
Mobil copper metallic itu melaju kencang di tengah jalanan yang cukup lengang. Membelah rerumpunan debu yang berserak di sepanjang perjalanan. Menembus waktu. Di dalam kabin, Leon duduk di belakang kemudi, Alfa berada di kabin belakang dengan Tiara yang tertidur pulas dalam pelukannya, setelah tadi, wanita itu sempat mencemaskan perihal kucing yang mereka adopsi satu hari lalu.
Sepulang dari Dokter Jeni tempo hari, Alfa benar-benar mengajak istrinya ke tempat adopsi hewan terbesar di kota itu. Tiara tak diijinkan untuk turut masuk ke dalam rumah hewan tersebut tentu saja. Lelaki itu dengan telatennya melakukan video call untuk menunjukkan satu demi satu hewan berbulu yang ada di tempat tersebut dan mempersilakan wanita itu untuk memilih. Setelah penuh dengan pertimbangan yang begitu lama, akhirnya, jatuhlah pilihan perempuan itu kepada kucing ragdoll jantan berwarna putih kecoklatan dengan mata biru safir. Tak tanggung-tanggung, Alfa pun dengan rela hati membelikan pula kandang dengan teralis besi terbaik untuk rumah si kucing dan mengirimkannya langsung ke tempat Yunus seperti permintaan Tiara sebelumnya.
Kini, setelah memastikan bahwa kucing adopsi dengan harga yang hampir sama dengan satu lukisan Alfa itu aman dan telah berada di rumah papa mertuanya dengan selamat, Tiara akhirnya mau untuk menuruti perintah suaminya dengan memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum tiba di vila.
Telah satu setengah jam mobil itu melesat, membawa mereka semakin dekat dengan tujuan. Tiara yang merasakan injakan rem yang sedikit mendadak pada kendaraan itu perlahan membuka mata. Perempuan itu mengerjap-erjap. Kepalanya mendongak mendapati pelukan hangat dari lengan besar yang merangkulkan tangannya. Alfa tak mengubah posisi, masih sama seperti terakhir kali wanita itu melihat suaminya. Lelaki itu tetap bergeming dengan kepala tegap dan menatap lurus ke depan, seolah takut jika sedikit saja pergerakan tubuhnya akan membangunkan istrinya dari tidur nyenyak.
Alfa menundukkan pandangan dan tersenyum, mendapati Tiara yang tak berkedip menatapnya dengan mata yang sudah membulat sempurna. “Sudah bangun? Sebentar lagi sampai,” ucapnya lalu menolehkan kepala ke luar jendela.
Tiara membetulkan posisi duduknya. Merenggangkan tubuhnya sejenak kemudian menghela napas panjang dan duduk tegak di samping Alfa. “Apa aku tertidur cukup lama? Kau tak lelah?” Wanita itu mengekorkan tatapannya ke luar kaca seiring lelaki itu yang tak mengalihkan pandang ketika diajaknya bicara.
Lelaki itu menggamit tangan istrinya. “Tidak. Aku tidak mengantuk,” jawabnya. Alfa mengembuskan napas dengan penuh resah. Mana bisa ia mengantuk apalagi sampai tertidur jika pikirannya terus melayang pada segala hal yang membuatnya harus berada pada titik ini. Melakukan rencana besar dengan banyak resiko yang harus ia sangga.
Tak terbayangkan akan seperti apa rasanya jika harus satu hari saja tanpa wanita itu. Menatap senyum manis dan kemanjaannya hanya dalam bayangan, merindukan tanpa bisa menentukan dengan tenang, kapan akan bertemu kembali. Dan … harus menahan untuk tak menyentuhkan tangan pada gerakan-gerakan manis dari perut istrinya itu. Oh, sejujurnya ia tak sanggup jika harus menjadi lemah seperti ini, tetapi, ia telah melangkah. Pantang baginya untuk mundur walau satu jangkah saja. Semuanya telah ia niatkan, dan tak mau jika kebahagiaan itu hanyalah azam. Alfa akan mewujudkannya, meski aral melintang.
Wanita itu menggoncangkan genggaman tangan suaminya dan menatap dengan mengernyitkan dahi. Alfa tampak melamun dan hal itu membuat Tiara menjadi masygul. Lelaki itu tersentak dan menelengkan kepala. Menatap mata perempuan itu sejenak lalu teralihkan begitu saja oleh lanskap pagar besi megah yang berjejer di sepanjang kiri mobil. “ Sudah sampai.” Alfa tersenyum tipis. Tiara lalu turut menengokkan kepala dan mengangkat kedua alis.
“Ini … vila Papa?” tanyanya.
“Iya. Mari turun.” Alfa berkata dengan tubuhnya yang telah mendorong pintu dan turun dari mobilnya serta berjalan memutar, menyambut di pintu samping istrinya yang telah terbuka. Merangkul Tiara kembali dalam rengkuhan lengannya. Leon pun terlihat turun dari kursi kemudi dan membuka bagian bagasi. Membawakan barang-barang serta kopor milik wanita itu.
Baru dua langkah dari samping mobil, Tiara ternganga melihat pemandangan di depan matanya. Yunus dan seekor kucing yang bertengger pada kursi teras vila itu. Wanita itu tertegun, hatinya sangat tersentuh melihat kehadirannya yang tersambut oleh hal yang sangat dinantikannya itu.
Papa mertuanya itu berdiri dengan gagah di atas undakan teras, tersenyum hangat melihat kedua anak yang dinantikannya itu telah tiba. “Selamat datang,” sambutnya dengan memiringkan tubuh dan membuka sebelah tangannya, mempersilakan masuk. Sejenak Alfa melepaskan rangkulannya pada Tiara dan mendekap Papanya itu sebagai salam temu. Yunus menepuk-nepuk punggung anak lelakinya itu dengan haru dan melepaskannya beberapa detik kemudian.
Tiara tersenyum melihat keakraban ayah dan anak yang tampak hangat itu. Tatapannya berpindah pada si ragdoll yang tak jauh darinya. Kucing itu tetap anteng di tempatnya dengan sesekali melihat ke arah orang-orang yang berseliweran di sampingnya.
“Aku sudah memerintahkan salah satu asisten rumah ini untuk mengurusnya.” Yunus turut menatap kucing gemuk tersebut. Kedua tangan ia sakukan pada kantung celana sebelum sekali lagi, lelaki itu berjalan mendekati pintu dan mengantar dua sejoli itu memasuki rumah diikuti Leon di belakangnya.
******
“Sepertinya ada sesuatu yang salah, Nyonya.” Julius duduk di sofa dengan menautkan kedua tangannya dalam pangkuan.
“Apa maksudmu?” ucapnya dengan kening berkerut dalam. Menuntut jawaban.
“Kemarin saya melihat Ibu Tiara di sebuah resto.” Lelaki itu memajukan tubuhnya, seolah menyiapkan diri untuk menyulam kata-katanya.
Helmia mendesah. Raut mukanya berubah kesal karena telah menunggu dengan penuh antusias berita tak penting dari lelaki itu. “Lalu?” Wanita itu kembali berkonsentrasi pada lembaran kertas yang tertumpuk di meja. Tak mengacuhkan Julius yang sedang panas dingin untuk mempersiapkan ucapannya.
“Apakah Anda tahu jika Ibu Tiara sedang hamil?” Julius bertanya dengan mengerutkan kening dan ekspresi gerak tubuh yang tegang. Tahu jika sekali lagi mungkin ucapannya itu tak berpengaruh apa-apa pada tuannya yang temperamen itu.
Bunyi bolpoin terjatuh dari genggaman tangan Helmia yang menyentuh permukaan meja kaca itu sejenak mengejutkan Julius. Lelaki berkacamata itu tak menduga jikalau Helmia akan merasa terhenyak dengan kabar yang diberikan olehnya. Jadi, apakah wanita itu belum mengetahui?
Helmia menyandarkan tubuh pada kursi. “Kau sedang bermimpi?” Tanyanya dengan nada mencela. “Dari mana kau tahu Tiara sedang hamil? Apa kau menerima hasil cek laboratorium darinya untuk ditunjukkannya kepadaku?” cerocosnya.
“Tidak. Saya tidak menerima apapun dari menantu Anda. Saya melihat dengan mata kepala sendiri jika Ibu Tiara tengah berbadan dua dengan bentuk tubuh yang berubah tentu saja. Apakah Anda akan mengira juga bahwa itu kehamilan palsu?” Julius bertanya dengan setengah frustrasi.
Wanita itu ternganga. Tiara hamil? Tak terasa Helmia melamunkan hal tersebut. Membayangkan dalam benaknya tentang satu hal yang tak dapat ia mengerti itu. Entah mengapa otaknya mendadak macet saat bertemu dengan dua kata tersebut.
Tiara hamil? Ucapan dalam hatinya itu menggaung dalam otaknya berulang-ulang. Alfa dan Karina telah sukses dalam melakukan pendekatan dan sekarang ada hal tak terduga yang memintas begitu saja di depannya. Bagaimana ini?
“Selidiki lebih jauh. Aku tak ingin ada satu hal saja yang terlewat,” perintahnya.
“Baik Nyonya,” jawabnya.
“Kau boleh pergi.” Helmia berkata dengan tanpa menatap asistennya itu. Masih dengan pandangan acak ke depan yang tak tertebak oleh lelaki itu. “Jangan lupa laporan untuk minggu ini. Sudah disiapkan oleh karyawan Yunus seperti biasa. Bawakan kemari,” imbuhnya.
“Baik,” ujarnya lalu berdiri dan menganggukkan kepala, melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan.
Wanita itu mengatupkan mata. Ada beban berat yang tiba-tiba menumpuk di matanya hingga kelopaknya terasa berat untuk terbuka. Tiara hamil sementara mereka akan berpisah? Ah, yang benar saja. Apakah Alfa tak tahu jika istrinya tengah mengandung sehingga dengan ringannya meninggalkan wanita itu untuk wanita lain? Helmia mendecak, ada rasa yang tak ia ketahui maksudnya seketika memikirkan hal tersebut.
Tunggu. Mengapa ia secepat ini bisa berubah pikiran? Apakah karena ia diam-diam merasa senang atas kehamilan Tiara? Ah, tidak mungkin. Julius pasti sedang keliru dan salah melihat. Tidak mungkin ia melewatkan satu hal tersebut dengan tak mengetahui jika perempuan itu tengah mengandung. Helmia menautkan kedua tangan di atas meja dan menutup mulutnya dengan tangan. Kilasan pertemuannya dengan istri Alfa terakhir kali ketika mereka berdua tengah berada pada galeri itu kembali mengganggunya. Wanita itu menggelengkan kepala cepat untuk mengenyahkan segala kemungkinan atas sesuatu hal yang belum ia ketahui pasti.
Ah, ia sungguh putus asa untuk ingin segera mengetahui kabar kebenaran dari Julius.