The Destiny

The Destiny
Permintaan Yuna



"Serius? Tidak ingin aku mengantar-mu?" Tanya Ray.


Saat ini mereka ada di luar gedung perusahaan itu, beberapa saat yang lalu Ana berpamitan ingin kembali ke restorannya karena ada laporan reservasi dari VIP.


"Hm." Jawab Ana.


Ray menghela napasnya. Pria itu sudah berulangkali menawarkan diri untuk mengantarkan istrinya itu, tapi Ana terus saja menolaknya.


"Kalau begitu hati-hati, aku akan memesankan taksi untukmu."


Tak butuh waktu lama, taksi yang dipesan Ray memasuki area perusahaan dan berhenti di depan lobby utama.


"Tuan Ray?" Panggil si sopir taksi.


"Iya."


"Ana masuklah." Ujar Ray pada Ana. Pria itu membukakan pintu taksi untuk istrinya.


Ana mengangguk dan masuk kedalam taksi.


"Jika sudah sampai hubungi aku." Kata Ray.


"Iya." Jawab Ana.


Pria itu menutup pintu taksi setelah melambaikan tangannya sekilas pada Ana.


Ray menghembuskan napasnya ketika taksi itu sudah melaju keluar dari area perusahaan. Lalu, Ia kembali masuk kedalam gedung perusahaan itu dan menuju ruangannya.


•••


Di dalam taksi, Ana terlihat berkeringat dingin, ia merasakan gejolak itu lagi pada perutnya. Rasa mual dan pusing di saat bersamaan, membuatnya gelisah dan merasa tidak nyaman.


Sopir taksi yang melihat keadaan Ana dari kaca mobil, ia berpikir jika penumpangnya itu mungkin mabuk darat.


"Apa anda baik-baik saja nona?" Tanya sopir taksi itu.


"Entahlah, saya merasa agak mual." Jawab Ana.


"Apa mungkin anda mabuk darat nona? Saya akan mematikan AC mobil dan anda bisa membuka jendela mobilnya. Itu akan sedikit membantu anda untuk mengurangi mual karena mabuk darat." Ujar sang sopir.


"Saya tidak pernah mabuk darat sebelumnya pak. Tadi naik taksi juga baik-baik saja. Tapi, entah kenapa sekarang seperti mabuk darat rasanya."


"Mungkin anda sedang tidak enak badan nona, apa perlu kita pergi ke rumah sakit?"


"Tidak pak, tidak perlu. Tapi, bisakah lebih cepat lagi sampai ke tujuannya?"


"Ah iya tentu saja, saya akan sedikit lebih cepat." Jawab sang sopir.


Taksi itu melaju sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Jarak antara restoran Ana dan perusahaan Ray memang tak terlalu jauh, tapi padatnya lalu lintas dan harus melewati beberapa lampu merah, tentu butuh banyak waktu untuk sampai tujuan.


"Sudah sampai nona." Ujar si sopir taksi itu.


Ana mendongakkan kepalanya, karena sejak tadi ia hanya menunduk menahan rasa mual di perutnya.


Gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang tunai untuk membayar biaya taksi.


"Ini pak." Ujar Ana.


"Sudah di bayar nona, tuan tadi sudah membayarnya." Kata si sopir taksi.


"Ah benarkah? Kalau begitu ambil saja ini untuk bonus pak." Ucap Ana.


"Tidak perlu nona."


"Ambil saja, tidak apa-apa."


Sopir taksi itupun akhirnya mengambil uang tunai yang Ana berikan padanya. Bagaimanapun juga itu keberuntungannya.


Ana tersenyum menanggapinya, ia kemudian keluar dari dalam taksi.


"Nona Ana." Panggil seorang perempuan saat Ana baru saja ingin melangkah masuk ke dalam restoran miliknya.


"Sekertaris Yuna?" Gumam Ana, dirinya bertanya-tanya, kenapa dan untuk apa perempuan itu ada di sini.


"Nona Ana." Perempuan itu memanggil nama Ana lagi.


Saat sampai di hadapan Ana, Yuna tiba-tiba langsung berlutut di kaki gadis itu.


Membuat Ana berjengkit kaget dengan tindakan Yuna yang mengundang perhatian pengunjung restorannya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Ana pada perempuan itu.


"Saya mohon, Saya mohon bantu saya untuk bertemu Presdir Ray. Saya ingin meminta maaf padanya." Pinta Yuna, ia masih berlutut dengan kepala menunduk dan memohon pada Ana.


"Berdirilah, kau membuatku terlihat buruk di pikiran orang-orang. Kita bicarakan masalah ini di dalam." Ujar Ana.


"Saya pantas berlutut seperti ini. Saya menyesal atas perbuatan saya. Jadi saya mohon nona, saya mohon bantu saya. Saya di pecat dari perusahaan TNP dan tidak ada perusahaan lain yang mau menerima saya sebagai pegawai mereka, bahkan melamar sebagai office girl sekalipun, mereka menolak saya." Yuna memohon dengan raut wajah putus asanya.


"Iya, tapi bisakah kau berdiri dan bicarakan ini di dalam." Ana mensejajarkan tubuhnya dengan Yuna, ia mencoba membantu Yuna berdiri. Susah payah ia merayu Yuna yang terus kekeuh untuk berlutut, akhirnya Yuna mau berdiri.


"Ikut aku, kita bicarakan masalahmu di ruanganku." Ujar Ana.


Yuna berjalan mengikuti Ana yang masuk ke dalam restoran.


"Masuk dan duduklah." Ana membuka pintu ruangannya dan menyuruh Yuna untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Lalu ia memberikan sebotol air mineral pada perempuan itu.


"Terimakasih." Ucap Yuna.


"Kau bisa mengatakan semua yang ingin kau katakan padaku." Ujar Ana sembari duduk di sofa yang bersebrangan dengan Yuna.


"Anda pasti sudah tahu soal saya di pecat dari perusahaan TNP." Ujar Yuna mengawali curhatannya.


"Aku belum lama mengetahuinya." Jawab Ana, ia memang baru tahu kalau Yuna tidak menjadi sekertaris Ray lagi ketika ia melihat sekertaris baru yang memijat Ray tadi.


"Saya mohon bantuan anda, tolong bantu saya untuk meminta Presdir Ray memberikan saya kelonggaran hukuman. Ini semua sangat berat untuk saya. Saya masih butuh pekerjaan untuk kehidupan keluarga saya. Bagaimanapun tolong kasihani saya sebagai tulang punggung keluarga saya." Ujar Yuna, ia menatap memelas pada Ana.


Ana menghela nafas untuk kesekian kalinya. Rasa iba mulai menyelinap di hatinya.


"Suamiku memberikan hukuman seperti itu pasti setara dengan perbuatan yang telah kau lakukan padanya." Kata Ana.


"Saya tahu, maka dari itu saya rela berlutut atau bahkan bersujud jika itu bisa membuat diri ini di maafkan."


Ana diam tak berbicara, gadis itu tampak berpikir, membuat Yuna semakin gelisah jika Ana tak mau membantunya.


"Saya mohon nona." Pinta Yuna yang kembali berlutut pada gadis itu.


"Iya baiklah, aku akan mencoba berbicara pada suamiku saat ia pulang nanti. Tapi, aku tidak bisa memastikan apakah aku bisa membujuknya atau tidak." Kata Ana.


"Nona Ana, saya benar-benar memohon bantuan anda. Saya yakin jika anda memintanya dengan bersungguh-sungguh, Presdir akan mengabulkannya, karena anda adalah orang yang penting bagi Presdir." Pinta Yuna, ia memegang kaki Ana.


Dia ini meminta pertolongan tapi dengan cara memaksa seperti ini. Hah, ingin rasanya aku mengabaikannya tapi kasihan juga.


"Aku mengerti. Aku akan merayu suamiku dan memastikan kau di maafkan. Jadi, sekarang berdirilah." Ujar Ana.


"Terimakasih, terimakasih banyak. Saya akan mengingat kebaikan anda seumur hidup saya. Terimakasih nona Ana."


Ana tersenyum menanggapinya.


"Iya, sekarang berdirilah." Ucapnya, ia memegang tangan perempuan itu, membantu Yuna untuk berdiri.


Yuna mengangkat wajahnya, ia bangkit dari posisi berlututnya dan kembali duduk di sofa. Perasaan lega menyelimuti hati perempuan itu.