The Destiny

The Destiny
Keep On Walking



Mobil Ray masuk ke area parkir restoran Ana. Ray dan Alex turun dari mobil diikuti sekertaris Yuna.


"Oh itu Ana. Ana!" Panggil Alex, pria itu melihat Ana baru saja turun dari taksi bersama Rachel.


"Ana!" Panggil Alex sekali lagi sembari melambaikan tangannya.


Ana menoleh ketika mendengar namanya di panggil. Gadis itu tersenyum dan membalas lambaian tangan Alex.


Ana dan Rachel berjalan mendekat ke arah Ray dan Alex yang sedang berdiri di depan pintu restoran.


"Kau dari mana?" Tanya Alex.


"Ah— aku mengantar adikku untuk periksa kandungan." Jawab Ana.


"Adik? Apa dia istri Kenan?" Tanya Alex yang belum tahu dengan silsilah keluarga Ana.


Ana memukul lengan Alex, gadis itu sangat tidak suka dengan pertanyaan Alex yang terlalu sembrono.


"Jangan sembarang bicara, ini adik tiriku."


"Aw— Kau suka sekali memukulku." Keluh Alex.


"Iya iya maaf, ayo masuk." Ana mengajak mereka masuk kedalam restoran itu.


"Kalian ingin makan apa?" Tanya Ana yang kemudian memanggil salah satu pegawainya untuk mendekat.


"Aku ingin makan makanan yang kau masak, seperti biasa." Ujar Alex.


Telinga Ray yang seakan sensitif dengan pembicaraan kedua orang itu. Ia langsung menolehkan kepalanya ke arah Ana dan Alex secara bergantian, meminta penjelasan dari maksud perkataan Alex.


"Kau sering memasak untuknya?" Tanya Ray pada Ana.


"Ah itu— ya itu benar, aku memang pernah memasak untuknya, tapi tidak terlalu sering juga."


"Waktu itu aku memintamu memasak untukku tapi kau hanya memasakkan aku semangku mie instan." Ujar Ray dengan raut wajah kecewa, kesal dan sedih yang tidak dapat ia sembunyikan.


Alex tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan kakaknya itu.


"Kau hanya dimasakan mie instan olehnya? Aku— juga." Ucap Alex diiringi tawanya.


Rachel pun ingin ikut tertawa, tapi ia menahannya, sepertinya Ray menunjukkan tanda-tanda sesuatu pada Ana, tapi pria itu tidak menyadarinya.


"Cemburu." Gumam Rachel, namun dapat di dengar oleh semua orang yang duduk dimeja itu.


"Benar juga, kau sedang cemburu ya kak?" Tanya Alex pada Ray.


Ray mengalihkan pandangannya, ia berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kegugupan nya.


Cemburu? Tidak mungkin, aku hanya iri, itu saja. Aku iri kenapa perempuan itu baik padamu dan tidak padaku, dia bisa mudah tersenyum padamu dan tidak padaku, padahal dia sudah mengatakan jika aku ini temannya. Seharusnya seorang teman bersikap adil, tidak pilih kasih seperti itu. Menjengkelkan sekali. — Batin Ray.


"Sudahlah, kalian ingin makan apa? Biar aku yang akan memasaknya sendiri untuk kalian." Ucap Ana.


"Sungguh?" Tanya Alex yang terlihat sangat antusias.


"Tidak perlu, lagi pula kau hanya bisa memasak mie instan saja kan." Ujar Ray dengan wajah masamnya.


"Siapa bilang, masakan kak Ana sangat enak, dia sering memasakan makanan sehat untukku." Ujar Rachel yang sedang memuji Ana.


"Wah— aku iri padamu, apa aku harus hamil agar Ana mau memasakan makanan untukku?"


"Jangan konyol. Cepat katakan saja, apa yang ingin kalian makan, jangan membuang waktu kalian, bukankah kalian ini harus kembali ke kantor dan bekerja." Kata Ana dengan wajah tegasnya, mereka akhirnya diam dan satu-persatu menyebutkan makanan yang ingin mereka makan. Setelah itu, Ana pergi menuju dapur restoran untuk memasak.


Beberapa menit berlalu, Ana datang kembali ke meja itu bersama dengan pegawainya, ia membawa nampan berisi makanan yang mereka inginkan.


Senyum sumringah terlihat dari wajah Alex dan Rachel, mereka yang paling antusias diantara yang lain. Sedangkan Ray, ia juga tersenyum, tersenyum senang, tapi ia menahannya, sehingga wajahnya terlihat aneh di mata Ana.


"Makanlah." Ujar Ana sembari meletakkan piring berisi makanan di hadapan Ray.


Ray tersenyum dan mengangguk,


"Terimakasih."


"Iya, sama-sama." Ucap Ana yang kemudian duduk berhadapan dengan Ray.


Ana dan Ray, kedua suami istri yang sedang mencoba untuk berteman baik itu terlihat canggung satu sama lain.


Saat keduanya ingin mengambil sayur di piring depan mereka, sendok mereka sering sekali berbenturan. Sengaja atau tidak tapi mereka berdua diam-diam sepertinya menyukai hal itu, dapat dilihat dari bibir mereka yang seperti menahan senyum.


Makan siang hari itu— seperti sebuah jembatan yang menyatukan hubungan mereka.


Terkadang, hanya duduk dan makan bersama, bisa membuat orang semakin dekat satu sama lain.


•••


"Ana, besok aku akan kesini lagi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Bisik Alex pada Ana.


Dari arah belakang Alex, Ray terlihat memandangi mereka tanpa lengah sedikitpun. Jika dilihat dari penglihatan Ray, Alex tampak seperti sedang memeluk Ana, karena kedua tangan Alex memegang kedua bahu Ana. Kesalahpahaman itu membuat Ray kembali merasa kesal.


"Iya tentu, datang lah, tapi tidak gratis untuk besok." Ujar Ana.


"Iya, aku tau. Terimakasih untuk makananmu. Aku rasa— aku harus segera kembali ke mobil, punggung ku terasa dingin, sepertinya seseorang tidak suka jika aku berdekatan denganmu." Bisik Alex lagi. Pria itu memang sengaja ingin memancing rasa cemburu Ray terus menerus, agar kakaknya sadar dengan perasaannya.


Setelah itu, Alex menjauhkan tubuhnya dari Ana. Kemudian berlari kecil menuju ke arah mobil Ray. Tapi sebelumnya, ia berbalik ke arah Ana dan melambaikan tangannya.


"Bye!" Ujar Alex.


Ana membalas lambaian tangan itu dan tersenyum ke arahnya.


"Kau suka sekali melambaikan tanganmu dan tersenyum pada-nya." Ucap Ray yang kini berdiri di hadapannya.


"Apa?"


"Ah sudahlah. Nanti aku akan menjemputmu."


"Eh?"


"Apa pendengaranmu bermasalah? Kenapa kau terlihat susah sekali berbicara denganku? Kau sangat santai saat berbicara dengan Alex tapi tidak denganku." Kata Ray, nada bicaranya itu terdengar seperti keluhan.


"Benarkah? Tapi, aku merasa sama saja."


"Sudah, lupakan saja itu. Ini yang harus kau ingat, aku akan menjemputmu, aku-akan-menjemputmu, men-jem-put-mu."


"Iya iya dia mendengarnya." Ujar Rachel.


Ray mengabaikan Rachel, ia masih fokus menatap Ana.


"Baiklah, sekarang aku harus kembali ke kantor, kau jangan bekerja terlalu keras ya. Lagipula, kalau kebutuhanmu kurang, katakan saja padaku, aku akan mencukupinya, kau juga harus ingat, aku ini suamimu, aku bertanggungjawab penuh untuk menafkahimu. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Ray sembari mengacak rambut Ana gemas, ia tersenyum pada Ana sekilas, lalu melangkah pergi menuju ke arah mobilnya.


"Hah, aku benar-benar seperti melihat sebuah drama romantis disini. Waah— kalian berdua aktor dan aktris yang luar biasa." Ucap Rachel, ia melihat Ana yang masih diam menatap mobil Ray yang telah melaju dan semakin menjauhi jarak pandangnya.


Rachel mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal karena Ana mengabaikan dirinya. Perempuan itu kemudian berbalik dan meninggalkan Ana yang masih berdiri disana.


"Hei Rachel, kau mau kemana? Tunggu aku."


"Pergi, aku membencimu." Ucap Rachel dengan wajah cemberutnya.


"Aku minta maaf."


"Aku akan memaafkanmu, tapi kau harus jujur padaku, kau menyukainya kan?" Tanya Rachel.


"Menyukai siapa? Ray? Hei— itu tidak mungkin, kami hanya mencoba saling dekat dan lebih santai. Dia hanya ingin kami menjadi teman baik, itu saja." Jawab Ana.


"Ck, bohong." Ujar Rachel sembari mempercepat langkah kakinya.


"Rechel kau harus berjalan perlahan, kau ini sedang hamil. Hei!" Kata Ana.


"Rachel." Rengek Ana.


Rachel yang melihat kakaknya mengeluarkan sebuah jurus rayuan, merasa tidak sanggup untuk marah lagi.


"Ah— bayi ini. Iya iya aku memaafkanmu, lagipula aku tidak benar-benar marah padamu." Ucap Rachel dengan tawa yang menampilkan deretan giginya.


"Kau menipuku ya?" Kata Ana sembari menggelitiki pinggang Rachel, membuat wanita itu tertawa keras.


"Ah iya maaf maaf, aku minta maaf. Sudah cukup, hentikan itu."


Rachel memegang kedua tangan Ana untuk menghentikan aksi kakaknya itu.


Kemudian mereka saling bertatapan, lalu tertawa lepas.


"Ayo pergi ke suatu tempat." Ajak Rachel.


"Kemana?"


"Kedai es krim."


"Oke nyonya! Ayo kita makan es krim." Ujar Ana.


Mereka berjalan bergandengan menuju kedai es krim yang berjarak tidak jauh dari restoran Ana.


Melihat mereka berdua, seakan dunia memberi tahu, orang akan menjadi dekat satu sama lain saat saling menyulitkan.


Mereka berdua, satu sama lain saling menyulitkan. Ana harus selalu menemani Rachel, dan Rachel harus menemani Ana yang sakit.


Tapi, karena itulah, mereka akhirnya saling tolong menolong dan mencoba berbagai susah duka bersama.