
Ray berjalan masuk ke dalam kamar Ana. Terlihat, istrinya itu belum terbangun dan masih tertidur pulas, Ray tersenyum melihatnya.
Kemarin malam, pukul dua belas malam lebih, tiba-tiba Ana mengeluh tidak bisa tidur.
Gadis itu bangun di waktu tengah malam dan meminta Ray untuk mengantarkannya pulang ke rumah Ayahnya.
Ana bilang, kalau dirinya ingin sekali tidur di rumah keluarganya.
Ray yang awalnya menolak dan menyuruh Ana untuk pergi esok hari, pada akhirnya juga mengalah.
Ray memilih mengalah dan menuruti permintaan Ana setelah Ana mengancam Ray, kalau suaminya itu tidak mau mengantarnya, maka Ana akan pergi seorang diri di tengah malam seperti itu menuju ke rumah keluarganya.
"Ana." Panggil Ray lirih, ia mencoba membangunkan istrinya itu. Tapi, Ana masih tak kunjung membuka matanya.
"Sayang, ayo bangun." Ujar Ray, ia mengguncang pelan tubuh Ana.
"Hm, sebentar lagi." Jawab Ana yang masih mengantuk.
"Ayo bangun." Paksa Ray, ia menepuk-nepuk pipi Ana pelan.
Dengan malas, Ana membuka matanya perlahan, ia menatap Ray dengan wajah yang masih mengantuk.
"Cepat bangun." Ujar Ray lagi.
Ana mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkan nya ke leher pria itu. Ray tersenyum dengan kelakuan Ana.
"Selamat pagi." Ucap Ana.
"Ck, sejak kapan kau bertingkah manis seperti ini." Kata Ray sembari memeluk tubuh istrinya itu dan memberi kecupan pada kening Ana.
"Bawa aku ke kamar mandi." Pinta Ana, ia meminta Ray menggendongnya sampai ke kamar mandi.
Ray mengernyitkan keningnya heran, istrinya ini biasanya selalu menolak untuk di manja tapi kali ini ia seperti seorang wanita yang suka di manjakan.
"Baiklah, peluk leherku dengan erat."
"Hm."
Ray menggendong Ana sampai ke kamar mandi, ia mendudukkan gadis itu di pinggir wastafel kamar mandi.
"Ini." Ray memberikan sikat gigi yang sudah ia beri pasta gigi kepada isterinya itu. Ana memegang tangan Ray dan menyuruh pria itu untuk menggosok giginya.
Ray kembali tertawa geli dengan tingkah Ana yang terlihat Aneh.
"Kau ini kenapa? Tingkahmu aneh sekali."
Saat dirinya sedang berkumur, tiba-tiba, Ana merasakan gejolak aneh pada perutnya.
Ana langsung berlari ke arah kloset duduk, gadis itu muntah dengan perut yang masih kosong belum terisi makanan sama sekali.
"Ana, kau baik-baik saja? Kau sakit ya?" Tanya Ray, merasa khawatir pada isteri nya itu.
Ana terduduk lemas di lantai, ia merasa seluruh tubuhnya tak memiliki energi lagi.
"Ana." Ray menepuk-nepuk pipi istrinya itu.
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit mual saja." Ujar Ana.
"Kita pergi ke rumah sakit ya."
Ana menggelengkan kepalanya, ia menolak. Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar mandi.
"Ana— "
"Aku tidak apa-apa."
Ray menghembuskan nafasnya, pria itu berjalan mendekati Ana, ia membantu istrinya untuk menyisir rambut.
"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Ray yang masih merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jawab Ana, gadis itu tersenyum pada Ray dan mencium bibir suaminya sekilas, kemudian ia menarik tangan Ray dan mengajaknya keluar kamar.
"Kau akan mengantarku ke restoran kan?" Tanya Ana.
"Tentu saja." Ray menyatukan jari-jari mereka dan menggandeng Ana menuruni tangga.
Mereka berjalan menuju ruang makan, disana sudah ada keluarga Ana yang sedang menunggu mereka untuk makan bersama.
"Selamat pagi ayah." Ucap Ana sembari mencium pipi ayahnya.
"Aku juga ingin mendapatkannya." Ujar Kenan dengan tangan yang menunjuk ke arah pipinya.
Ana tersenyum, lalu berjalan menghampiri Kenan dan mencium pipi adiknya itu.
"Kau suka sekali memberikan ciumanmu." Protes Ray pada Ana yang baru saja duduk di sampingnya itu.
"Mereka itu kan ayah dan adikku." Bisik Ana.
"Tetap saja itu membuatku kesal." Ucapnya pelan sembari memakan sarapannya dengan raut kesal.