The Destiny

The Destiny
Until



Ana masuk kedalam mobil dengan wajah masamnya, wanita yang tengah hamil muda itupun sampai tak mau menoleh pada Ray yang duduk di kursi kemudi.


"Ana." Panggil Ray.


Istrinya itu hanya diam tak menjawab, ia kesal karena beberapa hal.


"Kau marah?" Tanya Ray dengan mata yang menatap ke arah jalan raya.


Diam, Ana terus bungkam. Sepertinya, Ray akan sedikit mengalami kesulitan karena kekesalan isteri nya itu.


"Sayang." Rayu Ray.


"Tidak bisakah kau diam dan menyetir saja?!"


"Kau kenapa? Kenapa marah padaku? Apa salahku?" Tanya Ray.


Ana menghela nafasnya, mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela mobil.


"Ana." Panggil Ray lagi.


"Diamlah! Aku kesal padamu, kau sangat perhatian pada perempuan itu dan lagi kau terlihat sangat ingin sekali menyatukan assisten Yohan dengan perempuan tadi. Kau itu sangat menyebalkan, aku membencimu."


Ray mengulurkan tangannya, ingin menggenggam tangan Ana, tapi gadis itu langsung menarik tangannya menjauhi dari tangan Ray.


"Aku tidak bermaksud membuat mu marah, sayang." Ucap Ray dengan sabar.


"Lagipula, Yohan hanya menganggap perawat Miya sebagai adiknya dan tidak lebih dari itu." Sambung Ray lagi.


"Kau yakin? Tapi kenapa kau harus menghubungi assisten Yohan. Memangnya kau perlu melakukan itu?" Tanya Ana masih dengan kekesalannya.


"Karena perawat Miya tidak memiliki keluarga lagi, dia sejak kecil tinggal di panti asuhan. Jadi, hanya Yohan orang terdekatnya." Jawab Ray.


"Lalu, hanya karena luka kecil seperti itu, kau harus menghubungi orang terdekatnya? Lagipula, karena dia tinggal di panti asuhan, bukankah seharusnya orang terdekatnya itu adalah pengurus panti asuhan?!"


"Iya kau benar, tapi masalahnya aku kan tidak memiliki nomor panti asuhan nya."


"Kau banyak alasan." Ketus Ana.


"Sayang."


"Diam! Jika kau tidak diam, lebih baik aku turun disini." Ancam Ana.


Ray diam, mengalah pada isteri nya yang entah kenapa tiba-tiba kesal hanya karena hal seperti itu. Ya, Ray harus memaklumi sikap Ana untuk beberapa bulan kedepan.


•••


"Kau bisa menurunkanku di halte bus itu." Ucap Miya pada Alex.


"Aku sudah berjanji akan mengantarmu sampai tujuan, jika Ana tau aku tidak menepati janjinya, dia akan marah padaku."


Miya tersenyum,


"Terimakasih." Ucap Miya.


"Kau..apa kau memiliki hubungan khusus dengan assisten Yohan?" Tanya Alex yang sebenarnya sudah sangat penasaran sejak tadi.


"Hubungan khusus? Apa hubungan seperti kakak dan adik bisa di katakan hubungan khusus?"


"Kakak dan adik?" Tanya Alex.


Miya mengangguk,


"Ya, kak Yohan menganggap ku seperti adiknya sendiri." Jawab Miya.


"Hanya sebagai adik? Tidak lebih?"


Miya kembali menampilkan senyumannya, tapi kali ini ada semburat kesedihan di wajahnya.


"Aku tidak bisa berharap lebih dari itu." Jawab Miya lesu.


Ah, jadi dia menyukai si Yohan itu. Tapi, Yohan hanya menganggap nya adik. Ck, bukankah si Yohan itu terdengar seperti pria jahat juga.  — batin Alex.


"Sejak kapan kau mengenalnya?" Tanya Alex lagi.


"Eng, sejak kecil. Dia dan ibunya sering berkunjung ke panti asuhan dimana aku tinggal." Jawabnya.


"Kau dari panti asuhan?"


"Yah begitulah. Aku seorang yatim piatu, tidak memiliki keluarga. Bukankah nasibku terlihat seperti orang menyedihkan." Ucap Miya.


Alex hanya diam, ia tak enak hati karena sudah bertanya sesuatu yang membuat perempuan itu tampak sedih.


"Kau bilang tadi mengenal assisten Yohan sejak kecil?" Tanya Alex yang kembali bersuara setelah diam beberapa saat.


"Iya."


"Jadi apakah kisah kalian akan sama seperti kisah kak Ray dan Ana? Ck, sungguh kebetulan yang aneh." Ucap Alex pada dirinya sendiri.


"Tuan Ray dan istrinya itu juga saling mengenal sejak kecil?" Tanya Miya yang mendengar ucapan Alex.


"Em, begitulah. Tapi kisah cinta mereka tidak semulus yang kau pikirkan. Banyak batu terjal yang harus mereka hadapi." Kata Alex.


"Seperti itu ya." Gumam Miya.


"Apa?"


"Tidak, hanya saja itu sedikit memberikan ku motivasi untuk terus berusaha dan berjuang."


"Kau terlihat sangat menyukai assisten Yohan." Ujar Alex.


"Apa terlihat begitu jelas ya?"


Alex hanya bedecak dan tersenyum menanggapinya.


"Tapi walaupun kalian sudah saling mengenal sejak kecil, bukan berarti kalian adalah pasangan yang sudah di takdirkan. Apalagi assisten Yohan telah menganggap mu sebagai adiknya. Perasaan seperti itu sulit di ubah. Pikirkan saja, bagaimana mungkin kita bisa mencintai seseorang yang sudah seperti adik sendiri." Kata Alex.


Miya menundukkan kepalanya, kembali murung.


"Tapi, jika tuan Ray dan istrinya bisa bersatu, kenapa aku tidak?" Tanya Miya.


"Karena itu sudah garis takdir yang sudah ditentukan oleh tuhan pada mereka berdua. Lagipula, mereka sempat terpisah beberapa tahun lamanya. Perasaan yang mereka rasakan sejak pertama kali bertemu juga beda. Keduanya sama-sama saling suka. Berbeda denganmu yang hanya cinta satu pihak."


Miya terlihat menyeka sudut matanya, perempuan itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Maaf jika perkataanku terlalu berlebihan." Ujar Alex.


"Ah tidak, tidak masalah. Oh iya, berhenti saja di depan sana."


"Aku akan mengantarmu sampai di depan rumahmu." Kata Alex.


"Aku tinggal di rumah atap itu." Miya menunjuk salah satu rumah di atas atap.


"Ou begitu."


Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Berhenti disini?"


"Em, sekali lagi terimakasih." Ucap Miya, ia turun dari mobil Alex.


"Hm."


"Hati-hati dijalan, sampai jumpa." Ujar Miya saat mobil Alex kembali memasuki jalan raya dan melaju pergi untuk pulang ke rumah.


"Dia mengatakan sampai jumpa, seolah kami akan bertemu kembali, ck." Gumam Alex.


•••


Ray dan Ana sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Istrinya itu masih terlihat mendiamkannya.


Ana langsung masuk ke rumah tanpa berbicara apapun pada suaminya, ia berjalan menaiki tangga dan mengabaikan panggilan dari Ray.


"Apa ada masalah?" Tanya ibu tiri Ray, saat melihat tingkah pasangan suami-istri itu.


"Dia memang selalu seperti itu semenjak hamil anak kami." Jawab Ray.


"Aaaa begitu ya. Itu hal yang wajar, dia bisa menjadi orang yang sangat sensitif karena hormonnya. Kau harus sabar, lagipula dia sedang mengandung anakmu." Nasehat ibu tirinya.


"Iya, aku tahu."


Ibu tirinya itu tersenyum, ia mengusap pelan bahu anak tirinya itu.


"Kau pasti bisa, berjuanglah."


Ray mengangguk dan berlalu menaiki tangga untuk menyusul Ana.


Belum lama Ray pergi. Alex masuk ke dalam rumah. Ibu dan anak itu saling bertatapan.


"Aku pulang." Ucap Alex, menatap ibunya canggung.


Ibunya itu terlihat menghela napas dan berlalu pergi mengabaikan pria itu. Namun kemudian ia mengehentikan langkahnya sejenak.


"Mandi dan datanglah ke ruang makan, kita akan makan malam bersama. Cepatlah, jangan membuat semua orang menunggu terlalu lama." Ujar sang ibu tanpa menoleh pada Alex yang ada di belakangnya.


Alex tersenyum mendengarnya, kata-kata itu tak lain adalah sebuah perhatian sang ibu padanya. Ia sangat senang, akhirnya ibunya itu sedikit membuka hati untuk memaafkannya.


"Iya, aku akan segera mandi dan setelah itu pergi ke ruang makan." Jawab Alex dengan senyum semangat. Pria itu kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


Calista, ibu Alex tampak menampilkan senyumannya melihat reaksi Alex yang begitu senang dan memiliki semangat hidup kembali.