
Siang itu, Ana berniat untuk mengantarkan makan siang untuk Ray.
Entah apa yang telah membuat dirinya sangat ingin melakukan itu. Padahal biasanya ia malas sekali, sekalipun Ray memintanya.
Tapi, kali ini dengan keinginannya sendiri ia datang ke kantor Ray membawakan makan siang untuk suaminya itu.
Ana berjalan memasuki gedung perusahaan. Gadis itu melangkah menuju meja resepsionis yang ada di bagian dalam lobby utama perusahaan itu.
Ana tersenyum membalas sapaan ramah dari salah satu staf resepsionis.
"Permisi, bisakah kau memberi tahuku dimana ruangan presiden direktur?" Tanya Ana pada salah satu staf resepsionis itu.
"Maaf bu, apakah anda sudah membuat janji bertemu sebelumnya?" Tanyanya.
"Belum." Jawab Ana.
"Tunggu sebentar ya bu, saya akan menghubungi sekertarisnya, apakah presdir sedang sibuk atau tidak." Ujar staf itu.
"Eh, kenapa harus bertanya pada sekertarisnya terlebih dulu? Saya hanya ingin tahu di lantai berapa ruangan presiden direktur, bukan ingin membuat janji temu dengannya." Kata Ana, tiba-tiba ia merasa kesal saja.
"Maaf bu, tapi tidak semua orang bisa bertemu Presdir, saya harus mengikuti prosedur yang telah di berlakukan di perusahaan ini." Jawab staf itu dengan sopan.
Ana menghela nafasnya, ia tahu jika staf ini hanya mengerjakan tugasnya, kenapa dirinya harus merasa kesal.
"Ya baiklah, telepon saja sekertarisnya." Ujar Ana.
Ana masih berpikir kalau sekertaris Ray adalah Yuna, perempuan itu belum tahu kalau Ray telah memecatnya dan mengisi posisi sekertarisnya dengan sekertaris baru.
Aku hanya malas saja bertemu dengan perempuan sialan itu lagi. Hah, merepotkan sekali. Ingin mengantarkan makan siang saja harus se-repot ini. Lagipula kenapa aku tiba-tiba ingin mengantarkan makanan padanya? Kau ini aneh sekali Ana, padahal ini baru saja pukul sebelas. Pukul sebelas itu siang hari atau masih pagi hari ya? — Ujar Ana yang terus mengoceh di dalam hatinya.
"Maaf bu, sekertarisnya bilang bahwa Presdir sedang sibuk dan tidak ingin ada yang menggangunya." Ujar staf itu setelah selesai menelpon sekertaris baru Ray.
"Kalau begitu langsung beritahu saja padaku dilantai berapa ruangan Presdir." Kata Ana.
"Maaf bu, tapi— "
Ana mengangkat tangannya, menyuruh staf itu berhenti berbicara. Gadis itu menghela napasnya dalam-dalam, ia kemudian mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan mulai menghubungi assisten Yohan.
"Halo, nona Ana? Ada perlu apa menghubungi saya?" Tanya Yohan sesaat setelah ia mengangkat panggilan telepon dari Ana.
"Ah maaf mengganggu waktu liburmu. Bisakah aku meminta tolong padamu?
"Katakan saja, apa yang bisa saya bantu nona?" Tanya Yohan.
"Aku ingin mengantarkan makanan untuk Ray, tapi sepertinya aku tidak tahu dilantai berapa ruangannya." Ujar Ana, ia mengatakan itu sambil menatap balik para staf resepsionis yang melihatnya.
"Anda bisa menanyakannya langsung pada resepsionis yang ada di sana, nona****."
"Ck, kalau aku bisa mendapatkan jawaban dari mereka, pasti aku tidak akan menghubungimu." Ujar Ana.
Dari seberang sana, Yohan tampak mengerti situasi Ana saat ini. Ia pasti dipersulit untuk bertemu dengan Ray. Apalagi gadis itu sebelumnya belum pernah datang ke perusahaan Ray.
Dan juga, tentang pernikahan mereka, hanya para jajaran eksekutif seperti direktur, manajer dan para assisten mereka atau sekertaris mereka yang mengetahui siapa Ana.
"Nona, berikan ponsel nona pada staf resepsionis. Biarkan saya yang berbicara pada mereka." Ujar Yohan.
"Tidak perlu, kau katakan saja padaku secara langsung, lantai berapa ruangan Ray?"
"Baik nona, ruangan tuan Ray ada di lantai lima belas. Anda harus naik lift khusus eksekutif jika ingin pergi ke lantai itu. Karena, lift biasa sudah diatur untuk tidak bisa berhenti di lantai itu." Ujar Yohan.
"Ah begitu, iya baiklah. Terimakasih." Ucap Ana, ia langsung mematikan panggilannya. Sekilas ditatapnya para staf resepsionis itu, lalu kemudian ia berjalan menuju pintu lift.
Saat sampai di depan pintu lift, Ana bingung harus masuk lift yang mana, karena ada dua pintu lift, ia juga tidak tahu, mana lift eksekutif dan mana lift biasa. Gadis itu mengehela nafasnya lagi.
Aku hanya ingin mengantar makan siang untuk suamiku! Kenapa susah sekali rasanya hah!
Gadis itu berbalik dan menghampiri meja resepsionis lagi.
"Yang mana lift khusus eksekutif?" Tanya Ana langsung.
"Maaf bu, tapi tidak semua orang boleh menggunakannya."
"Jika aku tidak menggunakannya maka aku tidak bisa sampai ke rua— "
"Ana?!" Panggil seseorang dari belakang Ana.
"Alex!" Balas Ana. Ia membalikkan badannya dan menunggu Alex mendekat.
Saat pria itu mendekati meja resepsionis, para staf membungkuk hormat padanya. Ana berdecih kesal ketika melihat hal itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Alex.
Ana menunjukkan paper bag berisi kotak makanan yang di bawanya.
"Ah, aku iri pada kakakku itu." Ujar Alex. Ana hanya tersenyum menanggapi.
"Tapi Alex, bisakah kau membawaku ke ruangan Ray? Aku tidak bisa kesana." Kata Ana, ia seperti sedang mengadukan kesulitannya pada Alex.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya pria itu, tapi kemudian ia melirik pada para staf resepsionis dan mulai paham kenapa Ana kesulitan untuk pergi kesana.
"Ah— pasti kau dipersulit ya."
Alex berjalan mendekati meja resepsionis itu dan menatap satu persatu wajah staf yang ada disana.
"Aku akan mengingat wajah kalian dan melaporkan pada Presdir karena telah mempersulit istrinya untuk bertemu dengan Presdir." Ujar Alex skakmat. Terlihat wajah tiga staf resepsionis itu tampak terkejut dan takut. Mereka langsung menghampiri Ana dan membungkuk meminta maaf di depan gadis itu.
"Maafkan kami bu, kami tidak mengetahui hal itu. Kami mohon maafkan kami dan jangan meminta Presdir untuk memecat kami." Pinta salah satu staf yang mewakili dua staf lainnya.
Ana menghembuskan nafas beratnya. Ini semua bukan kesalahan mereka sepenuhnya jika mereka tidak tau dirinya adalah istri atasan mereka. Tentu Ana tidak akan terlalu mempermasalahkan hal ini.
"Tidak masalah, kalian tidak perlu meminta maaf." Ujar Ana dengan ramah. Ketiga staf itu terlihat bernapas lega mendengarnya.
"Terimakasih bu, terimakasih." Kata ketiga staf itu.
Jika mereka bertugas seperti ini terus, bukankah itu bagus kalau ada perempuan lain yang datang ingin menemui Ray dan dipersulit seperti ini. Aku justru harus berterimakasih pada mereka. - batin Ana.
"Ayo ikuti aku. Aku akan mengantarmu menemuinya, siapa tahu aku juga bisa mendapatkan sedikit makanan itu." Ujar Alex, tangannya menunjuk paper-bag berisi kotak makanan itu.
"Iya. Baiklah, lagipula aku juga membawanya sedikit banyak." Ucap Ana.
Alex tersenyum senang, lalu kemudian mulai berjalan menuju lift khusus eksekutif.
Pria itu membuka pintu lift dan masuk kedalamnya, Ana pun ikut masuk kedalam setelah Alex.
Alex menutup pintu lift dan kemudian menekan angka lima belas. Lift itu meluncur cepat ke lantai yang dituju.
Tak lama pintu lift itu terbuka.
"Ayo." Ucap Alex. Ana terus mengikuti Alex yang berjalan menuju ke ruangan Ray yang ada dilantai itu.
Saat melewati meja sekertaris, Ana mengernyitkan keningnya, meja itu kosong. Biasanya sekertaris tidak akan pergi jika atasan mereka masih ada diruangan. Kecuali, Ray pergi dan tidak ada di dalam.
Ana menghela napasnya lesu,
"Aku rasa Ray tidak ada didalam." Ujar Ana membuat Alex menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau katakan? Hari ini— seingatku tidak ada rapat, meeting ataupun briefing. Jadi pasti kak Ray ada di dalam." Kata Alex.
"Tapi lihatlah, meja sekertarisnya saja kosong." Ujar Ana.
"Benar juga. Ah mungkin dia sedang mengambil sesuatu atau apalah. Kita masuk saja dulu."
Ana mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya mengikuti Alex yang sudah membuka pintu ruang Presdir itu.
Saat masih fokus melangkah dengan wajah tertunduk lesu, Ana tak sengaja menabrak punggung Alex yang berhenti mendadak di depannya.
"Aw— ada apa Al— Ray?" Ucapan Ana terputus dan berbalik memanggil nama Ray.
Ia menatap Ray marah, bagaimana tidak. Pria itu saat ini sedang di pijat bahunya oleh seorang perempuan.
Ray awalnya tersenyum senang melihat Ana, tapi saat ingat keadaannya sekarang, ia langsung berdiri tegak dan menjauhkan diri dari perempuan yang sebenarnya adalah sekertaris barunya.
"Ana duduklah, aku bisa menjelaskannya. Kau jangan salah paham ya."
Ana berjalan menghampiri Ray dan memberikan langsung paperbag berisi kotak makanan itu pada suaminya.
Setelah memberikannya, Ana langsung berbalik dan pergi begitu saja dari ruangan Ray.
"Ana, tunggu." Panggil Ray, tapi gadis itu tak mendengarkan panggilannya. Bukannya tak mendengar, tapi pura-pura tidak mendengar dan lebih tepatnya mengabaikan suara suaminya itu yang terus saja memanggil namanya.