
Waktu hampir menunjuk pukul sepuluh malam ketika Alfa membawa Tiara dalam gendongan. Wanita itu tertidur di dalam mobil, kelelahan dengan tubuhnya yang tergolek lemas di pangkuan jok. Hingga masa ini, lelaki itu lebih memilih untuk menggendong Tiara dan membawanya ke dalam rumah hingga menidurkannya di atas peraduan. Agaknya, perempuan itu benar-benar mengantuk sampai-sampai tak ada respons apapun yang menunjukkan bahwa ia terbangun karena tidurnya yang sempat terganggu dengan perpindahan tubuhnya.
Alfa memandang istrinya yang telah tertidur di atas ranjang itu dengan masygul. Beberapa bulan ini, wanita itu nampak semakin kurus saja dengan rambutnya yang tak lagi lebat karena rontok. Ah, lelaki itu merasa bersalah karena telah gagal membuat istrinya bahagia. Tiara terus menerus berkata bahwa ia merasa berat dengan beban yang harus disangganya seorang diri. Menjadi wanita yang tak sempurna karena tak bisa mengandung dengan benar dan memberikan suaminya keturunan.
Lelaki itu menutup matanya dengan dua jemarinya yang lentik. Ada hawa panas di dada yang semakin memuncak ke kedua matanya, hingga kelopaknya kini basah, dan dengan sekuat tenaga, ia berusaha menahan. Sungguhlah lelaki itu tak bisa menangis, kecuali saat rasa sakit itu telah sampai pada rongga hati yang terdalam. Alfa mengembuskan napas panjangnya dan membuka mata. Mencoba menegarkan hatinya dengan kesabaran yang lebih luas lagi.
Dirobohkanlah tubuhnya dengan hati-hati di samping istrinya, memiringkan badan dan terkejut bukan main manakala melihat Tiara tengah membuka mata dan memandang ke arahnya. Oh, apakah wanita itu melihatnya sedari tadi?
Alfa tersenyum simpul. Mengusap kepala Tiara lembut dan berkata, “Apa aku membangunkanmu?”
Mata Tiara yang berkilauan itu tak henti menatap mata suaminya. Wanita itu menelan liurnya dengan kasar, sembari berusaha melulur geliat resahnya yang turut membawa air matanya sampai ke permukaan. Perempuan itu lena bahwa suaminya tadi memberinya pertanyaan. Ia malah terus terpaku pada tatapan Alfa yang memandangnya dengan sedikit keheranan. Suaminya itu sedang bersedih? Apakah dirinya sudah keterlaluan hingga membuat lelaki itu menjadi seperti ini?
Tanpa menunggu lagi, Tiara memajukan kepala dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Alfa. Matanya memejam dengan buliran air mata yang kini terbebas dari pertahanan. Melesat begitu saja dari sudut matanya. Alfa yang begitu kaget dengan sikap istrinya yang tiba-tiba itu menegang. Merasakan gelenyar panas itu mulai merambat dari punggung hingga sekujur tubuh. Lelaki itu melihat istrinya menangis, dan bertambahlah sesak dadanya kini.
Meski begitu, sengatan kenikmatan yang disalurkan dari bibir mungil Tiara itu mendominasi. Alfa turut mengatupkan mata, menikmati detak jantungnya yang terpompa cepat, bersamaan dengan ciuman yang semakin lama semakin menghangat. Lelaki itu tak bisa membendung lagi. Kobaran hasratnya kian melonjak. Waktu ini, giliran laki-laki itu yang menguasai. Mencium dengan rakusnya bibir Tiara. Menekan kuat-kuat tengkuk wanita itu seiring tangan Tiara yang juga mengalung pada lehernya. Menunjukkan bahwa ia memiliki keinginan yang sama.
Alfa tak memedulikan lagi seperti apa perasaannya, maupun bagaimana istrinya itu saat ini, karena yang ia inginkan sekarang adalah menuntaskan apa yang sudah terjadi pada tubuhnya. Menuntut kepuasan. Lelaki itu belingsatan, gila akan kemauan tubuhnya yang seolah tak sabar untuk segera menyatukan diri dan meraih puncak kenikmatan.
Tiara yang melihat suaminya begitu dominan dan tak lagi membendung keinginannya itu tersenyum masam saat Alfa melepas satu persatu penutup tubuhnya dengan kasar. Dan … malam bergelora dengan dua insan yang saling memenuhi kebutuhan itu pun beranjak. Mengisi petang mereka dengan peluh dan lelah yang menyenangkan. Sampai lelaki itu berhenti, meraup udara dengan panjang seolah apa yang baru saja dilakukannya itu tak menyempatkan waktu baginya untuk bernapas.
“Maaf … maafkan aku Tiara,” ucapnya dengan napas terputus-putus, lalu kembali bebaring, mendekap mesra istrinya dalam pelukan.
******
“Ada dua lukisanmu yang diminati lagi oleh pembeli. Sudah kukirim lewat email lukisan mana saja yang hendak dibeli itu. Dan kau tinggal memutuskan, apakah lukisan itu kau jual atau tidak.” Leon berkata di ujung telepon dengan suara serak.
“Akan kujual saja semua lukisan di galeri seandainya saja memang ada yang berminat,” ujarnya.
“Apa? Kau sedang bercanda?” tanyanya dengan intonasi suara meninggi. Tak percaya dengan ucapan bosnya yang mendadak berubah pikiran.
Pada awal mula pembukaan galeri, Alfa meminta asistennya itu untuk memberi tahunya terlebih dahulu, lukisan mana yang hendak dibeli oleh para calon peminatnya, tetapi, sekarang, lelaki itu berkata demikian seolah sedang berputus asa dan hendak menjual semua lukisannya?
“Aku tidak sedang bercanda,” ucapnya dengan mengembuskan napas panjang. “Hidupku seperti sedang berada di titik balik. Rumah, galeri dan segala hal yang terjadi bagai mimpi buruk bagi Tiara dan aku sedang berusaha menghapusnya. Aku sudah memikirkannya matang-matang."
“Oh. Aku turut berduka atas apa yang terjadi padamu Alfa. Semoga Tiara segera membaik, dan kalian segera diliputi oleh kebahagiaan dari arah yang tak dinyana,” harapnya.
“Ya. Terima kasih Leon, maaf, aku belum bisa memastikan kapan akan kembali ke kota. Kami masih akan tinggal di sini sampai nanti kuberi kabar padamu lebih lanjut,” tukasnya.
“Yah, kau selalu bisa kuandalkan,” pujinya.
Leon tertawa kecil lalu menjauhkan ponselnya dari telinga ketika atasannya itu menutup sambungan.
Alfa kembali menatap ke depan. Mengamati birunya air kolam yang berpendar terkena matahari pagi. Sekilas dalam ekor matanya, nampak Tiara yang sedang bermain-main dengan kucing kesayangannya di seberang kolam. Melempar-lempar bola plastik kecil yang diikatnya dengan tali dan tertawa dengan Popo yang menangkap-nangkap tali tersebut dengan gerakan lucunya.
Alfa bernapas lega, perlahan-lahan Tiara kembali tersenyum meskipun belum sepenuhnya wanita itu menampakkan keceriaannya. Kelegaan lelaki itu bertambah tatkala semalam tadi, wanita itu benar-benar mengizinkannya untuk kembali menyentuhnya. Alfa merasa bahagia, seolah baru saja mengalami malam pertama kedua kali dengan istrinya.
Kuas yang masih berada di tangan kanan lelaki itu membunyikan ketukan dengan kursi clearie bar stool-nya, setelah beberapa lama, Alfa akhirnya tersadar bahwa ia masih memegang kuas dan mengetuk-ngetukkan gagangnya pada kursi tempatnya duduk. Pandangan laki-laki itu kembali terarah pada kanvas yang berdiri di sampingnya. Memperlihatkan lukisan tangannya yang belum usai.
Dengan tersenyum, Alfa memutar posisinya duduk. Menghadap pada kanvas dan mulai menyentuhkan kembali pucuk kuasnya pada warna-warna yang sudah ia susun dalam palet. Kembali menyalurkan gambaran-gambaran abstrak dalam benaknya itu ke dalam tangannya yang bergerak indah di atas kanvas.
Banyak perubahan tema pada gambar yang dilukisnya. Lelaki itu kini lebih sering melukis tentang panorama alam dan beraneka hewan terutama kucing. Ia sedang mencoba untuk menumbuhkan rasa sukanya terhadap hewan berbulu itu mengingat Tiara yang saat ini begitu senang dengan kehadiran hewan berbulu putih tersebut.
Sentuhan lembut berkat kucing Tiara yang perlahan mendusel di kaki Alfa, membuat lelaki itu sejenak menunduk, mengamati hewan berbulu itu yang kini berada di samping kakinya. Dengan cepat Alfa menoleh, dan benarlah, si kucing tengah mengekor istrinya itu yang kini tengah berjalan di belakang tubuh Alfa.
“Tiara,” panggilnya. Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya, mengamati wajah Tiara tanpa berkedip. Perempuan itu menghentikan langkah, mengamati pergerakan suaminya yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Senyum tersungging dari wajah tampan lelaki itu seiring dengan kedua tangannya yang mendarat di pundak Tiara dan perlahan mengelus mesra lengannya hingga berakhir di kedua jemari wanita itu, menggandeng tangannya.
Keduanya berjalan beriringan menuju bangku panjang di bawah pohon bunga Tabebuya yang berdiri tak jauh dari teras belakang. Mereka menghempaskan tubuh di bangku tersebut dan menghirup dalam-dalam udara segar yang terpompa dari dedaunan.
Tiara memandang lurus ke depan, membiarkan Alfa yang duduk di sebelahnya itu sambil menatap dirinya.
“Kau sudah benar-benar sehat bukan?” Lelaki itu bertanya sembari menghela jemari istrinya, menggenggamnya dan meletakkan di atas pangkuan.
Wanita itu menoleh dan tersenyum tipis. “Iya,” jawabnya. “Aku merasa lebih baik,” ucapnya lagi.
Tiara sedang tidak berbohong. Ia memang merasakan hatinya perlahan-lahan bisa menerima keadaan. Tersenyum dengan tanpa paksaan, tetapi, sungguh ia tak ingin berharap lagi, mungkin dalam waktu dekat ini. Akan ia biarkan waktu bergulir dengan nyaman tanpa diributkan oleh cita-cita atau asanya itu yang mungkin memang tak masuk akal.
“Kau mau mengajakku ke mana?” Wanita itu bertanya dengan mengangkat kedua alis. Antusias pada pertanyaannya sendiri seolah yakin bahwa Alfa pastilah sedang dalam usaha untuk membujuknya.
Alfa menyeringai. Ternyata, Tiara paham akan gelagatnya itu. “Kita akan pergi ke tempat yang pasti kau sukai. Aku ada pekerjaan untuk melakukan photoshoot di sekitar kota ini, kuharap kau benar-benar bersedia ikut,” harapnya. “Kau tentu masih ingat bukan? Aku sama sekali belum mengubah keputusanku untuk menjadikanmu asisten pribadi? Jadi, ayo pergi, bosmu ini mempunyai banyak pekerjaan,” godanya.
Tiara tertawa dan mengangguk yakin, lalu turut menggenggamkan sebelah tangannya di atas punggung tangan Alfa yang sedang menggenggam rapat jemarinya.