The Destiny

The Destiny
Senja



Matahari mulai condong ke barat, angin sore berhembus menerpa wajah dan rambut Ana.


Ana duduk di kursi taman pohon, ia melihat sekeliling dengan senyum mengembang, gadis itu saat ini sedang menunggu Ray.


"Apa aku terlambat?" Tanya Ray, pria itu kini telah berdiri di hadapan Ana.


Ana mendongakkan kepalanya dan menatap Ray dengan senyum manisnya. Lalu kemudian, menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


Ray tersenyum, ia merapikan rambut Ana yang terlihat berantakan karena tertiup angin.


"Ada apa memintaku bertemu?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar Ana.


"Katakan saja."


"Sebelum itu— apakah kau bisa meluangkan waktu untuk melihat matahari terbenam bersama?" Tanya Ana, ia ingin sekali ada seseorang yang menemaninya melihat sunset.


Hari ini adalah hari sebelum ia melakukan operasi besok. Jadi, Ana menginginkan banyak hal sebelum hari esok datang.


"Ayo." Ray mengulurkan tangannya kepada Ana, tapi gadis itu tidak langsung meraihnya, ia menatap tangan Ray cukup lama.


"Ayo Ana, aku akan mengajakmu ke tempat paling indah untuk melihat matahari terbenam." Ujar Ray.


Setelah itu, akhirnya Ana meraih tangan Ray.


Pria itu menyatukan jari-jari mereka, keduanya bergandengan tangan dan berjalan menuju tempat yang di maksud oleh Ray.


"Ray."


"Hm?" Ray menoleh ke arah gadis itu.


"Sebenarnya, aku ingin menemuimu untuk meminta ijin." Ujar Ana.


"Ijin? Ijin apa?" Tanya Ray.


"Selama kurang-lebih tiga minggu, aku akan pergi ke luar negeri."


"Kau ingin berlibur? Aku bisa mengajakmu berlibur jika kau mau, tapi tunggu aku menyelesaikan masalah perusahaan ya."


"Bukan liburan, tapi bekerja. Aku pergi ke luar negeri untuk membuka restoran cabang." Ujar Ana.


"Jika kau hanya ingin survei, kau bisa pergi hanya beberapa hari, kenapa selama itu?" Tanya Ray.


"Masalahnya— aku ingin restoran cabang yang pertama kali akan di buka di luar negeri itu sesuai dengan apa yang aku harapkan, jadi aku ingin memantaunya langsung, sampai desainnya selesai."


"Ah— begitu ya, jika saja aku sedang tidak sibuk sekali dengan urusan perusahaan, aku pasti akan menemanimu." Ujar Ray.


"Eh tidak perlu. Lagipula, aku pergi cukup lama— juga karena ingin memiliki quality time dengan diriku sendiri."


Ray mengernyitkan keningnya,


"Apa kau sedang ada masalah?"


"Tidak— bukan seperti itu, aku hanya ingin pergi sendiri saja. Ya, hanya ingin."


"Ah baiklah."


"Kau mengijinkannya?" Tanya Ana.


Ana tersenyum senang, akhirnya semua berjalan sesuai harapannya.


Karena terlalu senang, Ana secara refleks memeluk Ray.


Awalnya, Ray tampak terkejut. Tapi kemudian, ia membalas pelukan Ana, tangannya itu membelai lembut rambut Ana.


"Terimakasih." Ucap Ana sembari melepaskan pelukannya.


"Dan— maaf karena terlalu senang, aku memelukmu." Ucap Ana lagi.


Ray tersenyum, ia kembali menyatukan jari-jarinya dengan jari-jari tangan Ana.


"Kau sangat senang menggenggam tanganku ya." Ujar Ana. Ray hanya tersenyum dan terus berjalan.


"Apa kau sering datang kesini?" Tanya Ana.


"Emm tidak juga, hanya saat akhir pekan saja aku datang kemari, tapi itu dulu." Jawab Ray.


"Akhir pekan? Aku juga, aku sering datang kesini saat akhir pekan, tapi itu juga dulu sekali. Dulu aku dan keluargaku sering datang kesini." Ujar Ana, gadis itu mengalihkan pandangannya dari Ray dan mengusap sudut matanya.


"Kau menangis?"


"Tidak, aku hanya merindukan ibuku." Ucap Ana dengan wajah tertunduk.


"Hei! jangan seperti itu, apa kau lupa? Aku juga merindukan ibuku, ibu kandungku juga sudah tiada. Jadi, jangan berpikir bahwa hanya kau yang merindukan seorang ibu yang telah melahirkan-mu, karena aku juga." Ray menghapus buliran air yang ada di sudut mata Ana.


"Ah— kenapa aku jadi ingin menangis, Ray— ayo berpelukan, bukankah nasib kita sama. Ayo saling menguatkan satu sama lain." Ucap Ana sembari melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Ray, pria itu hanya menurut saja, ia tertawa melihat tingkah Ana yang seperti itu.


"Katakan saja kalau kau sangat suka berpelukan denganku." Bisik Ray.


Ana langsung mendorong tubuh Ray menjauh darinya, ia mengerucutkan bibirnya.


"Aku hanya bercanda." Ucap Ray dengan tawa riangnya.


"Terserah, sekarang jaga jarak satu kilometer dariku."


"Itu terlalu jauh, ayolah Ana, aku hanya bercanda, maafkan aku." Ucap Ray, membujuk gadis itu.


"Menjauh dariku."


"Lain kali kau boleh memelukku sesuka hatimu, aku berjanji."


Ana berdehem untuk menetralkan ekspresi wajah-nya yang sedang menahan senyuman.


"Ck. Kau pikir aku suka memelukmu?! Sudahlah, ayo cepat, sebentar lagi matahari akan terbenam, aku tidak mau kita gagal melihatnya."


Ana menarik tangan Ray, diam-diam gadis itu tersenyum bahagia, hatinya terasa hangat dan bahagia.


Ray melepaskan tangan Ana yang sedang menarik tangannya itu. Kemudian, ia mengubah posisi tangan itu menjadi saling bergandengan.


"Ini lebih baik. Ayo."


Mereka berjalan bergandengan menuju tempat khusus untuk melihat matahari terbenam.


Suasana sore menuju petang, dengan langit biru yang bercampur jingga, serta angin yang berhembus lembut. Sangat indah, bahkan, seakan-akan alam pun ikut bernyanyi, senandung lagu manis seperti merasuki senja itu.


Lepaskanlah apa yang kau rasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja memanjakan kita. Duduk bersama, diskusi rasa. Saat senja, bertukar cerita. Ceritakan masalahmu teman. Lepaskanlah apa yang kau rasakan. Masih disini, dan tetap disini, lewati senja, berganti malam. Diskusi sampai di sini. Jangan tenggelam di dalam masa\-masamu yang kelam, dan percayalah roda pasti berputar, cahaya terang datang. Aku di sini, tempat berbagi, saat senang saat susah, ku tetap di sini. \(Soundtrack ; Fourtwnty — Diskusi Senja\)