
Langit-langit lorong rumah sakit yang sesekali menampilkan lampu neon panjang nan terang, Alfa yang nampak memegangi ranjang dorong tempatnya terbaring dengan raut wajah pucat dan beberapa dokter serta perawat yang turut serta mengiringi perjalanan singkatnya di koridor rumah sakit …. Ah, Tiara tak bisa mengingat semuanya. Pendarahan membuat tubuhnya benar-benar lemas dan kesadarannya semakin mengambang, belum lagi rasa sakit yang lama kelamaan mulai datang, serta … bayinya … bagaimana dengan bayinya? Wanita itu seakan telah berteriak keras dan bergerak kuat untuk bisa menggapai apa saja yang dilihatnya secara samar, padahal yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan kecil yang mungkin saja hanya dapat didengar oleh telinganya sendiri.
Wanita itu dibawa menuju ruang operasi. Tubuhnya lemah dan ia sudah tidak sanggup lagi untuk sekedar membuka mata. Tiara tegang sejenak begitu merasai tangan kanannya yang dipasangi selang infus. Dan hal terakhir yang bisa direkamnya dengan jelas adalah saat dokter memasang semacam masker yang berisi obat bius hingga mengantarkannya ke alam gelap yang membuatnya tak ingat apa-apa lagi. Dengan cermat, dokter segera melakukan teknik intubasi dengan memasukkan alat untuk melihat jalan napas serta selang endotrakeal ke dalam rongga mulut, menjaga agar wanita itu tetap bisa bernapas selama tak sadarkan diri. Setelah itu, proses bedah cesar pun dimulai.
Alfa terduduk di samping kepala istrinya dengan tubuh gemetar. Bagaimana tidak? Ia melihat dengan tanpa melewatkan satu detik saja prosedur rumit yang dilakukan oleh para petugas di dalam ruang yang penuh menegangkan itu kepada Tiara. Saat ini, hampir-hampir buliran bening dari kedua matanya itu mengalir begitu menyaksikan kondisi wanita yang dicintainya tengah tak berdaya dengan alat bantu pernapasan yang tak bisa ia bayangkan bagaimana rasanya jika diterapkan dalam kondisi sadar. Merasakan bagaimana laringoskop dimasukkan ke dalam mulut hingga tenggorokan, lalu berulang dengan dimasukkannya tabung endotrakeal. Sungguh lelaki itu merasa tersiksa sendiri dengan apa yang bisa tertangkap oleh matanya. Perjuangan yang membuatnya sesak napas karena Tiara harus menjalani sedemikian banyak langkah untuk melahirkan putra mereka.
Laki-laki itu berbisik dalam hatinya sendiri, bahwa ia akan melakukan apa saja untuk membuat wanitanya itu bahagia. Betapa keadaan diam Tiara, tetapi dalam kondisi demikian itu seolah meneriakinya dengan kata-kata penghakiman, Alfa, sudah sampai pada kerelaan antara hidup dan mati untukku berjuang kali ini. Kutahu kau paham harus berbuat apa untuk sekedar membangkitkan senyum di bibirku. Tidak, aku tidak meminta ganti atas ini semua. Aku cinta kau, aku mencintai kalian, dan memang harus dengan inilah kutebus kebahagiaan kita di kemudian waktu. Ya. Ia tahu, Tiara pasti akan berbicara seperti itu nanti.
Alfa melipat bibirnya dan memejamkan mata. Ucapan dalam hatinya itu seakan diucapkan oleh Tiara seluruhnya dan membuat ia tersiksa karena tak bisa berbuat apa-apa. Lelaki itu membayangkan jika dirinya sendiri yang sedang berada di atas pembaringan itu, menahan ketakutan ketika segala denyut kehidupannya dapat didengar melalui bunyi bip pada layar monitor. Berharap bunyi itu terus menerus konstan dan grafik rumputnya menunjukkan kestabilan.
Lelaki itu sekali lagi memandang lurus ke wajah istrinya, menatap dengan rasa cintanya yang semakin bertumbuh tak karuan, membuatnya ingin terus mendekap perempuannya. Betapa ia tak mempunyai apa-apa untuk membalas seluruh jerih payah di menit-menit waktu itu. Betapa ia ingin segera melihat kedua mata itu terbuka dan memberinya kabar baik.
Sampai suara itu terdengar. Suara tangisan kecil di balik tirai biru yang benar-benar membuat jantungnya berdebar. Seorang dokter membopong sesosok bayi kecil yang tengah menggeliat dalam pelukan kedua tangannya itu ke arahnya. Anaknya telah terlahir!
“Selamat ya Pak, bayi Anda laki-laki dan sehat,” ujar sang dokter memperlihatkan bayi itu sejenak ke dekat Alfa sebelum kembali membawanya ke meja untuk dibersihkan.
Suami Tiara itu menutup muka dengan kedua telapak tangan. Meredam ledakan keharuan dan rasa bahagia tak tertahankan yang meliputinya saat ini. Berkali-kali ia membisikkan kalimat-kalimat pujian kepada Tuhan atas limpahan suka cita yang akhirnya menghampiri. Alfa menatap tanpa berkedip ke arah bayi itu. Dirinya sungguh terpana melihat detik-detik awal anaknya itu berusaha menghirup udara dunia.
Beberapa menit kemudian, dokter dan perawat disibukkan dengan proses penjahitan sayatan pada perut Tiara. Memastikan bahwa prosedur itu telah selesai dan berakhir dengan aman. Kemudian, alat bantu pernapasan pun dilepaskan, tubuh wanita itu dibersihkan dan dibawa ke ruang perawatan untuk pemulihan.
Ranjang itu didorong keluar dari ruang operasi bersamaan dengan Alfa yang juga melangkahkan kaki. Laki-laki itu menghampiri Helmia yang menunggui di depan ruangan. Dengan isakan tertahan, ia peluk erat perempuan paruh baya itu yang juga turut merasakan kebahagiaan.
“Anakku sudah lahir Ma … Bayiku laki-laki,” ucap Alfa di sela dekapannya itu dengan terbata.
******
Hening. Tak terdengar apapun selain denting menit pada jam dinding yang terpasang di ruangan. Peristiwa kompleks yang tak bisa diurutkan dalam memori perempuan itu membuat keningnya mengerut, mencoba untuk menggali lebih dalam tentang apa yang tengah dialaminya saat ini. Ketika kesadaran perlahan menghampiri, Tiara langsung disambut oleh rasa menggigil di sekujur tubuh, kedua tangannya gemetar dan tenggorokannya terasa kering hingga seolah sulit untuk sekedar menggerakkan lidah.
Keadaan tidak nyaman ini lagi. Rasa-rasanya, ia akrab sekali dengan situasi seperti ini sebelumnya. Situasi di mana ia merasa dirantai oleh kesakitan sepanjang waktu yang begitu menyukai tubuh lemahnya itu.
Alfa mengantongkan lagi alat komunikasinya ke kantong celana dan terkejut tatkala melihat kedua mata istrinya telah membuka.
“Sayang.” Lelaki itu buru-buru mendekat, membungkukkan badan dan mencium kening Tiara dengan memejamkan mata. Menghayati sentuhan bibirnya ke kulit pucat istrinya dengan penuh rasa syukur. Akhirnya wanita itu kembali tersadar.
Alfa lalu mendudukkan dirinya ke kursi di samping ranjang, mengambilkan segelas air dengan sedotan dan mendekatkan ke samping mulut istrinya. “Minumlah,” perintahnya. Tiara dengan bersemangat meneguk hingga air itu tersisa seperempatnya.
“Anak kita … bagaimana?” Wanita itu bertanya dengan suara seraknya.
Laki-laki itu mengusap-usap dahi Tiara dengan senyum menenangkan. “Dia … baik-baik saja, sedang tertidur pulas di ruang bayi. Dokter dan perawat akan segera datang dan memeriksamu lalu membawa anak kita kemari,” tukasnya.
Tiara mengatupkan mata. Meloloskan setetes air dari sudut netranya. Bibirnya menipis menahan tangis yang sungguh harus ia tahan karena tubuhnya yang ringkih itu masihlah nyeri untuk bergerak. Mimpi? Apakah ini mimpi?
Alfa menyeka buliran bening itu. Mengelus pipi Tiara perlahan. “Terima kasih,” lirihnya. “Terima kasih atas segalanya ….” Diciumnya jemari istrinya itu sekilas, lalu didekapnya kepala mungil itu dalam rengkuhan lengannya. Tidak tahu harus bagaimana lagi mengungkapkan kebahagiaan yang sedang menguar dalam hati mereka. Tiara balas merangkul kepala suaminya. Matanya kian basah.
Tak lama kemudian, lelaki itu menjauhkan tubuhnya, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Dokter dan perawat terlihat memasuki ruangan diikuti Helmia yang menyorong boks dorong yang tengah ditiduri oleh sesosok bayi mungil dengan selimut berwarna hijau terang.
Tiara tak habis-habisnya memandang boks bayi itu hingga menempel di ranjangnya. Menatap dengan lekat wajah anaknya yang tampak tenang. Bayi itu memiliki rambut hitam lebat dan kulit putih bersih dengan hidung mancung. Dadanya terlihat naik turun teratur dan tangannya yang muncul dari balik selimut itu sungguh membuat Tiara tak sabar untuk segera menyentuhkan tangannya.
Dokter memeriksa sejenak keadaan Tiara sebelum perawat mengangkat bayi itu dan membantu Tiara untuk menyusui bayinya. Dengan posisinya yang masih telentang, wanita itu memegangi tubuh anaknya yang ditidurkan di atas dadanya. Oh, sungguh pintar. Anaknya langsung merespons begitu didekatkan dengan pucuk dada ibunya, menyesap-nyesapnya sebentar seolah gemas untuk segera bisa menyusu.
Wanita itu luar biasa terenyuh dan mengusap punggung bayinya perlahan. Melupakan ketidaknyamanan yang seolah hilang seketika begitu ia mendekap anaknya dalam pelukan.
Tiara hampir saja lupa, bahwa roda kehidupan teruslah berputar dan waktu sedang memberinya kesempatan untuk berbahagia. Wanita itu tidak menyangka bahwa ia bisa merasakan kesenangan ini juga. Berbagi cinta dengan putranya.
"Gheo Keylan," ucap Alfa kepada perawat yang membuat Tiara dan lelaki itu saling berpandangan dengan tersenyum. Perawat itu pun segera menuliskan nama tersebut di catatan dan juga boks bayi tempat anaknya tertidur.