
In life, there will be things that come up by itself. But there will be things that also need to struggle to get it — Unknow.
🏃🏃🏃
Episode sebelumnya~
"Bagaimana dengan ciuman pipi?" Tanya Ray yang masih berharap. Bagi pria itu, kecupan ataupun ciuman dari istrinya itu adalah sebuah energi yang dapat menghantarkan semangat untuknya.
"Maaf, tapi kecambahmu bilang tidak juga. Dia tidak ingin ayahnya berdekatan dengan ibunya untuk sementara ini. Sebagai ayah yang baik kau harus bisa memahaminya ya." Ujar Ana sebelum akhirnya menutup pintu mobil itu.
Dari luar mobil, Ana melambaikan tangannya sejenak, kemudian berlalu masuk ke dalam restorannya.
"Aku yakin sepertinya kecambahku itu seorang laki-laki. Ia sangat tidak suka pria lain mendekati ibunya. Ah astaga, kenapa kecambahku harus meniru sifatku?!" Gumam Ray kesal.
Dengan raut wajah muramnya, Ray melajukan mobilnya keluar dari area restoran Ana menuju ke perusahaannya.
Dapat dipastikan, akan ada banyak pegawainya yang menjadi korban pelampiasan kekesalan Ray. Semoga saja para korban itu tabah dan sabar menghadapi seorang raja singa yang kalah dengan calon lion king.
Episode — Some♪Thing
Ray berjalan masuk ke dalam ruangannya, wajahnya masih menampakkan kekesalan yang begitu kentara.
"Yohan." Panggil Ray.
Assisten pribadinya itu segera datang setelah mendengar namanya di panggil oleh tuannya.
"Ada perlu apa tuan?" Tanya Yohan.
Ray tampak diam sejenak, pria itu menghembuskan napasnya beberapa kali.
"Tidak ada, pergilah." Jawab Ray, tangannya bergerak melonggarkan dasinya.
"Apa ada masalah tuan?" Tanya Yohan saat melihat Ray sudah melonggarkan dasinya di waktu yang masih cukup terlalu awal untuk tampak gerah dengan semua pekerjaan, Ray juga belum terlihat sibuk dengan pekerjaannya, bukankah tuannya itu baru saja datang ke perusahaan.
"Kau tidak akan mengerti tentang masalah ku. Pergilah." Ujar Ray, matanya tertutup sejenak.
"Katakan saja tuan, siapa tau saya bisa membantu anda." Ucap Yohan yang masih kekeuh ingin membantu Ray menyelesaikan masalah nya.
Ray mendengus kesal dan jengah.
"Ah— benarkah? Kalau begitu coba kau bicara pada kecambahku, beritahu dia untuk tidak melarang ibunya berdekatan denganku." Kata Ray dengan senyum meremehkannya. Tentu saja Yohan tidak akan pernah bisa melakukan tugas konyol itu.
"Kecambah?" Tanya Yohan yang tak mengerti.
"Sudah aku katakan, kau tidak akan paham."
"Tapi tuan—"
"Sudahlah, pergi sana." Perintah Ray, membuat Yohan mau tak mau pergi dengan sopan dari ruangan itu. Padahal dalam benaknya, ia terus bertanya-tanya siapakah gerangan kecambah itu?
Beritahu dia untuk,tidak,melarang,ibunya, berdekatan denganku? Melarang ibunya berdekatan denganku? Jadi, si kecambah itu melarang ibunya untuk berdekatan dengan tuan Ray? Apa?! Tunggu dulu! Tuan Ray ingin mendekati ibunya kecambah? Tuan Ray— apa dia ingin berselingkuh? Ah tidak mungkin, pasti tadi tuan Ray mengatakan itu hanya untuk mengerjaiku saja, iya pasti begitu. Tapi.. ini benar-benar mengusikku pikiranku. Siapa kecambah? Siapa ibu kecambah? Apa perkataan tuan Ray benar? — Diluar ruangan Ray, Yohan duduk di meja kerjanya yang berhadapan dengan meja sekertaris yang kosong.
Batin pria berkepala tiga itu terus saja bertanya-tanya, tentang siapa kecambah dan ibu kecambah.
Masalahnya, Yohan belum tahu jika isteri tuannya itu tengah hamil dan calon bayi itu diberi nama kecambah oleh Ray. Jadi, Yohan tidak tahu jika kecambah itu adalah calon lion king-nya dan ibu kecambah itu adalah Ana.
•••
Diruangan yang sudah lama tidak ia tempati, Ana disibukkan kembali dengan beberapa laporan-laporan pemasukan dan pengeluaran restorannya.
Sudah lama ia tidak turun tangan langsung seperti ini, rasanya bisa bekerja dan sibuk dengan pekerjaan itu adalah hal yang terbaik baginya, daripada harus mati bosan.
Tok. Tok. Tok
"Masuk." Ucap Ana tanpa bertanya dahulu siapa yang mengetuk pintu ruangannya, karena ia pikir itu mungkin salah satu karyawannya.
"Nona Ana." Panggil seseorang saat baru saja masuk ke dalam ruangan Ana.
Ana mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang telah memanggilnya dengan panggilan formal seperti itu.
"Yuna?" Ana mengernyitkan keningnya heran, tapi kemudian ia teringat sesuatu yang sudah lama ia lupakan.
"Duduklah." Ujar Ana, ia berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke sofa.
"Apa kau ingin minum sesuatu?" Tanya Ana.
"Ah terimakasih, tapi tidak perlu. Saya hanya ingin mampir sebentar saja untuk menanyakan satu hal yang pernah anda janjikan pada saya beberapa minggu yang lalu."
Ana kembali merasakan perasaan bersalah dihatinya. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu, rutuknya dalam hati.
"Sekertaris Yuna, maafkan aku. Sebenarnya, aku lupa tentang janjiku kepadamu waktu itu. Bukan maksudku sengaja melupakannya, tapi aku benar-benar lupa." Ujar Ana sebelum Yuna berkata sesuatu padanya.
Yuna tampak tersenyum dan tidak menunjukkan ekspresi keterkejutannya.
"Iya, tidak masalah, itu membuat saya semakin bersyukur. Karena itu artinya saya mendapat maaf dari Presdir Ray atas usaha saya sendiri." Kata Yuna.
"Kau sudah di maafkan oleh suamiku?" Tanya Ana.
"Em, sekitar tiga hari yang lalu. Sekarang saya sudah kembali bekerja di perusahaan TNP lagi, yaa walaupun tidak sebagai sekertaris Presdir." Jawab Yuna.
"Benarkah? Lalu, sekarang kau bekerja di bagian mana?"
"Iya. Saya sekarang bekerja di bagian tim pemasaran."
"Aaaa sekarang kau bawahan langsung dari Alex ya. Dia manajer di bagian pemasaran juga."
"Maksud anda pak Alex? Beliau sudah di promosikan sebagai salah satu anggota dewan direksi semenjak saham miliknya yang pernah di pegang oleh pamannya untuk beberapa waktu diberikan kembali padanya, beliau sekarang seorang direktur."
"Wah bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya?" Tanya Ana pada dirinya sendiri.
Yuna tersenyum melihat Ana yang bergumam sendiri, perempuan itu kemudian melirik arloji yang melekat di tangannya.
"Saya pikir itu saja yang ingin saya katakan nona, saya harus permisi untuk kembali ke kantor." Katanya.
"Eh secepat itu? Apa kau tidak ingin makan atau minum sesuatu dulu?"
"Terimakasih atas tawaran anda, tapi saya harus segera kembali ke kantor."
"Ah baiklah, hati-hati kalau begitu. Lain kali mampirlah kembali dan makan sesuatu, aku akan mentraktirmu." Ujar Ana.
"Baik nona."
"Dan satu lagi, jangan panggil aku nona. Panggil saja Ana. Aku pikir kita seumuran, jadi tidak perlu bersikap terlalu formal padaku."
"Iya, baiklah Ana. Sampai jumpa kembali." Ujar Yuna, ia kemudian melangkah keluar dari ruangan Ana.
"Em, sampai jumpa kembali." Balas Ana dengan senyuman.
•••
"Direktur Alex." Panggil seorang pria dari luar pintu ruangan Alex.
"Masuklah."
"Ada apa?" Tanya Alex pada sekertarisnya itu.
"Baru saja saya mendapat telepon, siang ini akan diadakan rapat direksi, katanya ketua Komisaris yang akan memimpin rapat itu." Ujar sekertarisnya.
"Iya aku mengerti, atur ulang saja jadwalku sebelumnya."
"Baik direktur, saya permisi." Ucap sekertarisnya yang kemudian berlalu keluar dari ruangan Alex.
Pria itu baru beberapa bulan lalu di promosikan menjadi direktur semenjak saham miliknya yang sebelumnya di pegang oleh ketua komisaris yang merupakan pamannya sendiri, kini telah di kembalikan kepadanya.
Sebenarnya Alex menolak, ia bukan seseorang yang gila jabatan. Bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk hidupnya dan menambah tabungannya saja sudah lebih dari cukup.
Tapi, saat ini. Bukan itu yang mengusik pikirannya. Ada hal lain yang lebih mengganggu kepalanya itu.
Alex kembali menghela napasnya untuk yang kesekian kali.
"Ada apa denganku?" Gumamnya sembari memijat pelipisnya yang terasa nyeri.