
"Nelly ...." Helmia menyapa, mencoba mengenali tamu yang sedari tadi mengetuk pintu rumahnya. Memiringkan kepala karena gadis dengan pakaian feminim dan agak seksi di lobi rumah yang berdiri membelakangi pintu itu tak juga menolehkan kepala setelah pasti mendengar pintu yang terbuka.
Mendengar namanya disebut, perempuan itu akhirnya menoleh perlahan dan membalikkan tubuh dengan sempurna. Matanya membelalak melihat siapa yang sedang berdiri di ambang pintu untuk menyambutnya. Berharap disambut dengan uluran tangan penuh kasih, ia pun menyapa dengan panggilan yang tak berubah sedari tiga tahun yang lalu ketika terakhir kali ia datang kemari.
"Mama ...."
Ada perasaan ragu yang sempat terselip dalam nada suaranya. Namun dengan menyeret langkah, ia akhirnya mendekat perlahan.
Helmia menatap keseluruhan diri Nelly seakan memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Ia masih ternganga lalu membuka kedua tangannya. Tanpa menunggu lama, Nelly menyandarkan pelukannya ke tubuh Helmia yang lebih rendah darinya. Ragu-ragu, Helmia merangkulkan tangannya ke punggung Nelly dengan menepuk-nepuknya perlahan.
"Mari masuk." Helmia melepaskan pelukan hangat Nelly yang entah mengapa, terasa merebak sampai ke hatinya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum simpul.
Keduanya berjalan bersisian menuju ke lantai dua, dimana ada balkon kecil dengan satu set kursi dan meja yang biasa digunakan untuk bersantai di sana. Setelah memberi aba-aba kepada pelayan di rumahnya untuk menyediakan hidangan, Helmia menghela kembali agar Nelly mengikutinya untuk duduk di kursi kosong yang ada.
"Mama apa kabar?" Nelly memulai pembicaraan dengan memandang lekat-lekat mantan calon ibu mertuanya itu yang sepertinya masih canggung untuk memulai percakapan dan menatap kosong ke depan.
Bagaimanapun, panggilan itu dulu sangatlah akrab untuknya, masih sama juga dengan saat ini, hanya saja, lebih terasa menyesakkan dan terasa jauh di dasar hatinya yang entah sulit untuk muncul kembali ke permukaan.
Helmia menolehkan kepala. Menatap dengan lekat. "Baik Nelly."
Dahulu ia sangat bersenang hati saat Nelly datang ke tempat ini, menyambutnya seperti anak perempuannya yang pulang kembali ke rumah. Ia tentu ingin bersikap seperti itu sekarang, tetapi, seolah ada kelambu tak terlihat yang menyekat mereka berdua, sehingga suasana kali ini terasa berbeda. Apalagi dengan keadaan raut muka Nelly yang muram penuh beban mendung. Mungkin saja karena lamanya waktu yang memisahkan mereka untuk tak bersua.
Helmia ingin memudarkan itu segera. Diraihnya tangan perempuan yang tengah menunduk itu dan dengan semangat Nelly mendongakkan kepala.
Walau bagaimana, kedatangan Nelly kemari membawa angin segar untuknya, tepat ketika ia sedang dilanda gundah karena keadaan Tiara yang sedemikian rupa.
Apa mungkin Alfa dan Tiara memang tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya?
"Kau bertemu Alfa?" Helmia bertanya dengan mengangkat kedua alis.
Nelly tersenyum masam. "Iya. Kami bertemu beberapa waktu lalu. Dia terlihat sangat bahagia dan menyayangi istrinya. Beruntung sekali Tiara." Nelly mengembuskan napas panjang. Kecewa dengan perkataannya sendiri yang menusukkan sembilu ke hatinya itu.
"Mereka baru saja kehilangan anak." Helmia mendesah dan kembali menatap ke depan, ke arah rimbunnya dedaunan yang menari-nari bersama angin.
"Apa?" Nelly mengerutkan kening dalam dan memajukan tubuhnya mendekati Helmia.
"Tiara sakit dan kandungannya lemah. Ia mengalami miskram."
Nelly membeliak dengan mulut terbuka. Kata-kata Helmia itu memberi dua letusan kejutan sekaligus, menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan simpati bagi Nelly. Ada setitik bahagia yang lekas menghampirinya. Ia tahu, Helmia hanya menaruh setengah hati untuk menantunya itu dan masih mengharapkannya. Buktinya, yang tampak dari wajah Helmia ketika mengatakan Tiara keguguran bukanlah mimik wajah simpati ataupun kasih sayang. Wajah Helmia jelas menunjukkan rasa kecewa. Kecewa karena Tiara bukanlah menantu yang diinginkannya ditambah dengan keadaannya yang tidak sehat.
Ada gerbang luas terbuka di hadapan Nelly. Ia sangat percaya diri sekarang. Ya, Davian benar, selama Tiara dan Alfa belum mempunyai anak, akan sangat mudah memisahkan mereka. Dan ini ... ini adalah peluang besar untuknya karena sepertinya, Tiara tidak akan bisa memberi Helmia cucu dan hal itu pastilah membuatnya patah arang.
Nelly turut menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Menatap ke arah yang sama dengan Helmia. Membiarkan niatan buruk mereka di udara mengambang bersama untuk kemudian meminta dipersatukan.
"Kau masih mencintai Alfa?" Pertanyaan yang tak disangka-sangka itu meluncur begitu saja dari mulut Helmia.
Nelly menatap kembali wanita di sampingnya itu dan tergagap untuk berbicara. Bingung karena mendadak harus menyusun kata yang tepat agar ia tidak nampak terburu-buru dalam tujuannya menginginkan Alfa kembali.
"Mama tentu tahu bagaimana masa lalu hubunganku dengan Alfa. Jadi, aku tak mungkin datang kemari dengan tanpa membawa apa-apa," ucapnya dengan mantap.
"Kalau begitu, mengapa kau tak dekati lagi anakku yang keras kepala itu? Mama yakin Alfa akan goyah jika harus bertahan, berlama-lama dengan Tiara yang ternyata tak bisa mengandung anaknya."
"Mama ...."
******
"Bagaimana keadaanmu Tiara?" Dokter Jeni menyapa begitu mereka bertemu di ruang periksa.
Hari ini Alfa kembali mengajak Tiara untuk berkonsultasi tentang rencana mereka untuk kembali mendapatkan putra setelah berbulan-bulan lalu mereka harus bersabar menanti Tiara pulih dan belum juga menunjukkan kehamilan.
Tiara lebih tenang sekarang. Tidak seperti ketika mereka berkonsultasi untuk pertama kali, karena walaupun sebentar, Tiara telah merasa akrab dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan dan mengenal Dokter Jeni dengan lebih dekat, sehingga kegugupannya bisa sedikit terobati.
"Bagaimana dengan siklus menstruasimu?" Tanyanya segera sambil memasang sfigmomanometer di lengan kirinya. Menempelkan earpieces di telinga, menempelkan bell di siku lengannya kemudian mengamati dengan saksama angka yang muncul pada penunjuk digitalnya.
"Lebih rutin dari biasanya. Sepertinya obat yang dokter resepkan itu sangat manjur untukku." Tiara tersenyum namun sedetik kemudian, senyumnya berubah menjadi kerutan di keningnya.
Ah, Tiara lupa untuk melihat kembali catatan masa suburnya. Sepertinya saat ini sudah seharusnya ia mendapatkan periodenya, namun karena pada waktu-waktu sebelumnya ia tak mendapatkan datang bulan secara teratur, jarang sekali ia menengok tanggal di kalendernya.
"Baik, naiklah." Dokter Jeni duduk di depan monitornya diikuti perawat yang membantu Tiara untuk berbaring dan menyingkap pakaiannya. Perawat itu kemudian mengambil gel tube dan mengoleskannya di area perut sebelum USG dilakukan.
Tak berapa lama, muncullah tampilan bergerak yang memindai keseluruhan rahimnya.
"Bagus. Apa kau ada keluhan Tiara?" Ucapnya kemudian.
"Apakah Tiara hamil?" Alfa menginterupsi dengan pertanyaannya yang tak terkira sebelum sempat Tiara menjawab.
"Belum ada tanda kehamilan terlihat di sini Alfa." Jeni mengalihkan pandangnya untuk menatap Alfa sejenak, lalu beralih ke arah Tiara lagi tanpa sempat melihat ekspresi kecewa di wajahnya. "Aku akan memberimu vitamin tambahan. Jangan lupa untuk terus mun-supply tubuhmu dengan makanan bergizi seimbang dan perbanyaklah istirahat. Tubuh yang tegang akan mempengaruhi hormon kesuburanmu."
Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka dan membentur dinding dengan keras seiring seorang perawat yang dengan terburu-buru masuk, segera mengalihkan perhatian ketiganya. Perawat itu menampakkan wajah cemas luar biasa begitu pandangannya terarah ke Dokter Jeni tanpa mempedulikan bahwa wanita itu sedang menjalani sesi konsultasi dengan pasien.
"Dokter, pasien di kamar perawatan mengalami pendarahan. Anda harus segera datang."
Jeni buru-buru berdiri dari kursinya. Alfa dan Tiara sama-sama terkejut lalu saling melempar pandang.
"Baik. Lakukan penanganan pertama. Aku akan datang," ujarnya lalu menatap satu persatu Alfa dan Tiara secara bergantian seolah meminta pertimbangan.
"Pergilah Dokter. Mungkin aku dan Tiara cukup untuk hari ini." Alfa berucap cepat melihat Jeni yang telah berdiri dari duduknya dan nampak sedikit panik namun tak juga bergerak.
"Baiklah. Maafkan aku. Kalian bisa menghubungiku kapan saja jika kalian membutuhkan bantuan." Angguknya lalu bergegas keluar ruangan.
Dibantu oleh perawat, Tiara kembali merapikan bajunya yang tersingkap, lalu menggantungkan kakinya di tepi ranjang hendak turun dari sana. Alfa memajukan tubuhnya dan memerangkapnya dengan kedua tangan. Tiara ternganga lalu melirik ke belakang punggung suaminya dan merasa lega karena perawat tadi telah keluar dari ruangan.
Alfa sama sekali tak mengalihkan pandangan matanya dan terus menatap Tiara tanpa berkedip, mengawasi sikap istrinya.
"Apa kau terlalu memikirkan ini?" Ekspresi muram nampak di sana.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau kelelahan dan stress memikirkan program kehamilan ini?" Jawabnya masih dengan pertanyaan. Memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"Tentu tidak. Aku ... aku menikmatinya." Tiara terbata. Merasa terintimidasi atas tindakan suaminya yang menatap lekat-lekat dirinya seperti itu.
"Aku akan bicara pada pamanmu agar kau berhenti bekerja. Aku sudah lama menahan ini, dan kali ini, kau terpaksa harus menurut. Tak akan kubirkan lagi kau terlalu lelah. Singgahlah di rumah. Lakukan apapun yang kau mau asal itu tak memberatkanmu." Alfa bekata dengan sungguh-sungguh dan melepaskan kedua tangannya dari tepi ranjang, masih dengan tatapannya yang tajam menatap bola mata Tiara yang membesar penuh keterkejutan.
Tiara masih terdiam dengan demikian tegang, diusapnya pipi Tiara hingga akhirnya wanita itupun mengalihkan pandang, bingung untuk memberi jawaban.
"Maafkan aku Tiara, tapi aku harus egois kali ini." Alfa mengecup keningnya.
Tiara melingkarkan tangannya memeluk Alfa dengan masih duduk di tepi ranjang.
"Maafkan aku tak bisa menjaga diri dengan baik."
******
"Mama ...." Nelly mengulangi lagi ucapannya. Keterkejutan itu masih menguasainya.
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku Nelly. Kau lihat, Yunus semakin menua begitupun aku. Alfa anakku satu-satunya. Aku ingin dia segera memiliki keturunan dan meneruskan perjuangan ayahnya. Bagaimana dengan usia setua ini aku bisa tenang melihat Alfa yang demikian bodoh dan sungguh mempermalukan dirinya sendiri dengan bersikap demikian? Apa tak ada sebersit saja rasa sayangnya padaku untuk mewujudkan keinginanku?" Wanita itu menoleh tajam ke arah Nelly.
"Kau bisa membantuku Nelly. Apakah kau mau membantuku?"
Dengan mantap Nelly menganggukkan kepala. "Aku sangat ingin membantu Mama." Perempuan itu tersenyum penuh arti dengan rasa kemenangan membuncah di dada.