The Destiny

The Destiny
The Butterfly Effect



Sekertaris Yuna masuk ke ruangan chief exsecutive officer dengan langkah perlahan, ia seperti berhati-hati dari cctv yang tepasang, Yuna berjalan menelusuri titik buta cctv ruangan itu.


Ia melangkah menuju rak buku-buku yang terpajang di sudut ruangan, mengambil salah satu buku, lalu membukanya.


Buku itu dibuat memiliki ruang, didalamnya ada spy cam, Yuna mengambilnya dan meletakkan spy cam yang baru di dalamnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya assisten Yohan.


Sekertaris Yuna sepertinya terkejut dengan kemunculan Yohan yang tiba-tiba, terlihat dari sikapnya yang tampak gugup ketika Yohan melangkah ke arahnya.


"Aku hanya memberikan berkas laporan pada presdir." Ujar Yuna yang berhasil mengendalikan dirinya kembali.


Yohan menatap sekertaris tuannya itu dengan pandangan curiga.


"Lalu— apa yang ada ditanganmu itu?" Tanya Yohan sembari berjalan semakin mendekat ke arah Yuna.


Melihat Yohan yang maju satu langkah mendekatinya, Yuna pun mundur kebelakang sembari menyembunyikan spy cam itu di belakang tubuhnya.


"Ini hanya flashdisk privasi-ku, aku menggunakannya untuk menyimpan foto-foto pribadiku." Kata Yuna.


Yohan mengernyitkan keningnya,


"Lalu kenapa kau membawanya ke ruangan CEO?"


"Itu— itu karena terkadang aku menggantungkannya di ponselku, tadi tidak sengaja terjatuh saat aku memasukkan ponselku ke dalam saku celana."


"Lalu kenapa kau menghindari titik buta cctv?"


Tanya Yohan, lagi. Pertanyaannya kali ini sepertinya mampu memebuat Yuna skakmat.


Perempuan itu tak lagi mampu menjawab pertanyaan dari Yohan.


Yuna hanya bisa diam.


"Saat aku melihat cctv ruangan ini, aku melihatmu masuk. Tapi setelah itu— kau tidak terlihat di dalam cctv, itu artinya kau sedang berjalan di bagian titik buta cctv. Bukankah itu mencurigakan?"


"Kau sedang mencurigaiku?!"


"Ayo cepat berikan benda itu padaku."


"Sudah aku bilang— Ini hanya flashdisk berisi foto-foto pribadiku. Kenapa kau memintanya? Kau ini mesum ya?!" Ujar Yuna.


"Jangan membuat alasan, cepat berikan!" Ujar Yohan sembari berusaha meraih benda yang Yuna sembunyikan di belakang tubuhnya itu.


Saat Yohan masih berusaha mengambil spy cam itu, Ray tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


Melihat Ray, sekertaris Yuna langsung memeluk assisten Yohan untuk menutupi kecurigaan.


Yohan terkejut dengan tindakan dari Yuna, pria itu merasakan tubuhnya seakan membeku, ia benar-benar sangat shock.


Ray sekilas melihat mereka. Tapi kemudian mengabaikannya, dan terus berjalan menuju kursi kerjanya.


"Apa kalian akan terus bermesraan di depanku?"


Ray menatap kesal ke arah dua orang yang masih berpelukan itu.


Mendengar perkataan Ray. Yuna segera melepasnya pelukannya dan langsung memasukkan spy cam yang ia pegang ke dalam saku celananya. Sedangkan Yohan, pria itu sepertinya memang sangat shock, ia masih terlihat diam beberapa saat.


"Maafkan saya presdir." Ujar sekertaris Yuna sembari menundukkan kepalanya.


"Sudahlah lupakan saja, aku tidak peduli dengan urusan asmara kalian."


"Asmara?! Tuan, anda salah paham, saya bisa menjelaskannya."


"Menjelaskan apa? Jangan berkata seakan aku ini kekasih yang melihatmu berselingkuh. Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan bersama sekertaris Yuna. Tapi, bisakah kalian tidak melakukan hal-hal yang berbau mesra seperti itu dihadapanku? Kalian ini— seperti sedang menyindirku."


"Maaf tuan." Ujar Yohan.


Sial! beraninya dia memelukku, dia pikir bisa lepas begitu saja dariku. Lihat saja, aku akan membongkar semua kejahatanmu, tunggu setelah aku menemukan bukti yang kuat dan melaporkanmu. — Batin Yohan sembari melirik ke arah Yuna dengan raut wajah kesalnya.


"Lupakan masalah itu. Sekarang, ada hal yang lebih penting untuk kau lakukan." Ucap Ray.


"Apa yang perlu saya lakukan tuan?" Tanya Yohan.


"Mulai sekarang tugas utamamu adalah mencari Angel, lakukan pencarian lebih mendalam dan mendetail."


"Maksud anda, Angel, gadis masa kecil tuan?"


"Iya. Mulai sekarang kau tidak perlu mengerjakan tugas assisten pribadi sampai kau menemukannya, karena sekarang— tugas utamamu adalah menemukannya. Kau tenang saja, masalah gaji, aku akan membayarmu dua kali lipat dari gajimu sebelumnya." Ujar Ray.


"Tapi tuan— saya menyukai pekerjaan saya sebagai assisten pribadi anda." Kata Yohan.


"Aku tidak sedang memecatmu, aku hanya sedang mengganti tugasmu untuk sementara waktu ini. Kau akan kembali bekerja sebagai assisten pribadiku, kalau kau sudah menemukan Angel." Ucap Ray.


"Baik tuan." Jawab Yohan.


"Kau boleh pergi sekarang." Ujar Ray.


"Baik tuan, saya permisi." Ucap Yohan yang kemudian menunduk hormat dan pergi dari ruangan itu.


"Sekertaris Yuna."


"Iya presdir."


"Mulai sekarang kau yang akan mengikutiku. Tapi itu hanya jika aku menyuruhmu." Ucap Ray.


"Apa sekarang— saya akan menjadi assisten pribadi anda dan mengganti assisten Yohan untuk sementara waktu?" Tanya Yuna.


"Bisa dikatakan iya dan juga tidak. Karena tugas utamamu tetap menjadi seorang sekertaris presdir di perusahaan ini." Ujar Ray.


"Baik presdir, saya mengerti."


"Kau boleh pergi sekarang." Ujar Ray.


"Baik Presdir, kalau begitu saya permisi." Ucap Yuna yang kemudian membungkuk hormat dan pergi dari ruangan itu.


Ray mengusap wajahnya sekilas, lalu ia menghidupkan laptopnya, dan mulai bekerja.


Namun, dirinya sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Berulangkali ia salah mengetik dan tidak juga sulit memahami laporan yang dibacanya.


Pria itu menghela nafasnya, ia menutup matanya cukup lama, tampak berpikir panjang.


Setelah cukup lama berdiam diri sembari memejamkan matanya. Ray pun akhirnya berdiri dari duduknya, kemudian mengambil kunci mobil dan pergi keluar dari ruangannya.


Diluar ruangan itu, tampak sekertaris Yuna menyapanya dengan hormat.


"Anda ingin pergi kemana presdir?" Tanya Yuna.


"Aku harus keluar, ada urusan sebentar."


"Apa perlu saya ikut presdir?" Tanya sekertaris Yuna.


"Tidak, aku akan pergi sendiri."


"Baik Presdir, kalau begitu berhati-hatilah." Ujar Yuna dengan nada sopannya.


Ana duduk pada salah satu kursi yang tersedia di tree park ini. Gadis itu terlihat terus menatap kertas berisi surat persetujuan operasi yang harus di tanda tangani oleh walinya.


Ana terus-menerus menghela nafasnya, ia bingung harus bagaimana, apa dia harus membuat orang disekitarnya mengkhawatirkan dirinya lagi, tapi dia tidak setega itu.


Ia suka membagi kebahagiaan tapi tidak dengan membagi kesedihan.


Di tempat yang sama, Ray berdiri menatap pohon yang sering didatanginya. Pria itu, terlihat tidak pernah bosan menatap pohon tua yang tumbuh rindang itu.


Ray mengeluarkan sapu tangan berwarna putih yang memiliki gambar kelinci di bagian tengahnya.


Ray tersenyum melihat sapu tangan itu, ia mengusapnya beberapa kali. Lalu kemudian, kembali memasukkannya kedalam saku jas kerjanya.


Sudah merasa lega dan tenang dengan pikiran juga hatinya, Ray berbalik, kakinya mulai berjalan untuk kembali ke kantornya. Namun, seperti takdir yang tuhan kehendaki, dari kejauhan, dirinya tidak sengaja melihat sosok Ana yang tampak duduk diam di bangku kursi taman pohon itu.


Pria itu tersenyum melihat Ana, kemudian melangkah menghampiri gadis itu. Ray mengambil posisi duduk disamping Ana.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ray.


Ana terkejut tiba-tiba ada orang yang berbicara dengannya, apalagi suara itu sangat familiar sekali ditelinganya.


"Ray? Kau mengikutiku?!" Tanya Ana.


"Mengikutimu? Tidak." Jawab Ray.


"Ck. Tidak perlu berbohong."


"Aku tidak berbohong, aku pergi ke kantor tadi, tapi karena tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan, jadi aku pergi kesini untuk menenangkan pikiran."


"Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang akan menyukai tempat seperti ini." Ucap Ana.


"Aku tahu, tapi tempat ini memiliki kenangan tersendiri untukku. Tempat dimana aku bisa merasakan kebahagiaan saat mengenang masa itu. Apa karena aku orang jahat, jadi benar-benar tidak boleh merasa bahagia walau hanya dari kenangan?" Tanya Ray, perkataan pria itu seakan menghujam hati Ana yang sudah berkata kasar padanya.


Ana menatap Ray dengan pandangan bersalah.


"Kenapa kau mengatakan perkataan seperti itu, biasanya kau akan marah. Ah, jika kau seperti ini, aku merasa bersalah karena berkata kasar padamu. Baiklah, maafkan aku." Ujar Ana.


Ray terlihat tersenyum lagi, lalu kenbali melihat Ana.


"Ana." Panggil Ray pelan.


"Hm." Jawab Ana tanpa menoleh ke arah Ray.


"Ana." Panggil Ray lagi.


"Hmm?" Ana masih menatap lurus kedepan.


"Ana."


"Ada apa? Kenapa memanggilku terus? Aku tidak tuli." Ujar Ana sembari menoleh kesal ke arah pria itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memanggilmu saja." Ucap Ray dengan senyumannya lagi.


Ana merasa merinding melihat Ray yang tersenyum seperti itu.


Dia aneh sekali. — Batin Ana.


"Ana."


"Apa?"


"Mari hidup rukun dan ajarkan aku tentang kebahagiaan." Ujar Ray, ia menatap lurus kedepan.


Ana mengernyit bingung dengan maksud perkataan suaminya itu.


"Kau telah memberiku efek kepakan sayap kupu-kupu."


"Efek kepakan sayap kupu-kupu?"


"Iya, butterfly effect, apa kau pernah mendengarnya?" Tanya Ray.


"The butterfly effect? Ah iya, jika itu maksudmu, aku mengingatnya, itu film tahun dua ribu empat, sekitar lima belas tahun yang lalu, aku sudah menontonnya." Jawab Ana.


"Itu bukan tentang filmnya, tapi teorinya."


"Teori?" Tanya Ana.


"Iya, teori yang dikemukakan oleh Edward Norton Lorenz pada tahun seribu sembilan ratus enam puluh satu."


"Memangnya— apa isi teorinya?" Tanya Ana penasaran.


"Seluruh kejadian dalam kehidupan kita pada dasarnya adalah rangkaian dari kejadian acak atau random." Ujar Ray.


"Maksudnya?" Tanya Ana, ia tidak paham dengan makna dari teori-teori seperti itu.


"Saat itu Lorenz berusaha memprediksi kondisi cuaca dengan simulasi progam di komputer. Hingga akhirnya ia menemukan angka faktor kosong koma lima kosong enam. Lalu ia menyadari semakin kecil ia memasukkan bilangan desimal, maka semakin tepat pula perkiraan yang didapatkan."


"Kau sedang berbicara tentang matematika ya?"


Ray menggelengkan kepalanya dan tersenyum lagi, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.


"Kau tahu, saat dia memasukkan angka 0,506127, Lorenz menemukan bahwa dampak dari desimal terkecil itu setara dengan efek kepakan sayap kupu-kupu."


"Aaa— lalu dia membuatnya menjadi teori butterfly effect?" Tanya Ana.


Ray mengangguk,


"Iya, saat pertamakali menyadarinya, Lorenz terkejut tak percaya ia mendapatkan gambaran seperti itu, satu kepakan sayap kupu-kupu bahkan bisa menghasilkan efek tornado yang dahsyat."


"Lalu kenapa kau mengatakan kalau aku memberimu kepakan sayap kupu-kupu?"


Ray tersenyum lagi dan lagi, kali ini— sepertinya Ana sudah terbiasa dengan senyum ketulusan dari Ray.


"Kepakan kecil yang kau hasilkan mampu mengubah kehidupanku. Perkataan yang kau katakan padaku, membuat aku berfikir untuk mengubah hidupku." Ujar Ray.


"Oh— jadi maksudmu, perkataanku itu adalah kepakan sayap kupu-kupu, lalu efek tornado itu adalah perubahan hidupmu. Apa benar seperti itu?"


"Hm, sebuah perkataan sederhana yang dikatakan seseorang, bisa mengubah kehidupan seseorang. Itu yang di sebut butterfly effect."


"Aah— aku paham sekarang." Ujar Ana.


"Ana."


"Hm? Ada apa?"


"Terimakasih." Ucap Ray.


"Eh? Terimakasih untuk apa?"


"Terimakasih— karena sudah mengepakkan sayap kupu-kupumu, terimakasih telah memberiku efek tornado. Terimakasih, kau sudah membuatku berpikiran lebih terbuka, dan membuatku ingin mengubah hidupku." Ujar Ray.


"Aku tidak tahu kalau ada teori yang sehebat itu. Tapi— apapun teori itu, aku senang melihatmu seperti ini. Aku harap kau konsisten dengan pilihanmu." Ucap Ana sembari tersenyum ke arah Ray.