
"Ada seseorang yang mengirimkan email anonim padaku. Saat aku membukanya, itu berisi video untuk orang diatas umur yang menampilkan Alex dan Rachel, adik tiri Ana." Ucap Ray.
Mendengar itu, Yohan membelalakkan matanya terkejut.
Video? Ada yang merekam mereka berdua? Itu artinya ada orang lain yang mengetahui hal itu selama ini. Tapi, atas dasar apa dia merekamnya? Apa yang dipikirkan orang itu? Kenapa baru sekarang ia membocorkan video itu? Dan lagi, kenapa ia membocorkannya pada tuan Ray daripada ke media, jika memang ia ingin menghancurkan nama baik perusahaan. Apa sebenarnya motif tersembunyi dari orang itu?
"Apa anda sudah terpikirkan siapa yang mengirimkannya tuan?" Tanya Yohan.
Ray menghela napasnya, kemudian menggeleng.
"Orang itu menggunakan huruf dan angka acak untuk membuat id emailnya, dia terlihat seperti sudah mempersiapkan ini semua sejak lama." Ujar Ray.
"Kita bisa mencoba melacak alamat IP nya tuan."
"Kau benar, bawa laptopku dan suruh orang tim ITE untuk melacak alamat IP nya, aku harap dia tidak menyamarkan alamat IP nya dan membuat kita semakin bingung dengan tujuannya."
"Baik tuan, saya akan membawanya ke markas pusat."
"Lakukan sekarang juga." Ujar Ray.
"Iya tuan. Tapi, apa yang akan anda lakukan pada direktur Alex?"
Ray diam sejenak, kembali teringat dengan isi video itu, dimana Alex adalah seorang pemeran pria di dalam video itu.
"Kau terdengar begitu peduli dengan Alex."
"Ah itu saya hanya—"
"Aku akan menanyakan beberapa hal padanya." Sela Ray.
Pria itu kembali menghela napasnya,
"Aku berharap dia akan berkata jujur sebelum aku bertindak." Lirihnya.
Disaat yang bersamaan, Alex masuk ke ruangan itu.
Ia menatap dua pria yang lebih tua darinya itu dengan senyum yang biasa ia tampilkan.
"Ah kau ada disini juga assisten Yohan, kebetulan sekali. Ini, perempuan itu meninggalkan tas nya di mobilku kemarin." Ujar Alex, ia menyerahkan tas milik Miya kepada Yohan.
Tanpa membalas omongan dari Alex, Yohan langsung mengambil tas yang Alex sodorkan padanya, tanpa protes atau berkata apapun.
Adik beda ibu Ray itu mengernyit heran,
"Begitu saja?" Tanya Alex.
"Terimakasih."
"Waaah sungguh diluar dugaan ku, aku pikir kau akan berprasangka buruk padaku dan mengajakku bertengkar." Ujar Alex pada Yohan.
"Ada hal lain yang pantas diributkan denganmu, tapi bukan aku yang akan meributkannya." Bisik Yohan dengan nada tajamnya. Sekilas ia mengatakan itu sembari melirik Ray yang berada tak jauh darinya dan Alex.
"Yohan, bawa laptop itu dan pergilah." Perintah Ray, menengahi perseteruan antata Alex dan Yohan.
Yohan mengangguk, ia berjalan memungut laptop yang masih tergeletak tak berdaya di lantai itu, kemudian berlalu menuju ke arah pintu keluar ruangan.
"Sedalam-dalamnya kau mengubur bangkai besar di dalam tanah, pada akhirnya belatung akan tetap menemukannya." Bisik Yohan saat dirinya berpapasan dengan Alex yang masih berdiri di depan pintu.
"Apa maksudmu?!" Balas Alex.
"Lepaskan tanganmu, aku harus mengurus masalah yang telah kau perbuat." Bisik Yohan lagi.
Alex berjalan mendekat ke arah meja Ray, kakaknya Itu masih duduk disana sembari menatapnya dalam diam. Jika itu bukan seorang Alex, maka orang yang ditatap seperti itu akan merasa canggung dan bingung.
"Kak, kau memanggilku untuk alasan pribadi atau perusahaan? Setidaknya aku harus tahu, agar aku tidak salah memanggil mu, Presdir Ray." Gurau Alex.
Ray masih diam dengan tatapan tanpa ekspresi nya.
"Nalika Lotusa." Ucap Ray.
Itu adalah nama anak Rachel, mendengar nama itu disebut oleh kakaknya, Alex tampak membeku.
"Rachel." Ucap Ray lagi, semakin membuat Alex diam membeku seperti terkena sihir es.
"Apa yang kau rasakan saat mendengar kedua nama itu?" Tanya Ray.
Alex masih diam, ia tak mengerti, kenapa kakaknya tiba-tiba membahas nama-nama yang membuat dirinya akan merasa kacau jika memikirkan nya.
"Tidak ada." Jawab Alex berbohong.
"Sungguh?"
"Iya." Jawab Alex dengan nada bergetar. Ray tersenyum miring mendengar jawaban adiknya itu.
"Tapi, kenapa kakak menanyakan hal itu padaku?" Tanya Alex.
Ray menghembuskan napasnya sejenak, sebelum kemudian melempar pelan ponselnya ke atas meja, menuju pada Alex yang berdiri berseberangan dengannya.
"Pemeran pria dalam video itu, apa itu kau?" Tanya Ray, sengaja menekankan kata pemeran pria sebagai sindiran karena Alex menjadi sosok utama dalam video rekaman dari kamera tersembunyi itu.
Alex terlihat melebarkan matanya, lalu tangannya bergerak cepat mengambil ponsel milik Ray, ia membuka file video yang sudah Ray salin ke ponselnya.
"Ini...aku..aku bisa menjelaskannya. Kak ini semua—"
"Kau bisa menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, aku butuh kejujuranmu." Ujar Ray.
"Apa dia hasil dari benih yang kau tabur?" Tanya Ray.
Saat ini, yang Ray tahu, jika Rachel melakukan hubungan seperti itu bersama banyak pria. Ray belum tahu kebenaran jika Rachel hanya melakukan hubungan seperti itu, hanya dengan satu pria yang selalu mengganti identitas nya agar Rachel tidak mengenali pria itu.
Alex tampak menundukkan kepalanya, ia berpikir keras, jujur atau bohong, itu semua menentukan jalan hidup yang akan di tempuhnya kedepan.
"Dia— dia adalah— iya, dia anak biologis ku." Jawab Alex, pada akhirnya ia memilih jujur untuk beberapa alasan tertentu.
"Secepat itu kau mengaku? Kau tidak berniat memberikan alasan atau mengatakan tidak?"
Alex tersenyum miris,
"Jika aku berbohong, itu akan membuatmu tidak percaya dengan ucapan ku di kemudian hari. Dan juga, jika aku berbohong, pada akhirnya kebenaran akan terungkap. Sekarang aku paham apa yang assisten Yohan katakan, sedalam apapun aku menggali lubang untuk mengubur bangkai yang sebesar ini, pada akhirnya belatung akan tetap menemukannya, dan membuat bangkai itu semakin membusuk."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Rachel, disisi lain Rachel mengatakan ia tidak tahu ayah biologis Nana karena bukan satu pria yang tidur dengannya. Tapi, di sisi ini, kau berkata dengan yakin jika Nana adalah anakmu." Ujar Ray.
"Dia memang tidak tahu jika aku adalah ayah kandung dari anaknya, itu karena aku seorang pengecut." Ucap Alex dengan wajah tertunduk.
"Lupakan tentang penjelasan mu, karena kau jujur, aku akan mencoba percaya pada semua alasanmu di balik masalah yang telah kau perbuat ini. Sekarang, kau harus menebus dosamu, bertanggung jawablah pada Rachel dan anakmu."
"Aku tidak bisa."
"Kau— kenapa tidak?"