The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 61 - Langkah Terbaik



Keduanya tengah memperhatikan dengan saksama, sketsa hitam yang mendominasi beberapa garis dan titik-titik putih yang tertampil pada layar monitor di samping ranjang tempat Tiara berbaring. Dokter Jeni pun melihat dengan teliti lalu menghela napas panjang dan berkata dengan nada tenang namun menyiratkan kecemasan. “Kesehatanmu baik Tiara, kandunganmu pun sehat. Janin kalian tumbuh dengan baik, tetapi, ada hal yang harus kalian perhatikan bahwa sekarang ini Tiara telah memasuki usia kehamilan 15 minggu dengan keadaan serviks yang tidak sempurna. Ini kemungkinan bisa terjadi karena beberapa waktu lalu, Tiara telah mengalami keguguran sebanyak dua kali.” Dokter itu berkata dengan sesekali memperhatikan secara bergantian pasangan suami istri itu dan layar monitor di depannya, lalu melipat bibir dengan mimik wajah berkerut.


Ekspresi muram itu tentu tertangkap dengan jelas di mata Alfa hingga mendorong lelaki itu untuk bertanya. “Lalu, apa tindakan yang harus dilakukan atau pengobatan seperti apa yang harus dijalani untuk mengatasi keadaan Tiara yang demikian?” Alfa menggenggam dengan erat tangan Tiara tanpa melihat ke arah istrinya, menguatkan perasaannya yang seakan lemas tak berdaya ketika mengetahui lagi keadaan buruk istrinya yang tak terduga itu. Tak sanggup ia melihat seperti apa ekspresi wajah Tiara ketika menerima informasi mengejutkan dari dokter itu. Ia hanya terus menggenggamkan erat tangannya sambil terus menyimak dengan teliti setiap penjelasan yang wanita berkacamata itu berikan.


“Kita bisa melakukan prosedur cervical cerclage,” ucapnya.


“Cervical cerclage? Apa itu?” Alfa tak menutup-nutupi wajah yang penuh tanyanya dan menunggu dengan tidak sabar dokter itu untuk menjelaskan apa maksud istilah yang baru pertama didengarnya itu.


“Cerclage adalah prosedur untuk mengikat leher rahim. Hal ini dilakukan untuk mencegah pendarahan yang mengakibatkan keguguran dan kelahiran bayi prematur. Nah, menilik keadaan kandungan Tiara yang mengalami inkompetensi serviks serta keguguran yang ternyata berefek pada pelebaran serviks, maka hal ini sangat kurekomendasikan untuk dilakukan. Demi kebaikan ibu dan bayi kalian,” papar sang Dokter.


Alfa ternganga. Mengingat kembali dua peristiwa yang begitu meremukkan hatinya, di mana ia melihat darah merah segar itu membungkus tubuh Tiara, menghilangkan jejak kehamilan istrinya. Ingatan-ingatan itu berdatangan dengan kilasan-kilasan memori bak gambaran cerita usang dalam benaknya. Membuka kembali kesedihan hatinya ketika telah kehilangan dua calon anaknya itu.


Lelaki itu mengembuskan napas berat dan memandang istrinya, mendapati wajah cantik itu berubah menjadi pucat seiring pembicaraan ini yang begitu menyudutkannya. Dengan penuh ketegaran, Alfa berusaha tenang, menatap kembali dokter Jeni yang masih sibuk dengan mouse dan layar monitor. “Apakah prosedur itu mengharuskan operasi? Atau bagaimana? Dan … kapan bisa dilakukan?” Kerutan di dahi laki-laki itu semakin dalam. Sebelah tangannya terkepal, menutup bibirnya yang terlipat. Memikirkan dengan hati yang penuh resah, memikirkan keadaan istrinya yang harus sedemikian rumit dalam mengandung buah hati mereka.


“Prosedur ini biasa dilakukan melalui ******. Kami akan melakukan anestesi spinal atau anestesi lokal sebelum melakukan prosedur penjahitan. Mungkin akan ada efek samping yang terasa menyakitkan dan timbul bercak darah, tetapi jangan khawatir, kami tentu akan memberikan pengobatan sampai efek sampingnya berhenti. Kalian harus rutin datang kemari dalam satu hingga dua minggu setelah cerclage itu selesai dilakukan agar perkembangan Tiara bisa terus kami pantau. Nantinya, pada usia kehamilan ke 37, jahitan cerclage ini akan dilepas kembali untuk persiapan kelahiran,” jelasnya yang membuat Alfa dan Tiara menelan ludah dengan kasar. Mencoba menelaah penjelasan Jeni dengan hati yang lapang dan terus berharap baik, semoga ini adalah jalan terbaik yang memang harus ia tempuh untuk membantu Tiara menyelamatkan kehamilannya.


“Aku siap Dokter. Aku bersedia melakukannya kapan pun dokter akan menjalankan prosedurnya.” Tiara mendadak berucap dengan lantang membuat Jeni dan Alfa langsung memperhatikan ke arahnya. Tangan wanita itu yang semakin mendingin pun berbalik menggenggam erat tangan suaminya, seolah hanya itulah pegangan yang bisa ia gapai saat ini. Keberadaan Alfa di sampingnya yang selalu bisa menguatkannya.


Dokter Jeni tersenyum hangat dan mengelus lengan perempuan mungil itu yang memandanganya dengan tatapan sendu. “Aku tahu kau kuat Tiara,” ucapnya dengan penuh kasih. “Semakin cepat semakin baik. Aku menjadi begitu bersemangat melihat semangatmu yang seperti itu, bersabarlah Tiara, aku pasti akan melakukan apapun yang terbaik,” Dokter Jeni menganggukkan kepala tipis dengan masih berhias senyum di bibirnya. Wanita itu lalu beralih menatap Alfa dan berucap kembali. “Kita bisa melakukan prosedur itu sekarang juga jika Tiara siap,” pungkasnya yang langsung ditanggapi oleh Alfa dan Tiara dengan anggukan.


******


Tiara terbaring lemas di atas verlos bed dengan perasaan campur aduk. Ia tak membayangkan akan berada di atas ranjang sakral ini di waktu usia kehamilannya yang masih dini. Pikirannya terus berkecamuk dengan aneka kelebatan bayangan baik tentang dirinya di masa depan nanti yang juga akan berada di ruang dan ranjang ini untuk melahirkan anaknya. Ya. Tiara begitu ingin merasakan kesakitan kontraksi itu dan mengenang bagaimana indahnya tangisan suara bayi yang akan terdengar nyaring di telinganya setelah membiarkan rasa sakit yang amat hebat itu menderanya. Namun, di sisi lain, entah mengapa ia merasa dirinya begitu takut dan cemas. Mengkhawatirkan bagaimana kondisi diri dan bayinya setelah ini.


Dokter Jeni telah memerintahkan dua orang perawat dan satu perawat untuk menemani Tiara selama prosedur tersebut dijalankan, tetapi, Tiara bersikeras bahwa ia ingin ditemani oleh Alfa. Lelaki itu merasa lega pada awalnya karena Jeni memintanya untuk menunggu di luar ruang, bukan karena tak mau menemani istrinya itu sepanjang menyelesaikan cervical cerclage, tetapi ia tak tega jika harus menyaksikan istrinya itu berada dalam keadaan demikian.


Kini, ketika wajah pucat wanita itu telah menampakkan kepayahannya dalam menjaga kedua matanya yang berkabut itu tetap terbuka, dokter dan perawat pun segera melakukan tindakan sesaat setelah anestesi itu mulai mempengaruhi sinyal syarafnya pada sekitar area perut hingga paha.


Kedua kaki Tiara diletakkan pada penyangga kaki yang berada di samping kiri dan kanan ranjang itu dengan tetap menutupnya dengan selimut. Dokter itu kemudian memasukkan spekulum, sejenis alat yang dimasukkan ke dalam liang ******** untuk membantu membuka bibir ******** tersebut terbuka dan memudahkan prosedur medis tersebut dijalankan. Di dunia awam, biasanya alat ini disebut dengan cocor bebek, karena bentuk alat ini yang memiliki bentuk memanjang dan sedikit pipih, persis seperti halnya bentuk mulut hewan tersebut.


Selama menjalankan prosedur itu, dokter dibantu dengan ultrasound untuk melihat lebih jelas, bagian serviks mana yang perlu dirapatkan dengan jahitan tersebut. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pengikatan pada mulut serviks itu hingga menghasilkan jahitan yang benar-benar rapi dan sesuai dengan tujuannya untuk dapat menutup rapat pintu serviks.


Tak membutuhkan waktu lama dalam prosedur cerclage ini, tetapi sangat terasa lama untuk Tiara. Wanita itu terus memejamkan mata dan menggigit bibir. Dahinya mengernyit dengan ekspresi menahan sakit, walaupun telah disuntikkan anestesi lokal pada tubuhnya. Alfa masih dengan tubuhnya yang bersandar pada bagian kepala ranjang yang sedikit terangkat itu. Mengelus kepala istrinya dengan intensitas pelan dan lembut, memberikan efek ketenangan yang luar biasa menyenangkan pada Tiara, meski setelah ini, wanita itu harus bersiap menghadapi efek samping mengerikan yang sebelumnya telah disebutkan oleh Dokter Jeni padanya.


Selesai.


Setelah proses cerclage itu pungkas, Tiara dipindahkan ke ranjang elektrik dan dibawa ke ruang perawatan untuk pemulihan. Wanita itu masih memegang lengan suaminya hingga ia didorong dan sampai ke dalam kamar perawatannya. Dokter Jeni dan satu orang perawat turut mengantar mereka hingga tiba ke dalam ruang.


“Beristirahatlah. Sebentar lagi anestesinya akan hilang. Perawat akan mengirimkan obat yang harus kau minum dan vitamin seperti biasa. Jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi tubuhmu tetap fit agar lukamu segera sembuh,” hiburnya.


Tiara hanya mengangguk lemah diiringi Alfa yang berdiri tegak mengantar kepergian dokter dan perawat itu. “Terima kasih Dokter,” ucapnya.


“Ya. Semoga Tiara tak menerima efek samping yang begitu buruk dan semuanya baik-baik saja,” harapnya dengan senyum ramah. “Aku keluar dulu. Panggil saja aku atau perawat jika ada sesuatu yang kalian butuhkan,” tutupnya lalu berlalu pergi dari ruangan itu, keluar dengan meninggalkan pintu yang tertutup rapat.


Alfa duduk di tepi ranjang. Saling berpandang dengan Tiara yang sama sulitnya dengan dirinya untuk menjelaskan emosi hatinya yang tak bisa ia terjemahkan. “Maafkan aku … kau … tetaplah dengan acara pembukaan pameran itu, jangan hiraukan diriku dan janganlah malu jika saja … aku … harus berada di atas kursi roda,” lirih Tiara.


“Sshh ….” Alfa menutup bibir Tiara. “Tidurlah, jangan memikirkan yang tidak-tidak,” ujarnya dengan mencium pipi istrinya dengan penuh sayang hingga tanpa sadar perempuan itu memejamkan mata, menikmati cinta yang tersalur melalui sentuhan penuh kasih itu. Merasainya dengan hati yang berdesir, hingga alam sadarnya tersambut oleh gelap, terlelap dalam hening ruangan itu yang meninaobokkannya dengan nyaman