
Rachel mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar, hari ini adalah hari persiapannya sebelum melahirkan.
"Kau menginginkan sesuatu?" Tanya Ana.
"Aku ingin makan." Canda Rachel, karena sebelum operasi pukul delapan malam nanti, ia harus puasa.
"Nanti— setelah operasi kau boleh makan."
"Apapun?"
Ana menggelengkan kepalanya,
"Tidak, kau harus makan makanan yang bergizi agar ASI mu banyak."
"Hah, Iya baiklah." Jawab Rachel dengan helaan nafas pasrah nya.
Ana tersenyum mendengarnya,
"Jadi, apa kau sudah mempersiapkan nama untuk nya?" Tanya Ana, gadis itu ikut mengelus perut Rachel.
"Entahlah, aku belum memikirkannya." Jawab Rachel, akhir-akhir ini dirinya terlihat murung.
"Apa ada yang menggangu pikiranmu? Kau terlihat tidak bersemangat akhir-akhir ini."
Rachel menatap Ana,
"Kak, apa tidak masalah baginya kalau ia harus lahir di dunia ini tanpa ayah?" Ujar Rachel, ia mulai terisak.
Ana menatapnya sendu, ia mengelus punggung Rachel dan memberikan pelukan hangat.
"Rachel, siapapun ayahnya, kau tidak perlu memikirkan itu, aku yakin suatu hari nanti anakmu pasti akan mengerti. Kau hanya perlu membesarkannya dengan baik."
Ana menangkup wajah Rachel dengan tangannya, ia menghapus bulir-bulir bening yang masih tersisa dipipi adik tirinya itu. Membuat Rachel kembali menyunggingkan senyumnya.
"Nalika Lotusa." Gumam Yohan yang berdiri di belakang Ana, pria itu— sekarang menjadi bayang-bayang Ana, kemanapun Ana pergi, Yohan selalu mengikutinya.
"Kau baru saja memberinya nama?" Tanya Ana, ia menunjuk pada bayi yang masih berada di perut Rachel.
"Anda dan nona Rachel sedang membahas tentang nama anak itu tadi, jadi saya hanya memberi saran saja." Ujar Yohan.
"Nalika Lotusa? Kak, Bukankah itu terdengar bagus? Kita bisa memanggilnya Nana, hampir mirip dengan nama panggilanmu, aku suka." Ucap Rachel.
Ana tersenyum, ia kemudian menoleh ke arah Yohan.
"Apa arti nama itu, kau tidak bermaksud memberinya nama dengan arti yang buruk kan?"
"Nalika dalam bahasa Indi berarti teratai dan Lotus dalam bahasa Yunani juga memiliki arti teratai."
"Jadi— arti namanya teratai dan teratai? Nama macam apa itu? Apa kau bercanda?!" Ujar Ana.
"Secara bahasa memang berarti teratai. Tapi, jika kita mendalami makna bunga teratai, itu adalah nama yang paling tepat untuk bayi ini. Bunga teratai hidup di sungai dan rawa yang berlumpur dan kotor, tapi walaupun ia tumbuh dari tempat seperti itu, ia tetap hidup sebagai bunga yang indah. Jadi, dengan memberinya nama itu, artinya— walaupun ia tumbuh dari kesulitan, keburukan dan tempat yang kotor, dia akan tetap hidup dengan penuh keindahan dan memberikan banyak manfaat bagi setiap orang." Ujar Yohan.
Rachel tersenyum, ia merasa senang mendengar penjelasan itu.
Nalika Lotusa, anakku apa kau mendengarnya? Itu adalah namamu. — Batin Rachel sembari mengelus perutnya.
Saat mereka sedang sibuk membahas nama bayi Rachel, tiba-tiba pintu kamar perawatan itu terbuka, menampilkan sosok Ray yang masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Ana." Panggil Ray yang baru saja masuk ke dalam.
"Siapa yang menyuruhmu datang?" Tanya Ana.
"Hatiku." Jawab Ray dengan senyumannya, ia berjalan mendekati Ana dan mengecup bibir istrinya itu, membuat Rachel dan Yohan hanya bisa menggigit jari dan mengalihkan pandangan mereka dari kemesraan pasangan suami-istri itu.
"Ray! Kau ini tidak tahu malu ya!" Ana menepuk bahu Ray, pria itu hanya tertawa.
"Rindu tidak punya rasa malu sayang." Bisik Ray ditelinga Ana. Gadis itu kembali memukul Ray, sekarang pukulannya sedikit lebih keras dari sebelumnya, sampai pria itu mengaduh kesakitan.
"Ck, jangan berlebihan." Ucap Ana.
"Aku membawa makanan untukmu. Kau belum makan siang kan?"
"Ya ampun, kau ini benar-benar keterlaluan ya, kenapa kau membawa makanan di depan orang yang sedang berpuasa untuk operasi." Ujar Ana.
Ray menatap Rachel sekilas, gadis itu hanya tersenyum kaku pada Ray.
"Kak, tidak apa-apa. Makanlah dulu, jangan terlalu memikirkan aku." Ucap Rachel yang kini menatap Ana.
"Kau dengar apa yang Rachel katakan? Ayo makan, kau baru saja sembuh dan harus makan teratur."
Ana menatap Rachel, ia merasa tidak enak dengan adik tirinya itu.
"Cepat makanlah." Ujar Rachel.
"Iya, aku akan makan, tapi tidak disini." Kata Ana sembari menatap Ray.
"Tidak masalah, kita bisa makan di kantin rumah sakit." Ujar Ray.
Ana berjalan keluar mengikuti Ray, tapi kemudian ia ingat kalau Yohan juga belum makan, karena pria itu selalu mengekorinya sejak pagi tadi.
"Ray— assisten Yohan juga belum makan." Kata Ana.
"Saya bisa makan setelah anda nona." Jawab Yohan.
"Benarkah?"
"Iya nona."
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan lama. Tolong jaga Rachel baik-baik ya." Ucap Ana pada Yohan. Assisten itu menanggapinya dengan mengangguk sopan kepada Ana.
Ana menoleh pada Rachel, ia memberi tatapan maaf dan sampai jumpa. Rachel mengangguk, ia mengibaskan tangannya agar Ana cepat pergi untuk makan.
Ray merangkul tubuh Ana dan membawa istrinya itu keluar dari kamar perawatan.
"Ray." Panggil Ana sembari berjalan berdampingan dengan suaminya itu.
"Hm?"
"Menurutmu, mereka cocok tidak?"
"Siapa?"
"Ck, Assisten Yohan dan Rachel."
Ray tertawa mendengarnya,
"Kau ingin menjodohkan mereka? Jangan berharap akan berhasil."
"Kenapa?"
"Hanya menebak saja."
"Ck, kau ini, setidaknya kau juga membantuku untuk mendekatkan mereka." Ujar Ana.
"Aku juga ingin melihat Yohan memiliki pendamping hidup, tapi bagaimanapun juga dia punya hak sendiri untuk urusan asmaranya. Kau juga jangan ikut campur, biarkan dia yang menentukannya sendiri, karena itu hidupnya."
Ana mendengus kesal karena tidak mendapat dukungan dari Ray.
"Sejak kapan kau menjadi bijak seperti itu." Cibir Ana.
Ray tersenyum ke arah istrinya itu sembari mengacak-acak rambut Ana gemas.
"Terimakasih pujiannya." Ucap Ray yang diiringi tawanya.