The Destiny

The Destiny
Dua Garis Merah



Kicauan burung menghiasi pagi yang cerah. Senyuman bahagia terukir di wajah Ray, tak henti-hentinya ia menatap wajah istrinya yang masih tertidur pulas.


Perlahan mata Ana terbuka, kemudian tersenyum manis, melihat wajah suaminya yang tampak bersinar mempesona.


"Selamat pagi." Ucap Ray.


Ana menatapnya, kemudian menarik tengkuk leher Ray, mendekatkan wajah mereka. Dalam sekejap, Ana mengecup pipi Ray sekilas.


"Akhir-akhir ini kau terlihat aktif sekali." Ujar Ray.


Yah, belakangan ini, kedua orang itu seperti bertukar jiwa. Ray yang dulu lebih mendominasi Ana, sekarang sebaliknya, Ana yang lebih mendominasi Ray.


Ana yang selalu aktif menggoda Ray, Ana yang selalu bersikap tegas dan suka memerintah, aura yang Ray miliki dulu, sekarang melekat pada diri Ana.


Sedangkan, suaminya itu. Ia menjadi pria yang penurut dan hanya bisa pasrah dengan semua kehendak Ana. Jika diperhatikan baik-baik, sifat Ray sekarang itu, seperti sifat Ana dulu, terlalu lemah dan lembut. Bahkan saking terlalu baik, ia pernah terlambat rapat direksi, hanya karena menolong seekor kucing yang terjebak di tengah jalan. Bukankah, itu sifat Ana dulu.


"Ck, jika tidak suka, aku tidak akan memberimu bibir berhargaku ini lagi." Ucap Ana.


"Hei, aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius seperti itu." Kata Ray.


"Ya ya aku tahu." Jawab Ana.


"Kau akan pergi bekerja?" Tanya Ana, ia melihat Ray sudah memakai pakaian kantornya dan juga dasi yang telah melekat di kerah baju pria itu.


"Hm." Ray menganggukkan kepalanya.


"Kau lupa? Hari ini, hari apa?"


"Sabtu, yaaa aku tau ini akhir pekan. Tapi, aku harus tetap bekerja. Kemarin aku pulang cepat dan belum menyelesaikan semua dokumen yang harus aku tanda tangani."


Dia pandai berpura-pura lupa. Padahal dirinya itu sudah mempersiapkan perayaan pernikahan kita. Untung saja, assisten Yohan tidak sengaja memberitahu ku, jadi aku hanya akan berpura-pura marah juga padanya.


Ana mengulum senyumnya, menatap Ray, siap untuk berperan menjadi orang yang marah pada suaminya karena melupakan hari perayaan pernikahan mereka yang pertama.


"Ternyata kau lupa." Ujar Ana, wajahnya tampak muram, padahal hatinya saat ini sedang mengadakan party kebahagiaan.


"Apa yang aku lupakan?" Tanya Ray.


Mereka itu sekarang adalah pasangan yang saling berpura-pura tidak tau. Bertanya ini dan itu, seolah tidak paham ataupun mengerti.


"Tidak ada. Sudahlah, aku ingin mandi." Jawab Ana dengan nada yang ia buat ketus, agar kesan marahnya lebih mendalam di hati Ray.


"Ya, mandilah. Aku akan membawakan sarapanmu ke kamar." Ujar Ray.


"Tidak perlu, aku akan makan di ruang makan saja. Lagipula, sudah lama aku tidak makan bersama ibu mertua dan Alex." Kata Ana.


"Ah begitu. Ya sudah, kalau begitu aku akan langsung pergi ke kantor."


Ana mengangguk,


"Pergilah." Gadis itu turun dari kasurnya dan berjalan mengambil handuk.


"Sampai jumpa." Ucap Ray yang kembali di balas dengan anggukan lagi oleh Ana.


Pria itu kemudian melangkah keluar kamar dan menutup pintu kamar itu kembali.


Ana tertawa lepas saat suaminya itu telah hilang dari jangkauan pandangannya.


"Lucu sekali. Tapi dia aktor yang lumayan juga." Gadis itu merasa geli sendiri, saat tahu jika semua yang suaminya lakukan itu hanya berpura-pura saja.


Ana kemudian masuk ke dalam kamar mandi, membersikan dirinya, berpakaian lalu setelah selesai semuanya, ia turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Disana, ibu Alex dan Alex terlihat sudah memakan sarapan mereka dalam hening.


Mereka masih saling diam ya. Haah, sepertinya keributan waktu itu belum terselesaikan. Apa perlu aku membantu mereka untuk berbaikan ya? Ah tidak tidak. Ray bilang, lebih baik aku tidak ikut campur. Aku berharap mereka segera berdamai.


Ana menatap sedih kedua ibu dan anak yang masih tak bisa menyelesaikan konflik diantara mereka. Gadis itu bahkan sampai merasa tak nyaman berada diantara perang dingin yang terjadi.


"Ana, Ray dimana?" Tanya ibu mertuanya itu.


"Sudah berangkat ke kantor, bu."


"Mungkin sarapan di kantor." Jawab Ana seadanya.


Gadis itu memakan roti yang telah ia olesi dengan selai cokelat, tapi baru saja ia menggigit satu gigitan. Perutnya kembali bergejolak, mual.


"Kau baik-baik saja?" Tanya ibu mertuanya, ia melihat Ana yang terlihat langsung pucat.


Kenapa aku merasa benci dengan rasa selai cokelat ini, rasanya terlalu manis di lidah, sampai perutku terasa mual memakannya.


"Entahlah bu, belakangan ini aku merasa mual secara tiba-tiba." Jawab Ana.


"Benarkah?" Raut khawatir yang tadinya ibu mertuanya itu tunjukan, kini berubah menjadi sangat antuasias.


"Iya, aku juga merasa pusing dan kadang berkeringat dingin jika terlalu kelelahan. Apalagi diwaktu pagi." Curhat Ana, ia menghela napasnya. Ingin sekali memakan roti selai cokelat itu, tapi perutnya benar-benar menolak rasa manis kesukaannya.


"Morning sickness." Gumam ibu mertuanya.


"Kau hamil?" Tanya Alex yang masih ada di situ.


"Hamil?" Ana menatap dua orang itu bergantian. Selama ini ia tidak terpikirkan hal itu.


"Ikut ibu ke kamar." Ajak ibu mertuanya itu.


Ana menoleh pada Alex, seolah bertanya-tanya kenapa ibu Alex itu tiba-tiba mengajak dirinya ke kamar, pria itu mengangkat bahunya tidak tau.


Gadis itu pun akhirnya bangkit dari kursi makan dan berjalan mengikuti ibu Alex. Ana masuk ke dalam kamar ibu mertuanya.


Calista, ibu mertuanya itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu di laci meja riasnya. Sesaat kemudian, ia berbalik dan menghampiri Ana.


"Ini, waktu itu ibu ingin memberikannya padamu, tapi melihat dirimu yang sibuk, ibu pikir, mungkin kau belum hamil, jadi ibu menyimpannya untuk berjaga-jaga." Wanita paruh baya itu memberikan alat tes kehamilan pada Ana.


Ana mengernyitkan keningnya, heran dengan apa yang ibu mertuanya berikan.


"Tapi— "


"Coba saja dulu."


Ana masih diam, ia ragu.


"Kapan terakhir kali kau mengalami siklus bulananmu?"


Ah iya benar juga, jika diingat-ingat, siklus bulanan ku sudah lewat satu bulan. Kenapa aku tidak memperhatikannya. - batin Ana.


"Ayo cepat." Ujar ibu mertuanya, Calista sepertinya tau, jika Ana baru saja mengingat jika ia sudah terlambat satu bulan dari jadwal menstruasinya.


"Iya." Dengan langkah ragu, Ana masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar ibu mertuanya itu.


Beberapa menit waktu berlalu, gadis itu keluar dari kamar mandi.


Calista tampak mengernyitkan keningnya melihat Ana yang terus saja mengerjapkan matanya melihat hasil dari testpack itu.


"Bagaimana hasilnya?"


"Garis merahnya ada dua." Jawab Ana.


Semburat kebahagiaan langsung terpancar jelas di wajah Calista. Ia memeluk menantunya itu bahagia.


"Selamat, kau akan menjadi ibu dan aku akan menjadi nenek." Ujarnya dengan nada bahagia yang tidak dapat di sembunyikan.


"Benarkah?" Tanya Ana yang masih tak percaya.


Calista mengangguk,


"Tentu saja. Nanti kita pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut ya. Ibu akan menemanimu." Ucapnya.


Ana tersenyum senang, bahagia tentu saja. Ini adalah hadiah terindah dari tuhan di hari anniversary pernikahannya yang pertama. Ia sangat bersyukur sekali.