The Destiny

The Destiny
Episode spesial : Alex Story



Seorang pria berdiri di depan pusara, memandangi makam itu cukup lama.


Angin sore itu berhembus lembut, menyingkirkan hawa panas dari matahari yang bersinar redup di atas sana.


Alex masih diam tak bergerak diposisinya, makam itu seperti medan magnet yang menarik penglihatannya agat tidak beralih kemanapun.


Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi mu ayah. — batin Alex mulai berkata.


Matanya berbinar, sinaran masa lalu seakan terputar seperti roll film di kepalanya.


Semua dimulai pada hari dimana pria itu masih berusia tujuh tahun. Alex menginjakkan kakinya di rumah baru.


Rumah yang sangat besar dan luas, banyak pelayan-pelayan yang menyambutnya dengan hormat.


Saat itu yang Alex pikirkan adalah kesenangan yang akan menyapanya, siapa sangka jika ayah yang jarang ia temui adalah seorang kaya raya.


"Dia kakakmu. Ray, sapa adikmu." Kata sang ayah saat itu.


Alex tersenyum, mengulurkan tangannya untuk memberi sapaan pada pria kecil berumur sepuluh tahun.


Lama Alex menggantungkan tangannya di udara, tapi Ray tak kunjung membalas sapaannya, sedih yang dirasa oleh hati anak berusia tujuh tahun itu.


"Ray!" Ucap ayah mereka, memperingatkan Ray untuk berlaku baik pada adiknya.


"Aku tidak punya adik! Dan ibuku hanya satu! Aku benci ayah! Aku benci kau!" Ujar Ray, begitu selesai mengucapkan semua isi hati yang berluapan emosi, Ray pergi dari rumah itu.


Saat itu, Alex kecil hanya bisa menatap kepergian sang kakak dengan tatapan padanya polosnya. Ucapan benci yang Ray katakan menjadikan hati pria itu mengecil, ia sedih.


"Pelayan antarkan tuan muda Alex ke kamarnya." Ujar seorang pria yang selalu berada di samping ayahnya itu.


Alex menatap ibunya, dengan senyuman yang terlontar dan sebuah anggukan kecil dari sang ibu, Alex pun menurut dan mengikuti pelayan perempuan yang membawanya ke kamar baru.


Itulah awal hidup suram bagi Alex, kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Walaupun ayahnya bertanggung jawab pada ibunya, tapi tak pernah ada bahagia yang tercipta dari tanggung jawab itu.


Hari-hari berlalu dan Alex tumbuh dewasa, dalam pertumbuhannya, ia selalu berusaha mendapatkan pengakuan dari sang ayah ataupun kakaknya.


Dirinya selalu menorehkan prestasi yang membanggakan, tapi semua itu masih kalah jauh dari sang kakak yang seakan-akan selalu serba bisa.


"Jangan pernah berpikir jika kau adikku! Kau itu hanya anak dari seorang perempuan jalang." Kata-kata itu begitu membekas dihati Alex. Ray mengatakannya saat ayah mereka meninggal.


Kepergian sang ayah, membuat Alex di perlakukan semakin buruk, bukan dalam hal kekerasan, bukan juga secara materi.


Alex dan ibunya masih tetap diijinkan untuk tinggal dirumah itu, tapi dianggap layaknya hantu, tak pernah ada. Ray sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara.


Seperti itu seterusnya, sampai seseorang hadir di kehidupan Ray, membuat kakaknya itu berubah secara perlahan. Seseorang yang membuat Alex terkagum-kagum, seorang perempuan yang mampu mengembalikan sifat Ray yang sebenarnya, baik dan berhati lembut, itulah diri Ray yang sesungguhnya.


Bagi Alex, Ray adalah sosok kedua setelah ayahnya yang begitu ia kagumi.


Membuat Ray bangga adalah impian terbesar bagi Alex.


Namun, sepertinya ia gagal dengan impiannya itu, dirinya telah mengecewakan banyak orang.


Pria pengecut, pecundang dan tidak bertanggung jawab adalah ungkapan yang paling baik untuk menggambarkan perbuatan yang telah dilakukannya.


Lalu kata lain yang memicu trauma terburuk nya adalah tentang bertanggung jawab atas perbuatannya.


Alex menolak, bukan karena ia tidak suka, tapi trauma masa kecilnya kembali mengelilinginya saat itu. Ia takut menjadi seperti ayahnya yang membuat kesedihan di hati seorang anak.


Semua ada alasannya, hanya kakaknya yang mengerti dirinya saat itu.


Namun pada akhirnya, ia tetap datang pada Rachel untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi, gadis itu menolaknya.


Rachel memiliki pilihan lain. Disaat-saat seperti itu, hati Alex merasa sesak. Bukan karena cemburu, tapi karena anak itu.


Beberapa kali melewati hari dengan berbagi waktu merawat Nana, membuat hati pria itu merasakan kasih sayang yang tak berujung untuk anak biologis nya.


Senang hati itu melihat Nana perlahan tumbuh. Setiap waktu, Alex tak pernah melepaskan pengawasannya pada anak perempuan itu.


Nana itu seperti sesuatu yang begitu berharga. Alex tidak pernah tahu, sejak kapan ia begitu peduli pada anak kandungnya itu.


Tapi, tidak seperti yang diharapkan. Keterlambatan tetaplah keterlambatan, ini seperti hukuman yang pantas untuknya. Kini tak ada tempat baginya untuk menjadi ayah Nana, ketika Rachel telah memilih, maka ia perlahan berjalan mundur dengan mata yang akan terus menjaga dan mengawasi anaknya dari kejauhan.


"Kau ada disini?" Sebuah suara bariton membuyarkan roll film yang terputar di kepala Alex.


Alex menoleh, menatap Ray yang berjalan mendekat kearahnya. Pria itu meletakkan bucket bunga di makam yang berdampingan dengan makam ayah mereka.


"Apa ini hari peringatan kematian ibumu?" Tanya Alex.


Ray menatap pusara yang dirawat dengan baik itu, guratan sedih yang tersembunyikan, dapat Alex rasakan dari diri kakaknya.


"Hm." Jawab Ray, kemudian menoleh pada adiknya itu.


"Kau sedang apa disini? Membicarakan sesuatu pada ayah?" Tanya Ray sembari menatap makam ayahnya.


"Aku sudah memutuskan." Ujar Alex, membuat Ray mengernyit bingung menatapnya.


"Memutuskan apa?" Tanya Ray yang tidak paham dengan maksud perkataan Alex.


"Aku yang akan mengurus perusahaan cabang, bisakah kau memutasiku dan memindahkan ku kesana, kakak?" Itu adalah sebuah permintaan yang telah Alex pikirkan cukup lama.


"Alex, kau yakin? Berapa lama waktu yang kau butuhkan? Aku tahu, kau ingin pergi untuk menenangkan dirimu. Tapi, Nana tetap anakmu, kau juga masih punya hak dan juga kewajiban atasnya." Kata Ray.


"Aku tidak tahu kapan akan kembali. Lagipula, aku memintamu memindahkan ku ke sana, bukan menugaskanku untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di sana."


Ray menghela napasnya, ia menatap dua makam yang berdampingan itu sejenak, sebelum kemudian menatap adiknya kembali.


"Baiklah." Ucap Ray, tangannya bergerak, menepuk bahu Alex.


"Ayo pulang, hari sudah mulai sore dan juga mendung." Ujar Ray, kemudian berjalan pergi dari sana mendahului Alex.


Ayah, perbuatan buruk mu seperti penyakit yang menular padaku, tapi sepertinya perbuatan yang kau anggap baik tidak menular padaku. Aku tidak bisa bertanggung jawab padanya, kali ini bukan karena aku tidak ingin, tapi karena ada pria lain yang jauh lebih baik bagiku untuk membuat gadis itu bahagia. Tapi ayah, aku pastikan, aku tidak akan mengabaikan anakku, aku tidak ingin menjadi dirimu yang memberiku fasilitas tapi tidak pernah memperhatikan ku ataupun melindungi ku. Aku akan menjadi bayangan untuk anakku ayah, itu adalah pilihan ku saat ini sampai Nana sukses nanti.


End.✍