The Destiny

The Destiny
Memahami



Life is really about continuing life itself — Unknow.


Mobil itu terparkir di halaman rumah keluarga Ana.


Terlihat Ray keluar bersama dengan Alex, keduanya datang kesana dengan alasan masing-masing.


Ray tidak bisa menuruti perkataan Alex ataupun ibu tirinya yang menyarankannya untuk datang ke rumah ini besok. Dirinya tidak bisa menunda, baginya sesuatu yang diselesaikan dengan cepat akan lebih baik.


Helaan napas mengawali langkah mereka ketika masuk ke dalam rumah itu.


"Kak Ray?" Suara Kenan terdengar dari arah ruang tamu.


"Kenan, dimana Ana?" Tanya Ray.


"Dia ada di kamar Rachel." Jawab Kenan.


"Terimakasih." Ucap Ray kemudian berlalu menuju kamar Rachel yang berada di lantai dua.


Dari kejauhan, pintu kamar itu terlihat terbuka lebar. Didalam sana ada Ana, Rachel dan juga kakak kandung Rachel, Rio.


"Ana." Panggil Ray.


Gadis yang dipanggil namanya itu menoleh, membalas tatapan suaminya.


Ana hanya diam tak menjawab, tapi tatapan nya masih terpaku pada pria itu.


"Kau datang juga akhirnya." Ucap Rio yang ditujukan pada Alex, kakak kandung Rachel itu menatap Alex dengan raut wajah tak bersahabatnya.


Alex menahan napas sejenak sampai kemudian terdengar suara hembusan napas yang berat darinya. Pria itu melangkah mendekat ke arah Rachel yang tengah duduk menimang bayinya.


Didepan perempuan itu, ia menatap sendu bayi mungil yang sedang terjaga, warna mata hitam dan bulu mata yang lentik, sangat mirip sekali dengan Alex.


"Maafkan aku." Ujar Alex, kakinya tertekuk, berlutut pada perempuan yang telah berjuang seorang diri mengandung dan melahirkan anak mereka.


Rachel diam membisu, ingin berkata-kata, namun seakan ada perekat yang mengunci mulutnya.


Semua yang ada dikamar itu hanya diam, tak ada yang ingin ikut campur ataupun mengganggu keduanya.


"Aku minta maaf, sungguh, aku menyesal. Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku punya alasan sendiri untuk itu. Aku —"


"Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali." Sela Rachel, matanya memandang pria itu dengan kehangatan, tak ada raut amarah ataupun kebencian yang terukir disana.


"Aku tahu ini berat bagimu, begitupun juga aku. Aku juga sangat terkejut saat mengetahui jika pria itu adalah dirimu. Rasanya lucu sekali, kita menghabiskan malam beberapa kali, namun aku tidak mengenalimu." Ujar Rachel.


"Maaf." Ucap Alex, tak ada kata lain yang dapat ia katakan selain kata maaf, beribu kali ia mengucapkannya, baginya itu belum cukup.


"Aku tidak memaksamu untuk bertanggung jawab. Lagipula, aku pernah berkata pada seseorang, jika aku tidak akan pernah menyesali semua yang telah menimpa diriku sampai sekarang. Karenanya, saat ini aku bisa menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Aku menjadikan semua yang telah terjadi sebagai pelajaran untukku dan juga pengalaman." Kata Rachel, pikirannya melayang pada malam dimana ia mengatakan itu pada Yohan.


"Kau tidak ingin aku bertanggung jawab?" Tanya Alex memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Iya." Jawab Rachel singkat tapi dengan penuh keyakinan.


"Ada apa denganmu Rachel? Dia harus bertanggung jawab atas anakmu." Ujar Rio.


Semuanya juga merasa heran dengan pilihan Rachel yang sangat aneh, seharusnya ia senang dan menerima Alex, apalagi tak ada dendam di hati perempuan itu.


"Aku mempunyai hak atas jalan hidupku sendiri, itu pilihan ku. Aku tidak ingin memaksanya untuk menikahiku dan mengurus Nana bersama. Hidup dengan keterpaksaan itu bukan hal yang kuharapkan, tidak ada cinta dan hanya akan terasa hampa." Kata Rachel.


Alex terhenyak dengan pemikiran Rachel yang hampir sama dengannya, selama ini ia terus menunda mengatakan semua kebenaran karena takut mereka tak bisa saling mencintai dan hanya akan melukai anak mereka.


"Cinta bisa tumbuh karena biasa, kau biasa bersamanya, menghabiskan waktu bersama mengurus anak kalian. Rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya." Ucap Ana.


Rachel menggelengkan kepalanya,


"Sebenarnya, hatiku milik pria lain. Aku tidak bisa. Mungkin itu terdengar jahat, tapi akan lebih jahat lagi jika aku membohongi dirinya dan berpura-pura menerimanya."


"Yohan?" Ray bersuara.


Mendengar nama itu disebut, Rachel hanya bisa diam dengan wajah yang tetap tenang.


"Sepertinya semua sudah mengetahuinya." Ucap Rachel.


"Rachel, bagaimana jika itu hanya cinta sepihak. Aku tahu, aku telah salah menjodohkan kalian. Jika aku tahu Alex adalah ayahnya, aku pasti tidak akan melakukan itu." Ujar Ana.


"Mustahil." Kata semua orang yang mendengar penuturan Rachel.


"Jangan bercanda Rachel." Ucap Rio.


Rachel menatap Nana dengan senyum lembutnya.


"Aku tidak bercanda. Kalau tidak percaya, kalian tanyakan saja pada Kenan. Dia selalu menjadi saksi hidup ketika Yohan datang kemari di pagi hari dan sore hari."


"Aku tahu itu, aku tahu tentang hubungan kalian." Alex menundukkan kepala, kemudian bangkit dari posisi berlututnya. Ia menatap Nana cukup lama.


"Kau bebas menentukan hidupmu, tapi jika pria itu hanya mempermainkan mu atau tidak bersungguh-sungguh padamu, maka datanglah padaku. Aku akan tetap membuka diri untuk bertanggung jawab padamu sampai kau menikah dan menemukan pengganti ayahnya." Ujar Alex seraya membelai lembut pipi Nana. Bayi perempuan itu seakan tahu jika itu adalah seseorang yang memiliki ikatan dengannya. Nana mengulurkan tangannya terlihat ingin meminta Alex menggendong nya.


"Kalau begitu aku permisi." Ucap Alex, tak ingin larut dalam sendu dan sedih. Ia tak sanggup melihat bayi mungil itu.


Nana menangis melihat ayah kandungnya itu pergi meninggalkannya begitu saja, bayi perempuan itu seolah sedih melihat Alex mengabaikannya.


•••


Ana berjalan mendekati taman bunga milik almarhumah ibunya dulu.


Bunga-bunga itu masih tumbuh dan terawat dengan baik. Ana tersenyum saat tangannya menyentuh kelopak bunga aster itu.


"Kau suka bunga?" Tanya Ray.


"Kau pernah menanyakan itu sebelumnya." Jawab Ana.


"Maaf." Ucap Ray.


"Untuk apa meminta maaf?"


"Maaf untuk semuanya."


Ana menolehkan kepalanya, menatap wajah Ray yang tertunduk. Gadis itu kemudian tersenyum.


"Lupakan saja. Aku juga minta maaf, tadi pagi aku hanya merasa kesal, karena kau tidak memberitahuku." Kata Ana.


"Maaf."


"Sudahlah. Lagipula, Rachel juga sudah memaafkan Alex. Memang benar jika perempuan itu saat ini telah dewasa. Bahkan lebih dewasa dariku. Jika aku diposisinya, mungkin aku tidak bisa semudah itu memaafkan pria yang telah menyusahkan hidupku." Ujar Ana.


Ray hanya diam melihat Ana yang mulai memotong beberapa tangkai bunga aster.


"Tapi, aku sungguh tidak menyangka jika Rachel dan assisten Yohan diam-diam menjalin hubungan yang serius. Apa mereka benar-benar akan bersama?"


"Dulu kau terlihat senang melihat mereka bersama, kenapa sekarang merasa ragu?" Tanya Ray sembari membantu istrinya memegangi bunga-bunga yang telah Ana potong tangkainya.


"Entah kenapa tiba-tiba aku teringat dengan perempuan yang bernama Miya. Aku merasa kasihan padanya." Ana menghentikan tangannya saat ingin memotong tangkai bunga yang lainnya. Kemudian ia menoleh pada Ray yang terus menatapnya.


"Ray."


"Hm?"


"Bukankah lebih baik jika Rachel bersama Alex dan assisten Yohan bersama Miya?"


"Kenapa?"


"Itu sedikit mengganggu pikiranku. Aku merasa bersalah sekali."


Ray menghela napasnya, ia menyentuh pelan puncak kepala Ana.


"Jangan pikirkan hal-hal yang bukan urusanmu. Itu kehidupan mereka, kau hanya perlu memberikan dukungan dan saran secukupnya." Ujar Ray.


"Begitu ya, selama ini sepertinya aku sudah berlebihan. Aku ini menjijikan ya, selalu ikut campur dengan masalah orang lain dan juga seakan-akan peduli padahal hanya semakin menyusahkan saja." Ucap Ana.


Ray tersenyum mendengarnya, ia merengkuh tubuh Ana kedalam pelukannya.


"Tidak, sama sekali tidak. Kau memang salah tapi bukan berarti kau benar-benar salah. Selama ini kau hanya ingin membantu mereka dan bersikap peduli. Tapi sayangnya kau mempedulikan mereka menggunakan cara yang hanya kau anggap benar. Kau tidak pernah melihat dari sudut pandang orang yang kau pedulikan. Bagaimana jika mulai sekarang kau belajar merubahnya? Itu akan lebih baik bagimu." Ujar Ray.


Ana tersenyum dalam pelukan suaminya itu, rasa tenang merambat ke dalam dirinya.


"Aku mengerti." Gumam Ana.