The Destiny

The Destiny
Satu Keping Puzzle



Yohan melihat foto-foto hasil dari cctv yang dicetak. Ia memasukkan beberapa foto itu kedalam map berwarna cokelat.


"Apa ini sudah semuanya?" Tanya Yohan pada anak buahnya.


"Iya bos, tapi bos— ada sesuatu yang harus bos lihat dari kamera cctv area jalan raya dekat taman pohon itu."


"Apa?"


"Di cctv itu terekam dua anak perempuan bertengkar, tapi sepertinya itu lebih ke pembulian. Seorang anak perempuan yang terlihat lebih tua mendorong anak perempuan yang lebih kecil ke arah jalan raya, lalu anak perempuan yang di dorong itu terjatuh dan tertabrak mobil."


"Apa hal seperti itu penting untuk dibicarakan? Pergilah!" Ujar Yohan, ia mengibaskan tangannya, menyuruh anak buahnya itu pergi dari ruangan.


"Tapi bos, masalahnya adalah—"


"Kau tuli ya?! Aku bilang pergi!" Bentak Yohan, Anak buahnya pun berlari keluar ruangan itu.


Yohan memijat pelipisnya, selama hampir satu bulan ini ia berjuang mati-matian untuk menyelesaikan tugas utamanya sekarang.


Akhirnya, kini ia dapat satu keping petunjuk, Yohan berniat melaporkan kemajuan pencariannya tentang Angel kepada tuannya. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Ray.


Tuan, saya mendapatkan satu celah untuk menemukan nona Angel. Bisakah saya menemui tuan sekarang?


Tak lama pesan itu terkirim, notifikasi panggilan masuk dari Ray muncul pada layar ponsel Yohan, ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Datanglah ke rumahku sekarang, aku menunggumu di ruang kerja." Ujar Ray, setelah mengatakan itu, Ray langsung menutup panggilannya.


Yohan bergegas mengambil kunci mobilnya, ia pergi kerumah Ray untuk memberitahu Ray tentang hasil pencariannya.


Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan sangat sepi karena sudah larut malam, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.


Sesampainya di rumah Ray, assisten pribadi Ray itu langsung masuk ke dalam. Sebagai assisten pribadi, tentu saja ia punya akses mudah untuk keluar-masuk ke dalam rumah tuannya tanpa mengetuk pintu.


Assisten Yohan langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Ray, ia membuka ruangan itu. Disana Ray terlihat sedang duduk sembari membaca buku.


Ray tersenyum ke arah Yohan,


"Bagaimana kabarmu setelah lama tidak bertemu denganku?" Tanya Ray.


"Saya baik-baik saja tuan." Jawab Yohan.


"Duduklah."


Assisten Yohan pun duduk bersebrangan dengan Ray.


Ray meletakkan bukunya di meja, kemudian melihat Yohan yang terlihat serius, membuat Ray terkekeh kecil. Ia baru sadar, assistennya itu sangat kaku, atau mungkin— karena ia yang kurang berbaur dengan Yohan.


"Jadi apa yang kau temukan?" Tanya Ray.


Yohan mengambil map cokelat dari tas kerjanya. Ia menyerahkan map itu kepada Ray.


"Ini foto-foto yang saya cetak dari kamera cctv di sekitar area taman pohon. Disitu ada beberapa foto anak perempuan yang sering datang setiap akhir pekan dan terlihat selalu bersama ibunya. Membutuhkan waktu lama untuk mencari dan memulihkan data yang sudah lewat delapan belas tahun lebih. Karena itu saya baru bisa mendapatkannya sekarang. Maafkan saya tuan."


Ray melihat foto-foto yang ada di dalam map itu, ia terlihat mengecek satu-persatu foto yang berjumlah sekitar dua puluh lembar lebih itu.


"Tidak masalah, lagipula kau sudah berusaha keras." Ujar Ray.


"Iya tuan, terimakasih."


Ray berhenti pada salah satu foto, ia menatapnya lekat.


Foto itu menampilkan seorang wanita paruh baya yang sedang memeluk seorang anak perempuan. Namun sayangnya wajah anak perempuan itu tidak terlihat karena membelakangi kamera.


Tapi, wajah sang wanita paruh baya itu— Ray sangat mengenalinya, itu ibu Angel.


Seorang wanita yang seperti ibunya sendiri, wanita itu selalu hangat dan ramah padanya, ia bahkan menyuruh Ray memanggil dirinya mama. Bagaimana mungkin Ray melupakan wajah itu.


"Aku menemukannya, walaupun wajahnya tidak terlihat, tapi wajah ibunya, aku mengingatnya dengan jelas." Ujar Ray.


"Apa tuan ingat nama ibunya?"


"Andaikan aku ingat sejak dulu, aku akan mencari ibu Angel dan bisa menemukan Angel lebih cepat."


"Maaf atas pertanyaan bodoh saya tuan." Ucap assisten Yohan.


"Apa kau memiliki gambar lain yang berhubungan dengan anak perempuan ini?" Ray menunjukkan foto yang dilihatnya tadi. Assisten Yohan tampak berpikir sejenak, kemudian ia seperti mengingat sesuatu dan mengeluarkan foto lain dari dalam tas kerjanya.


"Ini foto-foto yang saya pikir tidak berguna, tapi sepertinya ada satu foto yang ada anak perempuan itu tuan. Ah ini dia."


Assisten Yohan menunjukkan foto anak perempuan dengan baju yang sama di foto yang Ray tunjukkan tadi. Di foto itu, terlihat seorang anak perempuan sedang masuk kedalam mobil berwarna hitam.


"Tuan, bukankah dalam foto itu terlihat kalau anak perempuan itu memiliki pengawalan yang ketat. Apalagi dia masuk ke dalam mobil itu, jika kita memutar waktu, saat itu, mobil yang dia naiki adalah mobil dengan harga eksklusif. Dia pasti dari keluarga kaya."


Ray mengernyitkan keningnya, ia tidak pernah melihat Angel di dampingi para pengawal saat sedang bermain dengannya, dan juga, sepertinya Angel dari keluarga kalangan menengah ke atas, bukan dari keluarga super kaya.


"Bukankah itu mobil keluaran baru perusahaan Ussa pada tahun itu. Tahun? Tunggu! Itu tahun dimana aku ingin mengucapkan perpisahan pada angel karena harus keluar negeri untuk pengobatan ibuku." Ucap Ray yang baru menyadari merk dagang mobil itu dan tahun pada foto itu.


"Ah anda benar tuan, itu mobil dari perusahaan Ussa." Ujar assisten Yohan.


"Aku sebenarnya tidak yakin dia Angel atau bukan, tapi aku yakin sekali jika itu ibu Angel. Jadi dengan kemungkinan ini, dia pasti Angel. Tapi kenapa dia masuk ke dalam mobil itu?"


Ray mengehela nafasnya, satu pertanyaan terjawab, pertanyaan lain muncul.


"Tuan, jika dilihat baik-baik, plat mobil ini sepertinya mobil yang di buat khusus, ini seperti mobil yang hanya dimiliki oleh pemegang jabatan tertinggi perusahaan Ussa." Ujar assisten Yohan.


Ray melihat lagi mobil itu, assistennya memang benar, plat mobil yang seperti itu, berarti mobil itu seharusnya belum ada dipasaran pada saat itu dan masih benilai limited edition.


"Yohan, coba kau cari tahu siapa saja yang memiliki mobil ini pada tahun itu, tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan, aku akan tetap menunggu laporan darimu." Ujar Ray.


"Baik tuan."


"Kau boleh pergi dan beristirahatlah."


"Iya tuan. Saya permisi" Assisten Yohan berdiri, lalu kemudian melangkah menuju pintu keluar ruangan kerja Ray.


"Yohan." Panggil Ray, membuat assisten Yohan menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap ke arah tuan-nya itu.


"Iya tuan."


"Terimakasih." Ucap Ray.


"Eh?"


"Terimakasih karena sudah tetap ada di sisiku selama ini. Keburukan apapun yang orang lain katakan tentangmu, aku— tetap akan percaya padamu." Ujar Ray dengan tulus.


Yohan menatap Ray heran, sebenarnya apa yang terjadi pada tuannya? Kenapa pria itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengharukan hatinya.


"Tuan, bagi saya tidak ada tuan selain tuan Ray. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap berdiri disamping tuan. Sekalipun tuan meninggalkan saya, saya akan tetap menunggu tuan sampai anda menghampiri saya kembali." Ucap assisten Yohan.


Ray mengangguk paham dan tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi, tuan Raymond." Ucap Yohan, kemudian berbalik dan membuka pintu ruangan kerja itu, lalu ia keluar dari ruangan itu.


Ray menatap kepergian assisten nya itu dengan raut wajah penuh syukur. Ia sangat bersyukur memiliki Yohan yang terus setia padanya. Sebuah kebaikan kecil yang ia berikan pada Yohan dulu, ternyata dapat memberinya balasan yang lebih besar.


Ray kembali menatap foto itu, ia tersenyum lebar, rasa semakin senang menjalar ke dalam hatinya.


Akhirnya~