanya. Ia menolehkan kepala ketika rasa sakit yang sudah ia pendam jauh-jauh mendadak memunculkan noktah hitamnya ke dalam hati.
“Aku mengganggu? Ah, aku akan kembali nanti.” Davian tengah berniat untuk membalikkan tubuhnya saat itu juga.
“Davian.” Tiara lah yang memanggil namanya hingga membuat laki-laki itu membeku.
“Duduklah.” Wanita itu tersenyum kemudian turun dari ranjang Alfa dan duduk di kursi.
Alfa sendiri tengah mengusap bibirnya dengan gerakan elegan agar tak nampak gugup ketika diketahui oleh orang lain bahwa dirinya tengah berhasrat saat itu. Di ruang perawatannya yang tak seharusnya ia berbuat demikian.
Davian akhirnya melangkah lalu terduduk di tengah sofa. “Kau pulang hari ini bukan? Aku menawarkan tumpangan untukmu pulang.” Berkata dengan senyuman. Mengamati gerak-gerik Alfa dan Tiara bergantian.
Alfa mengangkat alis dengan bibir terlipat seolah berpikir sejenak. “Oke. Terima kasih.” Alfa berujar setelah menimbang-nimbang. Tiara pun mau tak mau turut tersenyum dan mengangguk. Ah ya, mobil Alfa pastilah sudah tak berbentuk. Tiara bergidik ngeri sendiri ketika membayangkan bagaimana dahsyatnya kecelakaan itu terjadi dan Ia semakin merinding ketika mengimajinasikan gambaran Alfa yang tengah terjepit di dalam kabin mobil sebelum kemudian pihak kepolisian dan petugas medis menyelamatkannya. Ia teringat pada malam di mana ia tengah gelisah menantikan suaminya itu pulang.
Entah apa yang akan terjadi padanya, ketika malam itu ia mengetahui Alfa tengah meregang nyawa di luar kota yang jauh dari jangkauannya. Bersyukur nasib baik masih menginginkannya untuk melanjutkan kehidupan hingga saat ini. Alfa pasti bersedih karena mobil merahnya itu adalah hasil jerih payahnya bekerja selama beberapa waktu.
******
Tiara terduduk di kursi belakang mobil Davian yang tengah melaju dengan kecepatan konstan. Alfa duduk di kursi depan, sementara Davian menempatkan dirinya dengan tenang di balik kemudi. Alfa benar-benar pulang kali ini. Ada rasa terharu bahagia yang sempat mengisi penuh hati Tiara saat hari ini lelaki itu akan kembali ke rumah. Sungguh, doa-doa baik itu adalah pengharapan dan magnet yang cukup besar. Ada ketidakmungkinan yang menjadi mungkin, serta ada kemungkinan yang menjadi mustahil. Cukup waktu beberapa jam saja sebenarnya untuk Alfa bisa tiba di rumah, tapi takdir berkata lain. Dari beberapa jam hingga beberapa minggu adalah contoh ketidakmungkinan yang pada awalnya Tiara sanggah. Namun, pada akhirnya, ia syukuri. Ada hal-hal baik yang mungkin memang harus diawali dengan sebuah peristiwa yang menyakitkan, sehingga hati akan lebih menerima dengan tulus kebaikan tersebut.
“Sepertinya pameran akan kutunda sampai aku benar-benar bisa berjalan normal.” Alfa membuka pembicaraan. Memecah hening yang mengudara diantara mereka.
Davian menoleh sejenak. “Ya. Begitu lebih baik. Aku juga belum membicarakan tentang tanggal dan bulan kapan akan dilaksanakan kepada para sponsor. Jadi, kau bisa tenang.”
Alfa mengangguk tipis. “Mungkin kau dan Leon bisa vakum untuk sementara waktu. Entah kapan aku bisa menyentuhkan tanganku untuk kembali ke lapangan. Aku akan mengabarimu jika waktunya sudah tepat.”
“Tak masalah.” Davian menjawab singkat sambil terus menatap ke depan. Ia merasa lega sekaligus cemas. Tak menyangka Alfa akan menyiratkan pengusiran halus atas dirinya dengan mengucapkan kalimat tersebut. Namun, di sisi lain, ia ingin terus berada di samping Tiara. Menemani hari-hari sulitnya ketika harus merawat Alfa seorang diri. Ah, ia sungguh merasa kotor dengan memiliki pemikiran tersebut, tapi tak bisa dipungkiri, hubungan kekeluargaan antara keluarga Alfa dan Tiara membuatnya simpati. Ya. Davian berharap itu hanyalah sebuah rasa simpati.
Mobil Davian berhenti tepat di depan garasi rumah Tiara. Dengan sigap, ia segera keluar dari mobil dan menuju bagasi. Mengambil kursi roda yang terlipat di sana dan meletakkannya di samping pintu keluar tempat Alfa duduk.
Tiara pun segera keluar dari dalam kabin lalu turut membantu suaminya untuk berpindah tempat duduk, memapahnya hingga lelaki itu bisa duduk dengan nyaman. Davian kemudian mengambil koper dan barang-barang yang semula diletakkan Tiara di sana dan membawanya ke teras rumah.
Tiara mulai mendorong kursi roda itu hingga sesaat kemudian, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok wanita paruh baya tengah berdiri membuka pintu. Terdiam dan terpaku di tempatnya seolah menyambut kepulangan mereka.
Siapa dia?