The Destiny

The Destiny
Perkara hati



The strongest people are not those always win, but they were still going when they crashed. — Unknow


•••


Rachel berjalan berdampingan dengan Yohan yang tengah menggendong Nana.


Keduanya baru saja keluar dari ruang spesialis anak untuk imunisasi bayi perempuan itu.


"Terimakasih ya." Ucap Rachel.


"Aku bosan mendengar kata itu selalu keluar dari mulutmu." Ujar Yohan.


Rachel tersenyum mendengarnya,


"Jadi, kau ingin aku mengatakan apa?"


"Sesuatu yang terdengar menyenangkan hati."


Rachel tampak berpikir, namun tak ada kata-kata apapun yang terlintas dipikirannya.


"Kak Yohan?" Seseorang menyela perbincangan diantara keduanya.


Seseorang itu adalah Miya, ia menatap Yohan dan bayi yang ada dalam gendongan pria itu bergantian.


"Miya, sedang apa kau disini?" Tanya Yohan, seingatnya, hari ini Miya bekerja merawat ibunya, seharusnya Miya ada di apartemennya sekarang.


"Ah, aku sudah menghubungimu tadi. Tapi kau tidak mengangkat telepon ku, sepertinya sekarang aku tahu alasan kau tidak mengangkatnya." Ujarnya seraya melihat bayi perempuan yang terlelap dalam timangan Yohan.


"Oh maaf, aku meninggalkan ponselku di mobil. Jadi, ada apa?"


"Hari ini adalah jadwal check up ibumu, kau tidak lupa kan?" Tanya Miya.


Yohan tampak mengernyit,


"Tapi kemarin aku sudah membawanya untuk check up dengan dokter Rere."


Kemarin Yohan sengaja mempercepat jadwal check up ibunya karena dua alasan. Yang pertama, karena dokter yang biasanya menangani ibunya, dokter Rere akan pergi ke luar kota hari ini. Yang kedua, karena hari ini ia ingin menemani Rachel.


"Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Miya dengan kepala yang tertunduk.


"Aku sudah memberitahumu Miya, sebelum aku pergi dari apartemen tadi pagi." Jawab Yohan.


Terlihat gadis itu menghela napasnya,


"Begitu ya, kalau begitu aku akan membatalkan pendaftaran check up - nya." Ujar Miya lesu, dirinya sedih karena biasanya pria itu akan mengajaknya pergi bersama untuk melakukan check up kesehatan ibu Yohan. Tapi kali ini untuk yang pertama kalinya, Yohan tidak mengajaknya, yang lebih menyedihkan lagi, ia bertemu Yohan sedang bersama perempuan lain.


"Biar aku saja, dimana ibu sekarang? Aku akan membawanya pulang bersama kami. Kau bisa pulang ke rumahmu dan beristirahat Miya." Kata Yohan.


Pikir Yohan, itu baik untuk Miya. Tapi bagi Miya itu sangat menyakitkan, ia seperti diusir karena takut mengganggu mereka yang terlihat seperti keluarga kecil.


"Ibumu ada di ruang check up biasanya, aku menitipkannya sebentar pada seorang perawat yang bertugas."


"Baiklah, terimakasih." Ucap Yohan.


"Kenapa kita tidak mengantarkan nya pulang juga?" Rachel bersuara setelah sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan kedua orang itu.


"Miya akan menolaknya." Ucap Yohan, dirinya seringkali ingin mengantar Miya pulang, tapi gadis itu selalu menolak dan tidak pernah sekalipun menerima tawaran dari Yohan.


"Yasudah, kalau begitu sekali lagi terimakasih untuk hari ini Miya. Sampai jumpa." Pamit Yohan sebelum kemudian melangkah pergi bersama Rachel.


"Tunggu, kak."


Yohan menolehkan kepalanya,


"Iya?"


"Bayi itu siapamu?" Tanya Miya.


Yohan menatap Nana dengan senyum hangatnya, kemudian tatapannya kembali pada Miya yang masih menanti jawaban nya.


"Apa dia anakmu?" Tanya Miya lagi, yang tidak sabar menunggu jawaban dari Yohan.


"Bisa dikatakan iya dan juga bisa dikatakan tidak." Jawab Yohan.


Sekilas, Miya mengerti. Jadi begitu, Miya berpikir jika Yohan menyukai perempuan itu dan anak perempuan itu. Yohan menyukai seorang ibu tunggal.


"Ah begitu ya. Aku—aku pergi dulu, sampai jumpa." Kata Miya, gadis itu tiba-tiba berlari menjauh dari Yohan dan Rachel yang menatapnya bingung.


"Ada apa dengannya?" Tanya Rachel.


Yohan diam beberapa saat, ia seperti mengerti dengan sikap Miya.


"Apa dia perawat yang merawat ibumu?"


"Iya, dia sudah seperti adik bagiku."


"Oh pantas saja, kalian terlihat sangat dekat. Dia sampai memanggilmu kakak." Ujar Rachel.


Yohan menoleh pada Rachel, menatap perempuan itu dengan senyumannya.


"Kau juga bisa memanggil ku seperti itu daripada terus-menerus memanggil ku assisten Yohan. Panggilan kakak terdengar lebih baik." Kata Yohan yang ditanggapi tawa renyah dari Rachel.


"Ayo kita jemput ibuku, aku juga akan mengenalkan mu padanya. Tapi, kau harus ingat, ibuku menderita demensia."


Rachel mengangguk,


"Iya, aku ingat sejak pertama kali kau menceritakannya." Jawab Rachel.


"Baguslah." Ucap Yohan kembali tersenyum.


•••


Di rumah sakit yang sama, entah sebuah kebetulan atau apa. Ana sedang duduk di kursi tunggu, gadis itu tengah menunggu suaminya yang terlambat datang untuk menemani nya melakukan pemeriksaan kandungannya.


"Ray menyebalkan, kenapa lama sekali." Gumam Ana dengan wajah tertekuk kesal.


Gadis itu mengalihkan rasa bosan dengan memainkan ponselnya, tapi sekilas ia melihat bayangan orang yang familiar diingatannya baru saja melewati dirinya.


"Perempuan tadi, bukankah yang bernama Miya?" Tanya Ana pada dirinya sendiri.


Ana menoleh ke belakang, dimana Miya berada. Perempuan itu tampak duduk di bagian paling sudut dengan wajah tertunduk.


Merasa penasaran, Ana berjalan mendekati perempuan itu.


"Ternyata benar." Gumam Ana yang dapat didengar oleh telinga Miya.


Miya mendongakkan kepalanya, menatap Ana yang berdiri didepannya.


"Oh istrinya tuan Ray." Ucap Miya lantas dengan cepat ia mengusap air matanya.


"Kau kenapa?" Tanya Ana tampak kasihan.


"Tidak apa-apa, hanya ada debu yang tak sengaja masuk ke mataku." Jawab Miya berbohong.


Ana menghela napasnya dan duduk disamping perempuan itu.


"Apa ada keluargamu yang sakit?" Tanya Ana.


Miya menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepala.


"Kau terlihat sedih." Ucap Ana, gadis itu mengatakannya sembari mengedarkan pandangannya ke arah pintu keluar rumah sakit, masih mencari sosok Ray yang ditunggu. Tapi, bukannya sosok suaminya yang ia lihat, melainkan Rachel, Yohan, Nana yang berada dalam gendongan Yohan, dan juga seorang wanita paruh baya yang di gandeng oleh Rachel.


Ana tanpa sadar menggigit jarinya, sekarang ia paham kenapa Miya sedih.


Pandangan Ana kembali pada perempuan yang masih duduk disampingnya dengan kepala tertunduk.


"Apa kau baik-baik saja?"


Miya hanya diam, sepertinya ia juga melihat apa yang Ana lihat tadi.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaan mu saat ini. Tapi hatimu pasti sedang mengalami kesulitan." Ucap Ana, tangannya menyentuh pelan bahu Miya.


"Mungkin dia yang terbaik untuk kak Yohan." Ujar Miya, kepalanya terangkat, balas menatap Ana.


"Jika kak Yohan bahagia, aku juga. Karena aku ini sudah seperti adiknya." Kata Miya lagi, perkataan itu sebenarnya ia katakan untuk hatinya, agar sang hati bisa tabah menerima semua ini.


Ana menatap sendu Miya, raut wajah Miya mengingatkan nya pada Rachel yang dulu sangat putus asa.


"Aku tidak ingin ikut campur masalah perasaan mu. Tapi, kau harus tahu, jodoh tidak akan tertukar. Sekalipun kalian terpisah cukup lama atau kalian saling melupakan. Jika dia memang orang yang ditakdirkan untukmu, pada akhirnya, dia akan tetap menjadi milikmu." Ucap Ana mencoba memotivasi.


"Ana." Suara Ray dari kejauhan memecah suasana kelabu diantara kedua perempuan itu.


"Ah sepertinya aku harus pergi." Ucap Ana, tapi melihat Miya masih diam menunduk, ia kembali menyentuh bahu gadis itu lagi.


"Aku tahu kalau kau seorang perempuan yang kuat, jadi jangan putus asa. Kalau memang dia ditakdirkan untukmu, dia pasti akan kembali padamu, tapi jika dia bukan takdirmu, pasti akan ada orang lain yang akan menggantikannya di hatimu, kau hanya perlu membuka hatimu atas semua kemungkinan yang akan terjadi."


Ana menghela napasnya sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya lagi.


"Aku pikir, aku terlalu banyak bicara ya, maaf. Kalau begitu aku pergi dulu, senang bertemu denganmu lagi, nona Miya." Ujar Ana sopan, kemudian berlalu.


"Terimakasih." Gumam Miya saat Ana telah pergi menghampiri Ray.