
Beberapa hari berlalu, sudah satu minggu lebih. Tapi, tidak terlihat ada tindakan dari Alex sedikitpun. Setiap hari, Ray sudah memperingatkannya, namun adiknya itu selalu meminta waktu yang tepat.
Pagi itu dirumah Ray, suasana sarapan yang tenang berubah menjadi menegang.
Terdengar suara seseorang meneriaki nama Alex dari arah pintu masuk rumah.
Tanpa mempedulikan siapa pemilik rumah yang di datanginya. Pria itu masuk ke dalam dengan emosi yang meluap.
Rio, dia berjalan semakin cepat saat melihat Alex yang duduk di kursi makan.
"Kak Rio?" Ucap Ana yang juga terkejut dengan kehadiran Rio yang tiba-tiba.
"Alex! Kau—" Rio menggeram marah dan memukul wajah Alex begitu saja.
Suara pekikan ibu Alex dan Ana menambah aura pertengkaran yang semakin pekat di ruangan itu.
Alex terhuyung ke belakang, ia merasakan perih di sudut bibirnya, terlihat darah keluar dari sana.
"Apa maksudmu?! Kenapa kau tiba-tiba memukulku?! Kau sudah gila ya?!" Tanya Alex yang merasa sangat kesal, tangan pria itu masih sibuk menyeka aliran darah yang keluar dari hidungnya.
"Iya kak, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba memukulnya?" Kali ini Ana yang bertanya, kakinya bergerak ingin mendekati Rio, berencana untuk menenangkan kakak tirinya itu, tapi tangan besar Ray menghalanginya.
"Jangan." Bisik Ray pada istrinya.
Tanpa di jelaskan, Ray sudah bisa menebak tentang kemarahan Rio pada Alex. Sekalipun ia tidak tahu pasti bagaimana Rio bisa mengetahui kebenarannya. Tapi, semua kejadian ini mungkin saja karena Rio baru saja mengetahui jika Alex lah pria yang telah menghamili adiknya.
"Tapi, aku harus menenangkannya." Ucap Ana.
Ray menoleh pada istrinya itu, ia kembali menggelengkan kepalanya.
"Dia sedang emosi, jika kau mendekat, kau bisa dalam bahaya dan juga bayi kita." Kata Ray menasehati.
Ana hanya bisa menghela napasnya, menuruti perkataan suaminya itu.
Terlihat dari sudut pandang setiap orang yang ada di ruang makan itu. Rio terus saja mengepalkan tangannya, napasnya terdengar berhembus tidak teratur, itu bertanda ia sangat marah dan tidak terkendali.
"Rio." Panggil Ray, mencoba menengahi.
"Saya mohon jangan ikut campur Presdir Ray. Ini urusan saya dan pria brengsek itu." Ujar Rio dengan pandangan mata yang terus mengarah pada Alex.
"Aku tahu apa alasan mu marah. Bisakah kita bicarakan baik-baik saja? Kekerasan tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Lagipula kita ini keluarga." Kata Ray masih mencoba menengahi pertengkaran yang terjadi.
"Jadi kau sudah tahu tentang hal itu?! Sejak kapan? Kenapa tidak mengungkapkannya pada semua orang?! Kenapa tidak menyuruhnya meminta maaf pada adikku?! Kau sengaja membantu adikmu untuk mengubur bangkai besar yang sangat busuk?!" Setiap nada yang Rio ucapkan berbeda dari sebelumnya, pria itu bahkan berani berkata informal tidak seperti sebelumnya.
"Aku tahu belum lama ini, seseorang mengirimkanku video, apa kau juga sama denganku? Apa kau menerima email anonim yang berisi video itu?" Tanya Ray.
"Video apa Ray? Apa yang kalian tahu sampai terlihat seperti masalah besar seperti ini?" Tanya Ana pada Ray, dari semua orang disini, hanya Ana yang belum mengetahui apa-apa.
"Kau juga menerima email itu?! Ck, jadi begitu ya. Tapi, aku tidak peduli tentang itu, sekarang yang lebih penting, aku butuh pertanggung jawabanmu pria brengsek ini." Rio menunjukkan tangannya ke arah Alex yang hanya diam sedari tadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kak Rio maksudnya apa? Pertanggung jawaban apa?" Tanya Ana yang semakin penasaran. Dirinya merasa seperti orang bodoh yang menonton pertunjukan ini tapi tidak paham sama sekali, gadis itu sempat melihat pada ibu mertuanya yang hanya diam dan menangis, melihat air mata ibu mertuanya itu, Ana seakan menyimpulkan jika ibu mertuanya sudah tahu alasan kemarahan dari Rio.
"Jadi, kau belum tahu Ana??" Rio menatap adik tirinya itu.
Tangannya kemudian bergerak mengambil ponsel di saku celananya.
Ray yang ada disamping Ana hanya diam saja, dirinya tidak memiliki niat untuk menghalangi Ana melihat video itu.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Ana yang masih tak mengerti kenapa Rio memberikannya ponsel.
"Buka file video itu." Jawab Rio.
Dengan ragu, Ana membuka video itu. Video yang sama seperti yang Ray lihat sebelumnya.
Ekspresi gadis itu tampak berubah-ubah setiap menitnya, awalnya mengernyit heran, kemudian semakin penasaran dan terakhir ia terkejut.
Ana menatap video itu dan Alex secara bergantian.
"Alex—" Panggil Ana lirih, ia tidak menyangka ternyata Alex adalah orang yang seperti itu.
"Ana tenanglah." Bisik Ray, tangannya mengambil ponsel yang masih Ana pegang, lalu mengembalikannya pada Rio.
Tubuh gadis itu tampak bergetar, air matanya meluncur begitu saja. Ia tak menyangka dengan semua kebenaran ini.
"Apa dia pria yang menghamili Rachel?" Tanya Ana pada Rio.
Rio mengangguk,
"Rachel berbohong soal banyak pria yang tidur dengannya. Faktanya adalah, Rachel hanya tidak dapat mengingat siapa pria yang telah tidur dengannya, karena pria brengsek yang telah menidurinya saat itu menggunakan obat perangsang untuk membuat Rachel lupa diri. Kau tahu bagaimana sifat Rachel dulu, ia tidak ingin kelemahan dan kebodohannya itu di ketahui orang lain, karena itu Rachel terpaksa berbohong dengan kebohongan yang salah." Ujar Rio.
Ana menganga tak percaya, matanya terarah pada Alex yang masih diam di tempat, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Ray yang ada disampingnya.
"Apa kau sudah tahu ini sebelumnya?" Tanya Ana.
Ray menghembuskan nafas beratnya, pada akhirnya ia mengangguk menjawab pertanyaan Ana.
"Ibu mertua juga? Apa waktu itu ibu mertua marah pada Alex karena hal ini?" Tanya Ana mengarah pada ibu mertuanya yang semakin menangis.
"Ana." Panggil Ray, tangannya bergerak ingin menyentuh lengan istrinya. Tapi Ana menjauh dengan cepat.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Apa aku ini orang asing dirumah ini? Apa karena aku adalah kakak dari seorang gadis yang telah Alex nodai?" Tanya Ana yang merasa kecewa.
"Bukan seperti itu Ana, ibu juga tidak tahu jika Ray sudah mengetahui masalah ini." Ucap ibu mertuanya.
"Aku tidak bisa marah pada ibu mertua, tapi aku kecewa dengan kalian semua. Aku tahu kalian ini keluarga dan aku dulunya orang asing yang kemudian menikah dengan Ray lalu menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi—"
"Ana apa yang kau katakan? Kau tidak pernah menjadi orang asing di rumah ini. Kau tahu itu, jika bukan karena dirimu, aku juga tidak mungkin berbaikan dengan ibu tiriku dan juga Alex." Sela Ray, ia melangkah mendekati Ana. Tapi gadis itu semakin menjauh dan bersembunyi di balik tubuh Rio.
"Kak, aku ingin pulang ke rumah ayah." Ujar Ana pada Rio.
Rio menghela nafasnya, ia sebenarnya tidak peduli dengan adik tirinya ini. Tapi, mengingat Ana adalah anak dari seorang ayah yang sangat dihormatinya dan dikagumi nya. Alex tak dapat abai begitu saja.
"Baiklah." Balas Rio pada adik tirinya itu.
"Urusan kita belum selesai Alex. Aku menantimu untuk datang ke rumah dan berlutut dihadapan Rachel." Ujar Rio pada Alex dengan tatapan mengintimidasinya.
Setelahnya, kedua kakak beradik tiri itu berlalu pergi dari ruangan itu.