
"Kau tidak akan melakukannya dan kau tidak bisa melakukannya. Kau bahkan mungkin tidak tahu cara menggunakan senjata itu kan? Kau— kau hanya ingin menakutiku saja, aku yakin itu." Ujar Ana.
Ray tertawa keras mendengar perkataan Ana,
"Nona, kuberi tahu rahasia kecil padamu, selain menancapkan karierku di dunia bisnis, aku juga menancapkan karierku di dunia mafia. Membunuh mereka semua bukan hal yang sulit untukku."
"Tidak. Tidak tuan Raymond, jangan bunuh saya. Saya mohon— maafkan saya, saya akan melakukan apapun untuk anda, saya bisa menggugurkan janin ini demi anda." Ujar Rachel, tubuhnya bergetar ketakutan, bukan hanya Rachel tapi semua keluarga itu, kecuali Ana.
"Aku tidak sedang berurusan denganmu penyihir kecil! Jangan berpikir aku tertarik padamu, dari awal pun aku sama sekali tidak tertarik pada perempuan seperti dirimu. Tapi— sepertinya aku tertarik pada saudari tirimu ini, dia— sangat pandai untuk menarik perhatianku." Kata Ray, pria itu terlihat menyeringai ke arah Ana, ia masih menunggu jawaban dari Ana. Namun, gadis itu tampak masih diam tak bergeming.
Ray meletakan ujung pistolnya itu ke kepala Kenan, membuat Ana yang tadinya bungkam, kini bersuara.
"Jangan! Kau bisa dipenjara jika membunuhnya!" Ancam Ana.
Alih-alih takut, Ray malah tertawa lagi,
"Kau tenang saja, setelah menembakkannya ke kepala adik laki-lakimu ini, aku akan memberikan pistol ini ke tangan ayahmu, bukankah disana akan tertinggal sidik jari ayahmu? Apa kau tidak tahu apa gunanya aku memakai sarung tangan ini, tentu saja untuk menutup sidik jariku." Kata Ray.
"Tapi disini ada saksi, dan aku yang akan melaporkanmu— juga melihat kejadian ini secara langsung!"
Ray kembali tertawa mendengar perkataan Ana yang terus menakutinya itu.
"Uang bisa menutupi segalanya, kau paham itukan?" Kata Ray yang mulai siap menarik pelatuknya. Tapi kemudian, tiba-tiba tangan Ana memegang tangan Ray, menghentikan aksi pria itu.
"Baik! Aku akan menuruti permintaanmu,kau puas?! Sekarang letakkan pistol itu dan sebutkan keinginan mu."
Ray tersenyum penuh kemenangan, ia menyeringai ke arah Ana lagi dan lagi.
"Menikah denganku."
Mendengar itu semua orang terkejut, apalagi Rachel, perempuan itu sangat kesal mendengarnya, waktu itu ia susah payah mengancam Ray untuk menikah dengannya, dan sekarang dengan mudahnya, kakak tirinya itu malah mendapat ancaman dari Ray agar Ana mau menikah dengan pria idaman para wanita itu.
"Jangan bercanda, ini bukan saatnya untuk bercanda! katakan dengan benar, apa keinginanmu?!"
"Aku sudah mengatakannya, kau percaya atau tidak tapi itulah keinginanku. Bagaimana? Ingin adikmu mati atau hidup? Kalau kau mau menikah denganku, maka dia akan hidup. Tapi— kalau kau menolak, dia akan— "
Dengan keberanian yang diselimuti kebodohannya, Ana meletakkan tangannya di lubang pistol itu, ia berniat menutup lubang pistol itu agar pelurunya tidak mengenai Kenan, itu yang Ana pikirkan.
Tindakan dari Ana itu membuat Ray tergelak tawa, pria itu tertawa melihat tindakan bodoh dari Ana.
"Aku masih baik tidak menggunakan Desert Eagle, jika aku menggunakannya, kepala adikmu ini bukan hanya pecah tapi, Bum! Meledak." Mendengar itu Ana menatap Ray tajam. Pria macam apa dia ini? Sama sekali tidak memiliki rasa manusiawi sedikitpun, pikir Ana.
"Ah ayolah katakan jawabanmu. Aku bukan orang yang punya banyak waktu untuk mengurusi orang seperti kalian!"
Jika saja pria itu tidak memegang pistol sialan ini, Ana pasti sudah menghajar habis Ray.
"Baiklah aku akan menyelesaikan ini. Singkirkan tanganmu, kecuali kau ingin tanganmu berlubang."
"Aku akan menikah denganmu." Ujar Ana pelan, hampir seperti berbisik pada Ray.
"Apa? Aku tidak mendengarnya, bisa kau mengatakannya lebih keras lagi?"
Apa pria ini tuli, dia sangat menakutkan sekaligus menyebalkan. — Batin Ana.
"Aku akan menikah denganmu! Apa kau puas?!"
Ray benar-benar tersenyum puas,
"Baiklah, kau tidak perlu berteriak seperti itu, aku tidak tuli."
Setelah itu, Ray meletakkan kembali pistol dan sarung tangannya kedalam kotak persegi itu.
"Berdiri." Mendengar ucapan dari Ray, semua berdiri dari aksi berlutut, membuat Ana bernapas lega. Ia kemudian dengan sigap membantu ayah dan adiknya berdiri.
"Persyaratannya masih akan tetap terlaksana. Tapi— perempuan ini yang akan menjadi istriku menggantikan adiknya." Ujar Ray sembari menyentuh dagu Ana, tapi dengan cepat ditepis oleh gadis itu, ia menatap Ray tajam, menghentakkan kakinya dan melangkah pergi menuju kamarnya.
"Kalau begitu aku pamit pulang ya, calon istriku!" Ray berteriak kepada Ana yang sedang menaiki tangga. Ana tak menghiraukan ucapan pria sialan itu.
Beraninya dia bermain kotor dihadapanku, apa pria sialan itu berpikir dapat mempermainkanku, jika saja dia tidak mengancam adikku dan ayahku, aku pasti tidak perlu berpikir panjang untuk melawannya. — Batin Ana.
Setelah Ana menghilang dari pandangannya, Ray membungkuk hormat kepada keluarga itu, berpura-pura sopan.
"Calon ayah mertua dan ibu mertua juga adik ipar dan kakak ipar, maaf atas kekhilafan saya, kedepannya saya akan bersikap lebih baik lagi. Saya pamit undur diri." Ujar Ray.
Pria itu kemudian berjalan keluar rumah itu dengan senyum puasnya, hari ini ia merasa sangat senang. Hatinya terasa ada yang menggelitik, bahkan tertawa pun masih kurang untuk mengekspresikan kesenangannya kali ini.