
Pukul sepuluh malam, Ray baru saja pulang dan masuk ke kamar.
Ana belum tidur dan masih duduk bersandar di dipan ranjang kamar itu.
Gadis itu mensedekapkan tangannya dan menatap Ray kesal.
Suaminya itu pulang terlambat tapi tidak memberitahunya sama sekali.
"Kau belum tidur?" Tanya Ray, ia tampak tak terkejut melihat Ana yang masih terjaga menunggunya pulang.
"Bagaimana rasanya di pijat sekertaris barumu?!" Tanya Ana dengan nada penuh sindirannya.
Ray yang sedang membuka kancing kemejanya, menoleh pada Ana setelah mendengar sindiran itu.
"Kenapa membahasnya lagi? Bukankah tadi siang kita sudah meluruskan kesalahpahaman ini." Tanya Ray.
Ana mengalihkan pandangannya dari tatapan Ray, ia mencebik kesal.
"Kau pulang terlambat, pasti meminta pijat dia lagi kan?! Kau sepertinya suka ya berlama-lama bersamanya sampai larut malam seperti ini!"
"Ana, apa yang kau katakan? Kau menuduhku yang tidak-tidak. Kau sudah tidak mempercayai ku lagi?!"
Ana bungkam, tak ingin menjawab perkataan suaminya. Ia memasukan seluruh tubuhnya ke dalam selimut dan mengabaikan Ray.
"Ana." Panggil Ray.
Gadis itu masih diam tak bergeming. Ray menghela napasnya, ia duduk di sisi Ana.
"Aku minta maaf karena tidak memberitahumu jika aku akan pulang terlambat. Aku pikir kau sudah tidur, jadi aku tidak ingin mengganggumu. Lagipula aku terlambat pulang karena ada pertemuan makan malam mendadak dengan relasi bisnis dari luar negeri. Maafkan aku Ana." Ujar Ray.
"Kalau memang seperti itu. Pecat sekertaris barumu." Ucap Ana.
Ray terperangah dengan ucapan istrinya, sejak kapan Ana berubah menjadi perempuan sadis seperti ini.
"Tapi dia masih terlalu muda dan baru saja bekerja, jika aku memecatnya, itu akan mempengaruhi karirnya di masa depan. Apa kau tidak merasa kasihan padanya."
Ana berdecih mendengar alasan Ray yang cukup masuk akal, tapi sangat mengusik hatinya.
"Sejak kapan kau peduli dengan masa depan orang lain? Katakan saja kalau kau tertarik padanya." Ketus Ana.
"Ana! Kau ini kenapa? Kau sedang mengajakku untuk bertengkar?!" Tanya Ray yang tersulut emosi dengan perkataan Ana.
"Kau marah?! Seharusnya aku yang marah!"
"Kau— emosimu itu benar-benar argh— " Ray menggeram kesal, ia bahkan sampai menarik rambutnya sendiri. sejenak, Ana merasa takut dengan reaksi Ray yang seperti itu.
"Keluar." Pinta Ana dengan tegas, gadis itu menunjuk pintu dan menyuruh Ray untuk keluar dari kamar.
"Ini kamarku." Bantah Ray.
Ana tersenyum kecut, lalu ia turun dari kasurnya.
"Kau ingin kemana?" Tanya Ray.
"Ini kamarmu, maka aku akan keluar dari sini." Jawab Ana.
"Ana!" Panggil Ray.
Gadis itu baru saja membuka pintu untuk keluar dari kamar, tapi Ray kembali mendorong pintu itu.
"Kau ingin pergi begitu saja setelah membuat keributan?!" Tanya Ray. Ia melangkah mendekati Ana yang berjalan mundur darinya.
Setiap satu kali Ray melangkah maju mendekati Ana, maka Ana juga akan mundur satu langkah menjauhinya.
"Aku tahu kau cemburu. Tapi bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Apalagi yang harus aku lakukan agar kau percaya dengan penjelasanku?" Tanya Ray.
"Menjauh dariku." Ujar Ana.
"Ana— "
"Jangan berharap aku akan memaafkanmu kalau kau tidak berniat untuk memecatnya." Tegas Ana lagi.
"Ana!" Bentak Ray dengan suara lantang. Sampai-sampai Ana jatuh terduduk dilantai karena terkejut dan takut dengan bentakan dari suaminya itu.
"Kau sedang menguji kesabaranku ya?! Aku sudah mengatakannya berulangkali, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, jadi percayalah padaku. Apa sesulit itu untuk percaya pada suamimu sendiri."
Perkataan Ray tak lagi mampu memasuki pendengarannya, perempuan itu terlalu takut untuk mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya.
Tubuh Ana bergetar ketakutan, air matanya bahkan sampai meluncur sempurna ke pipinya.
"Ana~ "
Ray berjongkok, mendongakkan wajah istrinya yang terus menunduk itu.
Dilihatnya butiran-butiran kristal bening yang keluar dari mata Ana. Gadis itu menatapnya takut. Seketika Ray sadar jika ia telah melewati batas.
Ray menutup matanya sejenak, ia berusaha menetralkan emosinya yang sempat muncul dan tak terkendali.
Pria itu kemudian merengkuh tubuh Ana yang masih bergetar ke dalam pelukannya. Ia membelai rambut Ana dengan lembut.
"Maafkan aku. Maaf." Ucap Ray dengan nada menyesalnya.
Ana menangis sesenggukan, menumpahkan semua isi hatinya dengan isakan dan air mata yang terus mengalir keluar.
"Jahat." Ucap Ana lirih.
"Maaf Ana, maafkan aku sayang. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu dan membuatmu takut. Sungguh, aku minta maaf padamu. Aku janji akan menuruti keinginanmu, aku akan memecat sekertaris baruku itu."
Ana menggelengkan kepalanya dalam pelukan Ray.
"Kau tidak perlu memecatnya, dan aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja." Ujar Ana dengan suara seraknya.
"Ana~"
"Aku butuh waktu Ray, aku ini manusia biasa yang tidak bisa selalu terus menerus memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang sama. Aku butuh waktu untuk memaafkanmu." Ujar Ana.
Gadis itu melepas pelukan Ray dan berjalan menuju tempat tidur, ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.
Ray berdiri dan menatap Ana yang memunggunginya, ia menghela napas beratnya, menyesal dengan semua yang telah ia lakukan pada isterinya.
Disaat Ana sudah marah dan mendiamkannya seperti ini, dirinya baru sadar, betapa ia sudah berbuat melampaui batas kesabaran gadis itu.
Padahal Ana adalah gadis yang memiliki hati layaknya malaikat, yang bisa memberikan ribuan maaf untuk orang-orang yang meminta maafnya dengan tulus padanya.
Tapi, Ray benar-benar sudah kelewatan, seharusnya tadi ia meminta maaf langsung pada Ana dan mencoba mengerti perasaan gadis itu. Tapi ia malah mengikuti emosinya dan berujung membentak Ana.
"Maaf." Ucap Ray pelan, tapi yakinlah, Ana masih bisa mendengarnya hingga gadis itu menangis kembay karena ragu dengan tindakannya. Tapi, bagaimanapun juga ia melakukan ini agar Ray bisa lebih mengerti dirinya.