The Destiny

The Destiny
Maybe



Pagi hari, Ana bangun lebih awal, membuatkan sandwich untuk Ray lalu kemudian pergi untuk suatu hal. Tak lupa ia menyematkan note kecil untuk memberitahu Ray jika ia pergi lebih dulu.


Beberapa hari yang lalu, ia mengirim email pada dokter Brian, memberitahu dokter itu jika dirinya hamil. Lama dokter Brian tak membalas, akhirnya semalam ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal yang ternyata adalah dokter itu.


Dokter Brian meminta bertemu pagi ini sebelum dokter itu pergi ke luar kota lagi.


Ana sengaja memberitahukan kehamilannya pada dokter yang merupakan teman mendiang ibunya itu untuk berkonsultasi apakah kehamilannya bisa mempengaruhi paru-paru nya yang sudah di operasi.


Ana pernah mendengar jika seseorang yang sebelumnya mengidap pneumotoraks dan kemudian hamil, kemungkinan bisa mengalami kolaps lagi walaupun sudah sembuh. Tapi itu hanya kemungkinan.


"Ana, kau ingin pergi kemana sepagi ini?" Tanya Alex yang tak sengaja melihat Ana.


"Ah itu, aku ada briefing dengan para karyawanku untuk persiapan promosi menu baru sebelum restoran buka." Jawab Ana bohong.


"Aaa begitu ya, apa kak Ray belum bangun?" Tanya Alex.


Ana menggelengkan kepalanya,


"Belum."


"Ah iya, apa kau mengantarkan perempuan itu sampai tujuan?" Tanya Ana.


"Em, tentu saja. Aku mengantarkannya sampai di depan rumahnya." Jawab Alex.


"Benarkah? Oh iya, kau tidak lupa meminta maaf padanya kan?"


"Kenapa aku harus meminta maaf? Aku hanya tidak sengaja menabraknya, lagipula itu salah dia." Ujar Alex.


"Ck, sengaja ataupun tidak, ini bukan tentang siapa yang salah. Tapi tentang siapa yang terluka dan melukai, jadi kau harus meminta maaf padanya."


Alex menghela napasnya,


"Iya aku mengerti. Lagipula, aku juga ingin menemuinya sekarang." Ujar Alex.


"Kau ingin menemuinya? Sekarang?"


"Em, dia meninggalkan tas nya di mobilku." Jawab Alex.


"Waaa apakah itu seperti saling menggoda?" Canda Ana.


"Apa yang kau katakan, dia bahkan lebih tua dari kita." Ucap Alex.


"Eh? Bagaimana kau tahu berapa usianya? Apa kau membuka isi tasnya? Kau ini, tidak sopan melakukan itu."


"Aku hanya penasaran, tapi sungguh, itu benar-benar mengejutkan, perempuan itu berumur dua puluh tujuh tahun lebih, hampir kepala tiga." Ujar Alex.


"Benarkah? Aku pikir masih seumuran dengan kita. Masalahnya dia terlihat seperti masih melajang."


"Yah, itu karena dia masih berjuang mendapatkan cinta pertama masa kecilnya." Kata Alex.


"Ck, kau tahu banyak tentang perempuan itu ternyata."


"Begitulah, apa kau tidak penasaran siapa cinta pertamanya yang masih ia perjuangkan sampai sekarang?"


"Siapa?" Tanya Ana, sebenarnya ia tidak terlalu penasaran.


"Assisten Yohan." Bisik Alex.


Ana membulatkan matanya tak percaya, kemudian tertawa pada dirinya sendiri.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Alex merasa heran.


"Tidak, tidak ada. Ah aku harus pergi sekarang. Bye." Ucap Ana kemudian berlalu pergi keluar rumah.


Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sungguh kebetulan yang menyedihkan. Selama ini aku berusaha membantu Rachel mendapatkan seseorang yang baik, tapi ternyata pria yang aku harapkan bersama nya— haah, ada orang lain yang sudah lama berjuang untuk pria itu. Pantas saja Ray selalu menghalangiku untuk ikut campur urusan asmara assisten Yohan. Ah, aku merasa bersalah.


•••


Yohan berjalan sembari memasang dasinya, pria itu membuka pintu apartemennya.


Disana berdiri Miya dengan seragam putihnya.


"Miya? Bukankah aku sudah mengirimkan pesan padamu, jika kau libur hari ini."


Miya tersenyum,


"Aku baik-baik saja, kak Yohan tidak perlu khawatir, aku masih bisa bekerja. Aku juga tidak terluka parah, hanya luka gores saja, nanti juga sembuh sendiri." Ujar Miya.


Yohan membalas senyumannya, pria itu menghela napasnya, tidak pernah bisa dirinya menghalangi Miya untuk libur bekerja. Perempuan itu selalu memiliki semangat kerja yang tinggi.


"Kalau begitu masuklah. Sebentar lagi aku akan berangkat bekerja." Kata Yohan.


"Baik tuan." Jawab Miya setelah masuk kedalam apartemen itu. Sikap profesionalisme bekerja yang pernah Yohan ajarkan padanya, kini Miya terapkan dalam dirinya.


"Sudah aku katakan, mulai sekarang jangan terlalu formal seperti itu. Lupakan tentang apa yang pernah aku ajarkan padamu. Bersikaplah santai." Kata Yohan.


"Begitukah? Tapi kak, kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran seperti itu. Dulu kau sangat mengawasiku untuk profesional dalam pekerjaan tapi sekarang kak Yohan mengesampingkan hal itu."


Yohan tersenyum, bukan senyum untuk Miya, tapi untuk seseorang yang telah membuatnya sedikit berubah. Seseorang yang baru saja melintasi memorinya.


"Kak?"


"Ah aku harus berangkat bekerja. Tolong jaga ibuku ya. Terimakasih sebelumnya. Aku pergi ya, Miya, sampai jumpa." Pamit Yohan, pria itu bergegas mengambil tas kerjanya dan juga kunci mobil, sebelum kemudian pergi keluar apartemen.


Miya tersenyum hangat melihat punggung Yohan yang telah menghilang dari pandangannya, ia selalu merasa senang saat Yohan berpamitan padanya. Karena itu dirinya selalu datang pagi-pagi agar bisa mendapatkan ucapan sampai jumpa dari Yohan.


•••


Ana masuk ke dalam ruangan dokter Brian setelah melakukan pemeriksaan ct scan.


"Duduklah."


"Apa hasilnya sudah keluar? Apa aku akan mendengar kabar buruk atau kabar baik?"


Dokter Brian tersenyum padanya.


"Aku tahu kau khawatir, tapi bisakah kau diam dulu. Pamanmu ini sedang menganalisanya." Ujar dokter Brian.


Ana akhirnya diam, dengan kekhawatiran yang menyelimuti diri. Ia menunggu dokter Brian menyelesaikan analisanya.


"Ana." Panggil dokter Brian setelah cukup lama menganalisa hasil ct scan Ana itu.


"Apa ada masalah paman?" Tanya Ana takut.


Dokter Brian tertawa melihat wajah kekhawatiran yang tampak begitu jelas dari Ana.


"Kau baik-baik saja, tidak ada masalah apapun." Jawab Dokter Brian.


"Ya? Benarkah?"


"Iya, kehamilan mu tidak menimbulkan masalah pada paru-paru mu. Lagipula, kau itu sudah di operasi, hanya 0.000001% kau akan mengalami kolaps lagi. Itu hanya kemungkinan kecil."


"Ah begitu, aku senang mendengarnya."


"Baiklah kalau begitu pulanglah, paman harus bersiap untuk pergi ke luar kota. Jika ada apa-apa hubungi paman ya." Ujar dokter Brian.


"Iya, terimakasih paman. Kalau begitu Ana permisi." Ucap Ana, ia berdiri dan berlalu pergi dengan hati tenang dari ruangan itu.