
Ana berlari menghampiri seorang pria berusia empat tahun lebih tua darinya, pria kecil itu menoleh padanya, ia melambaikan tangannya pada Ana dan tersenyum.
"Kak!" Panggil Ana, membalas lambaian tangan pria kecil itu.
"Kau terlambat." Ujar pria kecil itu.
"Maaf. Oh— apa yang kau bawa itu?" Tanya Ana kecil.
"Ah ini kotak makanan." Jawab pria kecil itu.
"Aku tahu! Aku bertanya tentang isinya." Ujar Ana kecil dengan wajah cemberutnya.
"Hahaha iya iya, ini— aku bawa makanan, ibuku yang membuatnya. Oh iya dimana mama?" Tanya pria kecil itu, ia memang memanggil ibu Ana dengan panggilan mama.
"Mama sedang menemani Anita membeli es krim." Jawab Ana kecil.
"Anita? Siapa dia?"
"Sepupuku, dia lebih tua tiga tahun dariku." Ujar Ana, ia menunjukkan jumlah angka tiga dengan jari kecilnya.
"Kalau begitu kau harus memanggilnya kakak." Ucap Ray kecil.
Ray duduk dikursi taman, diikuti Ana yang sudah menunggu kotak makan itu untuk dibuka.
"Dia anak bibiku, jadi dia itu adik sepupuku." Ujar Ana.
"Ah pantas saja kau memanggilnya hanya dengan menyebut namanya saja." Kata Ray sembari membuka kotak makannya.
Saat pria kecil itu membuka kotak makannya, Ana langsung mengambil sandwich di dalam kotak makan itu.
"Kak Ray." Panggil Ana dengan mulut yang penuh sandwich.
"Hm." Pria kecil yang bernama Ray itu pun menatapnya dengan senyum gemas melihat Ana yang berbicara dengan mulut penuh makanan seperti itu.
"Lain kali kau harus sering membawa makanan ya, ini enak sekali." Ucap Ana.
Ray tertawa kecil,
"Dasar tukang makan." Ujar Ray sembari mencubit pipi Ana gemas, membuat Ana mengaduh kesakitan, tapi kemudian keduanya tertawa lepas seperti biasa.
Dari kejauhan~
"Bibi kenapa dia juga memanggilnya Angel?" Tanya seorang anak perempuan yang berdiri tak jauh dari Ana dan Ray.
"Ah itu karena Ray mengikuti cara bibi memanggil Ana." Ujar ibu Ana.
"Angel? Bukankah itu artinya malaikat jika diartikan dalam bahasa Inggris?" Tanya Anak perempuan itu pada ibu Ana.
"Hm, benar sekali Anita. Ayahmu tidak sia-sia menyuruh-mu kursus bahasa Inggris ya." Marina, ibu Ana itu mengelus rambut Anita.
"Aku juga mau."
"Apa?"
"Aku ingin di panggil Angel juga." Ujar Anita, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun.
"Ah itu— "
Anita terlihat memasang muka masam dan kesal, ia melemparkan es krimnya, lalu berjalan menghampiri Ana dan Ray yang sedang makan sandwich.
"Kakak sepupu!" Panggil Anita.
Ana menolehkan kepalanya dan tersenyum, ia berlari menuju Anita yang sedang menghampirinya.
"Jangan panggil aku Anita!" Ujarnya.
Ana mengernyitkan keningnya bingung,
"Apa maksudmu? Itu kan namamu?"
"Lalu bagaimana denganmu? Namamu itu Ana, kenapa semua orang memanggilmu Angel yang berarti malaikat?! Ibuku juga memanggilmu begitu! Kau bahkan tidak terlihat seperti malaikat!"
Ana yang masih berusia enam tahun tidak paham dengan ke-irian seorang anak perempuan berusia sembilan tahun itu. Ana hanya menatap Anita dengan polosnya.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Anita!"
Ibu Ana datang dan melerai mereka berdua, ia duduk berjongkok memposisikan dirinya sejajar dengan Anita.
"Anita sayang, dengarkan bibi, kau tidak perlu marah lagi ya. Baiklah, mulai sekarang namamu Angel, ah iya bagaimana jika Angelina? Bukankah itu terdengar cocok untukmu?"
Ibu Ana tahu bagaimana perasaan anak perempuan berusia sembilan tahun itu.
Sejak kecil, Anita mengalami broken home, lalu kedua orangtuanya bercerai, dan ibunya yang merupakan adik kandung ibu Ana, semenjak bercerai dengan suaminya, ia menjadi depresi dan tidak dapat memberikan kasih sayang yang benar pada putrinya.
Itulah yang membuat Anita menjadi gadis serakah yang selalu haus dengan perhatian dan kasih sayang.
Karena itu, ia selalu iri pada Ana.
"Kau dengar Ana?! Mulai sekarang— panggil aku Angel atau Angelin!" Ujar Anita.
Ana mengangguk diiringi dengan senyuman-nya.
"Iya."
"Siapa pria itu?" Tanya Anita, ia menunjuk pada Ray yang masih menunggu mereka.
"Ah itu kak Ray, dia temanku, ayo aku kenalkan dengannya."
"Dia temanmu? Aku juga ingin berteman dengan laki-laki tampan seperti dia! Kau harus mengenalkan aku padanya!" Ujar Anita.
"Baiklah, ayo kita kesana." Ibu Ana menggandeng kedua anak perempuan itu menuju Ray yang tersenyum ke arah mereka.
Semakin mendekat, Anita semakin jelas melihat Ray, itu seperti cinta monyet, cinta pertama seorang anak perempuan. Anita tersenyum senang.
Tapi kemudian, tiba-tiba beberapa orang berbaju hitam tampak menghampiri Anita, mereka membungkuk hormat pada Anita dan mengatakan kalau ayahnya sudah pulang dari negara lain dan menunggu Anita di mobil untuk memberikan hadiah. Mendengar itu Anita pun melupakan keinginannya untuk berkenalan dengan cinta pertama masa kecilnya. Tanpa basa-basi, Anita langsung berpamitan pada ibu Ana dan berlari pergi.
Setelah itu, Ana dan ibunya kembali melangkah menghampiri Ray.
"Apa dia Anita?" Tanya Ray.
"Namanya Angel." Ujar ibu Ana.
"Angel?" Ucap Ray sembari melihat ke arah Ana yang kembali memakan sandwichnya.
"Namanya sama dengan Angel yang rakus ini ya." Canda Ray, pria itu mengatakannya sembari menunjuk ke arah Ana yang sedang memakan sandwichnya habis.
Ibu Ana tertawa. Sedangkan Ana, gadis kecil itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman lebar.
"Ana." Sebuah suara yang memanggil nama Ana, membuat Ana seolah terlempar di sebuah ruang kosong.
"Ana." Suara itu terdengar lagi.
Ana menyapu pandangannya ke penjuru arah, mencari sosok yang memanggil namanya. Hingga akhirnya ia menemukan secercah cahaya, gadis itu berjalan menuju ke arah cahaya yang semakin menyilaukan saat ia mendekatinya.
"Ana— bangunlah." Suara itu kembali terdengar lagi, sebuah suara yang mendorongnya masuk ke dalam cahaya itu.
Kelopak mata Ana tampak bergerak, lalu perlahan-lahan, Ana membuka matanya.
"Ana." Suara itu lagi.
Ray yang melihat Ana sudah sadarkan diri, pria itu lantas segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Ana.
"Mama." Ucap Ana lirih, tenggorokannya terasa kering.
Tak lama kemudian, seorang dokter didampingi dengan seorang perawat, tampak berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
"Kondisinya sudah membaik, tapi pasien tetap butuh istirahat untuk pemulihan setelah operasi." Ujar dokter itu.
Setelah dokter dan perawat itu keluar, Ray mendekati Ana, ia memegang tangan Ana.
"Ana, ini aku— Ray." Ujar Ray.
Ana mengernyitkan keningnya, dalam hatinya ia kembali mengulang nama itu, Ray?