
Suatu hari di hari yang seperti hari-hari biasanyaβ
Ana terlihat sedang memasukkan makanan kedalam kotak makan.
Senyum cerah tak lepas dari wajah nya, ia seperti memasak semua itu dengan hati yang riang.
"Ana!" Panggil Ray yang berteriak dari dalam kamar mereka.
"Ayo cepat kesana, dia pasti sedang kesusahan memandikan Yuan sendirian, biarkan ibu yang melanjutkan menyiapkan ini semua." Ujar Calista, ibu mertuanya.
"Ah terimakasih ibu mertua, tolong ya, maaf merepotkan lagi." Kata Ana kemudian ia berlalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Ana masuk ke dalam kamar, terlihat Ray yang sedang susah payah mengejar Yuan untuk memakaikan baju.
"Yuan." Panggil Ana, membuat anak berusia delapan tahun itu menoleh. Ketika melihat jika yang memanggil dirinya adalah sang ibu, Yuan langsung berhenti berlari dan menghampiri ibunya.
"Mommy!" Ucap Yuan, pria kecil itu memeluk kaki ibunya.
"Nakal ya?" Tanya Ana pada anaknya. Yuan menggelengkan kepalanya, menatap ibunya dengan wajah yang menampilkan puppy eyes. Sebuah ekspresi jitu yang biasa Yuan pakai agar orang-orang yang marah padanya menjadi gemas.
Mungkin itu akan mempengaruhi orang lain, bahkan termasuk sang ayah. Tapi tidak bagi Ana, dirinya sudah kebal dengan jurus jitu dari anak laki-lakinya itu.
"Datang ke dad dan minta maaf padanya, lalu pakai bajumu sendiri." Ujar Ana.
Setelah mendengarnya, Yuan langsung menuruti perintah sang ibu. Pria kecil itu berjalan perlahan menuju ayahnya yang berdiri dengan tangan memegang baju milik Yuan.
"Dad, Yuan minta maaf." Ucap Yuan, kepalanya tertunduk meminta maaf pada ayahnya.
Ray menghela nafasnya, ia tersenyum dan mengacak-acak rambut Yuan.
"Tidak masalah, sekarang biarkan dad yang membantumu memakai pakaian okey?"
Yuan mengangguk dengan senyuman-nya.
Ana yang melihatnya ikut senang, ia berjalan mendekat kearah kedua pria yang sangat berarti untuk hidupnya itu.
Ana berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak laki-laki.
"Berikan padaku." Ucap Ana lembut, meminta pakaian Yuan yang Ray pegang.
Suaminya itu lantas memberikan baju Yuan pada Ana.
"Mom yang akan membantu pria jagoan ini memakai bajunya." Ujar Ana dengan senyum hangatnya.
"Iya." Jawab Yuan antusias.
Ana membantu Yuan memakai bajunya, ia juga merapikan rambut anak laki-lakinya itu.
"Sudah, kau terlihat tampan. Jika sekarang kau sebesar dad mu, mungkin mom akan jatuh cinta padamu." Ujar Ana dengan canda yang diiringi tawanya.
"Tentu saja dia kan anakku, pastinya tampan seperti dad nya." Ucap Ray menyahuti candaan Ana pada Yuan.
"Tapi wajahku lebih tampan dari dad." Kata Yuan, menyanggah ayahnya yang sedang menyombongkan dirinya itu.
"Hei, jika bukan dari gen ku, kau tidak akan setampan ini." Ujar Ray sembari mencubit ringan pipi Yuan.
"Sakit dad! Aku bukan anak kecil lagi!" Kata Yuan, wajahnya tertekuk dan memelas kepada ibunya.
"Sakit?" Tanya Ana yang dibalas anggukan kecil dari Yuan.
"Ray, cepat minta maaf pada anakmu." Ujar Ana, ia mendongakkan kepalanya menatap Ray yang mendengus kesal dengan tingkah Yuan yang selalu berlebihan dan manja pada ibunya.
Anak laki-laki Ray itu terkadang sangat membuatnya jengkel, bagaimana tidak, semakin beranjak besar, Yuan semakin menempel terus pada ibunya. Bahkan Yuan kadang masuk ke kamar mereka disaat Ray sedang ingin sesuatu dari Ana.
Bagi Ray, anak laki-lakinya itu seperti orang ketiga di hubungannya dan Ana. Selalu datang tanpa permisi dan sesuka hati. Selalu merengek saat dirinya memarahinya, tapi jika ibunya yang marah, Yuan selalu diam dan menurut.
Yuan itu seakan-akan seperti rival Ray dalam memperebutkan kasih sayang Ana didalam keluarga ini.
Namun bagaimanapun juga, dihatinya yang paling dalam, ia sangat menyayangi anaknya itu.
"Ray..." Panggil Ana lagi yang melihat Ray hanya diam tak berniat meminta maaf pada anaknya.
"Yuan sayang, jika ada orang yang meminta maaf, kau harus menerima maafnya dengan baik. Tidak boleh menertawakannya, kau mengerti apa yang mom katakan?" Nasehat Ana pada anaknya itu.
Yuan mengangguk,
"Iya, Yuan paham." Jawab Yuan.
"Baiklah, ayo kita ke bawah. Kalian berdua bisa terlambat nanti. Ayo ayo cepat." Ujar Ana, tangannya bergerak menggandeng kedua pria besar dan kecil itu, menarik mereka keluar dari kamar, menuruni tangga menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi grandma!" Sapa Yuan pada neneknya β Calista yang sudah duduk menunggu mereka di meja makan.
"Selamat pagi jagoan kecil, ayo kemari, duduk dan sarapan." Ujar sang nenek.
Yuan langsung berlari kecil menuju neneknya dan duduk di samping sang nenk.
"Dia memang bersikap berbeda saat berada di dekat perempuan, ck." Gumam Ray yang dapat didengar oleh telinga Ana. Istrinya itu tertawa kecil mendengar ungkapan Ray yang seakan kesal dengan Yuan.
"Tidak di depan semua wanita dia akan bersikap manis, hanya pada wanita-wanita terpilih saja." Bisik Ana pada Ray, mereka sedang berjalan menuju meja makan menyusul Yuan yang sudah sampai disana lebih dulu karena berlari.
"Ck, tetap saja, menjengkelkan." Gumam Ray saat mereka sampai di meja makan.
"Ayo duduk dan makan." Ucap ibu tiri Ray.
"Mom, apa mom hari ini ke restoran mom?" Tanya Yuan.
Ana yang sedang meletakkan makanan di piring Ray langsung menoleh pada Yuan.
"Em, tentu saja sayang. Ada apa?" Tanya Ana.
"Bagaimana dengan besok?" Ujar Yuan yang bertanya balik.
Ana tampak diam sejenak dan terlihat seakan-akan sedang berpikir.
"Besok? Besok juga, mom ke restoran. Mom kan bekerja disana." Jawab Ana.
Yuan terlihat menundukkan kepalanya, ia memakan makanannya dengan wajah yang sudah tidak berselera lagi.
"Jika kau ingin meminta sesuatu dari mom mu, katakan saja langsung, tidak perlu berbelit-belit seperti itu, apalagi sampai menunjukkan wajah jelekmu itu, dad tidak pernah memberimu gen raut wajah seperti itu." Ujar Ray, mencoba membuat suasana hati Yuan membaik.
Yuan mengangkat kepalanya, menatap ibunya lama.
"Ada apa sayang?" Tanya Ana.
"Besok sekolah Yuan ada kunjungan ke museum kota, ibu guru bilang kalau kita bisa mengajak orangtua. Karena dad tidak mungkin bisa, Yuan berharap mom bisa menemani Yuan. Setiap tahun sekolah selalu mengadak kunjungan ke museum itu, tapi setiap tahun juga, Yuan sendiri yang tidak di temani oleh orangtua. Yuan juga ingin seperti teman-teman Yuan yang lainnya. Bahkan Nana saja ditemani oleh bibi Rachel dan tahun kemarin dia ditemani paman Alex." Kata Yuan yang sedang mencurahkan isi hatinya.
Ana menatapnya dengan pandangan sedih, merasa bersalah, ia pikir, dirinya sudah memberikan seluruh perhatian pada anaknya, tapi ternyata masih belum cukup. Hal sederhana seperti itu, ia merasa malu karena tidak bisa membuat anaknya merasakannya juga.
"Baiklah, besok mom akan menemanimu." Ucap Ana.
"Dad juga." Ujar Ray yang membuat semua orang dimeja makan itu menoleh padanya.
"Kenapa? Walaupun sekarang aku ketua pimpinan perusahaan, bukan berarti tidak ada hari libur untukku." Kata Ray yang merasa aneh dipandang oleh mereka.
Ana tertawa, begitupun juga dengan ibu tiri Ray. Sedangkan Yuan, pria kecil itu tersenyum senang dan bahagia.
"Terimakasih mom, terimakasih dad." Ucap Yuan.
"Apa grandma tidak di ajak?" Tanya Calista pada Yuan.
"Jika grandma mau, grandma bisa ikut juga." Jawab Yuan.
Ibu tiri Ray itu tersenyum gemas pada Yuan.
"Grandma akan menunggu kalian dirumah saja." Kata ibu tiri Ray.
End.β
*π thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.π
β Season kedua novel the destiny adalah Extraordinary Love. Sampai jumpa kembali di season kedua.β*