The Destiny

The Destiny
Saran dari Alex



Ana duduk di pinggir danau belakang rumah, terkadang ia melemparkan batu-batu kecil yang ada di dekatnya.


Ray sangat keterlaluan, suaminya itu selalu menghindar darinya. Setiap kali mereka bertemu atau berada satu ruang, Ray selalu pergi menjauhinya.


Dengan tingkah Ray yang seperti itu, Ana rasanya ingin menendang otak Ray, jika itu bisa membuat Ray sadar dari sikapnya yang akhir-akhir ini sangat melewati batas.


"Sedang memikirkan sesuatu?" Ujar seseorang yang baru saja ikut duduk disampingnya.


Ana menoleh, ternyata Alex yang sudah lama ia tidak melihatnya.


"Alex!" Ana memeluk Alex sekilas dari samping, ia senang Alex akhirnya pulang setelah menyelesaikan tugas kerja di luar kota.


"Ck, kau sangat merindukan aku ya."


Ana tersenyum lebar,


"Rumah terasa sepi saat kau tidak ada." Ujar Ana.


"Ah begitu, aku pikir kau benar-benar merindukanku." Alex mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha kau berharap lebih ya, baiklah, lain kali aku akan sangat-sangat merindukanmu."


"Ngomong-ngomong, maaf, aku tidak menjengukmu saat kau sakit. Tapi, aku sangat terkejut saat mendapat kabar kau sakit parah sampai harus di operasi seperti itu. Kenapa kau tidak menceritakannya padaku."


"Eh tidak masalah, lagipula aku sudah sembuh, dan lagi, itu bukan hal yang perlu semua orang tahu." Ujar Ana, matanya kembali menatap pantulan cahaya matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.


"Hah kau ini." Alex tersenyum menatap Ana.


Hening, kedua orang itu larut dalam pikirannya masing-masing. Beberapa kali Ana menghela nafasnya, ia kembali masuk kedalam pikirannya yang sudah seperti benang kusut.


Otaknya penuh dengan pertanyaan bagaimana cara agar Ray mau berbicara padanya, ia bahkan heran, kenapa Ray yang malah marah padanya, bukankah seharusnya dia yang marah pada Ray.


Haaah~


Lagi, helaan nafas kembali terdengar dari diri Ana. Alex menoleh, ia menatap iparnya itu penasaran dengan apa yang sedang mengganggu pikiran Ana, wajah Ana terlihat muram sekali.


"Ceritakan saja kalau kau ada masalah, siapa tahu aku bisa membantumu memberi jalan keluar dari masalah itu." Ujar Alex.


"Kau masih terlalu kecil untuk masalah ini, sekalipun aku memberitahumu, kau tidak akan mengerti."


"Hei! Aku ini lebih tua satu tahun darimu." Protes Alex.


"Ah iya kau memang tua, karena kau tua, kau tidak akan paham juga!"


"Kenapa kau jadi marah padaku?" Alex berdecak kesal, ia pun ikut melemparkan batu-batu ke arah danau buatan itu.


"Dia memang selalu seperti itu, tapi sebenarnya dia berhati baik."


"Sudah kuduga, kau tidak akan paham dengan apa yang terjadi padaku!"


Alex melemparkan batu kecil ke tubuh Ana, gadis itu mengaduh sakit, ia ingin membalas Alex, tapi pria itu menahan tangannya.


"Kalau kau ingin seseorang paham dengan permasalahanmu, maka jelaskan intinya secara langsung, jangan hanya emosimu saja yang keluar, bagaimana aku bisa paham." Ujar Alex.


Ana melepaskan tangannya, ia mengalihkan pandangannya dari Alex.


"Ada kesalahpahaman antara aku dan Ray."


Ana menoleh pada Alex, pria itu tersenyum dengan anggukan bahwa ia siap mendengarkannya. Gadis itu mulai menceritakan semua kebenarannya pada Alex, semua yang terjadi, Ana menjelaskan secara detail dan menyeluruh.


Alex menghela nafasnya setelah ia mendengarkan cerita Ana, pria itu setuju jika kakaknya memang bodoh atau Ray sedang berpura-pura bodoh? Karena ia tahu betul, kalau kakaknya itu sangat teliti dan cerdas. Tapi, masalah sepele seperti ini, kenapa Ray terlihat bodoh, seolah hatinya sudah buta.


"Jadi sekarang dia menjauhimu?"


Ana mengangguk, ia menatap Alex dengan ekspresi sedihnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Dia selalu pulang malam, saat aku menunggunya sampai larut, ia langsung masuk ke kamar mandi, dan setelah mandi langsung tidur, jika aku mulai mengajaknya bicara untuk membahas masalah itu, dia akan pergi begitu saja dan tidur di kamar lain. Sangat keterlaluan kan?"


Alex mengangguk setuju, ia memegang dagunya, seperti berpikir, apa cara yang paling tepat agar Ray tidak kabur saat Ana ingin membahas dan meluruskan kebenaran itu.


"Ana." Panggil Alex dengan wajah seriusnya.


"Hm? Apa kau sudah punya solusinya?" Tanya Ana.


"Kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung? Maksudku, saat kau dan dia sedang berada di satu ruangan. Langsung saja katakan kalau kau adalah Angel, jangan menggunakan kata pembuka ataupun kata sambutan, langsung ke intinya saja."


"Apa itu akan berhasil?"


"Kenapa kau terlihat ragu seperti itu? Kau bahkan belum mencobanya. Ah sudah hampir gelap, Ayo masuk kerumah." Ujar Alex.


"Em, pergilah lebih dulu, aku masih ingin disini." Kata Ana.


Alex terlihat menghela nafasnya sejenak,


"Jangan terlalu lama diluar, kau bisa masuk angin nanti. Kalau begitu, aku masuk duluan, aku ingin menemui ibuku. semangatlah Ana, sampai jumpa." Ucap Alex yang kemudian berlalu pergi.


Ana kembali di temani oleh sepi, gadis itu tampak diam disana untuk beberapa saat. Dalam kesendirian itu, Ana kembali memikirkan masalahnya lagi.