The Destiny

The Destiny
Episode spesial : Miya Story



✍Dear,


*Aku Miya, aku tidak tahu nama panjangku atau nama lengkapmu, seperti aku tidak mengetahui bagaimana rupa ayah dan ibuku.


Semua ingatan yang aku miliki hanya berputar pada panti asuhan yang aku tinggali saat ini.


Eh tunggu, bukan itu yang ingin aku tuliskan. Ini pertama kalinya aku menulis diary, jadi tidak tahu bagaimana cara mengisi tiap lembarnya.


Diary, hari ini ada seorang laki-laki datang berkunjung ke panti asuhanku, dia datang bersama ibunya.


Dia sangat tampan, aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.


Ah ibu pengurus panti asuhan sedang memanggilku, aku akan menulis lagi nanti. (2008*)


✍Dear,


*Sudah satu tahun dia terus berkunjung dan memberikan adik-adik panti asuhan pakaian dan juga makanan.


Dia sangat mempesona. (2009*)


✍Dear,


*Hari ini aku menyatakan perasaanku pada kak Yohan, tapi, aku di tolak.


Kak Yohan bilang, aku masih anak kecil, padahal umurku sudah duapuluh tahun.


Kak Yohan menyuruhku untuk fokus pada kuliahku.


Baiklah, aku akan berjuang keras untuk kesuksesan ku, lalu, suatu hari nanti, aku akan mengungkapkan perasaan ku kembali pada kak Yohan. (2010*)


✍Dear,


*Hai, sudah lama aku tidak menulis ya.


Aku hanya ingin mengungkapkan kebahagiaan dan juga kesedihanku.


Aku bahagia karena saat ini aku sudah menjadi seorang perawat! Tapi, aku juga sedih, karena di hari pertama ku bekerja, pasien yang kutemui adalah ibu Anjani, ibu dari pria yang aku sukai.


Pantas saja beberapa tahun kemarin mereka tidak berkunjung lagi, ternyata karena ibu kak Yohan sakit.


Dia menderita demensia, sedih rasanya melihat orang yang biasanya tersenyum dan menceritakan cerita dongeng pada adik-adik panti asuhan, kini hanya bisa menatap kosong dunia.


Kak Yohan, aku harap kau tetap sabar ya, aku akan berusaha membantu mu. (2012*)


✍Dear,


*Aku tidak tahu jika diary ini masih ada.


Baiklah, kali ini aku akan menulis sesuatu yang menyenangkan dan yah sedikit sedih juga.


Diary, aku menjadi perawat pribadi ibu Anjani, itu artinya setiap harinya, aku akan bertemu kak Yohan. Bahagia hatiku.


Tapi aku harus tetap profesional seperti yang kak Yohan ajarkan, disini aku adalah pekerja yang sedang bekerja merawat ibunya.


Berjuang Miya! (2015*)


✍Dear,


*Hari ini, aku pergi memeriksakan kondisi ibu Anjani bersama kak Yohan di rumah sakit.


Kami terlihat seperti pasangan saat berjalan berdampingan seperti ini, aku senang. (2015*)


✍Dear,


*Kak Yohan, aku mencintaimu. Apakah waktu yang ku habiskan untuk menunggumu selama ini akan sia-sia? Aku berharap tidak.


Entah kenapa, melihat mu bersamanya dan anaknya, hatiku sedih. (2017*)


2019, sekarang.


Sebuah air mata menetes layaknya hujan gerimis, yang membasahi lembar kertas diary itu.


Perempuan itu kemudian berdiri, dimalam yang gelap, ia berjalan keluar dari rumah atapnya.


Miya menghampiri tong sampah yang terbuat dari besi itu. Sejenak ia memandang tong sampah dan buku diary yang dipegangnya secara bergantian.


"Sudah saatnya aku harus benar-benar mengakhiri cinta sepihak ini. Aku tidak bisa berharap lagi pada pria yang sudah menikah. Apa lagi yang bisa kau harapkan darinya Miya?!" Teriak perempuan itu, merasa frustasi dengan semua kegundahan hatinya.


Sedih itu menyapa tanpa permisi, secara tidak sopan masuk kedalam hatinya. Sekalipun Miya mengusirnya, rasa sedih tak ingin pergi sebelum hatinya benar-benar bisa merelakan semua ini.


Miya melemparkan buku diary itu kedalam tong sampah, masih dengan perasaan yang berat, ia menatap buku itu.


Tapi dalam sekejap, emosi kesedihan hati menguasai dirinya. Miya melemparkan korek api kayu yang menyala kedalam tong sampah itu.


Api menyala, melahap perlahan-lahan buku diary yang telah ia simpan selama belasan tahun, sama seperti perasaannya yang tersimpan dihati selama belasan tahun juga.


"Aku berharap perasaanku padanya sama sepertimu buku, perlahan-lahan terbakar habis oleh api, lalu menjadi abu, tertiup angin dan kemudian menghilang begitu saja." Ujar Miya dengan isakan tangis.


"Miya?" Panggil seseorang dari arah belakang perempuan itu.


Miya menoleh, menghapus jejak air matanya saat melihat sosok pria yang merupakan seorang dokter, dia adalah rekan kerja Miya, mereka saling mengenal sejak Miya mulai bekerja di rumah sakit, sekitar dua tahun yang lalu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya dokter itu.


"Ah saya baik-baik saja dokter Liam, tadi hanya ada abu yang terkena angin lalu masuk ke mata saya." Jawab Miya.


Liam tersenyum hangat, ia meletakkan bungkusan plastik yang dibawanya pada meja duduk yang ada disana.


Pria itu kemudian berjalan mendekati Miya, ia memegang kepala Miya, menatap dalam-dalam mata perempuan itu.


"Sepertinya sudah tidak ada."


"Ha?"


"Tidak ada abu di matamu. Oh iya, jika diluar jam bekerja, jangan panggil aku dokter, panggil aku Liam saja. Aku sempat melihat biodata mu dan aku rasa kita seumuran. " Kata Liam.


"Benarkah? Tapi ada perlu apa anda datang kesini Liam?" Tanya Miya dengan nada yang terdengar sangat kaku.


"Hei, jika kau memanggilku Liam, maka berbicaralah informal padaku. Akan terdengar sangat aneh jika kau memanggilku seperti itu dan berbicara formal padaku." Ujar Liam.


Miya tersenyum kaku,


"Begitu ya. Baiklah."


"Oh, aku belum menjawab pertanyaan mu. Aku datang kesini karena—" Liam menggantungkan perkataannya cukup lama, membuat Miya menatapnya heran.


"Karena apa?" Tanya Miya.


Liam mengangkat bahunya, ia kemudian berjalan mengambil kantong plastik yang tadi ia letakkan di meja duduk. Lalu mengambilnya dan kembali ke hadapan Miya.


"Entahlah, aku hanya ingin saja. Yaa hanya ingin bertemu denganmu, itu saja. Oh ini untukmu." Ujar Liam, memberikan kantong plastik berisi banyak camilan didalamnya.


"Ini—"


"Apa kau ada waktu untuk membantuku menghabiskan semua ini?" Tanya Liam.


"Ha?"


"Waaa baguslah kalau begitu, kau memiliki banyak waktu luang ya, ayo kita habiskan semua ini dan sedikit berbincang-bincang." Ujar Liam, dia berkata seolah-olah Miya sudah menjawabnya.


"Eh itu—"


"Ayolah." Ucap Liam sembari menarik pelan tangan Miya untuk duduk di meja persegi empat yang pendek itu.


Miya dengan pasrah pun menuruti permintaan Liam, ia duduk disana berhadapan dengan Liam.


Perlahan-lahan keduanya larut dalam percakapan mereka. Miya juga mulai kehilangan rasa canggung nya, terlihat dari caranya tertawa lepas.


Mereka berdua terlihat dekat hanya dalam beberapa jam. Tidak, sebenarnya mereka sudah saling kenal dan dekat sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja, Miya seringkali menjaga jarak atau mungkin tidak terlalu peka dengan seseorang yang sedang tertarik padanya dan ingin mendekatinya.


End.✍