The Destiny

The Destiny
Night



Maybe all we need is just a little faith.


'Cause baby I believe that love will find the way - Jim Brickman.


•••


"Terimakasih, terimakasih karena telah mengandung anakku. Aku pastikan, aku akan menjagamu dan anak kita sebaik mungkin. Bahkan semut pun tak akan kubiarkan menyakiti mu mulai sekarang." Ucap Ray, membuat Ana tersenyum geli mendengar penuturan suaminya yang berlebihan itu. Tapi ia senang mendengarnya, karena itu adalah ungkapan rasa syukur Ray atas hadirnya buah cinta diantara mereka.


"Kau berlebihan." Ujar Ana.


Ray tersenyum mendengarnya,


"Jadi, kapan kau melakukan tes kehamilan ini?" Tanyanya.


"Tadi pagi."


"Hari ini?"


"Em, iya."


"Bagaimana bisa kebetulan sekali?"


"Aku juga berpikir begitu. Aku mengetahui jika aku hamil, tepat di hari perayaan anniversary pernikahan kita. Bukankah Tuhan sangat baik pada kita?"


"Kau benar. Tapi, apa kau yakin jika alat ini menunjukkan hasil yang benar. Kau sungguhan hamil kan?"


"Kau tidak percaya?! Lagipula aku sudah memeriksakannya dengan ibu mertua ke dokter dan hasilnya positif! Po-si-tif hamil. Kau bisa tanyakan langsung pada ibu tirimu itu." Jawab Ana, ia kesal, karena ia pikir suaminya itu sedang mencurigainya, jika dirinya berbohong.


Padahal maksud Ray itu, ia hanya bertanya, apakah sebuah testpack itu dapat di percaya hasilnya.


"Bukan begitu Ana.." Ray menghela napasnya, ia paham. Akhir-akhir ini, istrinya sangat sensitif ternyata karena Ana sedang hamil muda.


"Baiklah baiklah..aku minta maaf okey. Jadi, maafkan aku ya." Ray memilih mengalah. Ia merengkuh tubuh Ana kedalam dekapannya kembali.


Pria itu pernah mendengar, jika wanita hamil bisa lebih mengerikan dari pada seekor raja singa.


•••


Dua orang yang duduk berdampingan itu tampak canggung satu sama lain.


Yohan masih senantiasa menggendong Nana yang diam dan tenang dalam timangannya.


"Kemari, kau pasti lelah menggendongnya." Ujar Rachel, tangannya menengadah ke arah Yohan, meminta Nana kembali.


"Tidak masalah."


"Eh?"


"Biarkan aku saja yang menggendongnya." Kata Yohan, pria itu tersenyum melihat Nana yang sedang tertawa.


"Aku tidak tau, jika kau menyukai bayi seperti Nana."


Yohan tak menjawabnya.


"Jika seperti ini, kau terlihat seperti ayah yang baik ya." Ucap Rachel asal.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap gugusan bintang di atas langit. Mereka terlihat seperti berlian-berlian yang bergantungan di sana.


"Andai saja waktu itu aku lebih menghargai diriku. Pasti saat ini aku masihlah seorang gadis yang sibuk dengan urusan anak muda. Setiap hari bangun pagi, pergi ke universitas, pergi bersama teman, dan menghabiskan akhir pekan bersama kekasih."


Yohan diam, mendengarkan Rachel yang terus mencurahkan isi hatinya.


"Tapi, jika tuhan memberiku kesempatan untuk memutar waktu kebelakang lagi, aku akan menolaknya."


"Kenapa?" Tanya Yohan.


Setiap kali berbincang dengan Rachel, Yohan merasakan sesuatu yang berbeda dengan perempuan itu.


Saat bersama Rachel, Yohan merasa seperti sedang berbicara pada orang terdekatnya.


"Karena aku bersyukur dengan apa yang aku perbuat waktu itu. Aku bersyukur dengan masalah yang menimpaku. Semua masalah yang kualami ternyata adalah jalan terjal menuju kedewasaanku. Dengan itu, sekarang aku bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Itu adalah pelajaran berharga bagiku." Ujar Rachel, ia menolehkan kepalanya pada Yohan.


Pria itu tersenyum hangat padanya,


"Kau memang lebih dewasa saat ini. Kau juga terlihat lebih baik dari sebelumnya. Aku senang melihatmu yang seperti ini." Kata Yohan.


"Benarkah?"


"Hm." Angguk Yohan.


"Hei lihat, dia tertidur." Ucap Rachel, ia tidak sengaja melihat Nana yang sudah tertidur dalam gendongan Yohan.


"Saat besar nanti, dia pasti akan menjadi gadis yang cantik seperti mu." Ujar Yohan.


"Kau— sedang memujiku kan?"


Pria itu tampak terperanjat mendengarnya,


"Bukan begitu, maksudku..dia pasti lebih cantik darimu." Sanggah Yohan.


"Itu berarti, secara tidak langsung kau berkata jika aku cantik. Iya kan? Jujur saja." Desak Rachel, sepertinya sifat jahil wanita itu sedang aktif.


"Kau terlalu percaya diri."


"Orang yang cantik itu adalah orang yang percaya diri. Jadi, jika kau ingin cantik maka percaya dirilah." Ucap Rachel.


"Hei, aku ini pria. Bagaimana bisa kau mengatakan jika aku cantik. Apa wajahku ini terlihat seperti wanita? Jelas sekali jika wajahku ini terpahat dengan baik layaknya dewa-dewa yunani." Ujar Yohan, entah dari mana kepercayaan diri yang akut itu tiba-tiba muncul dari dirinya.


Rachel menutup mulutnya, gadis itu menahan tawa yang ingin sekali ia semburkan pada Yohan.


"Aku tidak tahu jika kau bisa berkata sebanyak itu. Dan apa yang kau bicarakan itu?! Astaga, ternyata kau lebih percaya diri dariku. Aku sungguh tidak menyangka bisa mendengarkan semua kata-kata itu keluar dari mulutmu."


Rachel tak dapat lagi menahannya, ia tertawa keras, sampai-sampai beberapa tamu undangan lainnya pun menoleh ke arah gadis itu, membuat Yohan tersenyum malu mendapatkan tatapan aneh dari tamu-tamu undangan lainnya.


"Berhentilah tertawa. Kau tidak lihat?! Kau sedang menjadi pusat perhatian." Bisik Yohan.


Seketika Rachel diam saat ia melihat banyak mata memandangnya, gadis itu kini tersenyum kikuk dan semakin mendekatkan dirinya pada Yohan. Berniat menyembunyikan rasa malunya dari balik badan Yohan.


"Ck, sekarang kau malu, tadi kau terlihat seperti orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa."


"Jangan menghinaku. Lagipula ini salahmu, jika kau tidak mengatakan hal yang tidak pernah kau katakan sebelumnya, aku pasti tidak akan tertawa seperti itu." Ujar Rachel, bibir gadis itu tampak menyungging ke bawah, menampilkan wajah memelasnya di hadapan Yohan.


Yohan tertawa kecil melihatnya.


Kebersamaan mereka berdua, dari kejauhan terlihat seperti suami dan istri serta satu anak mereka. Sangat sempurna dan tampak bahagia.


Alex melihatnya, pria itu duduk di kursi yang cukup jauh dari mereka. Tawa yang menghiasi wajah Rachel, membuat hati Alex diam membisu.


Ia tampak mengehela napasnya dan meneguk beberapa gelas berisi alkohol. Jika ia mabuk, mungkin itu lebih baik. Itu yang terlintas dipikirannya.


"Sepertinya kau membuat pilihan yang tepat Alex. Pria itu yang terbaik untuknya." Ujarnya pada dirinya sendiri.


Senyum pias tercetak di wajah Alex. Senyum yang menutupi rasa lain di hatinya.


Alex kembali meneguk alkoholnya, kali ini ia meneguknya bukan dari gelas yang tersedia tapi dari botol alkohol itu langsung.


"Bodoh!" Gumam ibu Alex, wanita paruh baya itu dari kejauhan diam-diam selalu memperhatikan gerak-gerik anak laki-lakinya itu.


Rasanya hatinya teriris melihat anak kandungnya itu terlihat sangat kacau. Dirinya benar-benar merasa gagal menjadi seorang ibu.


Walaupun beberapa minggu ini, dirinya selalu berkata bahwa ia benci dan tidak ingin melihat Alex. Tapi itu hanya ungkapan kekecewaannya, bukan sesuatu yang diinginkannya.


Seperti apapun perbuatan buruk seorang anak, sekecewa ia pada anaknya. Seorang ibu akan tetap memiliki hati yang luas melebihi samudera. Pada akhirnya, ia akan memaafkan Alex.