
Ana tersenyum menatap langit biru yang terlihat hitam disaat malam. Sorot cahaya bulan purnama memancar menyinari bumi, bersama dengan bintang-bintang yang berkelipan di langit.
Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang.
Tapi, suaminya itu, setelah dirinya di ijinkan pulang, Ray tetap melarangnya untuk melakukan aktivitas di luar pengawasannya. Ray bahkan sekarang meminta Ana untuk tidur satu kamar dengannya.
"Ana." Panggil Ray, pria itu baru saja masuk ke dalam kamar yang kini telah menjadi kamar mereka berdua.
"Hm? Ah kau sudah pulang?" Ana berlari kecil menghampiri suaminya itu.
"Apa yang kau lakukan, tetap duduk." Ujar Ray.
Ana mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian, ia kembali duduk di sofa yang khusus di siapkan untuknya itu.
Ray berjalan mendekati Ana, pria itu duduk berlutut di depan istrinya.
"Apa kau bosan?" Tanya Ray.
"Tentu saja." Jawab Ana dengan nada kesalnya, walaupun ia bisa pulang dari rumah sakit, tapi sikap over protective Ray sangat menjengkelkan baginya, ini semua tidak ada bedanya, aktivitas yang dilakukannya semuanya hampir sama ketika dirinya masih berada di rumah sakit waktu itu.
"Kau ingin pergi keluar?" Tanya Ray sembari merapikan helaian rambut Ana yang menutupi wajah gadis itu.
"Aku bahkan merasa bosan dengan halaman rumahmu." Ujar Ana, gadis itu menghela nafasnya dan memandang keluar jendela kamar itu.
Ray tersenyum lembut,
"Kau mau aku membawamu kemana?"
Ana yang mendengar penawaran itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Ray.
"Bolehkah?" Tanya Ana yang terlihat antusias dengan tawaran Ray itu.
Ray mengangguk dengan senyuman yang senantiasa terukir diwajahnya
"Bukankah hari ini ada festival lampion harapan?"
"Benar, TNP group menjadi salah satu sponsornya. Apa kau ingin pergi kesana?"
Ray tertawa, ia mengusap kepala Ana lembut.
"Tentu, karena aku juga akan ikut bersamamu. Bukankah aku sudah berjanji padamu, apapun yang terjadi, aku akan tetap disampingmu dan menjagamu." Ujar Ray.
Ana tersenyum lebar, ia sangat puas dan senang mendengar penuturan Ray.
"Kalau begitu, bersiaplah." Ujar Ray.
Ana mengangguk,
"Iya."
"Tapi, apa kau sudah bisa mengganti pakaianmu sendiri? Masalahnya, malam ini aku meliburkan semua pelayan."
"Sejak awal pulang dari rumah sakit, aku memang melakukan semua aktivitas pribadiku sendiri, lagipula siapa yang mau dibantu berganti pakaian, aku tidak menyukainya."
"Lalu bagaimana jika aku yang membantumu berganti pakaian, apa kau tetap tidak menyukainya atau malah menyukainya atau— sangat menyukainya?"
"Apa kau sudah bosan hidup?!"
Ray tertawa melihat reaksi Ana yang sesuai harapannya, pria itu— belakangan ini memang suka sekali menggoda Ana.
"Iya iya, aku akan menunggumu diluar." Ujar Ray, yang kemudian berdiri dari posisi berlututnya. Setelah itu, Ray berjalan keluar dari dalam kamarnya.
Ana yang melihat Ray sudab keluar dari dalam kamar. Gadis itu lantas bangkit dari duduknya.
Ana berjalan menuju ke arah walk in closet miliknya, lalu mulai memilih pakaian yang akan ia kenakan di festival lampion harapan nanti.
Senandung kecil dari mulut Ana terdengar mengiringi tangannya yang masih bergerak memilih pakaian.
Gadis itu bersenandung ria karena merasa senang, ia senang bisa keluar rumah, apalagi keluar bersama Ray.
Senyum bahagia di wajah Ana terlihat tidak pernah luntur sama sekali. Sepertinya, rasa euforia benar-benar telah menyelimuti dirinya.