The Destiny

The Destiny
Hadiah Terindah



Pada akhirnya, kamu akan menyadari kalau cinta memulihkan segalanya, dan cinta adalah segalanya - Gary Zukav


•••


Malam menyapa, sinar rembulan yang bersinar ditemani gugusan bintang-bintang bertaburan di atas langit


Ana tersenyum, berjalan diatas karpet merah yang bertaburan kelopak mawar.


Di ujung sana, terlihat Ray tersenyum menunggu dirinya.


Alunan melodi romansa menghanyutkan hati setiap insan yang mendengarnya. Rasanya menelesik lembut ke dalam hati, teduh sekali.


Sore tadi, Ray tiba-tiba mengajak Ana ke VIP store yang ada di pusat kota. Pria itu ingin memberikan kejutan anniversary pernikahan pada istrinya.


Ya, walau sebenarnya, Ana sudah tau, tapi demi membuat suaminya senang, ia akan berpura-pura tidak tau dan tekejut nantinya.


Lama waktu yang Ana butuhkan untuk memilih pakaian dan merias diri, tapi semua itu terbayarkan dengan apa yang ia lihat saat ini.


Dirinya sangat terpesona, saat pertama kali menginjakkan kakinya di outdoor party ini. Hatinya seakan meloncat bahagia, senyuman lebar pun tak pernah lepas dari bibirnya.


Ana menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Ray. Suaminya itu tersenyum tulus padanya, kemudian membungkukkan badannya, layaknya seperti seorang pangeran yang ingin mengajak seorang putri untuk berdansa bersama. Tangan Ray terulur kepada Ana, gadis itu meraihnya cepat.


Senyuman kebahagiaan tergambar jelas di antara mereka, dua hati yang pernah terpisah oleh waktu dan ingatan, namun kini menyatu kembali. Sungguh, kisah mereka sangat menyentuh jiwa dan raga.


"Happy anniversary satu tahun, sayang." Bisik Ray.


"Em, selamat hari jadi pernikahan." Ujar Ana, membalas ucapan Ray.


Senyum kembali terpancar di wajah pria itu. Seakan lupa di mana ia berada, Ray mendekatkan wajahnya pada Ana, mencium lembut bibir istrinya itu. Suara riuh dan siulan terdengar disela-sela ciuman mereka.


"Ray, kau membuatku malu." Kata Ana, ia memukul pelan lengan prianya itu.


"Anggap saja, disini hanya ada kau dan aku." Bisik Ray.


Ana mengalihkan pandangannya, tak tahan dengan godaan yang Ray lontarkan padanya.


"Ehem..selamat ya." Alex datang menghampiri pasangan yang sedang kasmaran itu, memberi jeda keromantisan yang ada diantara mereka.


"Terimakasih." Ucap Ana, tangannya terulur, hendak membalas uluran tangan Alex. Tapi, Ray mendahuluinya, Suami ana itu yang membalas uluran tangan Alex.


"Sudah, pergilah." Perintah Ray.


"Ya ya baiklah, aku tidak akan menggangu." Alex mundur perlahan dan pergi menjauh dari pasangan suami istri itu.


"Ray." Panggil Ana.


"Hm?"


"Ada~" Ucapan Ana terhenti saat dirinya ingin memberitahukan sesuatu pada suaminya itu.


"Tuan Ray, ini CEO Barack dari perusahaan Jhoneq" Yohan tiba-tiba datang dan memperkenalkan seorang pria dengan tubuh kekarnya.


Pria itu berwajah tegas bak dewa Yunani, darah eropa tampak jelas mengalir di diri pria itu.


"Senang bertemu denganmu kembali, CEO Raymond." Sapa Barack dengan bahasanya.


"Tentu, senang bertemu denganmu kembali CEO Barack." Balas Ray dengan bahasa pria itu, di ikuti tangannya yang terulur membalas jabatan tangan dari CEO Barack.


"Ini istrimu? Sangat cantik." Pujinya.


"Ya, tentu saja. Bagaimana denganmu, dimana istrimu?" Tanya Ray.


Keduanya kini berbincang lebar menggunakan bahasa dari Ceo perusahaan Jhoneq itu.


Ana mendengus kesal melihat kedua pria petinggi perusahaan itu telah larut dalam obrolan mereka dan Ray mulai mengabaikannya. Apalagi mereka berbicara menggunakan bahasa yang tak dapat Ana ketahui artinya.


"Aku akan pergi kesana." Bisik Ana pada Ray.


Pria itu menolehkan kepalanya sejenak, ia melihat jari tangan Ana menunjuk kearah Rachel yang sedang duduk di salah satu kursi dengan menggendong Nana.


"Em iya, nanti aku akan menyusulmu." Kata Ray.


Ana menganggukkan kepalanya dan tersenyum, kemudian ia melangkahkan kakinya dan berjalan menghampiri Rachel.


Ray masih memandangi istrinya itu, lalu menoleh pada Yohan.


"Temani dia untuk sementara." Ujar Ray pada assistennya itu.


Yohan mengangguk,


"Baik tuan."


Pria itu berjalan menghampiri Ana yang sedang duduk bersampingan dengan Rachel. Tanpa membuka mulutnya, assisten Ray itu langsung berdiri begitu saja di samping Ana.


"Kenapa kau disini?" Tanya Ana, ia menatap Yohan aneh.


"Tuan Ray memerintahkan saya untuk menemani anda nona." Jawab Yohan.


"Benarkah? Apa tidak ada alasan lain?" Tanya Ana dengan senyum yang penuh arti.


Yohan diam tak menjawab, dalam kamus ke-profesionalan bekerjanya, ia tidak akan menjawab hal-hal yang tidak penting.


"Dia memang sulit sekali diajak bicara." Cibir Ana, ia mengatakan itu dengan pandangan terarah pada Rachel, seakan sedang mengadukan sikap Yohan pada ibu tunggal itu.


Rachel tersenyum menanggapinya,


"Itu adalah bentuk dari profesionalisme-nya." Ucapnya. Ingatlah, Rachel pernah berkata bahwa dirinya akan menjadi orang pertama yang membela Yohan jika ada yang mengatakan hal buruk tentang pria itu.


Dan sekarang, ia sedang melakukan pembelaan pada Yohan. Berhasil menepati janjinya, Rachel menyunggingkan senyuman yang samar-samar dibalas oleh Yohan.


"Kau sedang membelanya?"


"Sepertinya hubungan kalian berjalan baik tanpa sepengetahuan dariku." Ujar Ana.


Gadis itu menepukkan tangannya, ia tersenyum sumringah. Lalu kemudian, tiba-tiba ia bangkit dari duduknya.


Ana berdiri disamping Yohan, gadis itu memaksakan Yohan untuk duduk di samping Rachel.


"Nona, apa yang anda lakukan?" Tanya Yohan yang tidak mengerti.


"Duduklah dan diam saja."


Gadis itu mengambil Nana dari gendongan Rachel, ia menyerahkan bayi perempuan itu pada Yohan.


"Nona.."


"Ssssstt diam."


Yohan hanya bisa diam menurut, pria itu tampak sangat kaku menggendong Nana.


"Katakan kejuuu." Ujar Ana. Biasanya orang akan berkata cheese saat berfoto, agar ekspresi wajah tampak tersenyum lebar. Tapi, kali ini ia malah menyuruh Rachel dan Yohan mengatakan keju, membuat bibir kedua insan itu mengerucut sempurna.


Suara kamera ponsel Ana mengakhiri pose foto itu. Yohan mengehela napasnya, pria itu melihat Nana yang tampak nyaman dalam timangannya.


"Sepertinya dia menyukaimu." Ujar Rachel. Pria itu hanya bisa tersenyum menanggapinya.


"Wah, hasilnya bagus sekali. Lihat! Bukankah kalian terlihat seperti keluarga yang harmonis." Kata Ana, tangan gadis itu bergerak menggeser layar ponselnya, menunjukkan hasil fotonya kepada dua orang itu.


"Sayang." Panggil Ray yang baru saja menghampirinya.


Ana menolehkan kepalanya, melihat Ray yang berjalan menghampirinya.


"Sudah selesai?"


"Hm."


"Lanjutkan saja obrolanmu dan abaikan aku. Pentingkan saja pekerjaanmu dan tidak perlu pedulikan aku." Ujar Ana.


"Kau marah?"


"Tidak, aku sedang berlatih membaca puisi." Gadis itu mengalihkan pandangannya kesembarang tempat.


Ray menghela napasnya dalam-dalam, ia sudah tidak terkejut lagi dengan kesensitifan Ana yang semakin hari semakin bertambah.


"Ayo ikut aku." Dengan sedikit pemaksaan, Ray menarik lengan Ana lembut.


Gadis itu hanya diam menurut. Ia sengaja mengikuti Ray, karena dirinya ingin memberi ruang untuk Yohan dan Rachel.


"Ray, kau akan membawaku kemana?" Tanya Ana yang merasa heran dengan suaminya itu, masalahnya Ray saat ini membawanya pergi menjauh dari tempat diadakannya acara perayaan pernikahan mereka.


Ray menghentikan langkahnya, ia menahan tubuh Ana agar tidak menoleh ke samping.


"Ini kejutan untukmu." Bisik Ray, ia membalikkan tubuh istrinya itu menghadap hamparan kebun bunga yang telah di hias dengan puluhan lilin yang tersusun rapi di sisi kiri dan kanan, membentuk sebuah jalan untuk mereka.


Dan diujung sana, ada kumpul lilin yang membentuk lingkaran.


"Ayo." Ray menarik tangan Ana lagi, mereka berjalan melewati lilin-lilin yang menyala disisi kanan dan kiri.


Sesampainya mereka ditengah lilin-lilin yang membentuk lingkaran itu, Ray langsung menekuk lututnya di hadapan Ana. Dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya, pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku tuxedonya.


Dibukanya kotak beludru berwarna merah itu, dan tampak kilauan ruby dari dalam sana. Itu sebuah cincin berhias batu ruby.


"Saat kita menikah dulu, aku tidak pernah melamar mu dengan baik. Jadi sekarang, sebagai ganti satu tahun yang lalu. Aku melamarmu kembali, mengajukan harapan padamu agar kau mau memulai hubungan ini dari awal dan menciptakan keharmonisan di antara kita selamanya."


Ray menatap Ana sejenak, kemudian menarik napas dalam-dalam dan berkata lagi.


"Aku bukanlah seseorang yang bermulut manis dengan kata-kata puitis yang mampu membuat hatimu terlena. Aku hanya pria biasa yang mengharapkan kasih dan sayangmu padaku. Ana— maukah kau menerima cintaku." Ujar Ray.


Ana membekap mulutnya yang menganga tak percaya. Sejak kapan pria seperti Ray mampu mengucapkan kata-kata yang seakan mampu melelehkan hatinya.


"Kau— mulutmu itu manis sekali ya." Ucap Ana dengan senyum kecilnya.


Gadis itu menatap Ray cukup lama, membuat pria itu takut jika Ana menolak.


"Baiklah, aku menerima cintamu." Ujar Ana di sela-sela senyumannya.


Ray merasakan hatinya menari bahagia, pria itu meraih tangan Ana dan menyematkan cincin itu di jari manis istrinya.


"Kau suka?" Tanya Ray.


Ana mengangkat tangannya ke atas, memperhatikan cincin yang baru saja Ray sematkan dijarinya itu. Kemudian gadis itu mengangguk, menjawab pertanyaan suaminya.


"Ah iya, aku juga menyiapkan hadiah luar biasa untukmu." Ujar Ana yang baru saja teringat dengan hadiah yang sudah ia persiapkan sejak pagi tadi.


Ray menatap Ana dengan dahi yang mengernyit. Tampak istrinya itu sedang mengambil sesuatu dari tas kecil yang Ana bawa.


Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu adalah alat tes kehamilan yang digunakannya tadi pagi.


Ana memberikan testpack yang ia beri pita kecil itu pada suaminya.


"Ini~" Ray bertanya-tanya, untuk apa Ana memberikan itu padanya. Sampai akhirnya ia paham dan terkejut senang melihat dua garis yang terlihat jelas di sana.


"Kau~" Karena rasa yang meletup-letup di dalam hati, suaminya itu bahkan tak sanggup berkata-kata lagi.


"Iya, aku hamil. Aku juga sudah memeriksakannya ke dokter kandungan. Lima minggu, usianya." Kata Ana sembari mengelus bayinya yang masih bersemayam di perutnya.


Ray berdiri dari posisi berlututnya, ia menatap Ana dengan raut wajah kebahagiaan yang tak dapat di jabarkan dengan apapun.


Tangan pria itu merengkuh tubuh istrinya. Kebahagiaan terindah yang suami-istri rasakan adalah ketika ada buah cinta diantara mereka.


"Terimakasih, terimakasih karena telah mengandung anakku. Aku pastikan, aku akan menjagamu dan anak kita sebaik mungkin. Bahkan semut pun tak akan kubiarkan menyakitimu." Ucap Ray, membuat Ana tersenyum geli mendengar penuturan suaminya yang berlebihan itu. Tapi ia senang mendengarnya, karena itu adalah ungkapan rasa syukur Ray atas hadirnya buah cinta yang selalu mereka perjuangkan selama ini.