
Tiara mengantar kepulangan Yunus dengan penuh perasaan lega. Saat ini ia dan suaminya masih berdiri bersandingan di belakang gerbang depan rumah Alfa, memandang sampai kejauhan hingga mobil berwarna hitam milik Yunus itu tak bisa nampak lagi dari pandangan mereka. Tiara menyandarkan kepala pada lengan suaminya dengan senyum haru. Ia tak menyangka jika hari ini akan terasa luar biasa. Yunus yang nampak galak dengan wajah khasnya yang hanya menampilkan sedikit senyum itu ternyata adalah seorang ayah berhati hangat yang penuh kasih. Wanita itu merasakan kembali cinta seorang ayah setelah sekian lama tak ia dapatkan.
Lelaki itu melirik sejenak ke arah Tiara dan tersenyum puas mendapati istrinya itu begitu ceria hari ini. Terlebih karena setengah hari ini, wanita itu tak menunjukkan gelagat anehnya seperti keluhan tentang bau-bauan maupun rasa makanan. Alfa merangkulkan sebelah tangannya untuk merengkuh istrinya ke dalam pelukan. Mengingat-ingat satu alur kejadian yang dialaminya mulai dari siang tadi hingga sore ini ketika ia berdiri di sini, menghadap langit senja, melepas kepergian Yunus.
“Kau tak merasa mual?” Alfa bertanya sembari menghela Tiara untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Tiara menengadah. “Aku hanya merasa mual tadi pagi saja ketika bangun dari tidur,” jawabnya dengan terus melangkahkan kaki, menyusuri ruang demi ruang dalam rumah, hingga berakhir di ruang kamarnya.
Alfa menyambar kamera yang ia letakkan di meja nakas lalu duduk di tepi ranjang sementara Tiara masih meneruskan langkahnya hingga mendekati jendela yang masih terbuka lebar, memangkukan kedua tangan ke dorpel jendela, memejamkan mata, menikmati embusan angin yang semilir lembut menerpa wajahnya.
“Jadi, Papa masih mau menerimaku?” Tiara bertanya tanpa menolehkan kepala. Ingin mendengarkan saja suaminya itu berbicara tanpa beradu pandang dengannya.
Lelaki itu tak memberi jawaban, hanya desahan lirih yang keluar dari mulutnya yang sampai pada telinga Tiara. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah mendekat. Alfa menyingkapkan rambut wanitanya yang tergerai dan menyampirkan seluruhnya ke pundak kiri wanita itu. Lelaki itu kemudian mencium dengan mesra tepat pada kulit antara pundak dan leher Tiara yang kini terbuka tanpa ada sehelai rambut saja di sana. Dengan perlahan, Alfa memeluk istrinya dari belakang dan memberikan usapan lembut pada perut Tiara. Menunjukkan pada perempuan itu bahwa Alfa sangatlah mencintai keberadaan makhluk kecil yang kini telah Tuhan kirimkan ke rahim wanita itu.
Tiara menikmati tiap sentuhan dan kecupan yang diterima oleh kulitnya hingga tanpa terasa ia mendongakkan kepala untuk memberi ruang kepada lelaki itu untuk bisa lebih leluasa mencumbunya dan mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh kepala suaminya yang kini telah berada di pundaknya. Memberi perintah dengan gerak tubuhnya bahwa ia tak ingin sentuhan itu berhenti. Ketika desahan hampir lolos dari mulut Tiara, Alfa menghentikan kecupannya dan memeluk Tiara dengan erat lalu tersenyum, memberikan rasa hangat pada tubuh mungil istrinya dari angin sore yang berembus semakin kencang.
“Aku tak peduli orang lain akan memandang kita seperti apa Tiara, mau menerimamu atau tidak. Aku mencintaimu dengan tanpa alasan.” Wanita itu membuka matanya. “Kau ingin seperti ini bukan? Kupeluk dari belakang dan mendengar bisikan cinta dariku dengan terus saja bertanya seperti itu,” godanya.
Tiara menolehkan kepala hingga dekat sekali dengan wajah Alfa, mengamati dengan tanpa melewatkan satu inci saja wajah suaminya yang mempesona itu. “Cintamu itu buta,” tuturnya.
“Tidak. Aku bisa melihat dan mengerti dengan jelas keseluruhan dirimu. Semua hal yang ada padamu,” sanggahnya. “Aku memandangnya dengan perasaan bahagia sehingga kusebut diriku ini sedang mencintai,” sambungnya.
Baru saja Alfa hendak menyentuhkan bibirnya, suara dering ponsel Tiara yang mendadak menggema di ruangan itu membuat keduanya menghentikan aktivitasnya. Alfa melepas pelukannya hingga Tiara dapat dengan cepat melangkah untuk menggapai ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Widya?
“Halo Widya?” sapa Tiara kemudian terdiam, mendengarkan dengan antusias ucapan wanita itu di seberang teleponnya. Tak lama kemudian ia memandang Alfa dengan ekspresi muram membuat lelaki itu turut mengerutkan kening.
“Ada apa?”
******
Tiara dan Alfa berjalan cepat di lorong rumah sakit dengan lampu terang berwarna putih itu, menyalip beberapa orang yang juga tengah berjalan beriringan. Menjangkahkan kaki lebar-lebar agar segera sampai di tujuan.
“Bisakah kau tidak membuatku jantungan dengan cara berjalanmu yang serampangan itu? Pelan-pelanlah sedikit,” Alfa mencengkeram erat pergelangan tangan Tiara hingga wanita itu tersentak.
Tiara menghentikan langkah kakinya, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan debaran jantungnya yang berkejaran dengan aliran darahnya yang semakin cepat itu. Mengatupkan kedua matanya erat demi mendapati rasa tenang yang harus segera ia jemput, seiring rasa pening yang mulai muncul di keningnya. Hatinya berkecamuk oleh harap dan rasa cemas yang semakin membisikkan terornya. Membayangi dengan aneka kemungkinnan tidak menyenangkan tentang mamanya itu.
Alfa melihati istrinya dengan wajah berkerut. Segala ekspresi cerahnya pudar dan ia kehilangan kemampuan untuk sekedar sedikit saja menyunggingkan senyum karena rasa khawatirnya yang telah memuncak. Direngkuhnya pinggang Tiara hingga wanita itu membuka kedua matanya kembali.
“Ayo,” ajaknya.
Dengan berat, Tiara menyempatkan untuk menatap sejenak Alfa yang sedang mengamati dirinya itu, lalu dengan anggukan tipis, akhirnya ia berjalan kembali dengan suaminya yang memeluk erat pinggangnya, memberikan rasa aman seolah-olah benar-benar takut jika Tiara sampai terjatuh.
Langkah mereka berlanjut hingga terhenti pada depan ruang perawatan yang tertutup rapat. Membaca nama pasien yang terpampang jelas pada tulisan yang diletakkan di balik saku kaca pintu itu.
“Benar di sini?” Alfa bertanya ketika Tiara menghentikan langkahnya. Menanyakan kepastian bahwa inilah ruang yang benar sesuai petunjuk yang diberikan Widya pada sambungan telepon.
Dadanya berdesir begitu matanya langsung bersitatap dengan kedua mata sayu Widya yang duduk di kursi sebelah ranjang. Menunggui Berta yang tengah terbaring tenang dalam peraduannya, terpejam dengan hampir separuh wajahnya tertutupi oleh masker oksigen.
Tiara mendekat, memandang keseluruhan diri mamanya yang kini sedang tak sadarkan diri.
“Apa … yang terjadi?” Tiara mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
“Mungkin ia kelelahan. Ada begitu banyak aktivitas yang harus ia lakukan sehingga Berta tak memperhatikan lagi waktu istirahatnya.” Widya menjawab lirih dengan penuh rasa bersalah. “Maafkan aku karena tak bisa membujuknya. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan baik-baik saja, sehingga aku tak berani lagi untuk lebih mengekangnya,” sesal Widya dengan wajah menunduk.
“Mama selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas segala keadaan dirinya sendiri yang selalu penuh dengan kepayahan,” desah Tiara ketika satu tetes bulir bening itu mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan.
“Maafkan aku.” Widya semakin menunduk dengan rasa bersalah yang terus makin bertambah meliputi dirinya. Berta memang wanita pekerja keras. Ada begitu banyak hal yang sebenarnya bisa ia wakilkan kepada siapa saja yang bisa ditunjuknya. Namun, dengan segala kerendahan hati, wanita itu selalu saja menyentuhkan sendiri tangannya yang mahir itu, jika hal itu menyangkut hubungan perusahaannya dengan para klien. Mungkin karena itulah Berta dikenal baik dan dipercaya oleh banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya untuk mengeratkan hubungan saling menguntungkan.
“Bukan salahmu Widya. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu.” Tiara tersenyum ke arahnya kemudian dibalas dengan kedua bola mata Widya yang menatapnya pula. Sedetik kemudian, Widya membeliak.
“Astaga Tiara. Kau tak apa-apa? Mengapa kau pucat sekali?” Wanita itu berdiri demi melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi pada putri Berta itu.
Alfa yang terkejut pun segera mendekat, setelah sedari tadi ia terduduk di sofa dan hanya menjadi pendengar atas pembicaraan istrinya dengan asisten mama mertuanya itu. Wajah lelaki itu yang muram semakin berkerut saja.
“Sebaiknya kau istirahat Tiara, aku akan memesankan satu ruang di kamar sebelah agar kau bisa mengistirahatkan tubuhmu dengan baik malam ini,” bujuk Alfa dengan pandangan memelas ke arah Widya, mengharapakan bantuan wanita itu untuk memapah istrinya.
Tiara yang memang telah merasakan letih di sekujur tubuh dengan pusing di kepala yang mulai menyerang itu menurut saja ketika Widya menggandeng tangannya untuk turun dari tepi ranjang. Dengan langkah cepat, Alfa segera meninggalkan ruangan itu untuk memesan dan mempersiapkan ruang perawatan yang akan ditempatinya dan Tiara untuk menginap malam ini. Lelaki itu bisa saja mengajak istrinya pulang dan beristiahat di rumah, tetapi, mengingat kondisi Tiara yang sudah payah dan ingatan buruk tentang istrinya yang mengalami mual hebat setelah pulang berkendara itu mengurungkan niatnya.
******
Tiara tertidur pulas di atas ranjang dengan rona pucat yang masih saja nampak di wajah cantiknya. Widya yang menunggui Tiara hingga wanita itu memejamkan mata akhirnya berpamitan untuk kembali ke ruang perawatan Berta.
“Widya?” Alfa memanggil dengan suara rendah untuk menghentikan langkah wanita itu yang telah mencapai pintu.
“Ya.” Widya menoleh dan kembali membalikkan tubuh.
“Apa yang terjadi pada Mama?” Tanyanya dengan tak bisa melepas raut wajah cemas.
“Berta mengalami komplikasi. Jantungnya melemah dan bronkitis yang dialaminya kini sudah ada pada level akut,” jawab Widya dengan tegas.
Alfa melebarkan mata dan ternganga. Ia teringat ketika Berta turut dirawat pada rumah sakit yang sama dengannya beberapa bulan lalu. Sayang sekali ia tak sempat menjenguk hingga kini keadaannya memburuk lebih dari yang ia kira.
“Jangan sampai Tiara tahu hal ini. Ia sedang mengandung sekarang.” Lelaki itu kembali menatap lurus Widya yang juga terkejut atas berita yang disampaikan Alfa. “Aku tak ingin ia shock dan memperburuk keadaan kehamilannya karena tubuhnya yang rapuh dan mudah sekali drop saat terlalu lelah," pintanya.
Senyum tipis muncul dari wajah Widya. "Selamat Alfa," ucapnya dengan tak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajahnya. "Aku tahu, aku pun percaya padamu bahwa kaulah satu-satunya orang yang bisa menjaga Tiara dengan baik dan mengerti keadaannya," lanjutnya. "Berta pasti akan senang sekali mendengar kabar ini. Berisirahatlah. Biar aku saja yang menemani mamamu," pungkasnya.
"Ya. Terima kasih banyak," desahnya lalu membiarkan pintu itu tertutup kembali. Membentangkan ruangan yang cukup luas itu untuknya berdua saja dengan Tiara yang sudah terlebih dahulu terlelap.
Alfa pun naik ke atas ranjang dan meringkukkan tubuhnya di sana. Mencium kening Tiara sejenak sebelum bersua dengan terangnya alam mimpi yang telah melambai-lambai, meminta untuk segera ia datangi.