
Love is the remedy~
Eventually you will come to realize that love heals everything, and love is all there is. – Gary Zukav
•••
"Duduk." Ana mendorong bahu Ray kebawah agar pria itu duduk di sofa kamar mereka.
"Ana, aku tidak sakit." Ujar Ray, pria itu sejak tadi terus mencoba meyakinkan istrinya, bahwa dirinya baik-baik saja.
"Diamlah, ayo sini, aku akan memijatmu." Ucap Ana, ia mengambil posisi duduk di samping Ray.
"Tidak perlu. Percayalah, aku baik-baik saja."
Ana mencebik kesal, ia menatap suaminya itu sinis.
"Kau tidak suka aku memijatmu ya?!"
"Bukan begitu Ana."
"Sudahlah, aku tidak ingin bicara denganmu." Ana ingin bangkit dari duduknya, tapi Ray menahan lengannya
"Tunggu!" Ray mengehela napasnya sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Sayang, tolong pijat bahuku, aku lelah."
Ana menatapnya malas, gadis itu mensedekapkan tangannya.
"Aku tidak berselera untuk memijatmu lagi, cari saja wanita lain untuk memijat tubuhmu itu. Kau pasti lebih suka."
Setelah mengatakan itu, ia berlalu menjauhi Ray, gadis itu berjalan ke arah tempat tidur.
Melihat istrinya yang sepertinya telah memasuki mode yang sulit di pahami, Ray menghela napasnya berat.
Perlahan ia berjalan mendekati Ana yang terbaring miring memunggunginya.
"Ayolah Ana, kita baru saja berdamai, apa sekarang harus bertengkar lagi? Kau belakangan ini sangat sensitif sekali, kau ini sedang menstruasi ya?"
Ray menyentuh lengan Ana,
"Sayang~ " Panggil Ray dengan nada yang mendayu-dayu ditelinga gadis itu.
Sial, kenapa memanggilku seperti itu. Suaranya terdengar menjijikan tapi entah kenapa aku suka. - batin Ana, diam-diam ia mengulas senyumannya mendengar Ray yang terus memanggilnya seperti itu. Sayang~
"Sayang, aku tau kau mengkhawatirkan ku, tapi sungguh, aku tidak apa-apa." Ujar Ray.
"Pergilah." Ujar Ana.
Tetaplah disini dan terus merengek padaku, suamiku. - batinnya itu sangat bertentangan dengan apa yang ia katakan langsung pada Ray.
Terdengar suara helaan napas berat dari suaminya itu. Ray beranjak dari sisi Ana, sepertinya pria itu pasrah dan ingin keluar dari kamar untuk menuruti perkataan istrinya.
Eh? Dia akan pergi begitu saja?! Dasar bodoh, jangan pergi! Apa kau tidak mendengarkan suara hatiku ini?! Aku melarangmu melangkah keluar dari kamar. Ray!
Hati gadis itu terus berteriak melarang Ray pergi. Tapi, bagaimana mungkin pria itu mendengarnya.
Mulut Ana pun tak ingin mengutarakannya langsung, semua itu karena rasa gengsi yang menguasai dirinya.
"Keluarlah! Tapi, setelah itu selamanya kita tidak akan pernah satu kamar lagi." Ana mengatakan semua itu tanpa menoleh sedikitpun pada Ray, dirinya tidak ingin terlihat secara terang-terangan, bahwa ia menginginkan pria itu agar tetap bersamanya.
"Siapa yang akan pergi keluar dari kamar? Aku ingin ke kamar mandi." Ujar Ray, pria itu kemudian berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di sudut kamar mereka.
Ana membalikkan badannya dan menoleh ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
Astaga! Ana bodoh! Aaa aku malu~
Gadis itu mengumpati dirinya sendiri, ia bahkan juga merengek di dalam hatinya.
•••
Mobil hitam milik Alex akhirnya masuk ke pekarangan rumah keluarga Rachel.
Pria itu terlambat mengantarkan Rachel pulang dari waktu yang seharusnya.
Entah apa yang merasuki pikiran Alex, setelah Ana pergi dan dia sendirian yang harus mengantarkan Rachel pulang. Ia tiba-tiba tanpa sadar melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan kebutuhan bayi.
Saat itu, Rachel pun bingung dengan apa yang ada di kepala pria itu. Kenapa Alex membawanya ke tempat yang bahkan tidak ada satupun barang yang berhubungan dengan kebutuhan pria itu.
Sebenarnya, Rachel sudah menolak ajakan Alex untuk membelikan kebutuhan bayi. Taoi pria itu terus saja memohon padanya agar tidak menolak kebaikan dirinya."
"Terimakasih ya, kau bahkan sampai repot-repot membeli barang-barang kebutuhan Nana sebanyak ini. Aku memang terlihat menyedihkan, selalu saja mendapatkan semuanya secara gratis dari orang lain. Tapi aku juga bersyukur, karena masih ada yang merasa kasihan pada orang seperti ku." Ujar Rachel, raut wajahnya beberapa kali berubah, awalnya ia tersenyum tulus, lalu terlihat sedih dan terakhir ia kembali mengulas senyum syukurnya.
Alex menatap wajah perempuan itu tanpa ekspresi, ia menolehkan kepalanya saat Rachel balas menatap ke dalam manik matanya.
"Hm, sama-sama." Ucap Alex seadanya, pria itu tak pernah mampu berkata banyak saat ia berada di dekat perempuan yang pernah menjadi penghangat malamnya.
Lagipula, hanya itu yang bisa aku berikan padamu. Maaf.
Alex menarik napasnya dalam-dalam, tatapannya kini terfokus pada bayi perempuan yang masih tertidur pulas dalam dekapan Rachel.
Jika dilihat lebih teliti, genetik dari pria itu, ada yang melekat pada wajah baby Nana. Bentuk mata mereka sama persis.
Tanpa sadar, Alex tersenyum memandangi putri biologisnya itu.
"Apa kau ingin mampir sejenak?" Tanya Rachel.
Fokus Alex terpecah oleh suara Rachel yang memasuki pendengarannya.
"Ah tidak tidak, aku harus pergi ke kantor." Tolak Alex.
"Begitu ya, kalau begitu hati-hati, dan sekali lagi, aku sangat berterimakasih. Eng..tapi, sebelum kau pergi, bisakah membantuku membawa semua barang-barang belanjaan ini ke dalam?"
Alex mengangguk,
"Iya, tentu." Pria itu kemudian keluar dari bagian kemudi mobil, lalu ia mengambil barang-barang belanjaan yang ada di bagian tengah mobilnya.
"Ke kamarku." Jawab Rachel, gadis itu melangkah memasuki rumah, ia berjalan menuju kamarnya, di belakang Rachel, Alex masih terus mengekorinya sampai ke kamar perempuan itu.
Sampainya dikamar, Rachel meletakkan Nana di atas kasur, ia kemudian mengambil beberapa plastik dan paper bag yang di bawa oleh Alex.
"Terimakasih."
"Tidak masalah, tapi bisakah kau berhenti berterimakasih, aku tidak nyaman mendengarnya." Ujar Alex sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh maaf, aku tidak bermaksud begitu."
"Iya. Eng.. kalau begitu aku langsung pergi ya, aku harus ke kantor sekarang." Kata Alex.
"Ah iya, silahkan. Tapi maaf, aku tidak bisa mengantarkanmu sampai depan rumah." Ucap Rachel, tatapannya terarah pada Nana yang tertidur pulas di atas kasur.
"Santai saja, itu bukan masalah bagiku."
Rachel tersenyum,
"Iya."
"Aku— pergi ya. Sampai jumpa." Ujar Alex. Pria itu berlalu pergi dari depan kamar Rachel.
"Em, sampai jumpa." Balas Rachel, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.
•••
Ray keluar dari dalam kamar mandi. Terlihat Ana sedang berdiri di balkon kamar mereka.
Pria itu melangkah pelan mendekati Ana, berharap gadis itu tidak mendengar derap langkah kakinya. Ray berniat ingin melakukan back-hug pada istrinya, memeluk Ana dari arah belakang.
Tapi sayang, gadis itu sudah tahu jika suaminya sedang berada di belakangnya, dalam hati Ana ia mengharapkan Ray memeluknya dari belakang dengan mesra seperti di film-film romansa yang biasa dilihatnya.
Lama Ana menunggu, akhirnya harapannya terkabul. Ray memeluknya hangat dari arah belakang.
Seutas senyuman lebar terukir di wajah mereka.
"Apa yang sedang kau lihat?" Tanya Ray, seperti biasa, pria itu membenamkan wajahnya ke tengkuk leher Ana, menghirup aroma tubuh istrinya itu.
"Kau ingin tau apa yang sedang aku lihat?"
"Iya."
Ana menatap mata suaminya itu sejenak, kemudian ia menjawabnya.
"Langit, awan, matahari dan~"
"Apa? Dan apa?" Tanya Ray.
"Dan priaku."
"Apa?! Priamu?!" Ray mendongakkan kepalanya, lalu ia mengoreksi kembali semua yang sebelumnya dilihat oleh istrinya itu.
Ana menahan senyumnya melihat tingkah suaminya yang masih belum mengerti maksud ucapannya.
"Dimana orang yang kau sebut pria-mu itu?" Tanua Ray kesal.
"Kau tidak melihatnya?"
Ray berdecih kesal, ia mengalihkan pandangannya dari istrinya itu.
"Ray." Panggil Ana. Tapi, pria itu diam dengan bibirnya yang tanpa sadar ia manyunkan.
Ana tersenyum geli melihatnya, perlahan ia mendekat ke arah Ray. Gadis itu mengarahkan tubuh Ray menghadapnya.
"Tatap mataku." Pinta Ana.
Dengan hembusan napas yang menyisakan rasa kesalnya, Ray menatap mata istrinya itu.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Ana saat Ray masih melihat matanya.
"Bola matamu." Jawab Ray.
"Lihat lagi lebih dalam."
Ray lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Ana, ia menatap dalam manik mata gadis itu. Tampak bayangan dirinya sendiri terlihat disana.
"Aku."
"Apa?" Ana ingin Ray mengulangi ucapannya lagi.
"Bayangan diriku terlihat di matamu."
"Itulah pria-ku." Ujar Ana.
Ray terperangah mendengar rayuan maut dari istrinya itu. Rasanya tubuhnya seperti sedang di rebus, panas.
"Kau sedang menggodaku ya."
Ana mengernyitkan keningnya, kemudian menggeleng.
"Tidak." Jawab Ana dengan raut polosnya.
Ray mengehela napasnya, pria itu memiringkan kepalanya dan mengecup lembut bibir ranum istrinya itu.
"Ray, walaupun aku tidak melihatmu dengan mataku, tapi aku selalu melihatmu dengan hatiku." Ucap Ana setelah melepaskan ciuman itu dari suaminya.
"Berhenti menggodaku." Ujar Ray.
"Aku tidak menggodamu, aku sedang mengutarakan isi hatiku." Jawab Ana dengan kejujuran yang sebenarnya.
"Perkataanmu itu membuatku gemas sampai ingin memakanmu hidup-hidup." Canda Ray, membuat istrinya itu tertawa mendengarnya.