
Gerakan tangan yang tiba-tiba menindih tubuhnya membuat Tiara terbuyar dari lamunan. Waktu masih menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, ia sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Dilihatnya Alfa tengah lelap dalam tidurnya dan memiringkan tubuh ke arahnya sebelum tangan besarnya memeluk dengan sekuat tenaga, menindihkan pundak kirinya. Oh, Tiara yang tengah dalam keadaan sadar itu segera mengangkat dengan perlahan tangan suaminya dan menjauhkan tubuhnya agar tak tertindih lagi. Usaha Tiara untuk bergerak berulang-ulang tanpa sadar membangunkan Alfa dalam tidur dalamnya. Mata lelaki itu mengerjap-erjap melihat Tiara yang tengah kesusahan memindahkan sebelah pundaknya. Alfa menyeringai dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Tiara.
“Kau tak tidur?” Lelaki itu berusaha menahan matanya untuk terbuka ketika melihat dengan sekilas pandang, Tiara yang membelalak dengan skleranya yang berwarna putih bersih tatkala terkejut mendapati suaminya turut terbangun. Mata wanita itu benar-benar terbuka lebar seolah tidak mengantuk di tengah malam seperti ini.
“Aku sudah tidur, tetapi, terbangun dan tak bisa terlelap lagi. Kau tidurlah jika mengantuk.” Tiara memiringkan tubuhnya dan memberi usapan lembut ke rambut Alfa yang berantakan. Sejenak Alfa terpejam merasakan sentuhan Tiara yang membutnya nyaman. Namun setelahnya, ia merengkuh tubuh Tiara dan didekapnya dalam pelukan.
“Apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang?” Lelaki itu berucap dengan mata terpejam dan suara serak khas seseorang yang tengah bangun dari tidur.
Tiara tampak berpikir sejenak sebelum berucap, “Aku masih belum siap untuk tidak memiliki kesibukan. Akan sangat terasa kosong bukan jika setiap hari aku menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, lalu tiba-tiba saja aku harus terduduk diam tanpa kegiatan?” Tiara menengadah, memandangi ekspresi Alfa yang masih tenang. Namun, akhirnya berkerut dengan embusan napas panjang. Wanita itu tahu, bahwa tidak akan ada jawaban lain yang bisa membuat perasaannya lega. Ia harus bisa mengutamakan prioritasnya saat ini, memikirkan kesehatannya sendiri, walaupun terasa berat.
“Oh, kau ingin memiliki kesibukan? Baiklah. Aku akan membuatmu lebih sibuk sekarang.” Lelaki itu berguling dan menindih begitu saja tubuh Tiara dengan bertumpu pada satu tangan. Sebelah tangannya lagi bergerak mengelus pipi istrinya dengan gerakan menggoda dan semburat warna merah muda pun langsung muncul seketika.
“Kau lupa? Aku benar-benar ingin punya banyak anak.” Alfa menyeringai. “Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?” Lelaki itu mengusap kembali secara perlahan mulai dari dahi, hidung dan berhenti di tepian bibirnya. Rona merah di wajah Tiara sudah menyebar kemana-mana dan Alfa selalu menikmati saat-saat di mana Tiara menjadi sangat manis di saat seperti ini.
“Bagaimana jika aku tak bisa memberimu anak?” Tiara bertanya dengan ekspresi muram dan seringaian di wajah Alfa padam, berganti dengan kerutan di dahinya karena wanita itu mendadak melontarkan pertanyaan tak terduga. Alfa mengelus pipi wanitanya dengan lembut. “Aku tidak suka melihatmu pesimis. Aku lebih suka dirimu yang keras kepala dan seperti batu saat bekerja keras mewujudkan keinginan. Biarkan ini menjadi jalan belokan yang memang harus kita lalui. Aku tak peduli. Aku akan menerima kekuranganmu karena kau pun sudah mau dengan sepenuh hati menerima kekuranganku. Aku mencintaimu Tiara, dan itu tak terbatas pada alasan.”
Alfa mengecup bibir istrinya sekilas dengan mesra dan mengatupkan mata.
“Terima kasih. Entah mengapa aku merasa menjadi begitu berharga saat ini. Padahal hanya dengan aku merasakan bagaimana besarnya cintamu padaku.” Tiara menangkup kedua pipi suaminya dengan haru biru lengkap dengan debaran jantungnya yang mulai memanas karena terpompa dengan cepat.
Alfa tak menjawab perkataan istrinya, lalu mengecup sekali lagi bibir Tiara dengan kecupan lembut lalu melepaskannya sejenak. Berbinar melihat gairah yang sama telah melingkupi wanitanya. “Aku berjanji akan membuatmu lebih banyak sibuk dan lelah dengan berpeluh-peluh, tetapi, lelah yang menyenangkan tentu saja.” Lelaki itu lalu memulai lagi pertautan bibir mereka dengan hasrat yang semakin menggebu. Menghabiskan sisa malam dengan penuh cipratan nikmat yang tak terelakkan.
******
Hawa pagi yang sejuk mulai terasa menggelitik tubuh. Alfa tergoda oleh cerahnya sinar mentari yang mulai nampak memancar dengan memaksa masuk melalui celah-celah kecil kain gorden yang terpasang di jendela. Selimut hanya menutup sampai ke pinggang membuat tubuh telanjangnya bergidik dingin. Ditengoknya Tiara yang masih meringkuk miring menghadap kepadanya dengan damai dan mungkin juga merasakan dingin yang sama karena selimut yang tak menutup sempurna, tetapi, tak ia rasakan karena masih tenggelam dalam nyamannya alam tidur. Ditutupkannya selimut itu hingga ke leher istrinya, lalu mengecup pelipisnya lembut sebelum menyibakkan selimutnya sendiri lalu bangkit dari tempat tidur.
Lelaki itu harus membasuh terlebih dahulu tubuhnya untuk menjemput rasa segar yang ingin segera dirasainya karena hari ini ia berencana untuk bertemu langsung dengan paman Tiara di perusahaannya. Alfa melangkah cepat menuju kamar mandi dengan gerakan penuh kehati-hatian agar tak menimbulkan suara.
Setelah menanggalkan bathrobe-nya, lelaki itu segera berjalan ke bawah shower dan menyalakan kran air. Percikan air hangat yang mengeluarkan uap itu pun diterima tubuhnya dengan senang hati. Alfa memejamkan mata, menikmati sentuhan air itu, berharap aliran airnya turut meluruhkan kecamuk pikiran yang tengah menggelayut manja dalam otaknya, membuang segenap penat yang sudah lama menghinggapi benaknya dan menuntut untuk segera disingkirkan.
Ini sudah keputusannya. Tiara harus tinggal di rumah mulai saat ini. Berta pun mendukung rencananya seperti yang diharapkan, tetapi, Alfa harus melangkah secara formal karena perusahaan pun pasti akan mendapat kesulitan ketika pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Tiara tidak segera dipindahtangankan. Tiara bisa kapan saja mengambil keputusannya sendiri, tetapi sebagai seorang suami, ia merasa bertanggung jawab penuh atas istrinya. Alfa akan memberikan surat pengunduran diri secara resmi.
Sudah dengan semangat yang full charges, Alfa keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya belum juga terbangun. Mungkin saja wanita itu masih sangat mengantuk mengingat insomnia yang menyerangnya pada tengah malam tadi. Namun, Alfa puas karena sudah meninabobokkan wanita itu dengan kenikmatan, semalam. Tak terasa, senyum terurai dari bibirnya yang masih basah.
Diambilnya kemeja kasual berwarna abu tua dengan aksen kotak dari dalam lemari pakaian dan celana kain berwarna navy. Lelaki itu merapikan penampilannya sejenak di depan cermin lalu berjalan mendekati tepi ranjang dan mencium pelipis Tiara sekali lagi. Menyematkan catatan kecil di atas ponsel Tiara yang tergeletak di sana dan berlalu pergi.
******
“Iya. Aku mengerti keadaanmu Alfa. Akupun juga akan bersikap sepertimu.” Andreas -paman Tiara yang bekerja sebagai presiden direktur perusahaan ayahnya- itu berkata dengan senyuman hangat.
“Kau suami yang baik. Kutitipkan Tiara kepadamu. Jaga dia baik-baik. Tiara sudah kuanggap seperti anakku sendiri.” Lelaki tua itu meletakkan kertas yang tadi dipegangnya ke atas meja dan menatap laki-laki muda di depannya ini dengan saksama. Alfa memiliki jiwa wirausaha yang membara. Sama persis dengan Nicholas, kakaknya semasa muda. Ah, sepertinya kerinduan yang datang cukup terobati oleh kedatangan keponakannya ini di kantornya. Andreas berharap, di masa mendatang anak laki-laki ini akan menjadi sosok hebat yang menginspirasi. Paman Tiara itu tercenung dengan alam pikirannya sendiri dan tersentak dengan Alfa yang menanggapi perkataannya.
“Tentu saja. Aku akan menjaga Tiara dengan hidupku.” Alfa berkata datar. Namun penuh dengan kesungguhan.
Andreas tersenyum lebar. “Ah, ya. Kudengar kau akan membuka gallery lukisan dan foto hasil kerjamu? Apa kau membutuhkan bantuan?” Lelaki itu mengangkat sebelah alis.
“Tidak paman. Hanya, datanglah saat pembukaan gallery. Aku akan sangat senang menyambut kedatanganmu.” Alfa tersenyum penuh arti.
“Baik. Beri aku kabar untuk hari pembukaan gallery-mu itu," pungkasnya.
“Dengan senang hati," ucap Alfa.
******
Tiara menggeliat, menarik ulur seluruh tubuhnya yang masih berada dalam balutan selimut hangat yang terasa nyaman. Wanita itu melebarkan mata tatkala mendapati Alfa tiada di sampingnya. Hari sudah setengah siang karena cahaya terang benderang telah nampak begitu kuat di balik jendela yang masih tertutup.
Alfa belum membuka tirai jendela untuk membiarkannya tidur? Ah, baik hati sekali.
Tiara mematung dalam keheningan ruang tidurnya. Sejenak menikmati kesepian yang melanda ketika tak ada bebunyian apapun selain suara laju kendaraan samar-samar yang melintas di depan rumahnya.
Alfa telah pergi?
Perempuan itu menengok ke meja nakas hendak mengambil ponsel dan menghubungi suaminya. Matanya lantas tertuju pada kertas pink kecil yang tersemat di sana.
Sayang, sarapan ya, sudah kusiapkan di meja makan. Aku pergi sebentar.
Oh. Apakah Alfa pergi ke perusahaannya hari ini?
Tiara berpikir lamat-lamat dan menghidupkan layar ponsel. Terkejutlah ia ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh siang. Wanita itu lalu bergegas keluar dari rongga selimutnya dan berlari menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan segera berpakaian karena perutnya sudah terasa sangat lapar.
Dengan terburu-buru, ia mengambil langkah seribu menuju ruang makan untuk segera memenuhi teriakan perutnya yang minta diisi.
Perempuan itu tiba-tiba saja memekik dengan jeritan keras dan keterkejutan yang amat sangat karena sekarang, ia telah jatuh terduduk di depan kitchen set miliknya. Punggungnya terasa ngilu pun dengan tangannya yang sempat ia gunakan untuk menyangga tubuhnya, tetapi turut terbentur ke lantai hingga mengirim sinyal kesakitan sampai dengan pangkal lengan. Tak bisa ia bayangkan betapa pucat raut wajahnya sekarang ini ditambah debaran jantungnya yang tak ujung menemui kecepatan normal.
Tiara memejamkan matanya sejenak. Sungguh ceroboh. Ia tergesa-gesa dan tak sempat memeriksa sekeliling tempatnya berjalan. Dengan berat, perempuan itu mengangkat tubunya untuk kembali berdiri. Namun, perutnya seakan dihantam oleh batu besar yang teramat kuat mendorongnya, hingga ia kehilangan kekuatannya. Dengan segenap tenaga, Tiara mencoba bersandar pada meja dan rasa terkejutnya berubah menjadi rasa sakit luar biasa yang berpusat pada perutnya. Di saat yang sama, ada cairan hangat yang merembes keluar dari pangkal pahanya. Sedikit demi sedikit dan mulai menderas membasahi kaki hingga merambat ke lantai.
“Tiara!"