The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 38 - Hidroterapi



Helmia berdiri di belakang pagar balkon rumahnya. Menyedekapkan satu tangan di perutnya, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel yang telah menempel di telinga. Mimik wajahnya datar, sementara polat matanya bergerak ke sana kemari dengan dahi berkerut, seakan tengah berpikir dengan tajam, sembari terus mendengarkan lawan bicaranya di seberang telepon.


"Tuan Alfa sedang pergi ke tempat spa untuk menjalani terapi Nyonya. Ia berangkat bersama dengan nona Tiara. Dari informasi yang saya ketahui dari terapis di sana, Tuan Alfa akan menjalani terapi sampai dengan tiga pekan ke depan." Suara ringan seorang laki-laki terdengar jernih dan begitu mudah diterima dengan jelas setiap katanya di telinga Helmia.


"Tiga pekan? Mengapa lama sekali? Bukankah luka di kakinya hanya sebatas luka retak? Kau mendapatkan dengan benar atau tidak informasi ini, huh?" Helmia mulai bersungut-sungut.


"Perencanaan awal prosedur terapi menyesuaikan dengan keadaan Tuan Alfa Nyonya, namun perkembangan selanjutnya, menunggu hasil terapi yang dijalani. Mungkin saja jika Tuan Alfa bisa sembuh dengan cepat, proses terapi ini bisa dilakukan dalam waktu yang singkat," Ucapnya dengan yakin. Padahal tidak tahukah Berta? Lelaki ini tengah berkali-kali menyeka keringat dingin yang muncul di dahinya, demi mendengar amarah dari atasannya.


Hening. Hanya terdengar suara helaan napas di speaker ponsel. Helmia tampak berpikir sejenak. Mulai merangkai rencana demi rencana ketika melihat situasi sekarang, dimana Alfa masih dalam proses penyembuhan.


Ah, Tiara, kau masih beruntung.


Ada sedikit banyak waktu yang masih bisa ia pergunakan untuk merawat anak laki-lakinya itu. Sungguh Helmia ingin sekali memapah Alfa berjalan dengan tangannya sendiri, merawat luka anak itu dengan segenap kasih sayangnya. Tetapi, bertemu dengan Alfa, mengharuskan ia untuk berinteraksi dengan Tiara. Dan, hal itu sungguh membuatnya tak nyaman.


"Kau terus awasi mereka. Jangan sampai lengah dan kehilangan jejak."


"Tentu Nyonya. Bisa dipastikan Tuan Alfa tak akan bepergian ke luar kota sampai ia menyelesaikan prosedur terapi yang sedang ia jalani."


"Aku mengandalkanmu. Jangan sampai aku kecewa."


'Klik'


Helmia menekan tombol merah untuk segera memutus sambungan tanpa memperdulikan lagi laki-laki itu dengan segala keresahannya.


Laki-laki dengan rambut hitam legam yang menutup sebagian dahi dan memanjang hingga ke bawah telinga itu melepaskan earing bluetooth dari telinga. Mengambil ponsel dari atas meja dan berkutat dengan layarnya. Telah hampir 7 tahun ia mengabdi pada keluarga Yunus dan Helmia, namun baru kali ini atasannya yang arogan itu memintanya untuk melakukan aksi konyol sebagai mata-mata dalam mengawasi pergerakan putra mereka sendiri.


'Ting'


Bunyi pesan masuk dibarengi dengan getar ponsel yang masih digenggamnya membuat pikiran Helmia teralihkan. Logo pesan gambar yang nampak di notifikasi membuatnya langsung tergerak untuk membuka.


Matanya melebar dan senyum tersungging di bibirnya tatkala melihat foto yang kini telah memenuhi layar ponsel 6 incinya. Terlihat di sana, Alfa yang masih duduk di kursi roda dan Tiara yang tengah mendorongnya masuk menuju gedung tinggi spa terapi, dimana Alfa akan melakukan penyembuhan di sana.


Rencananya kali ini haruslah berhasil. Helmia sudah memikirkan masak-masak. Siapa kandidat wanita yang akan ia nikahkan dengan Alfa. Keluarga kaya, cantik paripurna dengan track record yang lebih baik dari Tiara - menurut Helmia - tentu saja. Wanita itu juga tengah menimbang baik-baik, siapa laki-laki yang ia persiapkan agar mau mendekati Tiara, sehingga mereka bisa berpisah tanpa ada drama pilu yang dibesar-besarkan.


Jika rencananya ini berhasil, maka karpet merah siap terbentang menyambutnya dengan segala kehidupan yang lebih elegan.


******


Tiara mendekat ke arah resepsionis dan menyerahkan sebuah kartu pada petugas yang berjaga di sana. Wanita dengan seragam nude kombinasi batik pada kerah dan ujung lengannya itu tersenyum dengan ramah lalu segera memeriksa data pada komputer yang ada di depannya.


"Tuan Gheo Alfa Satyawinata?" Ucapnya sambil menatap Tiara yang menunggu dengan sabar di depannya.


"Benar." Tiara balas tersenyum.


"Telah melakukan pemesanan pada hari Rabu kemarin lusa ya Nona bersama dokter Heru.” Katanya lagi sambil terus sibuk dengan layar LCD di depannya.


“Ya.” Tiara menjawab singkat, sambil sesekali menoleh ke arah suaminya yang masih terduduk tenang dan menyibukkan diri dengan layar ponsel yang digenggamnya.


“Baik. Silakan menuju ruang A di sebelah kiri Nona. Jalan lurus saja, kemudian belok ke arah kanan. Pintu nomor dua setelah belokan.” Sang petugas mengarahkan dengan gerakan tangan diikuti Tiara yang menoleh mengikuti kemana kira-kira tempat yang akan ia tuju berada. Masih dengan senyum ramahnya, petugas mengangsurkan kartu milik Tiara dan tersenyum ramah menangkupkan kedua tangan sebagai tanda terima kasih.


“Terima kasih Kembali.” Tiara melebarkan senyumnya dan langsung menghampiri Alfa. Lelaki itu menyakukan ponselnya ketika dalam sekilas pandang Tiara telah kembali kepadanya.


Dengan cekatan, wanita itu mendorong lagi kursi roda suaminya lalu membawanya sesuai dengan petunjuk arah yang telah diberitahukan oleh sang petugas resepsionis. Dilihatnya dengan saksama kiri dan kanan lorong yang cukup panjang itu sebelum cahaya matahari yang menghadang melalui kaca jendela semakin dekat. Dinding berwarna krem itu dipenuhi dengan relief-relief bunga dan dedaunan yang pada atasnya terdapat berbagai pajangan dan lukisan bernuansa kehijauan. Sangat nikmat dipandang mata, apalagi ketika pikiran dalam keadaan penat.


“Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” Tiara berusaha mengingat-ingat.


“Kau ingat lukisan itu?” Alfa mendongak dan menunjuk dengan tangannya. Wanita itu lalu mengekorkan matanya ke mana suaminya memandang. Sebuah lukisan berukuran sedang. Memperlihatkan sosok seorang wanita dengan posisi miring mengenakan gaun berwarna hijau. Rambut cokelat yang dihias dengan aneka bunga warna-warni membuatnya tampak elegan dan cantik. Sejenak Tiara terpesona. Namun, didetik berikutnya ekspresi wajahnya berubah datar dan kesal, lalu kembali mendorong kursi roda hingga belokan pertama. Lukisan itu sama dengan lukisan di rumahnya. Alfa sengaja melukis lagi dan dijual? Oh, sungguh pelukis kurang kerjaan.


“Iya itu aku. Cantik ya.” Memukul pundak Alfa dengan gemas dan dibalas dengan tawa Alfa yang melebar.


“Dokter Heru tertarik dengan lukisan yang terpampang di dinding rumah. Tak mungkin bukan, aku memotong kayu pagar rumah untuk kuberikan padanya? Aku juga tak menyangka ia akan memasangnya di gedung ini, bukan di rumah pribadinya.”


“Dokter Heru?” Tiara mengerutkan kening mendengar nama itu masuk kembali ke dalam telinganya. Pertama kali ia mendengar nama itu adalah dari petugas resepsionis di ruang lobi tadi.


“Gheo Alfa.” Seorang laki-laki dengan kemeja berwarna biru muda telah menyambut kedatangan mereka. Kedua tangan ia sakukan ke dalam celana, lalu mengulur ke depan. Mata dibalik kacamata tipis itu menyipit seiring dengan sudut bibirnya yang terangkat.


“Dokter. Terima kasih sudah menunggu.” Alfa mengangkat tangannya untuk membalas uluran tangan dari sang dokter.


“Mari, langsung saja.” Dokter Heru berjalan mendahului dan masuk ke dalam ruangannya.


Tiara lalu mendorong kursi roda suaminya hingga sampai ke depan meja di dalam ruangan. Beberapa saat kemudian, dokter itu melakukan pemeriksaan singkat, seperti mengukur tekanan darah dan melihat kembali kertas mika hasil rontgen kaki kanan Alfa dengan saksama. Setelah semua persiapan dirasa siap, dokter Heru mengarahkan Alfa untuk berganti pakaian. Tiara dengan sigap mengeluarkan baju ganti dari tas yang dibawanya lalu diserahkannya pada Alfa dan mendorongnya masuk ke dalam ruang ganti.


******


Kolam terapi itu nampak senyap. Hanya ada Alfa seorang yang sedang menjalani pengobatan di tempat itu. Setelah mengganti pakaian dengan kostum renang, perlahan Alfa dibimbing untuk berjalan masuk ke dalam kolam dengan berpegangan pada railing stenlis yang kokoh di sana. Kolam terapi ini terlihat seperti kolam renang pada umumnya, namun, ada tambahan berupa sepasang pegangan yang bisa digunakan oleh pasien untuk menopang tubuhnya selama berada di dalam air. Selain itu, suhu air dalam kolam pun telah disesuaikan, sehingga benar-benar menghasilkan ruang yang nyaman untuk berelaksasi.


Tiara memperhatikan benar-benar bagaimana Alfa melatih dirinya untuk berjalan di dalam air. Hatinya terenyuh melihat pemandangan di depannya itu. Betapa berharganya setiap anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia, termasuk dua kaki yang tak bisa terhitung dengan hitungan jari, berapa jumlah langkah yang telah dijangkahkan, sehingga terkadang ketika dalam kondisi seperti ini, barulah menyadari bahwa satu langkah sempurna yang bisa dilakukan sangatlah berarti.


Tiara memperhatikan dengan cermat, wanita itu bahkan turut meringis ketika Alfa mengaduh dan berusaha menahan sakit pada setiap proses terapi yang dokter itu berikan. Dokter Heru pun dengan telaten membimbing Alfa dalam melakukan gerakan-gerakan. Di sela waktu, dokter itu tampak memijit kakinya dengan perlahan hingga membuat suaminya itu merasakan nyaman.


Pemandangan di depannya itu terekam dengan jelas di matanya dan mengukirkan bunga-bunga kebahagiaan di dalam hatinya. Tiara tidak pernah akan berpikir lagi tentang perpisahan. Tidak lagi. Meski ada ancaman besar yang siap menikamnya setiap saat. Entah bagaimana hubungannya dengan mertuanya menjadi serumit ini, dan jujur saja, ia merasakan sakit yang teramat sangat ketika mengetahui bahwa kehadirannya tidak diinginkan lagi oleh Helmia. Apakah seorang istri hanya berperan sebagai pemberi keturunan? Bagaimana dengan hati dan jiwanya yang juga telah ia nikahkan dengan hati dan jiwa Alfa? Keduanya telah menyaru kuat dan perpisahan adalah sesuatu yang seolah tidak akan mungkin mampu ia hadapi.


Apakah Helmia tengah mencandainya? Bagaimana mungkin ia bisa berpisah dengan lelaki itu?


Wanita itu mendesah pasrah. Ke mana Helmia selama ini? Ketidakhadiran wanita itu membuat Tiara curiga saja. Apa lagi yang tengah dipersiapkannya? Tiara menatap tajam ke depan dengan lamunan angan-angannya. Ia mengikat janji dengan hatinya sendiri bahwa ia akan menghadapai apapun. Apapun jua…


Perempuan itu memejamkan mata. Menyerap segala gundah gulana yang mendadak hadir di relung hatinya. Menyerapnya kuat-kuat. Berharap berubah menjadi ampas dan bisa ia buang dengan segera. Segala kesakitan ini tengah mengujinya dan ia harus setegar karang.


Alfa menyaksikan tanpa berkedip istrinya yang selama sekian detik itu memejam. Setelah membuka mata dan mendapati bahwa pandangan wanita itu langsung bersirobok dengan manik mata cokelat muda Alfa, Tiara kemudian membalas tatapannya dengan senyum manis. Oh, mungkin berendam dalam air hangat seperti ini akan terasa nyaman untuknya. Sudah lama ia tak menceburkan diri dalam kolam renang. Mungkin lain kali, ia bisa mengagendakan waktu untuk sekedar menghibur diri dengan berenang.


“Kau punya ide?” Alfa berkata ketika tubuhnya telah terhempas kembali di kursi roda. Menatap Tiara dengan senyum miring.


“Hmm?” Tiara bertanya dengan menggumam bertopang dagu dan mengangkat alis.


“Bulan madu selanjutnya. Mungkin kita bisa menghabiskannya di kolam renang.” Alfa tersenyum dengan wajah sensual membuat Tiara menegakkan duduknya dan tersenyum.


Ah, lelaki ini…


Hati Tiara menghangat seketika, mendengar Alfa yang tanpa disangka-sangka telah menyuarakan isi pikiran yang sama dengannya.


"Kau curang!" Ketusnya.


Alfa menoleh dengan tatapan penuh tanya.


"Aku baru saja akan mengatakannya dan kau telah berkata terlebih dahulu," selosornya yang membuat Alfa terkekeh.