
Ana memijat lehernya yang terasa kaku.
"Aku sangat lelah." Gumamnya, ia kembali melihat beberapa berkas laporan restorannya yang masih belum ia periksa.
Setelah hampir satu minggu menemani Rachel melahirkan sampai Rachel pulang dari rumah sakit, sekarang ia masih harus bekerja keras memeriksa laporan keuangan dan kebutuhan restorannya.
Membayangkannya saja, rasanya pasti lelah dan sangat berat.
Ana membuka ponselnya, ia penasaran kenapa Ray belum menghubunginya atau mengirim pesan padanya. Biasanya pada jam seperti ini, suaminya itu sudah ribut menyuruh Ana untuk makan siang.
Ana menghela nafasnya, mencoba mengabaikan hal itu, ia kembali fokus pada berkas-berkas laporan.
Drrt. Drrt. Drrt
Ponselnya berdering, itu panggilan masuk dari Yohan. Ana mengernyitkan keningnya, tidak biasanya Yohan menelponnya.
Gadis itu mengambil ponselnya dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Yohan, ada apa?" Tanya Ana.
"Nona, tuan Ray kecelakaan."
"Ha? Bagaimana bisa? Sekarang dia ada dimana?"
"Lebih baik nona cepat pulang kerumah. Itu saja yang ingin saya sampaikan." Ujar Yohan kemudian menutup panggilannya.
"Halo? Yohan? Halo?"
Bunyi panggilan terputus membuat Ana mendengus kesal. Gadis itu kemudian bergegas mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar ruangannya.
•••
Yohan menatap tuan-nya itu khawatir, ia berulangkali meminta Ray untuk pergi ke rumah sakit, tapi Ray terus saja menolak dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
"Tuan, anda sebaiknya pergi ke rumah sakit dan memeriksanya ke bagian ortopedi. Saya khawatir jika ada bagian tulang yang patah." Ujar Yohan.
"Kau ini selalu saja berlebihan. Lihatlah, aku tidak apa-apa."
Ray menapakkan kakinya ke lantai, membuktikan kepada assistennya itu bahwa dirinya tidak apa-apa dan Yohan tidak perlu khawatir seperti itu.
"Tapi tuan, itu terlihat membengkak, takutnya nanti akan terasa sakit kalau berjalan. Jadi, sebelum terlambat sebaiknya di bawa ke rumah sakit." Ujar Yohan, masih mencoba merayu Ray yang bersikukuh menolak pergi ke rumah sakit.
"Ya memang terasa sedikit sakit. Tapi ini bukan apa-apa, lagipula aku ini laki-laki, tentu saja ini bukan masalah." Ucapnya, Ray menggerak-gerakkan kakinya seakan rasa sakit yang di rasanya bukan masalah besar.
Tapi saat pintu kamar terbuka dan terlihat sosok Ana. Ray langsung menjatuhkan dirinya ke kasur, ia duduk disana dan mengaduh kesakitan.
"Aw— Yohan, aku tidak tahu kalau kaki terkilir akan terasa sangat menyakitkan seperti ini. Aku merasa tidak sanggup untuk berjalan. Oh astaga! Lihatlah itu semakin membengkak." Ujar Ray.
"Kau baik-baik saja?"
Ana menghampiri suaminya itu dan memeriksa kondisinya, tatapan Ana terhenti pada kaki kanan Ray yang tampak membengkak.
"Apa ini sakit?" Tanya Ana, ia baru saja ingin menyentuhnya tapi Ray sudah berteriak kesakitan terlebih dulu.
"Aw— sakit." Rengek Ray pada Ana.
"Sakit sekali ya?"
Ray mengangguk dengan tampang memelasnya, membuat Ana merasa kasihan pada suaminya itu.
"Nona, sebaiknya kita bawa tuan Ray ke rumah sakit." Saran Yohan.
Ray yang mendengar itu langsung menatap assistennya itu tajam. Jangan menjadi pengganggu, lebih baik kau pergi dari sini.
Yohan menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, tapi kemudian ia pun melangkah keluar kamar meninggalkan tuan-nya bersama sang istri.
"Aku takut."
"Ha?"
"Aku trauma dengan rumah sakit, jadi kau saja yang merawatku ya." Ujar Ray, ia memberikan tatapan puppy eyes-nya sebagai senjata untuk meluluhkan hati istrinya.
Trauma dengan rumah sakit? Tapi— waktu aku sakit dan juga saat Rachel melahirkan dia sering datang ke rumah sakit. Hah, aneh sekali. — Batin Ana.
"Apa tidak masalah? Bagaimana kalau nanti semakin parah?" Tanya Ana.
"Ini akan cepat sembuh kalau kau yang merawatnya." Ujar Ray.
Ana menghembuskan nafasnya, ia paham, pria ini sedang dalam mode bayinya. Kedepannya Ana akan sangat kerepotan dengan suaminya itu.
"Katakan saja kalau kau ingin aku mengasuhmu." Ucap Ana yang di tanggapi Ray dengan senyuman tanpa dosa.
"Bantu aku berbaring." Pinta Ray.
"Iya iya. Ibumu ini akan membantumu berbaring." Ujar Ana yang kemudian membantu Ray mengubah posisinya menjadi terbaring di atas ranjang.
"Terimakasih." Ucap Ray.
"Hm."
"Ana." Panggil Ray, saat Ana ingin melangkah keluar kamar.
"Ada apa?" Tanya Ana yang kini menoleh ke arah suaminya itu.
"Kau ingin pergi kemana? Kau tega meninggalkan aku sendirian dengan kaki seperti ini?" Rengek Ray.
Ana menghela nafasnya dan berbalik menghampiri Ray lagi.
"Sekarang, apa yang kau inginkan?"
"Duduk disini." Ray menepuk-nepuk sisi ranjang disebelahnya.
Ana menuruti permintaan Ray, ia duduk di sisi ranjang yang Ray inginkan.
Pria itu tersenyum senang, kemudian ia mengubah posisinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ana. Ray meraih tangan Ana dan meletakkannya di atas dadanya, membuat Ana bisa merasakan detak jantung Ray yang terasa berdegup kencang.
"Ck, kau ini." Gumam Ana yang merasa kesal dan senang dengan tingkah suaminya itu.
"Nyanyikan aku sebuah lagu." Pinta Ray.
"Aku tidak bisa bernyanyi."
"Aku sering mendengarmu bernyanyi di kamar mandi."
"Kau mungkin salah dengar." Sanggahnya.
"Tidak mungkin salah dengar, telingaku ini masih berfungsi dengan baik. Katakan saja kalau kau tidak ingin bernyanyi untukku." Ujar Ray yang tampak menampilkan raut wajah kecewanya.
Ana lagi-lagi dibuat tersenyum dengan tingkah Ray yang sangat kekanak-kanakan.
Dengan lembut, Ana membelai rambut Ray penuh kasih sayang. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya mulai melantunkan sebuah lagu untuk Ray.
Senandungnya itu mengalun lembut menelisik kedalam telinga Ray, pria itu dalam diam tersenyum senang mendengar lagu yang Ana nyanyikan.
Ana menyanyikan sebuah lagu milik musisi luar negeri, Bon Jovi, yang berjudul thank you for loving me.
Sebuah lagu yang memiliki makna begitu mendalam, lirik yang dilantunkannya itu sepenuhnya merupakan isi hati dari Ana.
Sulit bagiku untuk mengatakan sesuatu. Tapi, aku selalu mempunyai kata-kata ini di dalam hatiku. Terimakasih sudah mencintaiku.